Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 116


__ADS_3

Acara tujuh bulanan Bella sudah selesai, acara tidak berhenti disitu. Kini semua keluarga makan-makan bersama, kebetulan Bella dan Bima merahasiakan jenis kelamin anak mereka. Jadi, belum ada yang tahu selain mereka berdua dan dokter.


Gibran yang sebentar lagi jadi seorang kakak, kini semakin protektif terhadap ibu dan adiknya. Bahkan terkadang ayahnya pun dilirang menyentuh perut sang ibu, karena takut jika adiknya terluka.


Seperti sekarang, Raja yang ingin mengelus perut Bella karena berharap jika ia memegang perut Bella maka istrinya juga akan tertular hamil. Bukan hanya Gibran yang melarang, begitupun dengan Bima. Enak saja mau menyentuh perut istrinya. begitulah kira-kira pikiran Bima.


"Yaelah Bim, bentar doang. Ngga boleh durhaka kamu sama Abang."


"Usap perut si Ratu aja, kenapa harus bini gue."


"Bim, ada anak-anak. Panggilannya ganti aku kamu dulu." mamih Hellena memperingatkan di tengah-tengah perdebatan kedua adik kakak itu.


"Mih, Bima pelit tuh. aku kan sebagai calon paman yang baik, mau menyapa. Siapa tahu istriku juga tertular hamil, kalau aku mengelus perutnya Bella."


Raja mengadu kepada ibunya, meski dia yang paling tua tapi tingkahnya itu menolak tua. Sepertinya hanya Hans yang paling benar akalnya, ya meskipun terkadang dia pun sama manjanya kepada Airen.


"Nggak boleh! Ngga ada keteluran hamil, kecuali ketularan penyakit itu baru ada." saat ini Bima memeluk erat istrinya, begitupun dengan Gibran yang memeluk Bella meskipun hanya dapat memeluk kakinya saja.


"Om Aja, ngga boleh pegang-pegang perut mommy! nanti adek aku terluka." ujar Gibran membantu sang Daddy.


Bima tersenyum sumringah mendengar ucapan anaknya, dia bersyukur karena jiwa pelindung Gibran sebagai kakak mulai tumbuh.


Raja mendengus kesal melihat kekompakan anak dan bapak satu itu, dia pun mengalah untuk tidak mengelus perut Bella. Padahal sebenarnya dia ingin sekali, barangkali istrinya dapat tertular. Baiklah, keinginannya kali ini dia hanya dapat mengalah dan pasrah.


Sedangkan Hans merasa bodoamat dengan pertengkaran kakaknya, dia sedang asyik bermain dengan putri sulungnya. Hans menikmati setiap perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya, dia senang karena ikut melihat perkembangan anak-anaknya.


Ratu yang baru datang langsung diserbu oleh suaminya, ntah mengapa Raja menjadi manja belakangan ini. Dia ingin sekali menambah anak, tapi istrinya tidak mau. katanya cukup satu saja.


"Sayang, kamu hamil lagi dong. Aku pengen punya anak banyak." tutur Raja mengungkapkan keinginannya di hadapan semua orang.


"Lagian kamu kenapa sih Ja ngebet bangat punya anak lagi? Perasaan waktu Ratu lahiran Eranson, kamu nangis di pojok ruang persalinan dan bilang nggak mau punya anak lagi. Karena enggak tega melihat istri mu melahirkan." ujar sang ayah yang membuka aib anaknya di hadapan anak-anak yang lainnya.


Sontak hal itu mendapat gelak tawa dari Bima, Raja tidak menyangka jika rahasia beberapa tahun lalu dapat terkuak hari ini. Memang waktu Ratu lahiran, baik Bima maupun Hans masing-masing sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ikut menemani proses persalinan keponakan pertamanya. Jadi, mereka berdua tidak tahu tentang kakaknya yang menangis dipojok ruang persalinan.


"Papih ah, kenapa harus dibongkar sih." ucap Raja tersungut-sungut karena kesal.


"Ya abisnya kamu pengen bangat punya anak lagi."


"Bima dan Hans punya anak dua pih, pasti nanti harta warisan mereka dapetnya lebih banyak. Karena punya anaknya juga banyak." ungkap Raja membeberkan tentang keinginan memiliki anak banyak, semata karena harta warisan.


Raja langsung mendapat jitak dari istrinya dan juga mamih Hellena, bisa-bisanya dia ingin memiliki anak banyak hanya karena harta warisan. memang anak yang satu itu otaknya rasa konslet.


"Cuma si Ratu doang yang mau sama lo bang." Bima tahu betul bagaimana sifat dan karakter kakaknya itu, bahkan dia tidak menyangka jika Ratu yang tak lain adalah teman semasa sekolah menengah atasnya mau dengan abangnya yang super absurd itu.


"Ratu kok kamu mau sih sama anak mamih yang satu itu?" mamih Hellena justru membuat Raja semakin kesal, dikira dia tidak pantas dengan siapapun. Padahal kalau Raja mau, dia bisa mendapatkan banyak wanita.


"Namanya juga cinta mah." jawab Ratu, ya memang sekesal apapun Ratu dengan suaminya, dia tetap mencintai suaminya setulus hati. Menerima segala kekurangan yang ada, contohnya ke-matre-an suaminya.


"Aaa makin cinta sama kamu, my queen." Raja semakin kencang memeluk istrinya, tidak peduli dilihat anaknya.

__ADS_1


Sedangkan Eranson hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ayahnya, "Papa jangan kayak bocah ya." ujar Eranson menyeletuk.


Sedetik hening, namun langsung tertawa karena senjata makan tuan. Semua orang tahu mulut Eran yang asal nyeletuk itu gen dari ayahnya. Kini Raja dibuat kesal oleh anaknya.


"Awas kamu ya Ran, papa kasih adik baru tahu rasa!"


"Kasih aja, aku ngga keberatan. Kan papa sama mama yang ngurusin adiknya." jawab Eranson enteng.


Raja malas berdebat dengan anaknya, jadi dia tidak membalasnya. Cukup sabar dalam diam, daripada harus kena imbas kembali.


"Kamu ngga ada niat nambah anak Hans?" tanya Bima kepada adiknya yang hanya diam menyimak keadaan, karena dia lebih fokus terhadap anaknya.


Hans mengangguk, "Ada."


Raja semakin kesal, bisa-bisanya si Hans mau nambah anak. Apa dia juga mau harta warisan? Buat apa sih nambah anak segala, kan dia udah cukup kaya.


Airen mencubit pinggang suaminya, padahal mereka belum ada kesepakatan dalam memberikan adik untuk si kembar karena usia anaknya yang baru mau menginjak satu tahun.


"Mamih senang kalau kalian mau menambah anak, karena nanti pasti rumah ini akan sangat ramai."


"Tapi Hans, emang kamu ngga kasihan sama istri dan anak-anak kamu? Amira dan Amara kan baru mau satu tahun, masa udah dikasih adik sih." protes Raja.


"Nanti, bukan sekarang. Mungkin dua atau tiga tahun kedepan." jawab Hans dengan wajah yang datar.


"Memangnya Airen setuju?" tanya Mamih Hellena menatap menantunya yang menggendong Amara.


"Itu baru rencananya mas Hans, kalau ak--."


"Bukan rencana, tapi keinginan sayang. Kita butuh satu anak laki-laki, biar melengkapi keluarga kecil kita." ujar Hans menatap sang istri.


"kalau banyak bukan lagi keluarga kecil tapi keluarga besar." celetuk Raja yang masih tidak suka dengan keinginan adiknya yang akan menambah momongan.


"Kalau dapetnya perempuan lagi?" kini Bima ikut menimpali.


Hans tersenyum tanpa beban "Ya nggak apa-apa, terus berusaha sampe dapet anak laki-laki."


"Nanti kamu bangkrut lho punya banyak anak, biaya jaman sekarang ngga sedikit." Raja sengaja mengompori adiknya agar tidak menambah momongan, padahal dia sendiri penganut banyak anak banyak rezeki.


"Semuanya sudah diperhitungkan, tabungan ku sepertinya cukup untuk menambah lima anak lagi." jawab Hans santai, Raja semakin tak terima. Kalau tau begini, dulu dia tidak akan menolak menjadi CEO Lovmart cabang Indonesia.


Raja bangkit dari duduknya, dia pergi meninggalkan ruang keluarga. Tidak lama Raja kembali dengan pulpen dan kertas yang ada digenggamannya. Raja berjongkok di meja yang berada di tengah-tengah dan dia menulis sesuatu di kertas tersebut.


Yang lain hanya diam mengamati tanpa banyak bertanya, setelah selesai menulis sesuatu Raja menghampiri ayahnya dan menyerahkan kertas yang barusan ia tulis.


"Tanda tangani ini pih, pokoknya perusahaan papih yang berada di Prancis harus Eranson yang menjadi pewarisnya."


Yang lain langsung tercengang dengan aksi Raja, memang benar-benar mata duitan sekali pak pilot yang satu itu. Hellena menghela nafas panjang, ntah sifat siapa yang menurun ke anaknya pertamanya itu.


"Astaga Ja, papih kira apaan. Menurut papih kamu ngga perlu segininya, karena sepertinya Hans dan Bima tidak tertarik dengan perusahaan Lovmart yang ada di Prancis."

__ADS_1


"Pokoknya papih tanda tangani saja, buat jaga-jaga. Ayolah pih, kasih yang terbaik untuk cucu pertama papih."


"Anak kamu emang mau mengelola perusahaan?"


"Pasti mau, papih tanya aja langsung."


Papih William mengangguk, "Eranson, kemarilah." ujarnya sambil melambaikan tangan agar Eranson ke arahnya.


Eranson dengan nurut langsung menghampiri kakeknya, "Kamu kalau sudah besar mau jadi apa?" tanya papih William.


"apa saja, yang penting banyak uang." jawabnya.


Semuanya semakin tercengang dengan jawaban Eranson, Ratu yang selaku ibunya pun terkejut. Benar-benar gen dari Raja harth Mikhailov, sedangkan raja tersenyum puas dengan jawaban putranya.


"good boy, tidak salah papa memberikan mu nama Pangeran sonharth Mikhailov." Raja sangat bangga. Tidak dengan Ratu, dia pusing melihat tingkah suami dan anaknya.


Mas Raja, sungguh terlalu. batin Ratu.


"Oke papih tanda tangani ini, tapi adik-adik kamu setuju tidak?"


"Setuju, udah pih buruan."


"Eitss gue nggak setuju." Bima jelas menolak, karena anaknya nanti siapa tahu mau jadi CEO juga.


"Mas, bahasanya benerin dulu." Bella memperingati suaminya, agar tidak menggunakan bahasa lo gue.


"Sama Abang kamu harus mengalah."


"Dimana-mana Abang ngalah sama adek."


"Ngalah aja Bim, lagian kan Gibran masih bisa menjadi CEO diperusahaan kakeknya yang satu lagi." ucap Hans datar, Bima yang mendengar Hans mengatakan hal itu langsung diam dan kesal.


"Terserah, ayo sayang kita istirahat." Bima membawa anak dan istrinya pergi beristirahat ke kamar, meninggalkan mereka di ruang keluarga.


Airen menyenggol pelan suaminya, "Mas kamu jangan gitu dong." bisik Airen kecil.


Hans tersenyum, "Kakeknya Gibran sudah mulai menerima keadaan, Bima tidak tahu saja jika mertuanya sudah ada perubahan yang lebih baik." Airen senang mendengar kabar itu, tapi kenapa suaminya tidak memberitahukan hal itu kepada Bima?


"Pih cepetan."


"Iya sabar. Nih, sudah resmi jika Eranson yang akan menjadi pewaris perusahaan Lovmart yang ada di Prancis. Nanti jika anak mu sudah siap, tinggal disahkan saja. Kamu didik yang benar anak mu, jangan kecewakan papih." ucap papi Willi sambil menyerahkan surat pewarisan yang tadi dibuat dadakan oleh anaknya.


"Yess, makasih papih. Sayang nanti kita kaya, yeayy. Kita habiskan masa tua kita dengan berkeliling dunia oke."


Hans mual melihat tingkah kakaknya yang satu ini, lantas Hans membawa anak dan istrinya ke kamar. Takut jika Amara yang sedang aktif-aktifnya malah menirukan akhlak pamannya yang minus itu.


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.

__ADS_1


__ADS_2