
(Tentang rasa)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Sudah seharian ini Airen tidak keluar kamar, dia hanya berdiam diri di dalam kamar. Hans prustasi karena istrinya tak kunjung berbicara. Hans mendekatkan dirinya duduk di samping Airen, Hans mengambil jemari tangan sang istri dan menggenggamnya.
"Sayang, maafkan aku. Jangan seperti ini." lirih Hans.
Airen sama sekali tidak menatap Hans, pandangannya lurus ke depan, dia mencoba untuk mengontrol hatinya.
"Cahya, jawab. Aku suami mu, jangan seperti ini. Tidak baik mendiami suami." ujar Hans.
Airen menoleh ke arah Hans, dia tersenyum kecut.
"Lantas, aku harus bagaimana mas? Pergilah, aku ingin sendiri." ucap Airen, dengan mata yang berkaca-kaca.
Hans menatap iba, hatinya tak tega melihat raut kesedihan di wajah sang istri. Hans menarik Airen ke dalam dekapannya.
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Bukan maksud untuk membohongi mu selama ini, tapi aku hanya tidak ingin mengungkit masalalu dengan mu. Aku yang salah, karena tidak memberitahu mu dari awal pernikahan tentang hal ini. karena aku berpikir, bahwa dia sudah tidak lagi penting dalam kisah hidupku." Hans mengungkapkan isi hatinya.
Air mata Iren turun dengan derasnya, saat ini perasaannya campur aduk. Dia harus bagaimana dalam menyikapi hal ini. Hans melepaskan pelukannya, dia menatap mata Airen dengan dalam. Berharap istrinya dapat mempercayai nya.
"Sayang, aku percaya kita bisa melewati ujian rumah tangga ini. Percayalah padaku." ucap Hans.
"Hanya karena cemburu, bukan berarti aku tak mempercayaimu. Aku hanya takut kehilangan kamu mas." lirih Airen.
Hati kecil Hans merasa senang dengan penuturan sang istri, namun dia tetap merasakan kesedihan yang mendalam melihat istrinya seperti ini.
"Kita ngga akan berpisah, aku mencintai mu dan anak kita. Kisahku dengan Laura telah berakhir saat dia memutuskan pergi di hari pernikahan."
"Siapa yang bisa menjamin ucapan mu mas? Bahkan kamu sendiri pun tak dapat menjaminnya, dia wanita yang cantik bahkan wanita itu pernah hadir dalam kisah mu dan kamu pun pernah mencintainya, bahkan kalian pernah sampai difase untuk melanjutkan kejenjang yang lebih serius. aku, aku hanya takut mas. Aku tidak ingin anak-anak ku kehilangan ayahnya." ujar Airen dengan derai airmatanya.
Grep
Hans memeluk Airen dengan erat, menciumi kening istrinya dengan sayang. Hans terus mendekap Airen hingga wanita itu berhenti menangis.
"Cahya, bagaimana agar kamu percaya bahwa aku hanya mencintai mu? dihati dan pikiran ku hanya ada kamu."
"Sungguh mas? Ingatkah kamu dengan aku, saat kamu dicium dan dipeluk wanita itu? Bahkan kamu diam saat aku dihina dengan sebutan ******, oleh wanita itu. Bagaimana aku percaya mas? Bahkan sikap mu tidak menunjukan bahwa kamu mencintai aku." ucap Airen dengan nada yang tinggi.
Hans terdiam, yang dikatakan istrinya benar. Tapi sungguh dia terdiam karena bingung dan kaget dengan situasi itu, bahkan Hans tak dapat berpikir jernih karena emosinya yang kian menyeruak.
Hans mengelus perut Airen yang sudah membesar, "Perlu kamu ketahui, pada saat kejadian tentang kita kala itu hingga menimbulkan mereka dalam rahim mu. Aku patah hati karena kamu dan kak Bima, makanya aku pergi ke bar untuk menenangkan diri. Tapi ternyata takdir berkehendak lain, bahkan kita dipersatukan dengan kejadian itu. Meskipun pada awalnya kamu menolak kehadiran ku dan anak ini, tapi aku bersyukur karena pada akhirnya kamu dapat menerima dan mencintai ku. Kita bisa melewati ini semua sayang, kuncinya percaya satu sama lain. Aku akan berusaha untuk meyakinkan kamu bahwa aku hanya mencintai mu." ucap Hans panjang lebar.
Grep
Kini giliran Airen yang memeluk erat suaminya, dia menangis kembali kala mengingat awal pernikahan mereka yang penuh dengan emosional yang luar biasa. Ada banyak rintangan yang telah mereka lalui, anggap saja ini sebagai bumbu pernikahan dalam rumah tangganya.
"Mas mulai sekarang kamu harus terbuka sama aku, jangan nunggu aku tahu dulu, baru kamu jelaskan. aku ingin kamu menjelaskan meskipun aku tidak tahu, dan yang terpenting kamu harus jujur sekalipun itu menyakitkan." pinta Airen.
"Iya sayang, akan ku usahakan."
Airen mengangguk dan tersenyum, Hans mendekatkan wajahnya dengan wajah Airen. Hembusan nafas bisa mereka rasakan, saat Hans hendak mencium bibir istrinya, namun Airen dengan cepat menempelkan telapak tangannya ke arah wajah Hans.
"Aku nggamau, itu tadi bekas mantan kamu."
Hans menghembus nafasnya kasar, "Ya ampun sayang, itukan tadi cuma nempel aja dibibir."
"Cuma kamu bilang!?" ujar Airen dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Gluk
Hans menelan salivanya kasar, melihat semburat amarah yang terpancar di mata istrinya. Hans menghela nafasnya pelan.
"Terus bagaimana caranya agar kamu mau?"
"Tunggu tiga hari." jawab Airen.
H--Hah? Astaga, ini semua salah wanita itu. Sial sekali, aku jadi tidak dapat asupan vitamin dari istriku. batin Hans.
Tok tok tok
"Tuan Nona, ditunggu Tuan dan Nyonya besar di meja makan." ujar Mbok Nin di depan pintu kamar Hans.
Cklek
"Iya mbok, nanti kami menyusul." ujar Hans.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."
Hans masuk kembali ke dalam kamar, mengajak istrinya untuk makan malam bersama. Karena sedari tadi siang, Airen belum makan apapun.
"Sayang ayo turun, kita makan malam."
Airen menggelengkan kepalanya, "Aku ngga laper mas."
"Demi anak kita sayang, ayo makan. aku ambilin ya?"
"Nggamau mas, jangan paksa aku."
"Oke oke, kalau gitu aku tinggal sebentar ya. Kalau kamu butuh apa-apa telepon aku." ucap Hans, Airen hanya mengangguk.
🌹🌹
"Aaaargghh, aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut Hans dari ku." teriak Laura prustasi.
Lusi masuk ke dalam kamar anaknya, karena suara teriakan Laura yang kian menggema. Lusi sangat kaget melihat kamar putrinya berantakan.
"Hentikan Laura! Apa yang kamu lakukan hah." teriak Lusiana.
"Mom, wanita ****** itu. Dia menamparku, aku tidak terima mom." teriak Laura dan terus mengobrak-abrik kamarnya.
"Tenang sayang, jangan seperti ini." ucap Lusi menenangkan Laura.
"Hikss.. Aku tidak terima dia menamparku. pokoknya aku tidak mau tahu, dia harus dilenyapkan!" ujar Laura.
Daniel masuk ke dalam kamar putrinya, disana sudah ada Lusi yang erat memeluk anaknya di lantai. Daniel menghampiri mereka.
"Ada apa ini?"
"Dad, wanita itu menamparku bahkan dia berani membawa kabur Hans dari ku. Dad, bantu aku untuk melenyapkan wanita itu." ujar Laura dengan raut wajah sedihnya.
Daniel mengangguk, "Apapun untuk mu sayang, sudah jangan melukai dirimu seperti ini." ujar Daniel.
**
Setelah Laura beristirahat, Daniel dan Lusi keluar dari kamar Laura. Mereka duduk di ruang keluarga.
"Pih bagaimana?" tanya Lusi.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan baik-baik kepada William."
__ADS_1
"Kalau William tidak menyetujuinya?"
"Terpaksa, kita harus menggunakan cara untuk melenyapkan istrinya Hans. Dan membuat Hans kembali kepada Laura."
"Pih, pokonya harus bisa bermain cantik. Agar tidak ketahuan oleh siapapun. Pokoknya aku mau anak kita bahagia Pih." ujar Lusi.
Daniel mengangguk, apapun yang terjadi mereka akan lakukan demi kebahagiaan anak semata wayang mereka.
🌹
William mengajak Hans untuk berbicara di ruang kerja, William menghembuskan nafasnya sebelum dia berbicara dengan putra bungsunya.
"Laura kembali, apa kamu tahu?"
"Bahkan dia sudah bertemu dengan Cahya."
Apa!
"Bagaimana dengan perasaan menantuku?"
"Tidak baik, bahkan aku juga sama. Pih, aku minta bantuan Papih untuk menyingkirkan Laura dari kisah ku bersama dengan Cahya." ujar Hans.
Tumben sekali, anak ini meminta bantuan ku. bahkan dia sama sekali tidak pernah meminta bantuan kepada ku. batin William.
"Kamu tenang saja Hans, Papih usahakan agar rumah tangga mu dan Airen baik-baik saja. Papih hanya minta, kamu harus fokus terhadap istrimu. Serahkan urusan Laura kepada Papih."
Hans mengangguk, dia langsung memeluk ayahnya dengan erat. "Makasih Pih."
"Sama-sama, pergilah. Airen pasti membutuhkan mu saat ini."
Hans mengangguk dan pergi meninggalkan ruang kerja Papihnya.
**
"Sayang." panggil Hans saat telah tiba di kamar
Hans menghampiri Airen yang sudah tertidur pulas, Hans mencium kening istrinya dan mengamati wajah Airen.
Hans terkekeh, kala mengingat kejadian tadi saat istrinya marah kepada Laura. Hans acungkan jempol untuk sikap istrinya tadi.
"Kamu luar biasa sayang, tetaplah disisiku dan jangan pernah mencoba untuk pergi." gumam Hans.
Hans terus mendaratkan kecupan manis di wajah istrinya, dan sesekali dia menciumi perut istrinya. Hans berharap jika kedepannya mereka bisa hidup dengan damai dan tentram.
Hans terus mengamati wajah cantik istrinya yang tertidur pulas, hingga pandangannya jatuh ke arah bibir ranum Airen.
Cup
Hans mencuri ciuman di bibir istrinya.
Maaf ya sayang, aku curi dikit. Habis bibir kamu minta untuk dicium sih. batin Hans.
"Mimpi yang bagus ya sayang." gumam Hans.
Hans merebahkan dirinya disamping Airen, pria itu menarik sang istri agar tertidur dalam dekapannya. Hans memeluk Airen, dia pun memejamkan matanya perlahan.
Bersambung..
Mumpung hari Senin, vote nya jangan lupa ya hehe☺️.
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
__ADS_1