Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 16


__ADS_3

(TITISAN NENEK LAMPIR)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen sudah tidak bekerja di perusahaan Hans, dia masih merasakan ketakutan kala melihat wajah Hans. Airen sedang berusaha untuk mencari pekerjaan yang lain. Dia berusaha untuk menghidupi kebutuhan nya dan juga Eza adiknya.


"Za, uang jajan untuk sementara turun jadi 7 ribu nggak apa-apa?" tanya Airen kepada adiknya.


"Iya Kak, nggak apa-apa kok." Eza tersenyum hangat kepada Airen.


Hati Airen bagai tersayat, dia menatap sedih melihat adiknya dengan senyum yang paling tulus. Airen tahu, bahwa Eza pasti kekurangan untuk sekedar membeli hal yang dia inginkan.


'Maafin kakak Za.' batin Airen.


"Yauda Kak, aku berangkat ke sekolah dulu ya. Assalamualaikum." ujar Eza sambil mencium punggung tangan Airen.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati Za." Airen menatap nanar punggung Eza yang perlahan menghilang.


Airen masuk ke dalam rumah, dia menangis sesenggukan. Capek, lelah, hancur itulah yang Airen rasakan.


"I--Ibu, aku harus bagaimana menjalani hidup ini. Hidupku sudah tak tertata lagi Bu." gumam Airen, dia kehilangan arah tujuan dalam hidupnya semenjak kejadian naas yang menimpa dirinya.


Saat Airen larut dalam kesedihan nya, dia terperanjat kaget dengan seseorang yang mengetuk pintu rumah nya.


Tok..Tok..Tok..


Airen berjalan menuju depan pintu, dia membuka pintu dengan perlahan. Alangkah kagetnya Airen melihat Hans berada di hadapan nya.


"T--Tuan." Airen berjalan mundur, dia sangat ketakutan melihat Hans yang berada di depan nya.


Hans menunduk, dia tak kuasa melihat kondisi Airen yang masih takut dengan nya. Hans menaruh makanan dan sejumlah uang di bawah pintu.


"Cahya, ini ada sarapan untuk mu. Dan juga uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kamu. Tolong terima lah, mulai sekarang kamu adalah tanggung jawab saya." ucap Hans yang melihat ke arah Airen.


Mata mereka bertemu, Airen memalingkan wajah nya. Buliran air mata jatuh begitu saja di pelupuk mata Airen. Dia benar-benar susah untuk melupakan kejadian malam itu.


"P--pergi, hiks.. Pergi!" ujar Airen tercekat oleh isak tangis nya.


"Cahya, tolong maafkan saya." lirih Hans, dia pun pergi dari sana. Karena tak ingin membuat Airen semakin takut dengan nya.


🌹🌹🌹


Hari ini Bima mengambil cuti, karena harus menemani putranya yang sedang sakit. Sudah beberapa hari ini, Gibran lebih banyak diam.


"Sayang, ayo makan Nak." Bima membujuk Gibran agar mau makan.

__ADS_1


"Aku ndak au Dad." lirih Gibran.


"Kamu harus sehat sayang, ayo Nak makan ya. Habis ini minum obat." ujar Bima.


"Aku au ketemu cama Mommy, aku kangen Mommy." ucap Gibran dengan suara yang lemah.


Bima menaruh mangkuk bubur itu di atas meja, dia mengusap dengan lembut kepala Gibran. Bima memang melarang Gibran untuk bertemu dengan Airen, karena Bima tau Airen sedang melakukan pemulihan terhadap mentalnya.


"Gibran, kamu sehat dulu. Daddy janji, kalau kamu udah sehat Daddy akan ajak kamu untuk bertemu dengan Mommy."


"Daddy ndak bohong kan?" tanya Gibran dengan mata yang berbinar.


"Daddy nggak bohong, tapi kamu harus makan dan minum obat agar cepat sehat dan bisa menemui Mommy." ucap Bima, membujuk putra nya.


"Iya Daddy, aku mau makan habis itu minum obat. Biar ceupet sehat, trus bisa ketemu cama Mommy deh." Gibran benar-benar bersemangat.


Bima tersenyum, dia berhasil membujuk Gibran agar mau makan dan minum obat. Bima tak menyangka, jika Putranya benar-benar menyukai Airen.


Dengan telaten, Bima menyuapi Gibran. Bima merasa bahagia, karena kembali melihat senyuman di Gibran. Setelah minum obat, Bima menyuruh Gibran untuk istirahat agar cepat pulih. Gibran pun menurut, dia langsung tertidur pulas.


'Gina, maafkan aku. Jika aku belum bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Tapi aku berjanji, akan selalu membuat putra kita bahagia.' batin Bima yang mengingat alm istrinya.


Cklek...


"Bim, gimana keadaan nya Gibran?" Hellena menghampiri Bima, dan duduk di samping nya.


"Alhamdulillah, Mih. Udah mau minum obat. Demam nya juga udah turun." ujar Bima.


"Iya, Mih. Aku juga kaget, soalnya udah lama Gibran nggak sakit, pas tau dia sakit kayak gini aku khawatir."


Hellena menepuk bahu Bima, menatap wajah Bima dengan hangat.


"Kamu yang sabar ya, Mamih tau kamu juga terluka dengan kejadian yang menimpa Airen. Kamu harus ikhlas kalau Airen menikah dengan Hans. Mamih yakin, Hans tetap mengizinkan Gibran memanggilnya Mommy." ujar Hellena, dia berusaha untuk menyemangati anak kedua nya ini.


Bima tersenyum senang, meskipun dia anak kedua. Namun kasih sayang orangtua nya tetap sama, karena William dan Hellena tak pernah memihak siapa pun. Mereka sangat menyayangi ketiga putra mereka.


"Iya Mih, aku ikhlas Airen dengan Hans. Lagi pula, Airen nggak cocok sama aku. Dia kan masih muda bangat, aku cuma sedih aja kenapa takdir Hans dan juga Airen seperti ini." ujar Bima.


"Mamih yakin akan ada seseorang yang baik untuk kamu dan juga Gibran, kamu yang sabar ya. Mamih yakin pasti ada jodoh kedua untuk kamu. Mamih juga sedih dengan kejadian yang menimpa Hans dan Airen, Mamih nggak habis pikir dengan Barra. kenapa dia tega merencanakan hal semacam itu." ujar Hellena yang tiba-tiba bersedih.


"Udah Mih, nggak usah sedih. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Bima mencoba menghibur sang Ibu.


Tiba-tiba Raja masuk ke dalam kamar Bima, dia ikut duduk di dekat Bima dan Hellena.


"Gimana Bim, kondisinya Gibran?" tanya Raja yang baru sampai.


"Udah membaik." jawab Bima.

__ADS_1


"Syukurlah kalau gitu, Kamu yang sabar ya. Nggak jadi nikah sama Airen, tenang Bim gadis usia 19 tahun kayak Airen masih banyak kok. Nanti biar Kakak cariin." ujar Raja.


Pletak..


"Aww, sakit Mih!" Raja mengusap-usap lengannya yang di pukul oleh Hellena.


"Nggak usah cariin Bila istri, biar dia milih sendiri! Mamih nggak yakin sama pilihan kamu." ujar Hellena.


"Wahh, masa Mamih ngeraguin kemampuan aku si!" ujar Raja tak terima.


"Lho emang bener kok, kamu nggak inget? kalau kamu pernah hampir salah memilih pasangan." ucap Hellena mengingatkan Raja.


"Pffttt Hahahaha, seorang pilot yang hampir saja menikah dengan pramugari yang sudah mempunyai suami." tawa Bima menggema di ruangan itu.


Hellena menarik telinga Bima, sehingga Bima meringis kesakitan.


"Aawww, Sakit Mih!"


"Dasar duda! Anak kamu lagi istirahat kenapa malah tertawa seperti itu."


"Pfftt haha Duda, kamu nggak kangen ngerasain anuh Bim? Noh kayak Hans, mantep bangat ya. Diem-diem menghanyutkan." ucap Raja.


Plak..


Hellena menampar putra sulungnya, Raja memegangi pipi nya yang terasa panas karena tamparan Ibunya.


'Astaga, Mamih nggak berubah sama sekali.' Bima bergedig ngeri.


"Kamu kalau ngomong tuh dijaga! enak aja ngatain anak Mamih diem-diem menghanyutkan!" suara melingking Hellena akhirnya menggema.


"Ughh! O--Oma." Gibran bangun karena tidurnya terusik.


"Ya ampun cucu Oma kebangun, maafin Daddy sama Uncle kamu ya. Mereka kurang ngajar memang! beraninya membangunkan cucu Oma yang tertidur pulas." ucap Hellena sambil mengelus-elus rambut Gibran.


"Kan Mamih yang berisik, kenapa jadi kita yang di salahin." ujar Raja, yang langsung dapat tatapan tajam.


Raja dan Bima langsung buru-buru keluar dari kamar, saat di depan pintu mereka saling pandang.


"Titisan Nenek lampir." ucap mereka bersamaan.


"Pfftttt ahahahaha." mereka tertawa terbahak-bahak.


"Raja! Bima! Berani nya kalian mengumpat Mamih!" teriak Hellena dari dalam kamar.


Mereka berdua langsung kabur, berlari sekencang mungkin. Karena takut jika Hellena tiba-tiba mengejarnya.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya, melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2