
(PERTAMAKALI TIDUR BERSAMA)
Se**lamat membaca** ☺️
🌹🌹🌹
Pagi ini Airen menyiapkan sarapan untuk suami dan juga adiknya, Airen melihat Hans yang masih tertidur pulas di sofa. Dia tak tega untuk membangunkannya, jadi Airen membiarkan Hans untuk tetap tidur.
Airen mengamati wajah suaminya yang sangat teduh jika tertidur, alisnya yang panjang nan hitam, rahang yang tegas, hidung yang mancung serta bibirnya yang sangat indah.
Astaga ternyata Tuan Hans tampan ya kalau dilihat-lihat. batin Airen.
Airen terkekeh pelan, bisa-bisanya dia berfikiran seperti itu. Airen pun langsung menuju dapur untuk membuatkan nasi goreng.
Airen menyiapkan nasi dan juga bahan-bahan lainnya, dia mengolah masakannya dengan senang hati.
Hans pun terbangun, saat sinar matahari mengenai wajahnya. Hans mengerjapkan matanya, dia pun bangun memposisikan dirinya menjadi duduk.
"Awhh, sakit sekali badan ku." gumam Hans sambil meregangkan otot-ototnya.
Hans mencium aroma masakan yang sangat lezat, hingga membuat perutnya ingin segera di isi. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur.
Hans tersenyum melihat istrinya yang sedang memasak begitu fokus, dia pun menghampiri Airen dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara langkah kaki.
Grepp
Hans memeluk Airen dari belakang, dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher sang istri. Sedangkan Airen dibuat terkejut dengan kehadiran suaminya, namun dia berusaha untuk tetap tenang.
"Morning, Cahyaku." Hans memberikan ucapan selamat pagi pertamakali untuk istrinya.
Airen ingin tertawa melihat laki-laki yang dulunya sangat galak, malah menjadi kucing yang sangat jinak.
"Iya suamiku, selamat pagi." Hans membalas ucapannya sendiri.
Airen pun tertawa pelan, Hans tersenyum melihat reaksi Airen yang menertawakan dirinya.
"Pagii." jawab Airen.
"Hmm." Hans mendusel-dusel leher istrinya, berusaha untuk mencari posisi yang nyaman.
Airen menggeliat menahan geli, karena bagian lehernya sangat sensitif.
"Diem, geli tau. Lepasin ihhh." protes Airen.
"Tidak mau, biarkan seperti ini. Agar kamu terbiasa, dan tidak takut lagi denganku." ucap Hans dengan manja.
"Ribet, aku lagi masak. Kamu minggir dulu." ujar Airen berusaha mendorong suaminya.
Hans tidak melepaskannya, dia malah mengeratkan pelukannya.
Huuffhhh..
Airen hanya dapat menghembuskan nafasnya, melihat tingkah suaminya. sungguh dia sangat menyesal karena pernah mengumpat Hans waktu itu.
Cup.
Hans mengecup leher Airen sekilas, menyisakan bekas kecupannya disana. Sedangkan Airen hanya mendengus kesal, berani sekali suaminya berbuat seperti itu.
Dia tidak protes? batin Hans bertanya-tanya.
"Tidak protes bukan berarti tidak marah." ucap Airen.
Hans terkekeh mendengar penuturan istrinya, tangannya mengelus lembut perut Airen.
"Ihhhhh gelii tau! Kamu minggir sana." Airen mendorong suaminya, karena dia benar-benar tak dapat menahan geli di bagian perut dan juga lehernya.
"Sayang jangan pelit-pelit dong, aku cuma mau ngelus anak ku." ujar Hans.
"Anak ku." jawab Airen dengan sedikit kesal.
"Hehe, anak kita. Boleh ya?"
"Tidak." jawab Airen cepat.
Hans memasang wajah melasnya agar istrinya mengasihaninya, namun Airen hanya acuh dan terus melanjutkan aktivitas memasaknya.
Hans menghembus nafasnya kasar, dia langsung pergi mengambil handuk dan masuk menuju kamar mandi, Hans membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Brak
__ADS_1
Airen tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Dasar, Tuan arogan." Airen terkekeh pelan.
🌹
Airen sudah menyiapkan masakannya dan menatanya di meja makan, dia langsung membangunkan Eza untuk segera sarapan.
"Za, bangun dek. Ayo sarapan." ujar Airen menepuk-nepuk pipi adiknya.
"Ughh, bentar kak. Aku masih mengantuk". jawab Eza yang masih memejamkan matanya.
"Yasudah, kakak duluan ya."
Kak Hans semangat, aku membantu kakak agar dapat berduaan dengan kak Airen dengan leluasa. batin Eza terkekeh.
Airen langsung pergi dari kamar Eza, dia menuju meja makan. Disana sudah ada Hans, yang menatapnya dengan senyuman yang merekah.
"Dimana Eza?" tanya Hans.
"Kata dia nanti, masih mengantuk." jawab Airen, dia langsung mengambil piring dan menyendokan nasi goreng ke dalamnya. Airen menyerahkan piring itu kepada Hans.
"Terimakasih, sayang." ucap Hans.
Airen tak menimpali ucapan Hans, dia langsung mengambil piring yang lain dan menyendokan nasi goreng untuk dirinya sendiri.
Mereka berdua makan dengan sangat tenang dan hikmat, semuanya sibuk dalam pikirannya masing-masing. Hans sudah mendapatkan telepon dari ayahnya, untuk segera kembali membawa Airen. Karena biar bagaimanapun juga, pernikahan Hans dan Airen harus segera dilaksanakan.
Selesai makan, Hans menghampiri Airen yang tengah sedang duduk di luar teras rumah. Hans duduk disamping istrinya.
"Cahya." panggil Hans dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Airen.
"Begini, kamu sudah mau memaafkan dan menerimaku kan? Kita kembali ke kota ya, karena kita harus segera menyiapkan resepsi pernikahan." ucap Hans dengan lembut, agar istrinya mau kembali ke kota.
Airen nampak diam, kalut dalam pikirannya sendiri.
Hans yang melihat istrinya terdiam, dia langsung menghembuskan nafasnya. Hans mengambil tangan Airen dan menggenggam nya.
"Tidak apa, kalau memang kamu masih ragu dan ingin tinggal disini. Aku akan tetap disini sampai kamu mau pulang bersamaku." ucap Hans dengan tulus.
Airen menatap wajah Hans, dia tahu jika ada banyak perkejaan yang harus diselesaikan suaminya. Terlebih dia adalah seorang CEO.
Hans dibuat terkejut oleh penuturan Airen, dia sangat bahagia. Hans langsung menarik Airen ke dalam pelukannya, dan mencium kening istrinya dengan sayang.
"Terimakasih, sayang." ucap Hans.
Airen hanya mengangguk sebagai bentuk jawabannya, Airen menyadarkan tubuhnya dibahu suaminya. Hans dengan sayang, mengelus lembut kepala istrinya, dia sangat bahagia karena mereka akan kembali ke Kota.
🌹🌹🌹
Malam Tiba.
"Kak Hans, ngapain beres-beres?" tanya Eza menatap kakak iparnya yang sedang mengemasi semua baju-bajunya.
"Kita akan pulang ke kota, besok pagi." jawab Hans.
"H--Hah? Kita akan tinggal di kota lagi kak?" tanya Eza bersemangat.
"Iya Za, kita akan tinggal di kota." jawab Airen dari arah dapur, sambil membawa susu dan juga teh hangat.
"Ini serius kan kak? Wah aku seneng bangat, karena aku kangen sama si Karun." ujar Eza memeluk kakaknya.
"E--ehh, awas Za. Nanti kamu ketumpahan susu." ujar Airen memperingati adiknya.
"Sini biar aku yang menaruhnya." Hans mengambil teh hangat dan juga susu yang dibawa Airen, dan meletakkannya di atas nakas.
"Terimakasih." ucap Airen pelan.
Eza meraih tangan Hans dan juga Airen, Eza menumpukkan tangan mereka. Airen dan Hans saling pandang, bingung dengan apa yang dilakukan Eza.
"Kakak dan kak Hans harus terus bersama ya, aku bahagia memiliki kalian berdua. Kak Hans, jangan sakitin Kak Iren ya. Apapun yang terjadi, kalian berdua harus tetap bersama." ujar Eza yang sudah menahan isak tangisnya.
Hans tersenyum, dia mengelus lembut kepala Eza dengan sayang.
"Terimakasih Za, kakak berjanji akan terus menjaga kalian berdua." ucap Hans.
"Eza jangan khawatir, kakak dan kak Hans akan tetap bersama. Anak kecil, tidak boleh memikirkan hal ini." ujar Airen, karena dia tahu pasti adiknya mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Eza mengangguk dan memeluk mereka, Hans mengulum senyumnya. Karena setidaknya dia memiliki Eza yang mendukungnya.
***
Setelah selesai berkemas, Hans menyandarkan tubuhnya di sofa. Rasanya sangat lelah sekali, karena biasanya dia akan meminta dan menyuruh orang lain saja. Hans tidak pernah mengerjakan pekerjaan yang berat, dia hanya bekerja menggunakan otaknya saja.
Airen menghampiri suaminya, sambil membawakan cemilan untuknya. Airen menyerahkan air putih untuk Hans.
"Tuan, silahkan."
Hans mengernyitkan dahinya, dia sebal dengan ucapan Airen yang terus saja memanggilnya dengan sebutan Tuan.
Airen tahu, pasti saat ini suaminya tengah kesal. Airen butuh waktu untuk terbiasa dengan ucapannya.
"Maafkan aku, tapi bolehkah untuk saat ini aku memanggilmu dengan sebuatan Tuan? Aku perlu waktu untuk terbiasa. Tapi aku berjanji, akan memanggil Tuan, dengan sebutan Mas di depan semua orang." ucap Airen lembut.
Hans hanya mengangguk dan tersenyum.
Airen melihat kelelahan yang terpancar dari wajah suaminya, Hans memejamkan matanya dia tak tahan dengan rasa kantuknya.
"T--Tuan, sebaiknya kita tidur di kamar saja." ucap Airen malu-malu.
Hans langsung membelalakkan matanya, saat samar-samar mendengar jika Airen mengajaknya tidur bersama di kamar.
"Apa sayang? coba ulangi." ucap Hans dengan antusias.
"Tidak mau, itu namanya pemborosan kata." ujar Airen.
Hans menarik Airen ke dalam pangkuannya, dia memeluk istrinya dengan posesif.
"Ulangi sayang, atau mau aku cium?" Hans menggoda Airen.
Semburat kemerahan mereka di pipi mulus Airen, dia merasa malu dengan ucapan suaminya itu. Sedangkan Hans gemas sendiri dengan wajah malu-malu istrinya.
"Tuan, lepaskan." ujar Airen.
"Diam! Nanti ada yang berdiri tegak." ucap Hans memperingati.
"H--Hah? Yasudah, sebaiknya kita tidur." ujar Airen, dia tentu tahu apa yang akan berdiri dengan tegak.
"Baiklah, karena kamu memaksa. Aku pun tak dapat menolaknya."
Hans langsung menggendong Airen, dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Airen mendengus kesal, sejak kapan dia memaksa suaminya untuk ikut tidur di kamar. Justru Airen merasa kasihan karena tubuh suaminya pegal-pegal jika harus tidur di sofa.
"Aku tidak memaksa mu!"
Hans tidak peduli, dia langsung membaringkan tubuh Airen dengan perlahan di atas kasur. Hans pun langsung ikut tidur di samping istrinya, menarik Airen ke dalam pelukannya.
Hans menjadikan lengan kirinya untuk menjadi bantal Airen, sedangkan tangan kanan Hans memeluk pinggang istrinya.
Airen dibuat panik sendiri, pikiran tentang kejadian malam kelam saat itu menghantuinya. Dia memejamkan matanya, tapi bayangan itu semakin jelas.
Hans melihat istrinya yang tengah ketakutan, dia tahu pasti Airen saat ini sedang membayangkan kejadian waktu itu.
Hans mendaratkan kecupan di bibir istrinya, dengan begitu Airen langsung membuka matanya. Dia tersentak kaget saat ada benda kenyal yang hinggap di bibirnya.
"Apa? Mau protes. Sudah berlebel halal, jadi ngga boleh perotes. Nanti yang ada dapat dosa." ujar Hans saat mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.
"Ihh nyebelin, jangan peluk-peluk, jangan pegang-pegang, jangan cium-cium. Lepasin ih, aku engap." ucap Airen sebal.
Hans tak menghiraukan ucapan Airen, dia malah mengeratkan pelukannya.
"Tuan, lep--."
Hhhmmmpphhh!
Belum sempat Airen melanjutkan kata-katanya, namun bibirnya sudah dibungkam oleh bibir suaminya. Airen membelalakkan matanya, saat mendapatkan serangan mendadak. Hans Melu mat bibir istrinya dengan lembut, dia mengecap setiap inci rongga mulut Airen dengan lidahnya. Airen sempat kewalahan, namun dia pun larut dalam permainan yang dilakukan suaminya.
Saat mereka tengah larut dan asyik dalam dekapannya, namun tiba-tiba Airen mengingat tentang kejadian malam itu. Yang membuatnya, langsung memukul dada suaminya dengan keras.
Hans yang menyadari hal itu, langsung menyudahi permainannya. Dia menarik istrinya ke dalam pelukannya dan langsung mengecup lembut dahi Airen.
"Maafkan aku, tidurlah. Aku berjanji tidak akan melakukan hal lebih dari itu, sampai kamu siap." Hans mengatakan dengan sangat lembut.
Tubuh Airen yang tadinya bergetar sekarang sudah membaik, dia tidak menjawab ucapan Hans. Airen malah menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, dia berusaha untuk memejamkan matanya.
Mereka pun larut dalam tidur yang panjang, untuk pertamakalinya tidur bersama setelah mendapatkan gelar pasangan yang halal.
Bersambung...
__ADS_1
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.