
(MENCARI AIREN)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Airen terbangun dari tidur paginya, setelah semalaman menangis kini matanya sembap. Matanya mengedar menatap seluruh ruangan, namun dia tidak menemukan sosok suaminya.
Airen ingat, jika semalam Hans tidur di ruang kerjanya. Airen pun bangun dan bergegas untuk mandi.
Setelah mandi, dia langsung memilih pakaian casualnya. Airen bergegas turun ke bawah.
"Mbak, dimana anak-anak?" tanya Airen kepada Ratu yang tengah menikmati cemilan di ruang tamu.
"Sudah berangkat sekolah, suami kamu juga sudah berangkat kerja." jawab Ratu.
Mas Hans sudah berangkat? Astaga jam berapa ini. Aku sampai kesiangan. batin Airen.
"Mending kamu sarapan dulu Ren, tadi Mbok Nin membelikan bubur untuk kamu. Oiya, suami kamu juga, belum sempat sarapan." ujar Ratu memberitahu.
"Yasudah mbak, terimakasih ya. Aku sarapan dulu."
Airen langsung pergi ke dapur, dia menikmati sarapan paginya. Karena memang dari kemarin dia mengingkan bubur.
Mmm enak bangat, akhirnya kesampaian juga makan bubur. batin Airen.
Setelah selesai sarapan, Airen ingin membuatkan sarapan untuk dibawa ke kantor Hans. Dia ingin membawakannya ke sana.
"Mbok, terimakasih ya. Karena beliin bubur buat aku." ujar Airen kepada Mbok Nin.
"Iya Non, sama-sama. Jangan sungkan ya kalau mau sesuatu. Bilang aja sama Mbok." ucapnya.
"Iya Mbok."
Airen mengambil peralatan untuk memasak, dia langsung memakai celemek. Airen mengolah makanannya penuh dengan perasaan.
"Lhoo.. Non Iren mau buat apa?" tanya Mbok Nin.
"Mau buat nasigoreng komplit mbok."
"Untuk siapa Non?" tanyanya.
"Buat Mas Hans, nanti mau aku bawa ke kantornya." ucap Airen.
"Mbok bantu ya Non?"
"Ngga usah mbok, biar aku sendiri."
Airen dengan telaten membuatkan sarapan untuk suaminya, dia menambahkan udang sosis dan bahan lainnya ke dalam kuali.
Semoga Mas Hans suka. batin Iren.
***
Setelah selesai memasak, Airen langsung pergi untuk mengganti pakaiannya. Dia memilih pakaian sebagus mungkin, Airen juga mengoles make up tipis ke wajahnya.
"Wahh ini lumayan, aku akan memakai ini saja." ucap Airen di cermin.
Dia bergegas turun ke bawah, dan mengambil kotak makan yang tadi sudah disiapkan. Airen pamit kepada Ratu untuk pergi ke kantor Hans.
"Hati-hati ya Ren, diantar sama sopir saja." ujar Ratu.
"Iya mbak, yasudah aku berangkat. Assalamu'alaikum." ucapnya.
Sepanjang perjalanan Airen menggenggam erat kotak makan itu, berharap suaminya suka dengan masakan yang ia buat.
🌹
Sesampainya di kantor.
"Terima kasih ya pak." ucap Airen kepada sopir pribadi keluarga Mikhailov.
"Sama-sama Non, mau ditungguin atau nanti dijemput?" tanya Pak sopir.
Mungkin nanti aku diantar balik oleh Mas Hans, sebaiknya aku suruh pak supir untuk tidak usah menjemput ku. batin Airen.
"Ngga usah dijemput Pak, nanti saya balik sama suami saya." ucap Airen.
"Oh yasudah Non, kalau begitu saya berangkat."
"Iya Pak, hati-hati."
Setelah kepergian pak supir, Airen langsung bergegas masuk ke dalam kantor. Meskipun awalnya dia ditanya oleh satpam di depan. Akhirnya Airen bisa masuk ke dalam.
Bunga menatap benci ke arah Airen yang baru saja datang, sedangkan Airen hanya acuh. Memang sedari dulu saat dia bekerja disini Bunga sudah tidak suka dengannya.
"Mau ngapain kamu hah!" ujar Bunga.
"Bertemu dengan Tuan Hans." jawab Airen.
"Pffttt Haha, kamu bukannya sudah keluar dari perusahaan ini? Atau jangan-jangan kamu ingin menggoda Tuan Hans agar diterima kembali disini." tuduh Bunga.
__ADS_1
Sebaiknya aku tidak usah meladeni nya. batin Airen.
Airen langsung menerobos masuk, namun tangannya ditahan oleh Bunga. Airen langsung dihempaskan ke lantai oleh Bunga.
"Awwwhh." ringis Airen.
"Airen!" teriak Maya yang tak lain adalah teman Airen.
Maya langsung berlari dan membantu Airen agar terbangun.
"Kamu ngga apa-apa, Ren?" tanya Maya khawatir.
"Ngga apa-apa, May." jawab Airen.
"Heh bunga! jangan mentang-mentang kamu resepsionis, bisa seenaknya melakukan tindakan seperti itu. Asal kamu tahu, Airen ke sini disuruh sama Tuan Hans. Saya akan adukan hal ini kepadanya!" ujar Maya tanpa ragu sedikitpun.
Hal itu membuat Bunga ketar ketir, dia ketakutan sendiri dengan ucapan Maya yang hendak mengadukan dirinya.
"Ayo Ren, sebaiknya kita temui Tuan Hans." ajak Maya, mereka langsung pergi dari sana.
Astaga, kalau sampai si Maya ngadu. Bisa gawat aku. batin Bunga.
**
Apakah kandungan ku baik-baik saja?. ucap Airen dalam hati, dia memegangi perutnya.
"Ada apa, Ren?" tanya Maya yang melihat sahabatnya itu sedang melamun.
"Ngga apa-apa, May. Kamu apa kabar?" tanya Airen basa basi.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana? Aku kangen bangat." ujar Maya memeluk Airen di dalam lift.
"Alhamdulillah aku juga baik, lepasin May. Nanti disangkain lesbi lho.."
Maya langsung melepaskan pelukannya.
"Dih amit-amit, aku juga masih doyan sama lakian tau!" ujarnya.
Airen hanya terkekeh pelan.
Ting.
Pintu lift terbuka.
"Aku nganterin kamu sampai sini ya, soalnya masih banyak pekerjaan." ucap Maya.
"Iya May, makasih banyak ya. Kamu yang semangat kerjanya." ujar Airen.
"Iya Ren, oiya tapi kamu ngapain ke sini? Mau kerja disini lagi?" tanya Maya.
Semoga mas Hans senang, karena aku membawakan sarapan untuknya. batin Airen.
Cklek.
Tanpa mengetuk pintu, Airen langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Hans. Namun dia terkejut karena di dalam ruangan suaminya ada beberapa orang yang sedang berbicara.
Hans dan yang lainnya menoleh ke arah pintu, mereka juga terkejut. Apalagi Hans, yang merasa heran dengan kedatangan istrinya.
"Ma--."
"Keluar!"
belum sempat Airen meminta maaf, Hans sudah lebih dulu menyuruh nya untuk keluar dari ruangan.
Deg.
Airen menatap Hans dengan tatapan sendu nya, air matanya meloroh begitu saja tanpa permisi. Airen langsung menutup pintunya, dia berlari pergi dari sana.
S--sakit sekali rasanya, dua kali dia membentak ku. Endah, inilah yang aku takutkan jika aku mencintainya. Sakit Ndah. batin Airen bergumam.
Bruk.
Airen bertabrakan dengan Roni asisten pribadi suaminya, namun dengan sigap Roni memegangi tangan Airen agar tak terjatuh.
"Nyonya?" ucap Roni, ternyata wanita itu adalah istri dari Tuan nya.
"Saya titip ini untuk Tuan Hans. Permisi." Airen memberikan kotak makan itu kepada Roni, dan dia pergi begitu saja.
"Nyon--."
Hufhh.. Kenapa dia menangis? Apa yang terjadi? batin Roni.
Airen langsung keluar dari kantor, dia berjalan menelusuri jalan. Isak tangisnya sudah tak dihiraukan, Iren membiarkan air matanya mengalir. Sesak sekali rasanya dibentak oleh orang yang mungkin sudah dia cintai.
"Hikss.. kenapa mencintai sesakit ini." gumam Airen disela-sela tangisnya.
Airen berjalan di bawah teriknya matahari, dia terus menelusuri jalan tanpa tahu kemana tujuannya.
Tiba-tiba matanya berkunang, penglihatannya memudar. Airen langsung jatuh di tepi jalan, ada seseorang yang melintas dan turun dari mobilnya.
"Nona, hei bangunlah." ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Airen.
Aku harus membawanya ke rumah sakit. batin orang itu.
__ADS_1
Dia membawa Airen masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya membawa Airen ke rumah sakit.
🌹
Client Hans sudah pulang, kini tinggalah Hans sendiri di ruangannya.
tok..tok..tok.
"Masuk!" ucap Hans.
Roni membuka pintu dengan perlahan, dilihatnya Hans yang sedang memijat pelipisnya.
"Tuan."
"Hn?" Hans mendongakkan wajahnya menatap ke arah Roni.
"Tadi, nyonya Airen ke sini. Dan menitipkan ini untuk Tuan." ujar Roni memberikan kotak makan itu kepada Hans.
"Huffhh. Baik, terimakasih. Lalu dimana dia sekarang?" tanya Hans.
"Nyonya sudah pergi, tapi saya lihat sepertinya Nyonya habis menangis." Roni memberitahu Hans.
Apa? Dia menangis. Astaga, aku tadi membentak nya. batin Hans.
"Ron, urus pekerjaan. Aku akan kembali ke rumah sebentar." ujar Hans tergesa-gesa, dia langsung menyambar kotak makan itu dan pergi dari sana.
Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sampai lupa bahwa istrinya tengah hamil. Seharusnya Hans mengesampingkan rasa cemburunya.
Aarrgghhh si@l, seharusnya aku tidak membentaknya. Cahya, maafkan aku. batin Hans.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Hans sampai di mansion. Dia keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam.
"Cahya!" teriak Hans.
Ratu menghampiri adik iparnya, "Lho.. kamu tumben pulang jam segini? Dimana Airen?" tanya Ratu.
Apa! Jadi dia belum kembali? batin Hans.
"Istriku belum kembali?" tanya Hans.
"Belum, tadi dia mengantarkan makanan untuk mu. Diantar sama pak sopir." jawab Ratu.
Hans langsung berlari keluar, untuk bertanya kepada sopir yang tadi mengantarkan istrinya ke kantor.
"Pak, dimana istri saya?" tanya Hans.
"lho, tadi kata Non Iren dia akan pulang bersama dengan Tuan." jawab sopir.
"Aarghhh si@l." umpat Hans meluapkan emosinya.
Cahya, ku mohon jangan kabur lagi! kemana aku harus mencari mu sekarang. Maafkan aku, ini semua salah ku. tak seharusnya aku mendiamkan mu dan marah padamu. batin Hans.
Ratu menghampiri adik iparnya, sepertinya telah terjadi sesuatu pada Airen.
"Hans, ada apa sebenarnya?" tanya Ratu.
Namun Hans tak menjawab, pikirannya sibuk mencari kemana istrinya pergi.
"Hans!" teriak Ratu.
"Aku tidak tahu kak." jawab Hans.
"Ayo, sebaiknya ke masuk ke dalam dulu. Kita bicarakan hal ini." ujar Ratu berusaha menenangkan Hans.
Mereka masuk ke dalam, Hans duduk dengan tatapan kosong. Kemana dia harus mulai mencari Airen.
"Airen pergi, kok bisa?"
"Aku membentaknya menyuruh dia untuk keluar, karena tadi ada client di ruangan." ucap Hans.
"Astaga Hans, kamu dari kemarin keterlaluan bangat! Asal kamu tahu, bahkan semalam istri kamu nunggu kamu pulang. Bahkan dia juga berinisiatif untuk membuatkan sarapan untuk mu, selain itu kamu jadi suami nya sangat keterlaluan. Istri kamu ingin makan bubur saja kamu tidak tahu!" ujar Ratu memarahi Hans.
Cahya, sayang. Maafkan aku, jangan pergi, jangan tinggalkan aku. batin Hans.
Hans merogoh saku celananya, dia mengambil ponselnya dan menelpon Roni.
Ddrrddtt..
📞"Suruh orang untuk mencari keberadaan istriku!"
Tut..
"Mbak, kalau Cahya sudah kembali. Kabari aku."
Hans langsung pergi untuk mencari keberadaan istrinya, dia benar-benar sangat menyesal karena mendiamkan bahkan membentak istrinya.
Seharusnya saat Airen tengah hamil seperti ini, Hans memanjakannya dengan selalu memberikan kasih sayang serta perhatiannya.
Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia memukul setirnya. Hans sangat menyesal, seharusnya dia bisa menahan rasa cemburunya.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
__ADS_1
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.