
(Sekilas)
Selamat membaca βΊοΈ
πΉπΉπΉ
William menghampiri istrinya yang sedang asyik membaca majalah di ruang santai, laki-laki paruh baya itu menaruh kepalanya di paha sang istri.
Hellena sedikit terkejut, dia langsung menyingkirkan majalah dari tangannya, dan bertanya kepada suaminya.
"Ada apa Pih? Kok mukanya seperti itu sih." tanya Hellena pelan.
"Daniel ada di Indonesia." ujar William.
apa!
Mungkinkah Laura juga ada di sini? tidak mungkin Laura tidak ada, sedangkan ayahnya ada disini. batin Hellena.
"Bagaimana dengan Laura?" tanya Hellena.
William menggelengkan kepalanya lemah, sampai detik ini dia hanya mengetahui bahwa Daniel berada disini. Namun William sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu kejadian tiga tahun yang lalu.
"Menurut Papih apakah Hans sudah mengetahui hal ini?" tanyanya.
"Tidak tahu, lebih baik kita semua fokus terhadap Airen. Tidak usah memikirkan Laura, papih percaya Hans dapat menanganinya." ujar William.
Hellena setuju dengan ucapan suaminya, yang terpenting saat ini adalah kesehatan menantu dan calon kedua cucunya.
**
Airen nampak suntuk dan bosan berada di dalam kamar, dia pun keluar mencari keberadaan Eza.
"Mbok, lihat Eza tidak?" tanyanya kepada mbok Nin.
"Den Eza sedang berada di halaman belakang bersama den Eran nyonya." jawab Mbok Nin.
"Oh gitu, yasudah terimakasih ya mbok."
"Iya non, kalau gitu mbok permisi ya."
Airen mengangguk, lalu melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Mata Airen mengedar menatap taman belakang yang cukup luas, dengan beberapa bunga dan tanaman menjadikan taman itu terlihat sangat indah dan segar.
Airen menyusuri taman belakang, matanya mengedar mencari Eza. Dan terlihatlah Eza sedang bersama dengan Eranson.
"Ezaa." panggil Airen.
Eza dan Eran menoleh ke arah sumber suara, Eza tersenyum melihat kakaknya yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Kalian disini, kakak cari-cari tahu."
"Iya kak, habis di dalam suntuk bangat." ujar Eza.
"Gibran kemana? kenapa dia tidak ada?"
"Ikut mama aku belanja kak." jawab Eran.
Airen hanya manggut-manggut, dia mengikuti aktivitas Eran dan Eza yang sedang berkebun. Airen menikmati aktivitasnya, hingga tiba-tiba dia ingin mengajak Eza dan Eran ke Mall.
"Za, Eran mau ikut ke mall tidak?" tanya Airen kepada mereka.
"Yah aku sepertinya tidak bisa ikut, karena 20 menit lagi aku mau ada les tambahan kak." ujarnya.
"Baiklah tidak apa, kalau gitu Eza mau tidak?" tanya Airen, dan berharap adiknya menjawab ya.
Sepertinya kakak memang ingin pergi ke mall, yauda deh aku mau saja. batin Eza.
"Iya kak, aku mau." jawabnya cepat.
Senyuman kebahagiaan tercetak jelas di wajah Airen, ntah mengapa rasanya sangat bahagia bisa keluar rumah.
Mereka berdua akhirnya keluar dari sana, dan bersiap-siap untuk pergi ke mall. Airen masuk ke dalam kamarnya, mengganti pakaiannya. Saat mengganti pakaian, tiba-tiba dia teringat dengan suaminya.
Izin ke mas Hans tidak ya? tapi nanti takut ngga dibolehin. batin Airen.
Airen melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti, wanita yang tengah hamil itu duduk di sisi ranjang sambil mengutak-atik ponselnya.
"Telepon apa ngga ya?" gumam Airen.
"Telepon aja deh." jawab Airen bermonolog.
Drrrdddrt.. drrrddttt..
π"Hallo sayang, ada apa?" tanya Hans di sebrang telepon.
π"Mmm mas, a--aku izin ke mall ya." ucapnya pelan.
π"No, tunggu aku pulang." jawab Hans.
Tuhkan mas Hans mah gitu. batin Airen.
π"selalu aja nunggu kamu pulang, aku tuh bosen, jenuh mas. Tau ah, sebel sama kamu. Kamu ngga usah pulang!"
π"Sa---"
Tutt..
Airen mematikan sambungan teleponnya sebelum Hans menjawab, dia berdecak sebal kenapa suaminya semakin menyebalkan seperti ini.
"Hallo anak-anak bunda, nanti kalian kalau sudah besar tidak usah nurut bangat sama papa kalian ya. Lakukan lah hal yang kalian suka, selagi itu positif dan baik." gumam Airen sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Kakak jadi tidak?" teriak Eza di depan pintu kamar Airen.
Airen melangkahkan kakinya gontai, moodnya saat ini bercampur aduk antara sedih dan kesal.
Krek
"Kakak kenapa? kok mukanya murung gitu sih."
"Abang kamu noh, tidak izinin kakak pergi." ujar Airen dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Trus ini tidak jadi? Padahal aku udah tampan lho kak." ujar Eza narsis.
"Ihh kamu sama nyebelinnya kayak suami kakak, sudah kamu masuk dulu gih ke dalam kamar. Nanti pasti jadi, tenang saja."
Eza mengangguk patuh, Airen masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Tidak lama Hans sampai di mansion, dia terlihat khawatir setelah istrinya mematikan sambungan teleponnya. Bahkan Hans sampai meninggalkan meeting.
Hans melangkahkan kaki lebarnya menuju kamarnya, dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, akhirnya dia sampai di ambang pintu kamar. Hans memegang hendel pintu dan hendak membukanya, namun dia terkejut saat pintunya terkunci.
Tok tok tok
"Sayang, buka pintunya." teriak Hans.
Mas Hans? batin Airen.
"Cahya! buka pintunya." teriak Han dengan keras.
Cklek
Dengan hati yang masih kesal, akhirnya Airen membukakan pintu untuk suaminya.
Grep
Hans memeluk istrinya dengan erat, namun Airen mendorong dada suaminya agar menjauh. Airen menatap tajam suaminya, Hans yang mendapatkan tatapan tajam itu seketika menghembuskan nafasnya kasar.
"Ayo." ajaknya.
Airen tidak menggubris ucapan Hans, dia malah masuk kembali ke dalam kamar meninggalkan suaminya di depan pintu. Hans segera mengejar Airen, menyusulnya masuk ke dalam kamar.
"Sayang, tadi katanya mau ke mall."
Airen masih tetap diam.
"Sayang, jangan diam saja. Ayo kita pergi ke mall, masa tidak jadi? Padahal aku sudah rela meninggalkan meeting lho."
"Aku ngga minta kamu kesini mas, aku juga tidak menyuruh kamu meninggalkan meeting, aku cuma minta izin dari kamu. Apa susahnya sih? Tau ah sebel sama kamu." gerutu Airen.
"Aku hanya tidak ingin ka--."
Grep
Hans mencoba menenangkan istrinya dengan memeluknya, mengusap lembut kepala Airen dengan sayang.
"Maaf sayang"
Airen menghembuskan nafasnya kasar, dia pun memeluk balik suaminya. Airen menenggelamkan kepalanya di dada bidang Hans.
Cup
Hans mengecup kening Airen, "Maafya, sudah jangan marah lagi." pintanya.
"Kamunya jangan larang aku terus, aku juga kan ngga tiap hari perginya. Kalau hanya ingin saja."
"Iya sayang, maaf ya. Yasudah jadi pergi ke mall tidak?" tanya Hans.
"Jadi, tapi sama Eza ya mas. Kamu ke kantor saja, kan lagi meeting."
"Baiklah, tapi aku antar ya perginya? Nanti baliknya aku minta Roni untuk menjemput kamu. Tidak ada penolakan oke."
Airen mengangguk pasrah, mereka pun pergi keluar bersamaan. Airen masuk ke dalam kamar Eza, dan mengatakan bahwa mereka jadi untuk pergi ke mall.
πΉπΉ
Kini Airen telah sampai di mall bersama dengan Eza, sedangkan Hans setelah mengantarkan istrinya dia pun bergegas pergi menuju kantor.
"Za ayo kita masuk." ajak Airen sambil menggenggam tangan adiknya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mall, Airen sangat bahagia karena dia hanya berdua dengan Eza.
Eza mengajak kakaknya untuk makan lebih dulu, karena Eza ingin mencoba menu makanan yang ada disini. Airen menyuruh Eza untuk memilih beberapa makanan, Eza sangat senang karena dia dapat menikmati segala jenis ayam. Pelayan itu pun segera saat Eza dan Airen telah memilih menu yang mereka pilih.
"Kak, sebenarnya aku kangen bangat sama masakan kakak. Apalagi ayam serundeng buatan kakak, nanti kapan-kapan buatin aku ya kak."
Airen tersenyum dan mengangguk kecil sebagai bentuk jawaban dari ucapan Eza, mereka menantikan makanan dengan sabar. Hingga akhirnya ada pelayan yang membawakan makanan ke meja mereka.
"Silahkan, selamat menikmati hidangannya." ujarnya, dan pelayan itu pun pergi.
Airen dan Eza memakannya denga lahap, dan menikmati makanan itu dalam keheningan dan ketenangan yang ada.
hingga selang beberapa lama mereka pun telah selesai menghabiskan makanannya, tiba-tiba terdengar suara keriuhan yang terjadi antara wanita muda dan wanita paruh baya di toko tas branded di samping restoran itu.
Airen melirik ke arah keributan disebrangnya, dan dia segera membayar makanan yang telah ia cicipi bersama Eza. Airen menghampiri kasir restoran itu, dan menyerahkan black card untuk membayarnya. Karena Hans sudah mengajarkan cara itu kepada Airen.
Kasir itu menganga melihat black card yang dimiliki Airen, baru pertama kali ada seseorang yang membayar makanan seharga tiga ratus ribu rupiah dengan black card.
"I--ini nyonya." ujar kasir itu menyerahkan black card kepada Airen
__ADS_1
"Baik terimakasih."
Airen dan Eza pun pergi dari sana, dan mereka sedikit menghampiri nenek tua yang sedang diomeli oleh wanita yang usianya terbilang sangat matang.
"Nek kalau jalan tuh pake mata dong, lihat nih es murahan yang Nenek bawa mengenai tas mahal yang baru saya beli!" ujar wanita itu.
Airen menatap miris kepada wanita itu, mengapa dia bisa setega itu dengan wanita paruh baya. Airen yakin, pasti nenek itu tidak sengaja melakukannya.
"Maaf Bu, saya tidak sengaja." ucap nenek itu, karena menurut dia wanita dihadapannya ini cukup tua dengan polesan make up yang sedikit tebal.
"Apa kamu bilang hah! Enak saja, manggil saya ibu."
Airen jengah melihatnya, dia langsung ikut untuk membantu nenek itu.
"Permisi, nyonya saya mohon maaf atas ketidaksengajaan yang nenek saya lakukan. saya akan mengganti tas nyonya yang rusak." ujar Airen memberanikan diri.
Wanita itu menatap tajam ke arah Airen, lalu tertawa kencang. "Hahaha, kamu pikir kamu mampu membayarnya hah! Ini tuh tas branded." ujarnya.
Tas branded? Bahkan aku memiliki banyak tas yang seperti itu, karena pemberian suami ku saat di Prancis. batin Airen saat mengingat bahwa Hans pernah memberikan hadiah berupa tas seperti itu kepadanya.
"Saya akan ganti, berapa harganya?"
"Ayo kita masuk ke dalam toko ini, dan membelinya yang baru. Kamu harus membayarnya untukku."
Airen mengangguk, dia menyuruh Eza untuk menemani nenek ini di luar saja. Airen masuk ke dalam toko bersama dengan wanita itu.
"Aku mau yang ini." ujarnya, dan langsung membawa tas itu ke kasir.
"Berapa harganya mbak?" tanya Airen.
"215.000.000 (dua ratus lima belas juta)"
Apa!
Kenapa harga satu tas sampai ratusan juta. Duh, duit mas Hans habis tidak ya? Cukup ngga ya buat bayar tas ini. batin Airen.
"Cepet bayar!" ujar wanita itu.
Airen mengangguk, dan langsung menyerahkan black card miliknya. Wanita itu ternganga seketika, bagaimana bisa wanita lugu seperti ini bisa memiliki kartu black card.
Kasir itu pun melakukan transaksi pembayaran, dan menyerahkan kartu itu kembali kepada Airen. Wanita itu segera mengambil tas miliknya, dan langsung pergi meninggalkan Airen tanpa sepatah kata pun.
Airen mengajak nenek itu keluar dari mall ini, namun si nenek enggan keluar karena tadi dia sedang menunggu cucunya.
"Tidak nak, terimakasih banyak karena telah menolong nenek. Sebenarnya, nenek kesini bersama dengan cucu nenek, namun dia sedang pergi ke toilet. Seharusnya kamu tidak membelikan tas itu untuknya, nenek juga sanggup untuk mengganti rugi kalau nenek bersalah, namun nenek tidak menggantinya karena dialah yang bersalah." ujar si nenek.
"Tidak apa nek, yasudah kalau gitu saya duluan ya. Assalamu'alaikum nek."
"Wa'alaikumussalam, terimakasih ya nak."
Airen mengangguk dan pergi bersama Eza meninggalkan nenek itu sendiri. Tidak lama cucu nenek itu datang menghampiri.
Plak.
"Aduh nek sakit." keluhnya
"Dari mana saja kamu hah! barusan nenek ditolong oleh wanita muda cantik, namun sayangnya dia tengah hamil. Andai saja dia belum memiliki suami, nenek akan menjodohkan nya dengan mu Bar."
"Nenek apaan sih, aku nggamau dijodohin. Nanti ujungnya sama kayak papa sama mama, mereka berpisah tuh." ujar Barra.
"Terserah kamulah, oiya ganti rugi 300.000.000 kepada wanita yang tadi menolong nenek. Dia sampai mengeluarkan banyak uang demi menolong nenek."
"Mana orangnya nek?" tanya Barra.
"Sudah pergi."
"Sebaiknya kita pulang nek, aku mau bertemu dengan Hans untuk membahas masalah bisnis."
Saat mereka berdua hendak pergi, wanita yang tadi kembali dengan wajah yang tergesa-gesa. Dia menghampiri nenek itu untuk bertanya kemana perginya cucunya.
"Nek, dimana wa--."
"Laura!" kaget Barra melihat Laura.
Laura menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya, tentu dia sangat mengenal Barra karena Barra adalah sahabat Hans.
"Wahh Barra, tak kusangka kita akan bertemu disini."
"Mau apa kamu kesini hah!" ujar Barra yang tidak suka dengan kehadiran Laura.
"Tentu saja kembali kepada Hans." jawab Laura tanpa rasa bersalah.
"Haha, kau tidak akan bisa karena Hans sudah memiliki istri."
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang." ujar Laura tersenyum smrik.
"Hei wanita ular! Jangan dekat-dekat kau dengan cucu ku." teriak Nenek Barra.
"What! Bar, jadi ini nenek mu?" tanya Laura tak percaya.
"Tentu saja."
Sial, berarti wanita itu tadi hanya mengaku-ngaku saja. Arghh, kenapa aku bisa melupakan wajah madu ku, bahkan wajahnya sangat berbeda saat pesta pernikahan. Pasti black card itu dari Hans, sial seharusnya aku yang memiliki itu. batin Laura.
Laura pergi begitu saja, meninggalkan Barra dan neneknya. Sedangkan Barra berfikir dia harus menemui Hans untuk membicarakan hal ini.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.