
Bulan berganti dari Januari ke Juli.
Sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Airen, jika dia bisa hidup bahagia bersama dengan seseorang yang ada pertemuan pertamanya terkena tumpahan lemon tea olehnya. Airen ingin sekali mengucapkan terimakasih kepada temannya yang waktu itu tidak menyukainya, sebab dialah Airen harus terlibat dengan seorang CEO Lovmart.
CEO yang dulunya terkenal dingin dan arogan, namun sekarang justru malah manja. Tidak disangka, mereka bersama karena kesalahan satu malam yang dalangnya adalah Barra. Mereka berdua bahkan dianugerahi dua anak perempuan yang sangat cantik, yang mampu membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah.
Kisah Tuan Hans, sudah berakhir bahagia. Dengan dia memiliki istri yang begitu muda dan cantik, kedua anak perempuan yang sangat lucu. Keluarga yang lengkap, sempurna. Satu kata itu yang mampu menggambarkan tentang kehidupan kisah tuan Hans.
Bahkan kini kesempurnaan hidupnya semakin terpenuhi dengan kakak keduanya yang sekarang memiliki kebahagiaannya tersendiri, kini Gibran pun selalu tersenyum sepanjang hari kecuali jika dia bertengkar dengan Eranson. Sudah pasti Gibran menangis.
Begitupun dengan Eza, adik kandung Airen. Saat ini hidupnya lebih dari pada cukup, Eza dapat memakan ayam goreng sepanjang hari. Bahkan tak terasa Eza juga sudah sibuk dengan sekolah menengah pertama nya.
Airen tentu ingat dengan keluarganya di kampung, tak jarang dia mengirimkan uang untuk paman dan bibinya. Terlepas bagaimana perlakuan mereka terhadap Airen, namun sedikit pun tidak ada rasa benci dan dendam di hati Airen untuk mereka.
Kini, kedua buah hati Airen sudah menginjak usia hampir satu tahun. Lebih tepatnya satu tahun kurang satu bulan, bahkan saat ini Bella sedang hamil tujuh bulan. Selepas honeymoon enam bulan lalu, ternyata saat itu Bella sudah mengandung.
Bima mengurangi jadwal pekerjaannya, dia ingin membantu sang istri dalam mengurusi Gibran. Begitupun dengan Mamih Hellena yang sudah mengurangi dirinya dengan tidak langsung terjun ke butik, Mamih hanya mengawasi perkembangan butiknya dari jarak jauh. Karena saat ini dia menantikan momen menjadi kehadiran satu cucunya lagi.
Bahkan Airen juga sudah tidak menggunakan jasa baby sister, karena dua bulan lalu Ica telah resmi dipersunting oleh Barra. Airen turut bahagia, karena kini sahabat suaminya itu telah menemukan pujaan hatinya.
Ada banyak momen yang terjadi selama hampir tujuh bulan ini, Barra yang menikah dengan Ica, Bima dan Bella yang sebentar lagi memiliki anak kedua, bahkan Roni asisten pribadi Hans yang telah bertunangan dengan sahabat Airen di kampung. siapa lagi kalau bukan Endah? Ya, Roni bertunangan dengan Endah dua Minggu yang lalu.
Bahkan Hans tidak menyangka, mendengar kabar bahwa Roni akan bertunangan dengan seseorang. Karena Roni sama sekali tidak menunjukkan rasa ketertarikannya terhadap wanita. Tapi syukurlah, jika Roni sudah menemukan tambatan hatinya.
"Sayang bangun, bantu aku jaga anak-anak. Aku mau bantuin yang lain, karena nanti siang acara tujuh bulanannya mbak Bella."
Hans sudah terbiasa dengan celotehan istrinya, Airen yang sekarang memang lebih bawel dua kali lipat. Karena anak-anak mereka juga sudah mulai aktif, merangkak dan berceloteh.
"Pa-pa-pa-pa." Amara yang paling sering berbicara, bisa dilihat bahwa tingkah Amara itu seperti Airen namun memiliki wajah Hans.
__ADS_1
sedangkan kakaknya Amira, memiliki wajah Airen dan sifatnya turun dari ayahnya. Amira lebih sering diam, meski terkadang dia juga bawel seperti Amara. Wajar, namanya juga anak-anak.
Hans tak kunjung bangun, padahal tubuhnya saat ini dinaiki oleh Ara dengan Amira yang terus menepuk-nepuk wajah papanya yang masih terpejam.
"Mas bangun, itu anak-anak pengen maen sama kamu." Airen terus berbicara sambil menyisir rambutnya karena sehabis mandi.
"Pa-papa anun." (papa bangun) Amara memang sangat ajaib, diusianya yang baru menginjak usia sebelas bulan dia sudah mampu mengucapkan beberapa kata.
Sempat heboh, saat ucapan pertama yang keluar dari mulut Amara adalah kata papa. Sontak hal itu membuat Airen merajuk pada suaminya, bagaimana bisa dia yang mengandungnya malah kata papa yang keluar lebih dulu dari mulut anak bungsunya.
Berbanding terbalik, justru kata pertama Amira adalah unda (bunda). Dan tentunya hal itu membuat Airen senang, setidaknya itu adil bukan?
"Bentar sayang, papa masih ngantuk." semalam Hans lembur, karena perusahaan sedang berkembang pesat.
Airen yang sudah selesai menyisir rambut, lantas dia ikut naik ke atas kasur kingsize itu. Airen hendak mengambil kedua anaknya, namun siapa sangka justru Hans langsung merengkuh pinggangnya.
Cup.
"Ihhh mas ngga baik dilihat anak-anak!" Airen memaksa bangun dari rengkuhan suaminya, dia kesal karena bisa-bisanya suaminya itu mencuri kecupan pagi di depan anak-anaknya.
Amira dan Amara yang tidak mengerti hanya melongo diam memperhatikan tingkah ibu dan ayahnya di pagi hari.
"Ngga apa-apa, itukan pelajaran untuk mereka."
"Mas!!"
"Awhh sayang sakit." Hans meringis karena istrinya mencubit pinggangnya.
"Auh Auh Atit atit." Ara kembali memperagakan apa yang diucapkan ayahnya, hal itu mampu membuat gelak tawa Airen dan Hans di pagi hari.
__ADS_1
"Anak bunda pinter bangat sih." Airen mengelus lembut kepala Amara dan Amira secara bergantian.
"Anak kita, siapa dulu dong papanya?"
"Papa Hans Alister Mikhailov, emang ngga salah sih bibit kamu unggul bangat. Amara cepat berbicara dan lincah, sedangkan Amira akalnya cepat tanggap. Aku bangga jadi ibu mereka."
"Dan aku bangga kamu jadi istriku, Airen Cahya senjani."
"Gombal!"
"Itu namanya bahasa cinta yang langsung terucapkan oleh kata, bukan gombal sayang."
Saat Hans hendak mencium kembali, namun lebih dulu Airen menahan bibir suaminya dengan telapak tangannya. "Mandi dulu mas, habis itu bantu aku jagain anak-anak. Kak Raja juga ngambil cuti, katanya ingin menyaksikan acara tujuh bulanannya mbak Bella."
"Padahal tanpa kehadirannya pun acara bakal tetap berjalan lancar." ucap Hans sambil berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Airen tidak menghiraukan ucapan suaminya, dia menggendong kedua anaknya berjalan keluar kamar. Sudah biasa bagi Airen menggendong kedua anak-anaknya, tapi terkadang Hans selalu memarahinya kalau ketahuan. Soalnya Hans nggak mau istrinya pegal-pegal karena sekarang anak-anaknya sudah lebih besar.
"Mas kamu lupa handuknya!" teriak Airen.
"Oiya, tolong ambilin sayang." pinta Hans dibalik celah pintu yang terbuka sedikit.
Airen mendengus kesal, dia tahu ini masih akal-akalan suaminya saja. Dia tidak mau tertipu untuk kedua kalinya, "Nggak bisa, aku lagi gendong si kembar. Ini mah ke bawah, kamu ambil sendiri." Airen langsung menghilang dari balik pintu.
Sedangkan Hans mendengus karena gagal mengelabui istrinya, Ck kali ini gagal, tapi besok awas kamu ya. batin Hans.
Bersambung...
Apa ada yang masih menunggu kelanjutan KISAH TUAN HANS?
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.