Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 87


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Sudah tiga hari Airen mendiamkan suaminya, wanita itu hanya akan berbicara sedikit saja itupun jika Hans membutuhkan bantuannya ataupun menanyakan sesuatu hal. Hans dibuat tak berdaya oleh sikap istrinya yang cuek dan dingin.


"Sayang kamu pasti capek ya ngurus Amira dan Amara, makanya kamu jadi seperti ini. Sabar ya, aku lagi milihin baby sitter yang terbaik untuk mereka." ucap Hans memeluk Airen dari belakang.


Tiga hari kamu masih diam, tidak berbicara jujur tentang masalah Laura, sepertinya ini saja tidak cukup ya. batin Airen.


"Apasih mas, lepasin gerah tau." protes Airen.


Hans melepaskan dekapannya, dia menarik nafasnya pelan. "Yasudah kalau gitu aku berangkat kerja dulu." lirih Hans.


Airen hanya mengangguk, Hans mendengus kesal melihat sikap istrinya yang seperti ini. Hans mengecup singkat pucuk kepala istrinya.


"Aku berangkat, kamu baik-baik di rumah sama anak-anak ya. Kalau kangen langsung ke perusahaan aja. Dah sayang." Hans melangkahkan kakinya keluar kamar.


Airen menarik nafasnya pelan, dia duduk di tepi ranjang. Matanya mengedar menatap seluruh kamar ini, Airen memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya pelan.


"Hufhh, aku harus bagaimana? Mas Hans sama sekali tidak berkata jujur, padahal aku ingin mendengar penjelasannya. Aku ingin mendengar, mengapa dia membawa Laura ke rumah sakit? Tapi dia memilih untuk diam dan terus membohongi ku." gumam Airen.


Oeekk.. oeekkk..


Airen terperanjat kaget saat mendengar rintihan tangisan suara anaknya, Airen segera menuju keranjang bayi. Ibu dua anak itu langsung menggendong putri pertamanya yang menangis.


"Kak Mira lapar ya nak, cup cup jangan menangis sayang nanti adik kamu ikutan bangun." gumam Airen, beranjak menjauh membawa Amira agar Ara tidak terbangun.


Airen menyusui Amira, anaknya yang satu ini benar-benar sangat mirip dengan dirinya. Namun Amira tidak sebawel adiknya, dia hanya akan menangis ketika lapar, popoknya basah ataupun ada yang dirasa dengan tubuhnya yang sakit.


Tok tok tok


"Ren ini Mamih." teriak Hellena di depan pintu kamar Airen.


Airen segera membukakan pintu untuk ibu mertuanya, "Ada apa mah?" tanya Airen sambil menggendong Amira.


Hellena langsung masuk ke dalam, "Amira lagi nyusu ya, adiknya mana?" tanya Hellena sambil berjalan mencari keberadaan Ara.


"Masih tidur mah."


"Yauda siniin Amira nya, kamu sarapan dulu gih. Kamu belum sarapankan, biar Amira sama Mamih dulu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan Mamih ataupun Ratu." ujar Hellena.


Airen tersenyum hangat saat mendengar ucapan ibu mertuanya, meksipun mamih Hellena pernah egois dan menyebabkan dirinya hampir tiada namun Airen benar-benar bersyukur karena memiliki mertua yang pengertian seperti mamih Hellena.


"Terimakasih mah, tapi nanti saja. Amira masih menyusu. Mungkin sebentar lagi adiknya juga bangun karena lapar."


"Yasudah Mamih bawain kamu makanan ya, biar sarapannya di kamar aja."


"E--eh ngga usah mah, nanti aku sarapan kok. ini belum lapar."


"Ihh mamih nggamau tau, pokoknya kamu harus sarapan. Lagi juga si Hans tidak peka bangat jadi suami, seharusnya dia ikut membantu. Dasar, anak nakal itu harus diberi pelajaran." Hellena terus saja berceloteh panjang sambil berjalan keluar dari kamar Airen.


***


Hans nampak murung melihat kertas yang menumpuk di hadapannya, Roni masuk ke dalam ruang kerja Hans.


"Tuan, ini perjanjian kontrak dari Tuan Barra sudah saya baca. Semuanya sesuai dengan keinginan tuan, tinggal ditandatangani saja." ucapnya sambil menyerahkan dokumen itu.


Hans mengangguk dan kemudian menandatanganinya, dan menyerahkan berkas itu kepada Roni.


"Tuan, saya mendapatkan informasi bahwa CEO perusahaan FA Group, ingin bertemu dengan anda untuk menjalani kerjasama."


Hans sontak kaget saat mendengar nama perusahaan FA Group, karena hal itu tidak asing ditelinga nya. terlebih Ayahnya pernah bekerjasama dengan perusahaan itu, bagaimana Hans tidak terkejut karena perusahaan itu milik kakeknya Gibran, atau lebih tepatnya mertua Bima.


"Bukankah dia yang memutuskan segela bentuk kerjasama yang sudah terjadi?" tanya Hans kepada Roni, karena yang Hans tahu Ayah dari mendiang Gina sangat membenci kehadiran Gibran. karena hadirnya Gibran yang menyebabkan putri semata wayangnya meninggal.


"Mungkin tuan Jo berubah pikiran, atau mungkin dia ingin Gibran menjadi penerusnya." ucap Roni.


Menarik, aku harus memberitahu hal ini kepada Bima. batin Hans.


"Atur saja pertemuannya." ucap Hans, Roni pun pamit undur diri dari sana.


Hans menghela nafasnya pelan, ayah dari dua anak itu segera mengerjakan pekerjaannya. Dia ingin kembali ke rumah, meskipun istrinya masih mendiamkannya.


Setelah berkutik cukup lama dengan komputernya, tiba-tiba Hans memikirkan Airen. Hans berpikir apa yang membuat istrinya terdiam belakangan ini.

__ADS_1


"Sebaiknya kutanyakan saja pada kak Raja." gumam Hans yang teringat akan kakaknya.


Drrddttt... drddttt..


πŸ“ž "Hallo Hans ada apa? tumben sekali kau menelpon ku."


πŸ“ž"Apa yang kau lakukan jika mbak Ratu mendiami mu?" tanya Hans to the point.


πŸ“ž"Pffttt Haha, apakah Airen mendiamkan mu? sehingga kau bertanya hal demikian." Raja tertawa puas melalui sambungan telepon.


πŸ“ž"Jawab saja, atau tidak ada kompensasi untuk anak mu."


πŸ“ž"Hei jangan mengancam seperti itu, tenanglah."


πŸ“ž"Cepat!"


Ck punya adek gini amat batin Raja.


πŸ“ž"Aku hanya akan memikirkan kesalahan apa yang kuperbuat hingga istriku terdiam, atau mungkin aku melupakan sesuatu hal yang penting bagi kita berdua, atau mungkin aku melupakan janji ku, atau mungkin aku membohonginya namun dia tahu lebih dulu." ucap Raja panjang lebar.


Deg


Hans teringat akan kebohongan dia waktu itu, tapi bagaimana istrinya mengetahui hal itu? sedangkan orang yang tau hal itu hanya Roni.


"Hei Hans, are you okay?"


Tut..


Hans langsung mematikan sambungan teleponnya, dia segera beranjak untuk menemui Roni di ruang kerjanya.


Hans berjalan dengan sedikit tergesa-gesa karena dia ingin memastikan bahwa asistennya itu tidak berbohong.


Brak


"Ron! Apa yang kau katakan kepada istri ku hah?"


Roni mematung terdiam, "S--saya tidak mengatakan apapun tuan." ucap Roni.


Glek


Mana saya tahu Tuan Hans, astaga pria ini benar-benar menyusahkan sekali. batin Roni.


"S--saya tidak tahu Tuan."


"Kau bohong, pasti kau yang memberitahu kepada istriku, bahwa aku yang mengantarkan Laura ke rumah sakit, jawab!"


"Tidak Tuan, saya berani bersumpah untuk itu."


Hans menggertakan rahangnya menatap tajam ke arah Roni yang sudah peluh dengan keringatnya.


"Lalu jika bukan kau siapa lagi?" tanya Hans dengan nada yang mengintrogasi.


"M--mungkin Nona Airen yang melihatnya sendiri."


Tidak mungkin istriku ke perusahaan kan? batin Hans bertanya-tanya.


"Cepat cek semua cctv!"


Roni langsung beranjak dari duduknya, laki-laki itu segera menuju bagian pengawasan keamanan. Hans mengikuti Roni dari belakang.


Roni menyuruh semua orang yang bekerja disana untuk melihat rekaman cctv tiga hari yang lalu, Hans dan Roni mengamati saat mereka hendak pergi ke rumah sakit, tidak berselang lama bukti rekaman itu menunjukkan Airen yang memasuki perusahaan sambil membawa bekal makan siang. Terlihat jelas Airen tengah berbincang dengan beberapa karyawan, kemudian Airen pun terlihat sedang menelpon seseorang.


Hans merasa bersalah dengan istrinya, rasa sedih menggerogoti seluruh isi hatinya.


"Cukup, sudah cukup. Terimakasih." ucap Hans, dia pun berlalu pergi ke ruang kerjanya.


Hans menyadarkan dirinya di bangku kebesaran miliknya, Hans memejamkan matanya sejenak.


"Sayang maafkan aku." lirih Hans yang masih memejamkan matanya.


"What? siapa yang kau panggil sayang? Atau jangan-jangan kau berselingkuh dari Airen ya?" ucap Barra yang ternyata sudah berada di depan Hans.


Hans terkejut, seketika dia langsung membuka matanya dan menatap tajam ke arah Barra.

__ADS_1


"Kalau masuk ketik pintu dulu!"


"Eits jangan ngalihin pembicaraan, serius Lo selingkuh dari si Airen? Gila Lo ya." ujar Barra tak menyangka.


"Tutup mulut mu, jangan asal bicara itu bisa menyebabkan kesalahan pahaman untuk orang lain. Mau apa kau kesini?"


"Jawab dulu kali, Lo minta maaf ke siapa."


Hans dibuat tertekan oleh sahabat satunya ini, sungguh dia benar-benar merasa kesal dengan Barra.


"Cahya."


Oh nih anak lagi ada masalah toh sama bini nya. batin Barra tertawa puas.


"Cepet!"


"Oiya, gue kesini mau ngasih tau Lo tentang si Laura dan keluarganya." ucap Barra yang kemudian duduk di kursi depan Hans.


Mereka pun tampak berbincang serius, mengenai masalah Laura dan keluarganya. Terlebih masalah tentang anaknya Laura.


🌹


Bima menyuruh Rani untuk meminta maaf kepada Bella, suster itu menundukan kepalanya saat berada di depan Bima dan Bella.


"Ada apa kakak memanggil ku?" tanya Bella.


"Ran cepat katakan!"


Rani meruntuk dalam hati, sungguh dia berjanji akan menyingkirkan wanita ini dari hidup dokter Bima.


"M--maafkan saya." ucap Rani pelan.


"Aku tidak mendengarnya." ujar Bima.


"Nyonya Bella, tolong maafkan kesalahan saya karena telah menuduh dan menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang Nyonya dan dokter Bima." ucap Rani sedih.


Bella nampak tak percaya dengan semua ini? Jadi Bima memanggilnya ke sini hanya untuk mendengar sebuah permohonan maaf dari seseorang yang telah mencemarkan nama baiknya?


"Sudah ku maafkan, lupakan saja. Kalau gitu saya permisi." ucap Bella, namun tangannya ditahan oleh Bima.


"Sudahlah sebaiknya kau pergi." ujar Bima kepada Rani, dengan hati yang kecewa akhirnya Rani pergi dari sana.


"Lepasin kak." Bella berusaha melepaskan tautan tangan yang melingkar di lengannya.


Bima menatap lekat kepada wanita yang selama ini dia anggap sebagai adiknya, Bima ingin membuktikan sekali lagi apakah dia benar-benar telah jatuh cinta kepada wanita ini?


Perlahan Bima mendekat kearah Bella, perasaannya semakin dibuat tak karuan ada perasaan bahagia dan sesuatu yang tak biasa.


"Kak lepasin! Aku mau pulang." teriak Bella.


Bima tersadar, dia tetap menahan lengan Bella. "Tidak akan, Mamih meminta ku untuk membawa mu ke mansion." ucap Bima.


"Lain kali saja, aku mau pulang. aku sudah membuat janji bersama mas Aryo."


Aryo? Laki-laki itu yaa? batin Bima.


"Tidak ada penolakan, biar aku yang berbicara dengan laki-laki itu."


"Lepasin kak, kamu ngga ada hak buat ngelarang aku."


"Tentu saja ada, kau calon istri ku!" ucap Bima penuh penekanan.


Bella menatap tajam kepada Bima, "Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak mencintai ku!" ujar Bella tanpa gentar sedikitpun.


Deg


Tanpa sadar Bima melepaskan tangan Bella, laki-laki itu terdiam dan kesempatan itu digunakan Bella untuk kabur dari Bima.


Maaf kak, aku tidak ingin kamu menikahi ku hanya karena, permintaan dari mamih Elle. batin Bella.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita, KISAH TUAN HANS. Mohon berikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya (βœ·β€Ώβœ·)

__ADS_1


__ADS_2