
Selamat membaca βΊοΈ
"Ini ruangannya?" tanya Bima menatap Hans.
"Iya ini, kan tadi resepsionis bilang ruang rawat nomor xx."
"Yauda ayo masuk." ujar Bima menyarankan.
Hans mengangguk, tangannya terulur untuk menyentuh hendel pintu. dengan perlahan Hans membuka pintu.
Krek
Hans dan Bima langsung masuk saat pintu terbuka lebar, namun keduanya saling tatap saat melihat dua wanita yang tengah asyik berbincang. Terlebih Hans dibuat terkejut dengan sosok Bella yang sangat akrab dengan kakaknya.
Bella dan Airen menatap kepada dua laki-laki yang baru saja masuk, Bella melototkan matanya saat melihat Bima dan juga Hans. Sedangkan Airen langsung menghampiri suaminya.
"Kirain ngga bakal dicari." celetuk Airen.
Grep
Hans memeluk erat Airen, "Maafkan aku sayang." lirih Hans.
Bella terperangah saat melihat Hans memeluk Airen, pemandangan apa ini? Otak Bella berusaha mencerna apa yang terjadi.
Apa jangan-jangan Airen adalah istri dari Hans? batin Bella.
Ehem
Bima berdehem melewati Airen dan Hans yang tengah asyik berpelukan, sontak kedua pasangan itu melepaskan dekapannya. Sedangkan Bima langsung menuju Bella yang masih duduk di sofa.
"Kamu kenal istrinya Hans?" tanya Bima kepada Bella.
Bella diam tak menjawab, dia sungguh bingung dengan situasi ini bahkan dia masih kesal dengan rumor yang beredar tentang dirinya bersama Bima.
"Kak Bima kenal mbak Bella? Dia yang menolong aku kak, bahkan mbak Bella yang membayar pengobatan anak ku." ujar Airen menjelaskan.
Bima menatap Hans, "Kamu jatuh miskin Hans? sampai-sampai istri mu tidak memiliki uang untuk pengobatan anak mu." celetuk Bima.
"Ck diamlah, akan ku bayar uang itu sepuluh kali lipat."
"Tidak perlu, saya ikhlas. Ren sepertinya kamu sudah tidak membutuhkan saya, kalau gitu saya pamit pulang." ujar Bella bangkit dari duduknya.
Bima langsung mencekal tangan Bella, Airen menatap suaminya seakan bertanya apakah mereka akrab atau memiliki hubungan khusus? Hans tersenyum melihat Airen yang menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.
"Nanti akan ku ceritakan." bisik Hans ditelinga Airen.
"Kalau mau pulang ayo saya antar kamu." ujar Bima.
"Tidak kak makasih, saya bawa kendaraan sendiri." tolak Bella.
Airen menghampiri Bella dan mengusap lembut lengan wanita sepantaran suaminya itu. "Mbak sebaiknya pulang bersama kak Bima, aku jamin kak Bima akan menjaga mbak."
Hans dengan posesif menarik pinggang istrinya, masih ada ketidaksukaan di hatinya kala mengingat bahwa kakaknya itu pernah mencintai istrinya.
Bima terkekeh melihat Hans seperti itu, bahkan adiknya tidak tahu bahwa dia sedang mendekati Bella.
"Bel boleh aku minta tolong pada mu?" tanya Hans tiba-tiba.
Airen menatap wajah suaminya, ada kecemburuan di hati kecilnya namun Airen berusaha untuk menepisnya.
"Mas kenal juga sama mbak Bella?"
"Iya sayang, dia itu temannya kak Bima." jawab Hans.
__ADS_1
Apa Bella ini yang dimaksud oleh mbak Gina? tanya Airen dalam hati.
Bella tidak ingin berada disini lama-lama, dia ingin terbebas dari keluarga Mikhailov. sudah cukup kejadian di rumah sakit bersama Bima yang membuat namanya tercoreng, Bella tidak ingin jatuh terlalu dalam.
"Minta tolong apa? Aku mau pulang."
Drrdddttt drddtttt
"Siapa mas?" tanya Airen.
Hans memperlihatkan handphonenya kepada Airen di sana tertulis jelas nama (my light), Hans segera mengangkat teleponnya, itu pasti dari Eza.
π"Kenapa Za?" tanya Hans diambang telepon.
^^^π"Anak kakak menangis terus-menerus, aku ngga bisa ngedieminnya. Tolong kak." ujar Eza panik^^^
π"Kamu tidak usah khawatir oke, nanti Om Bima kakak suruh untuk mengambilnya." ujar Hans.
^^^π"Oke kak cepat ya."^^^
^^^Tut^^^
Airen cemas dan panik mendengar anaknya yang satu terus saja menangis, Hans meminta bantuan Bima untuk menjaga anaknya.
"Bim, tolong ke apartemen. Anak gue nangis." ujar Hans.
"Ck tadi aja pake embel-embel kakak." protes Bima.
Airen melihat perdebatan ini belum selesai sama sekali, dia melirik ke arah Bella. Airen memegang tangan Bella, "Mbak ayo antar saya mbak." ujar Airen.
Bima dan Hans langsung menarik mereka, Hans dengan cepat menarik pinggang sang istri begitupun dengan Bima yang menarik pinggang Bella.
Oh sepertinya si Bima lagi fall in love kembali. batin Hans.
"Bim cepat! Anakku menangis, bawa Bella sekalian. Dia pasti akan membantu mu."
Bugh
Bella memukul perut Bima dengan siku nya, agar tangan yang melingkar di perutnya terlepas. Bella menatap tajam kepada dua kakak beradik itu, "Aku akan membantu mu, tapi cukup aku saja yang pergi. Aku tidak ingin dia ikut." tunjuk Bella kepada Bima.
"Eits tidak bisa begitu, kamu tidak tahu apartemen si Hans. Nanti nyasar." jawab Bima sebelum Hans menjawab.
Sudahlah, mereka sekeluarga memang menyebalkan. batin Bella.
Bella melangkahkan kakinya pergi dari ruangan, dengan tergesa-gesa Bima menyusulnya agar tidak kehilangan wanita itu. Setelah kepergian Bella dan Bima, Hans menatap istrinya.
Grep
Hans memeluk Airen dengan sangat erat, "Sayang maaf, maaf karena aku tidak ada di saat kamu dan anak-anak membutuhkan ku." lirih Hans merasa bersalah.
Airen mengelus lembut bahu suaminya, "Tidak apa-apa mas, baik aku maupun kamu tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Lagi pula kita masih menjadi orang tua baru, ditambah tidak ada bimbingan dari yang berpengalaman. Apa sebaiknya kita tinggal bersama mama Elle dan papa Willi lagi? Toh kan disana ada mbak Ratu dan mbok Nin juga, aku juga akan lebih happy begitupun dengan Eza karena ada Eran dan Gibran." ujar Airen menyarankan.
Hans masih memeluk istrinya, menyesap aroma yang begitu menenangkan. Hans dibuat bingung, sebenarnya dia ingin menjalankan rumah tangga sendiri namun yang dikatakan istrinya benar.
Hans melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Airen yang begitu menenangkan. Hans menangkup wajah istrinya, mengamati mata coklat itu dalam-dalam.
Cup cup cup.
Hans memberikan beberapa kecupan di kening, dan kedua pipi. Saat Hans ingin mengecup bibir istrinya, namun terganggu oleh anaknya yang menangis.
Oekk.. oekkk..
selalu saja seperti ini. batin Hans, mau tidak mau dia mengalah.
__ADS_1
Airen langsung menghampiri anaknya yang menangis, dan menggendongnya dalam dekapan. Hans duduk dibrankar samping istrinya duduk yang tengah menimang anaknya.
"Ini anak pertama kita ya sayang?"
"Iya mas, kata kamu yang wajahnya mirip aku dia anak pertama."
Awas kamu ya nak, papa akan kasih kamu pelajaran nanti kalau sudah besar. Usil sih suka mengganggu papa dan mama. batin Hans.
Anak itu masih menangis, Airen membuka kancing bajunya memberikan asi untuk anaknya. Hans membelalakan matanya saat salah satu choco chips istrinya disedot oleh sang anak.
"S--sayang." lirih Hans dengan suara beratnya.
"Kenapa mas?" tanya Airen.
"Itukan choco chips aku."
Airen terkekeh dengan tingkah suaminya, dia membelai wajah Hans dengan lembut. "Dan mulai sekarang ini juga punya anak-anak kita, jadi kamu harus berbagi." ucap Airen terkekeh.
Hans memasang muka menggemaskannya, seperti anak kecil yang merengek karena barang-barang miliknya disentuh oleh orang lain.
"Bagian aku kapan?" tanya Hans, pandangannya masih menatap ke arah bayinya yang dengan lahap menyesap choco chips.
"Dua bulan lagi."
"Sebulan dong, kan sudah lewat sebulan berarti tinggal sebulan lagi." protes Hans.
Airen tertawa bisa-bisanya suaminya mengingat tentang hal itu, Hans menyenderkan kepalanya di bahu sang istri. Dia menatap putri kecilnya yang tengah menyusu, lama kelamaan Hans mulai nakal. Dia meniup leher Airen, bahkan sesekali membuat kepemilikan di leher istrinya.
"M---mas diem deh, jangan rusuh gitu."
Hans tidak menggubris ucapan istrinya, dia semakin tergerak untuk mencu mbu istrinya. Bahkan tangan Hans mulai bergerak memegang salah satu gundukan di dada istrinya.
"Mm mm--mas Hans, jangan seperti ini." protes Airen.
"Sayang aku sudah tidak sabar lho, nanti kalau aku jajan di luar gimana?"
Airen menatap tajam suaminya, "Oh kamu punya niat seperti itu mas? tega kamu, anak-anak belum punya nama tapi kamu sudah memiliki niat seperti itu. Aku tidak Sudi berbagi dengan orang lain, kalau kamu mau silahkan tapi cerai--."
Bibir Airen langsung dibungkam oleh bibir Hans, Airen terkejut sedangkan Hans langsung menyes@p masuk agar lebih dalam. Mereka berdua bertaut cukup lama, hingga akhirnya Hans memilih menyudahinya saat Airen hampir kehabisan oksigen.
Hans mengusap bekas salivanya yang ada di bibir Airen, dia mengusapnya dengan ibu jari. Hans tersenyum ke arah istrinya, "Aku akan menunggu, tadi hanya bercanda. Maaf ya sayang, lagi pula mana mau aku jajan di luar. Yang ada nanti digantung sama papih dan mamih." ujar Hans.
"Janji ya mas, awas saja kalau kamu jajan di luar."
Hans terkekeh, "Iya sayang, tapi izinkan aku untuk melakukan hal-hal seperti tadi. Aku janji tidak akan melewati batasan."
Airen mengangguk, "Yasudah sekarang beri nama untuk anak kita."
"Amira Cahya Mikhailov, nama untuk anak pertama kita. Amara Hanster Senjani, nama untuk anak kedua kita. Bagaimana apa kamu setuju? Atau ada yang mau diubah?" tanya Hans meminta pendapat istrinya, karena dia tidak ingin memutuskan secara sepihak.
"Aku setuju, terimakasih mas." ujar Airen memeluk suaminya.
"Jangan erat-erat sayang, nanti Amira kegencet." ucap Hans.
Ada kehangatan tersendiri di hati Airen saat suaminya menyebutkan nama anak pertamanya, rasa haru dan bahagia kian membuncah karena anaknya sudah memiliki nama.
"Hallo Amira jadi anak yang tangguh dan kuat ya sayang, karena kamu anak pertama tentunya kamu yang akan menjadi pewaris perusahaan papa." ujar Hans kepada anaknya.
Cup Cup
Hans mengecup kening anak dan istrinya, meskipun ada yang kurang yaitu satu anaknya yang masih berada di apartemen bersama Bella dan Bima.
Tuhan, aku berdoa agar kebahagiaan selalu menyertai anak-anak ku. Amira dan Amara, jadikanlah mereka anak perempuan yang tangguh dan kuat, bantu mereka dalam menjalani kisah nya. Apapun kisah mereka, aku sebagai ibunya selalu berharap kebahagiaan menyertai kedua putri ku. batin Airen.
__ADS_1
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.