Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 45


__ADS_3

(MENGINGINKAN CUCU PEREMPUAN)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen sudah kembali pulang ke rumah, setelah dua hari harus di rumah sakit. Kini Hans dapat bernafas lega, karena kondisi istrinya telah membaik.


Hellena juga sudah pulang dari Prancis, dia sangat mengkahwatirkan menantunya saat Ratu memberitahukan bahwa Airen di rawat. Tapi untung saja, kini mereka kembali bersama-sama.


"Mas istirahat saja." ujar Airen, kini wanita itu membiasakan panggilan untuk suaminya.


"Nanti, aku masih harus mengerjakan pekerjaan." ujar Hans yang sedang menatap ke arah laptop.


"Maaf ya mas, ini semua gara-gara aku." lirih Airen merasa bersalah, karena selama di rumah sakit wanita itu enggan untuk ditinggal-tinggal oleh Hans.


Hans meletakan laptopnya, "Sini," Hans memanggil Airen dan menepuk-nepuk pahanya agar wanita itu duduk di pangkuannya.


Airen menghampiri Hans, dia memilih untuk duduk di samping nya.


"Sini sayang." ujar Hans menarik lengan Airen dan membawanya untuk duduk di pangkuannya.


Deg. deg. deg.


Jantung Airen berpacu sangat cepat, karena jarak wajahnya dan wajah Hans sangat dekat.


Astaga, ada apa dengan jantungku. batin Airen.


Deru nafas Hans terasa jelas bagi Airen, Hans menatap lekat istrinya itu. Dia sangat bersyukur karena rasa trauma yang dialami Airen kini sudah memudar.


"Cahya, aku mencintai mu." ujar Hans dengan suara yang berat.


Deg. deg. deg.


Airen tak dapat menjawab ucapan suaminya, dia bahagia karena mendapatkan pengakuan cinta dari Hans.


"Apa kau mencintai ku?" tanya Hans ditelinga Airen.


Aaaaaa, kenapa mendadak lemas tak bertenaga seperti ini. batin Airen.


"A--aku, aku." belum sempat Airen menjawab, pintu kamar mereka diketuk oleh Gibran.


Tok..tok..tok.


"Uncle, dimana Mommy?" teriak Gibran sambil mengetuk keras pintu kamar.


Airen terperanjat kaget, dia langsung bangun dari pangkuan Hans. Dan berjalan menuju pintu.


Astaga, anak itu sungguh merusak suasana. batin Hans tak suka.


Cklek.


"Mommy!" Gibran langsung memeluk Airen dengan erat.


Airen membalas pelukan Gibran, sedangkan Hans menatap kesal kepada keponakannya. Hans kembali berfokus pada pekerjaannya.


"Mommy, dicariin Oma." ucap Gibran.


"Yasudah, ayo kita pergi menemui Oma." ujar Airen menggenggam tangan Gibran.


Mereka pun pergi dari kamar, dan menuju ke bawah untuk menemui Hellena.


"Airen, bagaimana dengan keadaan mu?" tanya Hellena kepada menantunya.


"Alhamdulillah, sudah membaik mah." jawabnya.


"Gibran, kamu main dulu ya sama kak Eran dan kak Eza." ujar Hellena.


"Aku mau sama Mommy," jawab Gibran.


"Oma mau berbicara serius dengan Tante Airen, boleh ya? Gibran kan anak pintar dan baik." ucap Hellena membujuk Gibran.


"Otey Oma, jagain Mommy ya."

__ADS_1


Gibran langsung pergi dari sana, dia menemui Eranson dan juga Eza. Sedangkan Hellena dan Airen hanya tersenyum melihat kepergian Gibran.


"Gibran sayang bangat sama kamu lebih dari Hans deh kayaknya." Hellena terkekeh pasalnya cucu keduanya itu sangat posesif dengan istri Hans.


"Iya mah, aku juga bahagia mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga ini." ucap Airen.


Hellena tersenyum, "Mamih juga bahagia, karena Hans sudah menemukan kebahagiaannya. Mamih ngga sabar gendong cucu lagi. Dijaga kandungannya dengan baik ya Ren, kalau kamu ngidam sesuatu jangan sungkan untuk bilang ya." ujar Hellena.


"Iya mah, semoga mereka selalu sehat." ucap Airen sambil mengelus-elus perutnya.


Apa!


"Astaga, jadi kamu hamil anak kembar? Ya ampun, si Hans sekali cetak langsung jadi dua." ujar Hellena tak percaya.


Airen hanya tersenyum kikuk, tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Hellena mengajak menantunya itu untuk duduk di sofa.


"Sini sayang, biar enak ngobrolnya."


"Iya mah." Airen menurut saja.


"Kamu mau pesta pernikahan yang seperti apa?" tanya Hellena to the point.


"Untuk apa mah?" tanya Airen.


"Kamu dan Hans belum mengadakan resepsi pernikahan, kamu tau sendiri suami kamu pebisnis. Mau tidak mau kalian harus mengumumkan pernikahan kalian di khalayak umum." ujar Hellena memberitahu.


Sebenarnya aku tidak mau, tapi jika ini baik untuk karir Mas Hans yasudah lah. batin Airen.


"Aku ikut baiknya aja mah." ucap Airen pasrah.


"Yasudah, tapi benar nih ngga ada keinginan apa gitu di pesta pernikahan nanti?" tanya Hellena.


Mmm apa ya? batin Airen.


"Aku mau teman dan juga keluarga ku yang ada di desa dapat hadir, itu saja mah." ucap Airen.


"Baiklah kalau gitu, sesuai dengan keinginan kamu sayang. Oiya, Mamih boleh mengelus perut kamu?" tanya Hellena.


Airen tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Hallo cucu-cucu Oma, kalian sehat-sehat ya sayang. Jangan menyusahkan Mommy kalian--."


"Bunda, mah." ucap Airen sambil terkekeh pelan.


"Ohh Mommy kalian ingin dipanggil Bunda katanya, yasudah pokoknya kalian sehat-sehat ya. Oma tidak sabar untuk menimang kalian, semoga salah satu diantara kalian ada yang perempuan ya. Karena Oma menginginkan cucu perempuan." ucap Hellena dengan bahagia.


Deg.


Hati Airen begitu takut, jika ia melahirkan anak laki-laki. Karena mama mertuanya menginginkan anak perempuan.


Bagaimana jika anak ini laki-laki? batin Airen.


🌹🌹


Di lain sisi, seorang laki-laki bule tengah menatap layar ponselnya. Dia tersenyum melihat foto yang dia ambil saat dia menolong seorang wanita.


Beautiful, Is not that wanita ini akan sangat cocok with me? (Cantik, bukankah wanita ini akan sangat cocok dengan ku?). batin laki-laki bule itu. (dia ngomongnya campuran Indonesia & Inggris)


"Daddy." panggil anak perempuan yang tengah berjalan ke arahnya sambil memegang boneka.


"Yes, baby?"


"When do we meet Mommy?" (kapan kita bertemu dengan Mommy?) tanyanya.


"When you are fluent in Indonesian." (Saat kamu lancar berbahasa Indonesia) ucapnya.


Anak perempuan berusia 4 tahun itu tersenyum, "Sekarang, kita bisa bertemu dengan Mommy!" ucapnya dengan sangat lancar dan fasih.


Oh My God, sejak kapan anak ini pandai berbahasa Indonesia. batinnya.


"Tidak sekarang, oke."


"Daddy jahat, kenapa pisahin aku sama Mommy selama bertahun-tahun." ucapnya dengan emosi.

__ADS_1


Astaga, kenapa aku harus mengatakan bahwa wanita yang ku tolong adalah Mommy-nya. Aku tidak peduli, meskipun dia sudah memiliki pasangan. Aku harus bisa mendapatkan nya, demi Leana. batin laki-laki bule itu.


"Sekarang Lea pergi belajar ya, Daddy harus menyelesaikan pekerjaan." ucapnya.


"Oke, Daddy." Leana pun pergi dari sana.


🌹


Malam hari.


Ntah mengapa perasaan Hans sangat gelisah, dia memikirkan perkataan Barra waktu di rumah sakit. Jika yang menolong istrinya adalah laki-laki bule.


"Siapa laki-laki yang menolong istriku?" gumam Hans.


Cklek.


Pintu kamar terbuka, Airen masuk dengan membawakan teh hangat untuk suaminya. Airen tersenyum melihat Hans yang sedang menatap ke arahnya.


"Mas, diminum dulu teh nya." ucap Airen sambil menyerahkan teh hangat itu kepada Hans.


"Terimakasih sayang." Hans mengambil teh dan menyeruputnya.


"Mm.. Mas, kamu menginginkan anak laki-laki atau perempuan?" tanya Airen tiba-tiba.


Hans mengernyitkan dahinya, dia menatap dalam mata Airen. Seperti ada kekhawatiran yang dialami istrinya.


Hans tersenyum, "Tidak peduli, laki-laki ataupun perempuan. Yang terpenting, kamu dan anak kita selalu sehat." ucap Hans.


Hati Airen sedikit lega, karena suaminya tak mempermasalahkan jenis kelamin anak mereka.


"Kalau kamu mau laki-laki atau perempuan?" tanya Hans.


"Aku juga tidak mempermasalahkannya, tapi--." Airen ragu untuk memberitahu suaminya, jika ibunya menginginkan anak perempuan.


"Tapi apa?" tanya Hans.


Airen menggeleng, tidak berani untuk berbicara. Dia takut, jika Hans malah berbicara lagi dengan ibunya.


Hans mendekatkan dirinya di samping Airen, dia memeluk istrinya dengan sayang.


"Bicaralah, tidak perlu ada yang dirahasiakan di antara kita." ujar Hans.


"Tapi, mas janji ya. Agar tidak mempermasalahkan ini lebih lanjut." ucap Airen.


Hans mengangguk dan tersenyum, dia berjanji kepada istrinya untuk tidak mempermasalahkan hal ini lebih lanjut.


"Tadi, mama bilang beliau menginginkan cucu perempuan." ucap Airen.


Astaga Mamih, seharusnya dia tidak berbicara tentang hal ini kepada Cahya. Mmm.. dari kehamilan Gina, Mamih memang menginginkan cucu perempuan. Karena dia tidak memiliki anak perempuan, tapi Mamih tetap menyayangi Gibran karena dia ditinggal oleh Gina sedari bayi. apa jadinya jika anak ku ternyata laki-laki. Aku tak akan membiarkan anak-anak ku kekurangan kasih sayang dari siapa pun! batin Hans.


"Kamu tenang saja, Mamih pasti akan tetap menyayanginya. Jangan pikirkan hal ini, pikirkan saja kesehatan mu dan juga anak kita. Lagi pula, kandungannya baru 3 bulan, Belum terlihat jenis kelaminnya. kamu tenang saja oke." ujar Hans.


Airen hanya mengangguk, dia juga berusaha menepis kekhawatirannya. Namun, tetap saja keinginan ibu mertuanya mengganggu pikiran Airen.


"Ayo, sebaiknya kita tidur. Ini sudah larut malam."


Hans membaringkan Airen di sisinya, dia memeluk Airen kedalam dekapannya. Hans memberikan kecupan di kening Airen.


Cup


"Mau tidur, atau mau mengulang malam itu?" bisik Hans ditelinga Airen.


Hans langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya, Airen menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hans.


Hans terkekeh, padahal dirinya setengah mati menahan hasratnya. Sudah hampir dua bulan pernikahannya. dia belum menyentuh tubuh istrinya.


Sabar Hans, tunggu rasa trauma istri mu benar-benar menghilang. batin Hans.


Mereka pun larut dalam tidurnya.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2