Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 42


__ADS_3

(TERBAKAR API CEMBURU)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Di kantor.


"Ron, hari ini jadwal ku sampai jam berapa?" tanya Hans yang menanyakan jadwalnya kepada asistennya.


"Sampai jam 10 malam, Tuan. Karena anda harus lembur untuk menyelesaikan semua dokumen." ujar Roni memberitahu.


Apakah Cahya sedang menunggu ku? Atau dia bahkan tidak memikirkan ku. Aku harus pulang sebelum jam 9 atau tetap mengikuti jadwal sesuai yang Roni buat. batin Hans.


"Apa anda mau merubah jadwalnya Tuan?" tanya Roni, karena dia tahu kini atasannya sudah memiliki istri.


"Tidak, terimakasih. Aku akan lembur, kau pulang saja lebih dulu. Biar aku sendiri disini." ujar Hans, karena mengingat ini sudah jam 8 malam.


Roni pun mengangguk dan pergi meninggalkan Hans sendiri di ruangan nya.


🌹


Airen sedang bermain monopoli bersama dengan Eza, Gibran, dan juga Eranson. Mereka tampak tertawa riang, karena Eza terkurung dalam penjara di permainan monopoli.


"Hahaha, Kak Eza masuk penjara. Sekarang giliran aku yang jalan." ujar Eranson, dia pun mengambil dadu dan melemparnya.


Eranson mendapatkan 10 angka, dia pun jalan sesuai angka yang tertera.


"Wihh, kak Eran ada di negara Itali." ujar Gibran.


"Aku mau beli rumah disini." ucapnya.


Ratu menghampiri Airen dan juga anak-anak, tak dapat Ratu pungkiri jika kehadiran Airen memang membawa kebahagiaan untuk anak-anak. Dan lebih menghidupkan keluarga ini, Ratu senang karena dia memiliki teman di rumah ini selain Mamih Hellena.


"Anak-anak, Mamah pinjam Tante Iren dulu ya." ujar Ratu meminta izin kepada anak-anak.


"No Mama! Mommy bukan barang, ndak boleh dipinjem." ujar Gibran.


"Yasudah, Mama minta izin agar Tante Iren menemani mama untuk menyiapkan makan malam." ujar Ratu.


"Iya boleh, tapi aku ikut." ucap Gibran.


"No sayang, kamu main disini bersama dengan kak Eza dan kak Eran ya. Ini urusan perempuan oke." ujar Ratu kepada Gibran.


"Iya, Gibran disini saja ya. kakak mau bantu mama Ratu sebentar." ucap Airen.


"Mmm otey deh."


***


Setelah membujuk Gibran, akhirnya Airen dapat pergi dari sana. Dia membantu Ratu menyiapkan makanan ke meja makan.


"Aduhh, mbok jadi tidak enak. sampai harus dibantu dengan Non Iren dan juga Non Ratu." ujar Mbok Nin.


"Ngga apa-apa, mbok. kan kalau dikerjakan bersama-sama jadi lebih mudah." ucap Airen.


"Bener tuh, Mbok." ucap Ratu menimpali.

__ADS_1


"Mbak, mama Elle dimana? Kok aku belum melihatnya semenjak tadi pagi." tanya Airen sambil menyiapkan makanan.


"Oiya, Mbak sampai lupa ngasih tau kamu Ren. Gara-gara Gibran terus nempel sama kamu, tadi Mama telpon katanya ikut ke Paris sama Papa. Mungkin Mama di sana selama dua hari saja." ujar Ratu memberitahu.


"Keluarga ini sering bolak balik ke luar negeri ya Mbak?" tanya Airen penasaran.


"Pfffttt haha, Kamu ada-ada saja. Iya memang benar sih, kan kamu tahu sendiri Papa William itu asli orang Prancis tapi sudah melokal bangat. Apalagi suami kamu tuh, si Hans kerjaannya bolak balik ke luar negeri." ucap Ratu.


"Apalagi Kak Raja, secara dia kan pilot. Pasti lebih sering mondar mandir ke luar negeri ya Mbak." ucap Airen menimpali.


"Hahaha, iya kamu benar. Oiya memangnya kamu belum pernah ke luar negeri?" tanya Ratu kepada adik iparnya.


Airen menggeleng, "Ngga mbak, jangankan keluar negeri. Keliling Indonesia aja aku belum pernah. Kota ini adalah kota pertama dan satu-satunya Kota yang aku singgahi." kata Airen memberitahu.


"Memangnya negara mana yang ingin kamu kunjungi?" tanya Ratu.


"Mmm.. Aku ingin pergi ke Jepang, karena ingin melihat bunga Sakura yang berguguran di sana. Aku juga ingin ke Paris, karena katanya kota itu terkenal dengan keromantisan. Mm.. Aku juga ingin pergi ke Swiss karena katanya pemandangannya bagus dan juga bersih." Airen menceritakan itu kepada Ratu sambil membayangkannya.


Suami mu pasti langsung dapat mewujudkan nya. Aku harus memberitahukan Hans tentang hal ini, untung saja tadi aku sempat merekamnya. batin Ratu.


"Iya Non benar, kota Paris bagus bangat. Waktu Tuan Hans lahir, bibi di ajak ke sana sama Nyonya Hellena. Kan Tuan Hans lahirnya di Paris Prancis." ucap Mbok Nin.


Astaga, suamiku lahir di Paris? Apalah dayaku yang lahir di desa bahkan Ibu bilang, aku lahir dibantu dengan dukun beranak. batin Airen.


🌹🌹


Setelah selesai makan malam, anak-anak langsung tidur di kamarnya. Meskipun pada awalnya Gibran sempat menolak untuk tidur lebih dulu, akhirnya anak kecil itu sudah tertidur pulas.


Airen sedang berada di ruang tamu, dia menunggu kepulangan suaminya. Dilihat jam dinding sudah pukul 21.15 malam.


"Ren, kamu belum tidur?" tanya Ratu menghampiri adik iparnya.


"Tidak menentu, memangnya dia tidak mengabari mu?" tanya Ratu.


Waktu dulu, dia pernah menyimpan nomornya di handphone ku. Bahkan menamai dirinya dengan Tampan, tapi sekarang aku bahkan tidak memiliki nomornya. batin Airen.


"Tidak mbak, sebaiknya mbak istirahat saja. Tidak usah menemaniku, mungkin sebentar lagi Mas Hans pulang." ucap Airen kepada Ratu.


"Yasudah, mbak istirahat duluan ya Ren. Kamu langsung tidur saja, jika jam 10 Hans belum pulang." ujar Ratu.


"Iya mbak."


Ratu langsung pergi ke kamarnya, dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


Airen menunggu dengan sabar kepulangan suaminya, dia menunggu di ruang tamu sambil menonton televisi dan ditemani dengan cemilan.


"Lhoo.. Non Iren belum tidur?" tanya Mbok Nin yang melewati ruang tamu.


"E--ehh Mbok Nin, belum mbok. Sedang menunggu Mas Hans." jawab Airen.


"Oh yasudah Non, Mbok mau istirahat duluan ya. Kalau Non butuh sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu saya." ujar Mbok Nin.


"Iya Mbok, terimakasih."


Airen kembali menonton televisi hingga kini sudah hampir jam 10 malam, namun suaminya tak kunjung pulang.


Kemana mas Hans? kenapa jam segini belum kembali. batin Airen yang sudah mulai resah.

__ADS_1


Cklek..


Pintu depan sedikit terbuka, hati Airen sudah merasa tenang. Karena dia pikir suaminya sudah kembali.


"Mas ak--."


Belum sempat Airen melanjutkan kata-katanya, dia tersentak kaget saat melihat yang membuka pintu bukan Hans suaminya, melainkan Bima kakak iparnya.


Deg.


Jantung Bima tak karuan saat mendengar Airen memanggilnya dengan sebutan Mas, ingin rasanya dia memeluk wanita yang amat dirindukannya itu.


"Maaf, aku pikir mas Hans." ujar Airen meminta maaf, bahkan dia tak berani untuk menatap Bima.


Apa? jadi dia memanggil Mas untuk Hans, bukan untuk ku. batin Bima.


Bima tersenyum kecut, dia mendekat ke arah Airen. Bima mengikis jarak diantarnya dengan Airen, hingga keduanya bisa saling merasakan deru nafas mereka.


Bima menelan salivanya kasar, dia memegang bau Airen. "Jangan tidur larut malam, tidak baik untuk ibu hamil." ujar Bima memperingatkan.


Cklek.


Belum sempat Bima menyingkirkan tangannya dari bahu Airen, pintu depan terbuka lebar menampakkan sosok Hans.


Deg.


Hans menggertakan rahangnya, matanya merah padam akibat terbakar api cemburu. Emosinya sangat menggebu.


Tck, Seharusnya aku tidak pulang! batin Hans.


Hans melewati Airen dan Bima begitu saja, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar.


Airen dengan sigap melepaskan tangan Bima dari bahunya, dia langsung mengejar suaminya. Airen tahu, pasti suaminya salah paham.


Sesampainya di kamar, Hans melemparkan dasinya ke sembarang arah. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Airen menatap punggung suaminya dengan sedih, dia langsung memilihkan pakaian tidur untuk Hans kenakan.


Namun pakaikan yang telah dipilihkan oleh Airen, tidak Hans pakai. Hans memilih untuk mengambil pakaiannya sendiri.


Setelah memakai baju, Hans langsung mengambil bantal dan selimut. Dia memilih untuk tidur dalam ruang kerja nya.


"M--Mas, mas mau kemana?" tanya Airen yang mengekor di belakang Hans.


"Kamu tidak usah ikuti saya! Cepat tidur." bentak Hans kepada Airen, dia langsung pergi ke ruang kerjanya.


Brak.


Hans menutup pintu kamar dengan kencang. Hati Airen terasa amat sakit, kenapa bisa seperti ini. Apakah tandanya dia mulai mencintai Hans?..


"Hikss.. Sakit sekali rasanya." air mata Iren turun begitu saja, tanpa permisi.


Airen memegangi dadanya yang terasa amat sesak, dulu mungkin biasa saja jika Hans membentak dirinya. Namun, mengapa sekarang rasanya begitu sesak?.


Maafkan aku Cahya, aku tak berniat untuk membentak mu. Tapi rasa cemburu ku sungguh tidak bisa ditahan lagi, kenapa harus kak Bima lagi. kenapa? Sakit sekali, jika ternyata kamu benar-benar mencintai kakak ku. batin Hans.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2