
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Bima menghempaskan tubuhnya ke kasur, pikirannya sedikit kacau. Tak menyangka jika ia bertemu dengan Bella. Wanita yang sangat dekat dengannya dulu.
Bima melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setelah membersihkan badannya dia bergegas memakai baju.
Bima mengambil foto di dalam lacinya, dia terduduk lesu di atas ranjang. Bima memperhatikan foto itu dengan seksama, foto yang disimpan oleh Gina. Difoto itu memperlihatkan, dirinya bersama dengan Gina dan juga Bella.
Bima mengukir senyumannya, kala mengingat tentang pemotretan foto itu diambil. Betapa hebohnya Gina dan Bella pada saat itu.
"Gin, apa kamu tahu? Bella telah kembali, dia baik dan sehat. Bahkan sekarang dia telah memiliki anak." gumam Bima sambil menatap foto itu.
Puas larut dalam lamunan, akhirnya mata Bima terpejam. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan istrinya di alam mimpi.
"Gina?" panggil Bima.
Wanita itu tersenyum, "Ini benaran kamu Gin? Ayo sayang, kita kembali. Gibran pasti senang melihat mu." ujar Bima berkaca-kaca.
"Maaf mas, aku tak akan pernah kembali. Terimakasih, masih menyisakan ruang dihati mu untuk ku. Hilangkan rasa cinta mu terhadap istrinya Hans, biarkan adikmu bahagia bersama dengan pasangannya."
"Aku mencoba untuk menghilangkannya, asal kamu kembali. cinta ku masih untuk mu, ayo sayang Gibran membutuhkan kita berdua." lirih Bima.
"Maaf mas, tempat ku sudah bukan di sana. Aku selalu berharap dan mendoakan yang terbaik untuk mu. Kalau kamu mau, cobalah untuk mencintai Bella. Aku akan senang, jika Gibran memiliki ibu sepertinya. Bella wanita yang cerdas dan penyayang, dia mampu untuk mengurus mu dan juga Gibran. Maaf, kehadiran ku waktu itu, membuat Bella pergi dari hidup mu." ucap Gina.
Bima tak dapat membendung ai matanya, laki-laki itu menggeleng lemah.
"Tidak, kehadiran kamu menjadi pelengkap untukku dan Bella. Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kepergian Bella yang tanpa berpamitan."
"Tapi faktanya, aku lah penyebab kepergian Bella. Dia pergi, karena ingin mengobati luka dihatinya yang telah aku goreskan. Aku sadar, sehari sebelum pernikahan kita bahwa Bella mencintai mu. Pergilah mas, pertahankan Bella untuk tetap disisi mu." ucap Gina.
"Bella hanya menganggap ku kakak, begitupun dengan ku yang menganggapnya adik. Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?"
Tidak ada jawaban dari Gina, wanita itu perlahan menghilang dari penglihatan Bima.
Bima berteriak, "Ginaaa!!"
Bima membuka matanya perlahan, nafasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Dia langsung beranjak dari kasurnya, untuk sekedar mengambil air putih.
🌹🌹
"Ibu, terimakasih ya telah merawat aku selama di rumah sakit." ucap anak perempuan.
"Sama-sama, sayang. ayo, ayah mu sudah menunggu di luar." ujar Bella kepada anak perempuan itu.
Mereka keluar dengan bergandengan tangan, sudah ada yang menunggu nya di luar.
"Ayahh!" teriak anak perempuan itu.
"Wahh, anak ayah. Sekarang sudah mendingan?"
"Sudah dong, Ibu menjaga ku dengan sangat baik."
laki-laki itu tersenyum ke arah Bella, dia menyuruh anak nya untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil.
"Kamu masuk ke dalam mobil duluan ya sayang, Ayah mau berbicara sebentar dengan Ibu." ujarnya.
"Oke Ayah." anak itupun menurut dengan patuh.
"Bel, ayo kita berbicara di sana." tunjuknya pada sebuah kursi di depan rumah sakit.
"Iya, Mas."
Mereka jalan beriringan dan duduk di kursi berdampingan, laki-laki itu menghela nafasnya perlahan.
"Terimakasih sudah menjaga dan merawat Putri, selama aku tidak ada di sini." ucapnya.
__ADS_1
"Sama-sama, Mas Aryo. Lagi pula memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai gurunya putri." ujar Bella.
"Tapi kamu bukan hanya sekedar gurunya putri, melainkan menjadi peran ibu pengganti untuknya." ujar Aryo.
"Andai kamu menerima lamaran ku, untuk menjadi istriku dan ibu untuk Putri." imbuh Aryo.
"Kita sudah pernah membicarakan ini mas, aku harap kamu mengerti. Aku tidak bisa bersama mu dalam ikatan rumah tangga, karena--."
"Karena kamu masih mencintai laki-laki yang ada di masa lalu mu, sampai kapan Bel? sudah tiga tahun aku berjuang untuk mendapatkan cinta mu. setampan apa laki-laki itu sampai membuat kamu tidak bisa berpaling?" tanya Aryo.
"Maaf mas, ini bukan hanya tentang rupa dan harta. Melainkan tentang rasa, aku juga sudah berusaha untuk menghilangkan perasaan ini. Namun tetap tidak bisa, aku harus apa? terikat dengan mu dalam rumah tangga yang bahkan belum tentu mendatangkan bahagia." ujar Bella dengan suara yang berat.
"Jangan paksa aku untuk menjadi istrimu, kamu tampan dan baik. Kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih baik dariku, yang dapat mencintaimu setulus hati." imbuh Bella kepada Aryo.
"Kamu benar Bel, layaknya kamu yang belum bisa menghilangkan rasa. Aku juga sama, cintaku masih terasa nyata untuk mu." ujar Aryo, dia lalu pergi menuju mobil lebih dulu.
🌹🌹
Airen berinisiatif menghantarkan makan siang untuk Hans, semakin hari perasaan sayangnya kepada suaminya tumbuh dan berkembang begitu pesat.
"Kamu masak apa Ren?" tanya Hellena.
"Ayam serundeng ma, ini kesukaannya Eza. Barangkali mas Hans suka."
"Mamih juga mau nyicipin dong, nanti tinggalin ya untuk mamih."
"Siap, ma."
Airen menggoreng ayam dengan telaten, senang sekali akhir-akhir ini suaminya begitu perhatian terhadap nya.
Semoga mas Hans suka. batin Airen.
Setelah selesai berkutik dengan penggorengan, Airen mengganti bajunya dengan yang lebih bagus.
Airen pergi ke kantor suaminya, dengan dihantar oleh supir. Sepanjang perjalanan Airen berharap agar kali ini suaminya tak sibuk.
"Terimakasih banyak ya pak." ujar Iren.
"Sama-sama, non. Mau ditungguin?" tanya pak supir.
Airen berpikir sejenak, dia takut hal yang menimpanya tempo lalu terulang lagi. Akhirnya Airen memutuskan untuk meminta pak supir tetap menunggunya.
"Tunggu sebentar ya pak, jangan pergi dulu." ujar Iren.
"Iya non siap."
Airen masuk ke dalam perusahaan dengan langkah yang gontai, rasa trauma kala itu muncul dalam benaknya. Namun Airen mencoba menepis perasaan buruk itu.
"Kamu masih punya muka ke sini?" tanya Bunga.
Hadeuhh, nih nenek lampir lagi. batin Airen.
"Seperti yang Maya katakan waktu itu, saya kesini disuru oleh Tuan Hans." jawab Airen.
"Sepertinya sekarang, profesi kamu beralih menjadi seorang wanita penghibur. Lihatlah pakaian mu saja, seperti dibelikan oleh om-om." sarkas Bunga.
Airen tak gentar dengan segala bentuk penghinaan yang diberikan Bunga.
"Saya tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong kamu." Airen hendak pergi, namun kebencian Bunga semakin menjadi.
Dia mendorong Bunga hingga terjembap ke depan, untung saja Hans datang tepat waktu. Hans menatap tajam ke arah Bunga.
"T--Tuan, saya tidak--"
"Cukup! Ron, segera urus gaji nya." ujar Hans kepada Roni.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Tuan, wanita ini yang menjatuhkan dirinya sendiri. Dia memfitnah saya Tuan." Bunga berdalih agar dirinya tak dipecat.
Hans tak menghiraukan ucapan Bunga, dia langsung membawa istrinya pergi dari sana. Baru beberapa langkah mereka pergi, ada temannya Bunga yang membantu.
"Bunga benar Tuan, wanita licik itu yang dengan sengaja menjatuhkan dirinya. Sepertinya dia haus akan belaian, dan hendak menggoda Tuan. Lihatlah, penampilannya saja berubah drastis. Dulu dia hanya seorang OB, kini dia menjelma menjadi wanita penghibur."
Mata Hans memerah, dia menggertakan rahangnya. Emosinya benar-benar tersulut, tak terima bila istrinya mendapatkan hinaan seperti itu.
"TUTUP MULUT MU! Bahkan kau tak pantas menghina istriku ini. Ron, pecat mereka berdua. Hei kalian semua! Lihat wajah istriku dengan baik-baik, jika dia datang perlakuan dia sebagaimana kalian memperlakukan aku! Jika ada orang yang berani menghina nya, aku tak akan segan untuk memotong lidahnya." ujar Hans dengan berteriak.
Apa!
semua orang kaget tak percaya, termasuk Bunga.
Tanpa Hans tahu, kini Airen setengah mati ketakutan melihat gurat kemarahan suaminya. Tubuh Airen bergetar hebat, saat mendengar penuturan Hans.
Hans menyadari tubuh istrinya yang tidak membaik, dia langsung membawa Airen pergi ke dalam ruangannya.
Sesampainya di ruangan, Airen tak banyak bicara. Hans tahu, perbuatannya menakutkan untuk istrinya.
"Maaf, aku terbawa emosi." ucap Hans memecahkan keheningan.
Airen menatap Hans, dia langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Airen menumpahkan Isak tangisnya.
"Hikss... Jangan seperti itu, kamu menakuti ku. Jangan pernah mencoba untuk menyakiti siapapun, ingatlah bahwa aku tengah mengandung."
Hans tersenyum, "Tentang perkataan ku yang akan memotong lidah mereka, itu hanya formalitas untuk menakuti mereka. agar tidak ada yang berani untuk menghina mu, aku tidak terima bila ada yang menghina istri cantik ku ini." ucap Hans manja.
"Gombal!" Airen menyeka air matanya.
"Pasti mau mengantarkan makan siang kan? Ayo suapi aku." ujar Hans.
Airen tersenyum, dia membuka bekal makan siang untuk suaminya. Dan perlahan menyuapi suaminya.
"Aaaammmm."
"Enak tidak?" tanya Airen.
Hans mengangguk, mulutnya penuh tak dapat berucap. Hans mengamati wajah istrinya, jemari tangannya terulur untuk mengumpulkan anak rambut ke telinga Airen.
"Kamu cantik."
"Memang sudah dari dulu." jawab Airen.
Hans tersenyum, dia langsung memeluk erat istrinya itu. Ntah mengapa perasaannya semakin dalam.
"Jangan pernah mencoba untuk kabur dari sisi ku, meskipun banyak laki-laki yang mencintai mu di luar sana jangan pernah mencoba untuk berkhianat. Aku tulus mencintai mu, sejak kamu mengumpat ku di rumah sakit perasaan itu mulai tumbuh. Tetap disisiku apapun yang terjadi ya?" Hans mengungkapkan isi hatinya.
Airen tersenyum dan mengangguk, dia melonggarkan pelukan suaminya.
"Jangan takut, selagi kamu terus mempertahankan aku agar selalu disisi mu. Aku tak akan pernah kemana pun, meski pada awalnya aku sempat membenci mu. namun saat ini, aku pun sama takut kehilangan mu. Aku rasa, aku sudah--."
"Sudah apa?" goda Hans meskipun ia tahu, istrinya akan mengatakan cinta.
"Sudah ayo lanjutkan makannya." ucap Airen.
Saat Hans hendak protes, Airen langsung memasukan nasi ke dalam mulut suaminya. Agar Hans tak dapat berdalih apapun.
Terimakasih Tuhan, setelah beberapa kali aku berkelana mencari cinta. kini dia sudah hadir dan menetap di sisi ku. tolong jangan pisahkan kami. batin Hans.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1