
Selamat membaca ☺️
Raja, Hans dan juga Bima tengah berkumpul bersama di halaman belakang rumah, setelah sekian lama mereka berkumpul kembali.
"Gimana Bim? Lancar gak ngejar si Bella?" tanya Raja kepada adik keduanya itu.
Hans hanya diam menyimak obrolan kedua sang kakak, sambil mengunyah buah-buahan yang ada di meja depan mereka.
"Cukup sulit, kudu pake Semar mesem kali ya." celetuk Bima yang hampir menyerah.
Pletak
"Kira-kira kamu Bim, ngga halal bangat caranya. Ngga suci cinta nya kalau gitu dong, ada campur tangan setan. Hih serem." ujar Raja bergidik merinding.
Bima hanya bercanda kenapa kakaknya itu serius sekali, menyebalkan rasanya. Hans yang sedari tadi diam, kini membuka suaranya. "Akhirnya, lo ngerasain juga. Susahnya ngedapetin cinta yang kita mau." ucapnya sambil menatap arah depan.
"Iya ternyata sulit, meskipun gue ganteng, punya jabatan dokter, banyak duit, orangtua pengusaha, ternyata masih ada cewek yang nggak lihat dari segi itu ya." ucap Bima berfikir ulang, karena selama ini dia terbilang gampang untuk mendapatkan wanita. Tapi, Bella sangat sulit untuk diajak menikah.
"Ngga semua cewek berpikir seperti itu, mungkin ada beberapa diantara mereka berpikir bahwa cinta memang harus ada diantara keduanya. Karena biar bagaimanapun, tujuan bersama kan karena cinta. Contohnya, papih sama mamih hingga saat ini mereka langgeng. meskipun beberapa Minggu yang lalu, sempet bertengkar karena nih anak cecungut ngasih nomor papih ke orang lain." celetuk Raja.
Hans ingin sekali menertawakan kakak keduanya itu, namun dia berusaha menahannya karena tidak ingin membuat Bima kesal.
Saat mereka tengah menikmati obrolan ringan, tiba-tiba papih William datang menghampiri. Papih William ikut berbincang dengan anak-anaknya.
"Ngobrolin apaan nih?"
"Perjuangan cinta si Bima, Pih." jawab Raja bersemangat.
William menatap anak keduanya, masih ada dendam kecil yang tersimpan untuk anaknya itu. Biar bagaimanapun dialah penyebab dirinya tidak dapat tidur dengan mamih Hellena selama beberapa hari.
"Susah ya Bim, rasain kamu." ucap papih William penuh penekanan.
Dasar orangtua. batin Bima.
Dasar anak nakal. batin William.
"Ngomong aja, kenapa harus ngumpat dalam hati." celetuk Hans kepada keduanya.
William dan Bima saling pandang, memang benar tahta di keluarga ini dipegang oleh si Hans yang arogan. Bahkan papih William terkadang tidak berani terhadap anaknya yang satu ini.
"Bim, kalau kamu berhasil dapetin Bella dengan segera. Nanti kita bisa kumpul semua kan seru tuh, gimana kalau nanti kita rayainnya di Prancis." ujar Raja memberi saran dan semangat tersendiri untuk Bima.
"Ihhh ogah kumpul bareng, orang mau honeymoon. Nitip Gibran aja nanti." pinta Bima kepada mereka.
Sore itu keempat laki-laki Mikhailov terikat perbincangan hangat, mereka menikmati waktunya dengan sangat bahagia.
***
__ADS_1
Makan malam tiba, semua orang dirumah itu berkumpul di meja makan. Amira dan Amara di asuh oleh Mbok Ti dan juga Ica di ruang bermain. Tiba-tiba Barra datang berkunjung ke mansion Mikhailov hanya untuk menumpang makan dan ada maksud terselubung di dalamnya.
"Hallo Om Willi, Tante Elle. Selamat malam semuanya!" ucap Barra bersemangat.
Alih-alih bahagia dengan kedatangan Barra, justru Hans merasa jengkel melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Malam Bar, kebetulan bangat nih kamu dateng. Ayo kita makan sama-sama." ajak Hellena.
Barra tentunya dengan senang hati langsung duduk di kursi kosong yang masih tersedia, "Ngga nolak kalau tante Elle yang ngajak." Barra terkekeh pelan.
"Baru tau CEO juga bisa numpang makan di rumah orang." celetuk Raja.
Mamih Hellena menjitak kepala anak sulungnya itu, "Raja! jangan gitu." ucapnya berbisik.
"Tante Elle santai saja, aku mah sudah biasa sama mulut Bang Raja." ucap Barra enteng.
"Sejak kapan aku jadi Abang mu."
"Sejak berteman dengan Hans, semua yang Hans miliki itu juga punya aku bang."
Sontak hal itu membuat Hans menatap tajam ke arah sahabat baiknya itu, Barra langsung salah tingkah karena mendapati tatapan tajam dari Hans. "Ngga semua hehehe, cuma bang Raja aja." ucap Barra membenarkan.
"Yah payah, sama-sama CEO kok takut. Semenakutkan itu si Hans di mata kamu Bar?" tanya Bima penasaran.
"Bukan apa-apa bang Bim, gimana yaa? Nanti aku ngga dapet sahabat macam si Hans lagi."
Mereka pun menikmati makan malam dengan hening, bahkan Gibran pun malas untuk berceloteh. Setelah selesai makan malam, Gibran dan Bima pergi ke kamar untuk beristirahat, diikuti dengan Eza yang menuju kamarnya. Begitupun dengan Raja, Ratu dan Eranson. Hingga menyisakan Hans, Airen, William, Hellena dan juga Barra di ruang makan.
"Gak seru bangat sih, semuanya sudah pada masuk ke kamar." ujar Barra, karena niat hati ke sini untuk seru-seruan. Namun nyatanya semua orang malah sibuk dengan dunianya masing-masing.
"Sayang, ayo kita ke kamar." ajak Hans ke Istrinya.
"Eh lah, kalau kalian istirahat gue sama siapa? Om Willi sama Tante Elle wajar kalau istirahat. Karena mereka sudah tidak muda lagi." protes Barra.
"Kalau nenamu tau waktu dong!" sarkas Hans.
"Mas udah ih, jangan seperti itu." Airen mengingatkan sang suami.
"Kamu nginep juga aja bar, kami mau istirahat dulu. Ada mbok Nin, mbok Ti, dan Ica yang belum istirahat. Mereka juga belum makan, kamu boleh berbincang santai dengan mereka." saran Hellena.
Mendengar kata Ica membuat hati barra tak karuan, dengan senang hati barra membiarkan mereka semua beristirahat.
"Mas ayo ambil Mira dan Ara, biarkan mbok Ti dan Ica makan malam." Airen dan Hans pergi menuju ruang bermain, mereka mengambil anak-anaknya.
Setelah mengambil Amira dan juga Amara, mereka pun menuju kamarnya. Mbok Ti dan Ica pergi menuju dapur untuk makan malam. Disana masih terdapat Barra yang duduk santai sambil menikmati teh hangat yang dibuatkan oleh mbok Nin.
Barra menatap kedatangan Ica dengan penuh semangat, namun laki-laki itu berusaha tetap terlihat cool di depan Ica. Mbok Ti yang sudah berpengalaman tentu tahu bahwa Barra ada ketertarikan terhadap Ica.
__ADS_1
"Permisi den, kami izin makan ya." ucap mbok Ti ramah.
"Oh iya mbok, silahkan." ucapnya mempersilahkan.
Berbeda dengan mbok Ti, Ica justru cuek saja terhadap Barra. Karena menurutnya sudah diwakili oleh mbok Ti untuk meminta izin.
"Mbok kalau saya boleh tau, mbok dari mana?" tanya Barra basa-basi.
"Dari yayasan den." jawab mbok Ti.
Oiyaya, kan milih pengasuh nya dari yayasan. batin Barra.
"Itu anak mbok?" tanya Barra menunjuk Ica. Hal itu membuat Ica sedikit tersedak saat makan, Barra reflek memberikan teh hangatnya kepada Ica. Dan segera wanita itu meminumnya.
Setelah di rasa cukup, Ica meletakkan gelas itu di meja. "Maaf tuan, biar saya buatkan lagi teh hangatnya." ucap Ica hendak bangun mengganti teh hangat milik Barra.
"Ngga usah, ini masih bisa di minum." Barra mengambil gelas bekas Ica, lalu meminumnya kembali.
Hal itu membuat Ica dan mbok Ti membulatkan matanya, "Kenapa melotot?" tanya Barra. Mereka berdua tersadar, dan langsung bersikap normal kembali.
"Bukan den, ini neng Ica namanya. Dia satu yayasan sama mbok, tapi mbok sudah anggap neng Ica anak mbok. Aden mau kenalan sama neng Ica? siapa tau cocok." ucap mbok Ti, berusaha menjodohkan mereka. karena mbok Ti tahu kehidupan Ica seperti apa.
"Mbok ish, jangan gitu." gumam Ica pelan.
"Boleh, nama saya Barra. Ca, minta nomor telepon kamu dong." Barra menyerahkan handphone miliknya kepada Ica.
Ica terkejut, Aduh handphone nya aja sebagus itu. batin Ica tidak enak untuk berkenalan.
"Maaf tuan, saya ngga bisa."
"Lho kenapa?"
"Handphone tuan Kebagusan, pasti neng Ica ngga bisa ngegunainnya." celetuk mbok Ti.
Barra menatap wajah Ica, oh mungkin saja benar karena barra juga pernah melihat ponsel jadul milik Ica. Hanya bisa telepon dan SMS saja, tidak bisa internetan.
"Yasudah sini, kasih no kamu ke saya."
Bukan Ica yang memberi melainkan mbok Ti yang sangat berantusias memberikan nomor Ica kepada barra.
"Nih den nomornya." ujar mbok Ti memberikan.
"Mbok!" meskipun kesal, Ica hanya pasrah saja. dia lebih memilih melanjutkan makan malamnya. sedangkan Barra sangat senang sekali mendapatkan nomor Ica.
Bersambung...
Maaf ya kalau part yang satu ini ngebosenin.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS. Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.