
Hai semuanya, mungkin kayaknya sebentar lagi ini bakal tamat. aku juga akan berusaha merangkap ceritanya agar lebih praktis. Soalnya pasti kalian juga merasa ini alurnya melancang kesana kesini, aku mohon maaf atas kekurangan dari cerita ini. Karena jujur, aku baru belajar untuk menulis. kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi.
Selamat membaca ☺️
Bella duduk merenung di depan rumah, ada teh hangat dan juga pisang goreng buatan Ibu. Momen seperti ini sangat pas untuk dirinya merenungkan segala hal, tentang kehidupannya akan seperti apa kedepannya.
Bella berpikir, haruskah kini dia memberikan kesempatan untuk Aryo atau lebih baik bersama dengan Bima? Ada banyak hal tentang masa depan yang Bella pikirkan, akankah dia mampu menyayangi Gibran jika pada akhirnya dia harus menikah dengan Bima.
Bella terus merenungkan semua hal, hingga dia tersadar oleh keberadaan sang Ibu. "Bel, atuh da kamu teh kenapa malah melamun seperti ini, ngga baik ah masa perawan Ibu melamun seperti itu." Bu Ani duduk di samping Bella.
Bella tersenyum hangat menatap wajah sang Ibu, "Bu, menurut ibu aku harus bagaimana? Pilih mas Aryo atau kak Bima? aku bingung Bu, kasihan juga mas Aryo karena selama ini dia yang selalu membantu kita." lirih Bella meminta saran.
Bu Ani menghela nafasnya berat, "Kalau bapak kamu masih ada, pasti dia lebih bisa memberikan solusi terbaik untuk kita. Kalau menurut ibu, ikuti apa kata hati kamu saja Bel. Pilih satu yang menurut kamu itu tidak akan menyakiti banyak pihak, logikanya gini kalau kamu milih Aryo. Bukan hanya Bima yang tersakiti, tapi kamu juga Aryo sama-sama tersakiti. karena kalian akan bersama dalam ikatan rumah tangga, namun di dalamnya tidak ada cinta yang menghiasi itu."
"Kalau logikanya gitu, berarti ibu aku suruh milih kak Bima?"
Bu Ani tersenyum, "Aduh kamu teh sudah tahu, kenapa malah bertanya." Bu Ani terkekeh, tangannya terulur mengambil pisang goreng yang masih tersisa.
Bella diam, dia berpikir sejenak. Apa iya? dia harus memilih kak Bima. Tapi Bella takut, jika dia tidak dapat menjadi ibu sambung yang baik untuk Gibran.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Ibu yang mengunyah pisang goreng.
"Takut ngga bisa jadi ibu sambung yang baik Bu." adu Bella, sudah saatnya dia mengutarakan apa yang dirasa kepada sang ibu.
"Ibu yakin nak, kamu bisa. Terlebih ada Ratu yang akan selalu membantu kamu. Asal jangan sesekali jika kelak kamu punya anak terus perhatian kamu hanya untuk anak kamu, Gibran juga anak kamu dia perlu kamu perhatikan juga. Pokoknya jangan pilih kasih, jika kamu punya anak kelak." wejangan dari sang Ibu untuk Bella.
Bella mengangguk mengerti, Sepertinya aku sudah membuat keputusan ini, semoga aku bisa menjalaninya. batin Bella.
Lain hal nya di keluarga Mikhailov, pagi ini sangat ramai bukan tanpa sebab karena Eran menangisi ****** kesayangannya yang bergambar iron man menghilang. Ratu sudah membujuk Eranson dengan iming-iming akan membelikan nya yang baru, namun Eran kekeuh ingin ****** kesayangannya kembali.
Hal itu membuat Raja sang ayah merasa pening, sungguh hal sepele seperti itu membuat pagi hari ini terlihat gaduh.
"Mama, aku nggamau tau pokoknya ****** kesayangan aku harus ada! Aku mau pake itu." teriak Eranson disela-sela tangisnya.
__ADS_1
"Astaga Ja, anak kamu ini benar-benar. Mamih jadi teringat momen kamu dulu. Atau jangan-jangan Gibran yang mengambilnya." tuduh Hellena, karena dulu juga Bima sangat jail dengan kakaknya. barangkali kejadian seperti itu terulang kembali.
Akhirnya mbok Nin naik ke atas untuk memanggil Gibran yang masih tertidur bersama dengan ayahnya, mbok Nin mengetuk pintu kamar Bima.
"Ada apa mbok?"
"Den, ada perintah dari nyonya. Aden sama Gibran di suruh turun sebentar." ucap mbok Nin memberitahu Bima.
Ck, masih pagi juga. batin Bima kesal.
Lantas, Bima memboyong Gibran yang masih dalam gendongannya turun ke bawah. Karena takut ada hal penting yang ingin dibicarakan. Setelah Bima sampai di bawah, Gibran langsung diintrogasi oleh sang kakek.
"Gibran, kamu lihat ****** iron man milik bang Eran ngga?" tanya William lembut.
Gibran yang masih mengantuk itu mencoba untuk mengingatnya, "Lihat Opa, aku pinjem. Ini aku pake." ucapnya.
Hal itu membuat Eranson semakin berteriak histeris, demi apa Eranson tidak terima. "Aduh Gib, kamu ini kalau mau ****** bang Eran bilang sama Oma. Nanti Oma belikan." tutur Hellena.
"Yakan aku pinjem Oma, masa bang Eran pelit sih."
"Aduh Abang, jangan seperti ini ya. Nanti kita beli yang baru." ucap Raja berusaha menenangkan sang anak.
Hans turun ke bawah karena terusik, terlebih Hans kesal karena anak-anaknya harus terbangun yang membuat Airen kewalahan di kamar.
"Ada apasih, berisik amat." ujar Hans kesal.
Semua orang langsung terdiam, begitupun dengan Eranson yang tadi menangis kini diam. karena takut kepada Om nya yang satu itu.
"Tuh curutnya si Bima, nyopet ****** anak gue." ujar Raja memberitahu.
Astaga, ribut pagi-pagi begini cuma gara-gara ****** bocah. batin Hans.
"Gibran cepat minta maaf! Eranson, kamu diam gausah nangis. Nanti Uncle belikan yang baru." Hans mencoba melerai hal ini.
__ADS_1
"Kok bang Eran aja sih uncle, aku juga mau dibelikan." protes Gibran.
Gaya doang, bapaknya dokter sama pilot. beliin anak ****** aja ga mampu. batin Hans mengumpat abang-abang nya.
"Iya Gibran, yauda sekarang minta maaf."
"Bang Eran, aku minta maaf ya. Tapi aku ngga janji kalau ngga ngambil ****** Abang lagi, soalnya bagus-bagus." Gibran justru sangat suka membuat Eranson kesal.
"Gibran!" kali ini bukan Hans, melainkan Bima yang memperingatkan anaknya.
Masalah perihal ****** iron man pun dapat diselesaikan dengan baik, kini mereka semua sarapan bersama. Sedangkan Hans enggan untuk sarapan, karena istrinya masih di atas mengurus anak-anak nya.
"Sayang, Ara sudah tidur lagi?" tanyanya.
"Belum mas, ngga apa-apa lagi juga sudah pagi. Mas tolong jaga Ara sebentar ya, aku mau mandi."
"Kenapa ngga suruh si mbok dan Ica, kan aku sudah memperkejakan mereka."
Airen mendengus kesal, padahal sudah perjanjiannya dengan Hans kalau pagi Airen masih ingin bersama dengan anak-anaknya. Karena agar mereka saat terbangun melihatnya.
Hans tidak ingin membuat sang istri marah, dia pun mengambil Ara dengan segera. Berbeda dengan Amira yang masih tertidur pulas. "Yasudah kamu mandi duluan, Ara sama papa dulu ya sayang." ujar Hans mengambil alih anaknya.
"Oiya mas, Eran kenapa tadi?" tanya Airen sebelum melangkah kakinya ke kamar mandi.
"Berebut soal ******, si Gibran ngambil ****** kesayangan milik Eran."
Airen terkekeh mendengarnya, tiba-tiba dia penasaran apakah dulu suaminya ini memiliki hal kesayangan seperti itu juga? Nanti sajalah bertanya nya, sekarang dia ingin mandi terlebih dahulu agar tubuhnya kembali segar.
Setelah kepergian Airen ke kamar mandi, Hans menatap anak-anak nya. "Mira, Ara nanti kalau sudah besar jangan berebut hal seperti itu ya. Papa bisa penuhi keinginan kalian, pokoknya ngga boleh bertengkar hanya karena barang apapun. Papa akan selalu kasih kalian masing-masing satu." ucap Hans kepada kedua putrinya.
Tanpa sadar, padahal ada hal yang tidak dapat dibagi diantara kedua anaknya, misalnya seperti cinta. Tidak bisa terbagi dua bukan? Yang satu pasti harus ada yang mengalah.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.