Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 85


__ADS_3

Mohon maaf baru sempet updet lagi:)


Selamat membaca ☺️


Laura mendatangi kantor Hans, wanita itu ingin meminta Hans untuk membebaskan kedua orangtuanya. Laura berjanji untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga Hans dan Airen.


Laura hendak masuk ke dalam perusahaan, namun satpam di depan memberhentikan langkah kaki Laura saat dia mau masuk.


"Maaf nona, ada perlu apa anda ke sini?" tanya satpam itu.


Laura menghela nafasnya, dia harus bisa bertemu Hans oleh karenanya dia tidak boleh gegabah apalagi tersulut emosi.


"Pak saya ingin bertemu dengan Hans."


"Maaf, apa nona sudah membuat janji?" tanya satpam itu tanpa rasa curiga sedikitpun. Karena Laura mengenakan masker.


Laura menangangguk, "Sudah pak, makanya saya mau langsung masuk." ucapnya berbohong.


Satpam itu pun mengangguk kepalanya, lalu membukakan pintu untuk Laura masuk. Laura langsung menuju ke ruang kerja Hans, untung saja semua karyawan terlihat sibuk jadi tidak ada yang memperhatikannya.


Tok tok tok


"Masuk." ucap Hans, karena dia mengira bahwa itu Roni.


Cklek


Laura masuk dan membuka maskernya, "Hai Hans, apa kabar?" tanya Laura tersenyum hangat.


"Kamu!" Hans kaget dengan kehadiran Laura, bagaimana bisa wanita ini masuk ke dalam ruangannya dengan mudah?


"Iya aku, calon istrimu yang tidak jadi."


Hans langsung berdiri dari duduknya, "Mau apa kamu ke sini? Kalau tidak ada urusan sebaiknya cepat pergi, atau aku akan menelpon polisi atas tindak kejahatan mu terhadap istriku." ancam Hans.


Laura menghembuskan nafasnya kasar, sungguh dia tidak ada niat jahat sedikitpun. Dia hanya ingin meminta maaf, agar Hans membebaskan kedua orangtuanya.


"Tenanglah, aku ke sini untuk meminta maaf kepada mu dan juga istrimu. Aku menyerah untuk mendapatkan mu, tapi tolong bebaskan kedua orangtua ku." pinta Laura dengan wajah yang muram.


Ada apa dengannya? Apa dia sudah mengetahui bahwa anak itu masih hidup? batin Hans.


"Kau pikir aku bodoh? Tidak mungkin hanya dengan kau meminta maaf, aku membebaskan orang yang membuat istriku hampir mati."


Tidak ada cara lain. batin Laura.


Laura bersimpuh di hadapan Hans, "Aku mohon kepada mu untuk membebaskan kedua orangtuaku. Mereka tidak bersalah, ini salah ku. Hukum aku saja, bawa aku ke kantor polisi. Tapi aku mohon, sebagai gantinya bebaskan mereka." pinta Laura dengan mata yang berkaca-kaca.


Kenapa dia mendadak seperti ini? batin Hans.


"Oke, aku hanya ingin bertanya satu hal. Mengapa waktu itu kau pergi?"


Laura menatap Hans, air matanya sudah tidak dapat tertahankan. Laura menatap sendu ke arah laki-laki yang pernah dia cintai.


"Hikss.. Aku mengaku salah, aku dijebak oleh Luis hingga kami melakukan hubungan itu. Dan pada akhirnya aku mengetahui bahwa aku tengah hamil saat acara pertunangan kita berdua. Maafkan aku Hans, tapi anak itu sudah tiada." lirih Laura terisak-isak.


Berarti benar, anak itu adalah anak Laura dan Luis. Tapi bagaimana bisa Laura mengatakan bahwa anaknya telah tiada? batin Hans.

__ADS_1


"Anak mu masih ada." ucap Hans.


Laura membelalakkan matanya tak percaya, wanita itu segera menghapus air matanya. "Tidak mungkin, ayah ku mengatakan bahwa anak ku telah tiada. Ibu ku juga bilang seperti itu, bahkan dokter yang menangani ku pun mengatakan bahwa anak ku telah tiada." teriak Laura.


Hans terdiam, apa selama ini Daniel membohongi putrinya sendiri? Hans memang tahu hal ini belum lama, tepatnya saat Airen di culik. Barra yang memberitahukan hal ini kepadanya.


"Aku tidak berbohong, bahkan saat ini putri mu sedang bersama dengan ayahnya."


Laura semakin tidak percaya dengan ucapan Hans, "Tidak mungkin, ayah dan ibuku tidak mungkin membohongi ku. Cukup Hans, aku kesini untuk meminta mu membebaskan kedua orangtuaku." ujar Laura.


Hans menghembuskan nafasnya pelan, "Yasudah kalau kau tidak percaya juga tidak masalah. Aku hanya ingin memberitahu mu bahwa putri mu masih hidup."


"Cukup Han--." Laura berteriak cukup kencang, namun tiba-tiba pandangannya kabur. Laura pun pingsan, untung saja Hans dengan sigap memegangi tubuh Laura agar tidak jatuh ke lantai.


"Laura bangun! Jangan pura-pura seperti ini." Hans berusaha menepuk-nepuk pipi Laura, namun saat tangan Hans mengenai rambut Laura. Rambutnya rontok ditangan Hans.


Hans menggendong Laura keluar dari ruangannya, dia berniat untuk membawa Laura ke rumah sakit. Namun saat di koridor ada Roni yang melihat tuan nya tengah menggendong seorang wanita, Roni menghampiri Hans.


"Tuan anda mau kemana?" tanya Roni.


Hans membalikan tubuhnya, belum sempat dia menjawab Roni sudah lebih dulu terkejut saat melihat Hans menggendong Laura.


"Ron cepat siapkan mobil, kita bawa Laura ke rumah sakit." pinta Hans.


"Tapi--."


"Cepat Ron!"


Roni mengangguk, dia langsung bergegas memencet tombol lift agar mereka lebih cepat sampai ke bawah. Semua karyawan menatap tidak percaya, karena bos mereka menggendong mantan tunangannya. Roni segera mengambil mobil, dan mereka pun menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Roni segera memanggil suster dan dokter untuk menangani Laura. Hans meletakkan Laura di atas brankar, dia dan Roni menunggu di depan ruangan pemeriksaan Laura.


"Nanti ku ceritakan."


"Tuan apakah anda masih mencint--."


"Tutup mulut mu, kau pikir aku hanya membantu orang-orang yang ku cintai saja?"


Roni diam tidak berani untuk menjawab, bisa-bisanya dia meragukan tentang kesetiaan bos nya.


***


Airen membawakan bekal makan siang untuk Hans, dia datang ke kantor suaminya tanpa memberitahukan lebih dulu, karena dia sengaja datang untuk memberikan kejutan.


Airen menitipkan anak-anaknya kepada Hellena, karena dia sudah lama tidak membawakan suaminya bekal makan siang.


Airen langsung masuk ke dalam kantor, dia bergegas menuju ruang kerja suaminya. Namun ada salah satu karyawan yang menyapanya.


"Selamat siang nyonya, apa nyonya ingin mencari Tuan Hans?" tanya karyawan tersebut.


Airen tersenyum dan mengangguk, "Iya betul, saya ingin mengantarkan bekal makan siang untuk suami saya." jawab Airen.


"Maaf nyonya, tadi saya melihat Tuan Hans sedang pergi keluar."


Airen mengangkat alisnya, "Oh baiklah kalau gitu saya akan menunggu, terimakasih ya informasinya." ucap Airen lembut.

__ADS_1


"Tapi sepertinya lama, soalnya tadi saya melihat Tuan Hans menggendong wanita yang pingsan, mungkin tuan sedang di rumah sakit sekarang."


Apa! Wanita?


"W--wanita? siapa wanita itu?" tanya Airen resah.


"Saya kurang tau nyonya."


"Saya tau, wanita itu mantan tunangan tuan Hans yang dulu." jawab salah karyawan lainnya.


L--Laura? batin Airen tak karuan.


Airen berusaha tersenyum, "Baiklah terimakasih atas informasinya, tolong jangan beritahu mas Hans kalau saya datang ke sini ya."


"Baik nyonya."


Airen keluar dari perusahaan, dia mencoba untuk menghubungi suaminya untuk menanyakan hal ini.


Drrddttt.. drddttt..


Hans terkejut saat melihat Airen menelpon dirinya, Hans sedikit menjauh dari Roni untuk mengangkat telepon.


πŸ“ž"Hallo kenapa sayang?" tanya Hans sedikit gugup.


πŸ“ž"Kamu dimana mas?" tanya Airen tegas.


Astaga aku harus menjawab apa? Kalau jujur pasti dia akan marah, sebaiknya aku berbohong saja agar hubungan kami tetap baik-baik saja. batin Hans.


πŸ“ž"A--aku sedang meeting bersama client, memangnya kenapa hem? Kamu kangen ya." ucap Hans berusaha mencairkan suasana.


πŸ“ž"Aku tanya kamu dimana?"


πŸ“ž"Aku sedang meeting bersama client, kalau tidak percaya kamu telepon Roni." ucap Hans denga. percaya dirinya.


Tut.


Airen mematikan sambungan teleponnya, dia cukup kecewa dengan suaminya karena tidak mau berkata jujur. Airen pun memutuskan untuk pulang.


Ada apa mas? Sampai-sampai kamu membohongi ku. batin Airen.


Sedangkan di rumah sakit, Hans mendadak gelisah karena ini pertama kalinya dia membohongi sang istri.


Apa keputusan ku sudah tepat? tanya Hans kepada dirinya sendiri.


"Ada apa tuan?" tanya Roni yang melihat raut wajah tak baik dari Hans.


"Tidak apa-apa, Ron kalau istriku bertanya kepada mu. Jawab saja kita sedang meeting ya."pinta Hans.


Roni cukup terkejut dengan ucapan tuannya, "Tuan mengajarkan saya untuk berbohong?"


"Siapa yang menyuruh mu untuk berbohong? Tapi ini benar, karena habis ini kita akan meeting kan? Sudahlah turuti saja apa kata ku."


"B--baik Tuan."


Bersambung...

__ADS_1


Hallo semuanya, maafin author ya baru sempet updet. Terimakasih untuk kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita KISAH TUAN HANS.


Mohon dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.πŸ˜πŸ™


__ADS_2