Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 83


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Hans membantu Airen mengemasi barang-barang mereka, Hans sudah memutuskan untuk kembali ke mansion. Dia berharap jika mamih Hellena sudah berubah, dan dapat menerima anak istrinya dengan baik.


"Sayang, barang-barang sudah siap. Aku mandi dulu." ucap Hans kepada Airen yang tengah memakaikan baju kedua buah hatinya.


Airen mengangguk, dia sibuk dengan kedua putrinya. Amira nampak diam sedangkan Amara super aktif yang membuat Airen kewalahan.


"Sayang ayo pakai bajunya nak, Ara jangan banyak gerak, bunda susah."


Airen tersenyum karena Amara berceloteh saat dirinya mengajak berbicara kepada putri keduanya itu, sedangkan Amira hanya diam mengamati wajah ibunya.


Eza menghampiri kakaknya yang sibuk dengan kedua anaknya, Eza duduk disamping Amira yang memegang dotnya.


"Hallo keponakan Uncle Za yang cantik." ucap Eza kepada Amira.


Eza mendengus kesal karena keponakannya itu susah sekali untuk tertawa, sedangkan jika dia menggoda adiknya pasti Amara langsung tersenyum senang berbeda sekali dengan Amira.


"Kak, Amira jutek bangat kayak kak Hans." keluh Eza.


Airen terkekeh pelan atas keluhan Eza, padahal wanita itu tidak merasa jika sikap anaknya mirip dengan suaminya. Karena menurut Airen suaminya itu tidak jutek namun sangat manja.


Mana ada mas Hans jutek, orang sikapnya kayak kucing jinak gitu. batin Airen.


Hans sudah selesai mandi, dia langsung bergegas masuk ke dalam ruang ganti. Hans nampak memilih jas, karena setelah mengantarkan istrinya ke mansion Hans ingin langsung menuju kantor.


"Sayang sini bentar deh." teriak Hans dari dalam ruang ganti.


"Za titip Mira dan Ara sebentar ya." ucap Airen, lalu pergi menuju ruang ganti.


Cklek


"Kenapa mas?" tanya Airen setelah sampai di ruang ganti.


"Bantu pilihin jas, aku bingung mau pilih yang mana." ucap Hans.


Airen mengangguk, lalu dia memilihkan jas untuk suaminya. Hans yang berada di belakang Airen memilih untuk memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Mas janga--."


"Bentar yang, biarkan seperti ini dulu. Aku kangen kamu." lirih Hans sambil memeluk erat tubuh istrinya.


Airen membiarkan suaminya memeluk nya, Airen masih sibuk memilihkan jas untuk Hans. Dia sendiri pun bingung harus memilih jas warna apa?


"Nah ini saja mas." Airen mengambil jas itu lalu memperlihatkannya kepada Hans.


Hans mengangguk, dia masih terus ingin memeluk tubuh Airen. Hans menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang istri, menyesap aroma tubuhnya dalam-dalam.


"Mas cepat pakai bajunya, nanti kita kesiangan."


"Aku kangen." rengek Hans kepada Airen.


Airen terkekeh, dia meletakan kembali jas itu kemudian berbalik menghadap suaminya. Airen tersenyum, tangannya terulur untuk membelai lembut pipi suaminya. Mata yang tajam, alis yang cukup tebal, hidung mancung, bulu mata suaminya yang cukup lentik, rahang yang tegas, begitu sempurna wajah suaminya.


Airen melingkarkan tangannya di leher suaminya, Hans memeluk erat pinggang sang istri. Mereka berdua larut dalam tatapannya masing-masing.


Airen berjinjit berusaha menyamai suaminya, namun tetap tidak bisa karena suaminya itu terlalu tinggi. Hans terkekeh, sedangkan Airen cemberut kesal.


"Mas jangan tegak-tegak dong." protes Airen.


"Memang kamu mau apa hem?" tanya Hans.


"Sudah ah ngga jadi, awas lepasin mas."


Bukannya melepaskan istrinya, justru Hans mempererat pelukannya di pinggang Airen. Hans berusaha mengikis jarak diantara mereka, bisa keduanya rasakan deru nafas masing-masing. Saat Hans hendak mencium bibir Airen, namun harus digagalkan oleh teriakan Eza karena anak mereka menangis.


"Kakak, Ara menangis." teriak Eza memberitahu.


Hans menghela nafasnya berat, lalu dengan segera melepaskan istrinya. Hans langsung mengambil jas tadi, dan menjauh dari tubuh Airen. Bisa Airen lihat kekecewaan suaminya, Airen berinisiatif untuk menyenangkan suaminya lebih dulu.


Airen memeluk tubuh Hans dari belakang, Hans cukup terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya. "Ara menangis, kamu tenangkan dia saja dulu." ucap Hans kepada Airen.


Airen menggelengkan kepalanya, dia masih setia memeluk tubuh suaminya. "Mas madep sini dong." pinta Airen.


Hans pun memutar tubuhnya menghadap Airen, bisa Airen lihat raut wajah suaminya yang sudah tidak enak dipandang. Perlahan jari telunjuk Airen terulur untuk menyentuh roti sobek yang ada diperut suaminya, semakin turun kebawah dia menyentuhnya.


"Cukup, jangan diteruskan. Atau kamu dalam masalah." ucap Hans dengan suara yang berat.


Airen tidak takut, justru dia tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Airen benar-benar nakal, dia tidak menghiraukan apa yang suaminya katakan. Hans dengan terpaksa mencekal tangan istrinya, lalu mendorong Airen ke tembok dan menghimpit tubuh istrinya.


"Jangan macam-macam, aku masih bisa nunggu sebulan lagi. Ayo cepat berikan aku asupan vitamin." ucap Hans di telinga istrinya.


Airen menangkup wajah suaminya, dia mendekatkan wajah keduanya. Perlahan Airen memejamkan matanya, ntah kapan bibir keduanya sudah menempel. Hans tertawa dalam hati saat melihat Airen begitu gugup, Hans menggigit pelan bibir bawah istrinya.


"Aaa mmmpphh."

__ADS_1


Hans langsung mengambil kesempatan saat Airen membuka bibirnya, lidahnya langsung menerobos masuk ke dalam, mencicip setiap inci dirongga mulut sang istri. Mereka berdua bertaut cukup lama, sampai Eza berteriak berkali-kali namun tidak dihiraukan oleh mereka. Hingga Eza mengetuk pintu ruang ganti, Hans segera melepaskan pangutan bibir mereka. Hans mengusap lembut bibir Airen yang dipenuhi salivanya dengan ibu jarinya.


"Sudah cukup, terimakasih sayang. I Love you."


Cup


Hans mengecup singkat kening istrinya, "I Love you more, mas Hans." Airen segera keluar dari ruang ganti.


"Kakak lama bangat sih! aku teriak-teriak juga."


"Maaf Za, kakak ngga denger. Terimakasih ya sudah jagain Amira dan Amara." ucap Airen lalu dia beranjak menuju kasurnya.


Airen menggendong Amara untuk menenangkannya, "Cup cup cup, sayangnya bunda jangan nangis. Uncle Za galak ya sayang, diapain hem?" Airen mengajak Amara berbicara dengan suara yang lucu seperti anak kecil.


Eza terkekeh melihat tingkah kakaknya, "Uncle Za nya ketawa noh, Ara diketawain sama uncle Za iya he'em? diapain sayangnya bunda. Ututu cantik bangat anak bunda kalau ketawa." ujar Airen yang masih menirukan suara seperti anak kecil dalam menggoda anaknya agar tertawa.


"Sayang aku sudah siap, ayo kita berangkat." Hans keluar dari ruang ganti dengan setelan jasnya yang tadi dipilihkan Airen.


"Ayo mas, kamu gendong Amira saja. Dia anteng anaknya." ucap Airen kepada suaminya.


"Bentar sayang, aku masukin barang-barang ke mobil dulu. Kamu tunggu disini bentar ya." Hans membawa barang-barangnya lebih dulu dibantu juga oleh Eza.


Setelah semua barang-barang sudah dimasukan ke dalam bagasi, Hans segera kembali ke apartemennya. Sedangkan Eza menunggu di dalam mobil.


Hans masuk ke dalam kamarnya, lalu dia mengambil Amira yang masih tergeletak di atas tempat tidur. "Ayo sayang." ajak Hans kepada Airen.


"Siapa yang bawa mobilnya mas?" tanya Airen.


"Aku, Roni lagi sibuk dikantor jadi tidak bisa minta tolong sama dia."


"Oh yasudah, nanti Amira sama aku saja."


Hans mengangguk, mereka pun pergi menuju mobil. sesampainya di mobil, Airen memilih duduk di kursi tengah karena tempat duduknya yang cukup lega untuk dirinya dan kedua anaknya. Eza pindah duduk di kursi depan bersama dengan Hans. mereka pun berangkat menuju mansion.


***


Sedangkan dimansion semua orang tengah asyik menikmati sarapannya dalam keheningan, Gibran tidak lagi banyak bicara karena Airen tidak ada disini.


"Gibran kamu kenapa diam saja? tumben bangat, akhir-akhir kamu sering diam." celetuk Eranson.


Gibran tidak menjawab dia masih setia menikmati makanannya, Hellena menghela nafasnya dia semakin merasa bersalah akan sikapnya kepada Airen tempo lalu.


"Gibran maafin Oma ya, Oma janji akan membawa kembali tante Airen dan Eza ke sini." ucap Hellena tulus.


Eran mendengus kesal mendengar ucapan Gibran, sedangkan Bima dan Raja terkekeh melihat kedua sepupu itu bertengkar.


Saat mereka masih menikmati sarapan paginya, ada suara bel pintu di depan. "Mbok Nin, tolong lihat siapa yang datang." ucap Hellena meminta tolong kepada mbok Nin.


"Baik nyah."


Mbok Nin segera menuju pintu depan, dia membukanya perlahan. Betapa terkejutnya mbok Nin dengan kehadiran tuan muda dan juga istri serta anaknya. Mbok Nin terharu melihat tuan muda datang kembali.


"Assalamu'alaikum, mbok apa kabar?" tanya Airen memecahkan keheningan.


"Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah non. Mbok baik, non Iren apa kabar?" tanya mbok Nin dengan mata yang berkaca-kaca.


"Alhamdulillah mbok baik." ucap Airen tersenyum.


"Siapa mbok?" teriak Hellena, menyusul mbok Nin.


Hellena terdiam, dia terpaku ditempatnya menatap kepada orang-orang yang selama ini dia rindukan. Air matanya bercucuran begitu saja saat melihat menantunya tersenyum ke arah dirinya.


Airen menghampiri Hellena mencium tangan ibu mertuanya, "Mama apa kabar?" tanya Airen lembut.


Hellena menangis sendu melihat perlakuan menantunya, Hellena langsung memeluk Airen dengan erat. Namun keduanya terhalang oleh bayi yang Airen gendong, bayi mungil itu menangis.


Hellena terkejut, bahkan dia sampai tidak engah bahwa ada cucunya. Hellena menatap wajah bayi mungil itu yang terlihat sangat mirip dengan Hans, Hellena tersenyum menatap cucunya.


"I--ini cucu Oma?" tanya Hellena menatap Airen.


Airen tersenyum dan mengangguk sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan mertuanya.


"Hei boy, kamu mirip sekali dengan papa mu." ujar Hellena.


Hans langsung menghampiri ibu dan Istrinya, Hans mencium tangan sang ibu. Hellena memeluk Hans dengan singkat, air matanya masih terus bercucuran. "Sudah mih jangan menangis." pinta Hans.


"Hiks.. Ren maafin mamih ya, maafin sikap dan perlakuan mamih sama kamu. Mamih sangat menyesalinya, mamih janji tidak akan menuntut apapun dari kamu, Hans, dan juga anak-anak kalian. maafin keegoisan Mamih yang menyebabkan kamu menderita." ujar Hellena sambil menangis.


"Tidak apa-apa mah, aku sudah mengikhlaskannya. Lagi pula dibalik itu semua pasti ada pelajaran dan hikmahnya, yang terpenting sekarang kita berkumpul bersama. Maafin aku juga ya mah." ujar Airen sambil mengelus lembut lengan Hellena.


"Boleh mamih gendong cucu mamih?" tanya Hellena menatap ke arah Hans dan Airen.


Mereka berdua mengangguk, Hellena tersenyum sambil menatap kedua cucunya yang masing-masing berada digendongan papa dan mamanya.


"Kakak, aku kok ditinggal di dalam mobil." ucap Eza yang membuat Hellena, Hans, dan Airen menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Eza ya ampun, mamih kangen sama kamu." teriak Hellena yang langsung memeluk Eza.


"Oma, aku juga kangen sama Oma." ucap Eza membalas pelukan Hellena.


Disaat mereka tengah bercengkrama, Bima, Raja, Ratu, William, Gibran, dan Eranson pun keluar untuk melihat siapa yang datang. Mereka semua terkejut, kecuali Bima. Laki-laki itu nampak santai melihat kehadiran adiknya, dia bersyukur karena Hans mau kembali ke mansion ini.


"Airen, mbak kangen sama kamu." ucap Ratu yang langsung memeluk Airen.


"Mommy!" teriak Gibran yang juga memeluk Airen.


Semuanya nampak senang dengan keluarga mereka yang berkumpul kembali, Raja masih merasa bersalah dengan Airen dan juga Hans. Begitupun dengan William, dia sebagai ayah mertua Airen pun merasa bersalah karena tidak dapat menemukan menantunya yang tengah dalam bahaya.


"Ren sini, mamih mau gendong cucu mamih yang tampan ini." ucap Hellena mengambil Amara dari gendongan Airen.


"Mereka berdua perempuan Mih." ujar Bima memberitahu.


Hellena langsung menatap kepada Bima, lalu tatapannya beralih kepada Airen dan Hans. Hellena memberikan Amara kembali kepada Airen. "Mamih tidak apa-apa jika cucu mamih laki-laki semua, jangan bilang kalian menukar cucu mamih hanya untuk menyenangkan hati mamih." ujar Hellena kecewa.


"Yang dikatakan kak Bima benar, mereka berdua perempuan. Dan ini cucu mamih asli, ini bibit aku Mih, lihatlah wajah dia mirip dengan ku bukan? Mamih meragukan anak-anak ku?" tanya Hans dengan wajah yang datar.


"E--ehh bukan seperti itu, yasudah sini Ren Mamih mau gendong lagi." pinta Hellena.


Airen menyerahkan Amara kepada Hellena, sedangkan William menggendong cucunya yang berada digendongan Hans.


"Wajah dia mirip seperti Airen ya? mereka kembar tapi kalau dilihat-lihat agak berbeda." ucap William.


"Iya Pih benar, yang ini lebih ke Hans, dan yang itu lebih ke Airen."


"Oma aku mau lihat!" ucap Gibran dan Eranson.


Hellena berjongkok agar cucu laki-lakinya itu dapat melihat sepupu baru mereka, "Wahh anak uncle Hans cantik yah, Daddy aku mau punya adik." pinta Gibran kepada Bima.


Uhuk.. uhukk..


Tanpa penyebab apapun Bima terbatuk-batuk saat mendengar penuturan anaknya, semua orang nampak tertawa melihat Bima.


"Cariin mommy untuk Daddy mu Gib." celetuk Raja.


"Tante cantik kan ada, dia yang akan jadi mommy ku." ucap Gibran.


"Siapa Tante cantik?" tanya Raja penasaran.


"Ada deh." jawab Gibran.


"Good boy." ucap Bima mengacungkan jempol, syukurlah karena Gibran tidak memberitahukan hal itu kepada raja. kalau tidak, dia sudah dibully habis-habisan oleh kakaknya yang tengiek itu.


"Ren siapa namanya?" tanya Hellena.


"Mas aku lupa nama panjangnya." bisik Airen kepada Hans.


Hans terkekeh pelan, "Yang digendong papih itu anak pertama kami, namanya Amira Cahya Mikhailov. Dan anak kedua yang ada di gendongan Mamih, namanya Amara Hanster Senjani." ucap Hans bangga memperkenalkan nama anaknya.


"Namanya bagus, tapi kenapa Amara tidak memakai nama keluarga Mikhailov?" tanya Hellana.


"Biar adil, yang satu Mikhailov yang satu Senjani." jawab Hans.


Hellena menghargai keputusan Hans dan Airen, dia tidak ingin ikut campur lebih dalam lagi.


"Mah gantian dong, aku mau gendong juga." ujar Ratu kepada ibu mertuanya.


"Nanti, mamih masih ingin gendong. Kamu buat gih sana sama Raja, masa sih Raja sudah tidak sanggup buat." celetuk Hellena.


Raja melototkan matanya tak percaya, "Enak saja aku dibilang sudah tidak sanggup, Mamih mah gitu kalau ada Hans aku kena sasaran pembulian." lirih Raja.


Jauh dilubuk hati yang terdalam ada rasa iri dan sakit hati bagi raja, karena selalu Hans yang dikedepankan oleh ibu dan ayahnya.


"Aku lelah, mau ke kamar dulu." ucap Raja murung.


Hellena menyadari kesalahannya, dia langsung memberikan Amara ke Ratu dan memilih untuk menyusul Raja.


"Sudah ayo masuk, biarkan mamih kalian bersama dengan Raja lebih dulu. Ayo Ren, kamu sudah nyarap?" tanya William.


"Belum Pih." jawab Hans dengan cepat.


"Yasudah ayo masuk, Bim bawakan barang-barang adik mu." pinta William.


Bima langsung menarik lengan Hans, "Berdua lebih cepat." ucap Bima kepada Hans.


Airen dan yang lainnya langsung masuk menuju ruang keluarga, sedangkan mbok Nin membawakan sarapan untuk Airen.


Aku harap, anak-anak ku tumbuh dan berkembang dengan baik di sini. batin Airen.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2