Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 79


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


"Sayang hari ini aku sudah mulai masuk kerja, kamu baik-baik di apartemen ya." ucap Hans sambil memakai dasi.


Airen tersenyum, "Iya mas, kamu hati-hati ya." Airen masih sibuk dengan kedua anak-anaknya, karena Hans belum mencari pengasuh untuk kedua buah hatinya.


Ada rasa iri di hati Hans karena istrinya sama sekali tidak menghiraukan dirinya, Airen sibuk dengan kedua putri mereka bahkan saat Hans memakai dasi pun tidak dapat lagi dibantu oleh Airen.


"Iya, aku berangkat."


Hans melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, ada perasaan sedikit kecewa karena bahkan Airen tidak menghampiri dirinya untuk mencium tangan.


Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera menuju kantor dan menyelesaikan semua pekerjaannya yang sudah lama ia tinggalkan.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Hans sampai di perusahaan. Semua karyawan nampak mengucapkan selamat pagi untuk tuan CEO yang gagah dan tampan itu. Hans terus berjalan tanpa menghiraukan para karyawannya, laki-laki itu segera menuju ruang kerjanya.


Hans melihat setumpuk dokumen yang ada di atas mejanya, rasa lelahnya kian bertambah saat melihat berkas dan juga dokumen itu. Hans mulai mengerjakan pekerjaannya, karena dia tidak ingin membuang banyak waktu.


Tok tok tok


"masuk."


Roni menghampiri tuan nya, dengan membawa beberapa map yang berisikan berkas-berkas tentang launching nya produk baru.


"Tuan, ini semua berkas yang harus anda lihat dan tandatangani. Kalau menurut anda semuanya oke, kita akan segera melaunching kan produk tersebut." ucap Roni kepada Hans.


"Hn, nanti akan ku lihat. Ron, tolong batalkan semua meeting dan juga pertemuan ku dengan client. Karena aku ingin mengerjakan ini lebih dulu."


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."


Hans kembali mengerjakan semuanya, tatapannya fokus ke arah laptop dan juga semua berkas dan dokumennya.


Setelah empat jam selesai berkutik dengan pekerjaannya, Hans menelpon Roni untuk memesan makanan, karena rasa lapar diperutnya yang sudah tak tertahankan.


Drddtt drddttt


πŸ“ž"Ron tolong belikan makanan untukku, dan bawa ke ruangan ku."


^^^πŸ“ž"Baik tuan, tapi makanan apa yang anda inginkan?"^^^


πŸ“ž"Apa saja, bukan kah kau tahu betul apa yang sering aku pesan?"


^^^πŸ“ž"Baik tuan, kalau begitu saya akan segera membelikannya."^^^


^^^Tut.^^^


Krukk.. kruk..


"Ini pasti akibat aku melupakan sarapan." gumam Hans.


Cklek


"Ron kau cep--. Papih?"


"Dasar anak nakal, kau benar-benar keterlaluan. Kenapa tidak pulang hah!" teriak William karena kesal dengan anak bungsunya.


Hans menanggapinya dengan santai, "Kenapa aku harus pulang?"


"Mamih mu sakit karena terus saja memikirkan tentang diri mu, tidak bisakah kau meluangkan waktu untuk itu. Papih tau Hans, mamih mu memang bersalah tapi jangan hukum dia seperti ini." ucap William dengan nada yang tiba-tiba rendah.


Hans menarik nafasnya pelan, "Nanti aku akan menemui mamih, tapi aku akan tetap pergi dari mansion itu."


"Apa istri mu sudah sadar?" tanya William, yang langsung duduk di sofa meskipun anaknya tidak mempersilahkannya untuk duduk.

__ADS_1


Hans hanya mengangguk, matanya kembali fokus kepada berkas dan dokumen itu. William mengamati putranya yang sedang bekerja.


"Syukurlah, lalu bagaimana dengan cucu-cucu ku?" tanya William.


"Baik." jawab Hans datar.


William memaklumi jika Hans marah padanya, karena memang dia tidak ada sebagai ayah disaat anaknya membutuhkan dirinya. Bahkan William tidak dapat membantu Hans untuk melindungi Airen, padahal saat Airen di desa William dapat menjaga menantunya dengan baik dalam pengawasan dirinya.


Apakah aku harus meminta maaf kepada putra ku? batin William.


"Mamih sakit apa?" tanya Hans tiba-tiba, ada kekhawatiran dengan ibunya meskipun Hans tengah marah kepada wanita paruh baya itu.


"Tekanan darahnya tinggi, akibat terlalu stres dan juga kecemasan berlebihan."


Hans diam tidak lagi bersuara, dia masih fokus berkutik dengan laptopnya. William melihat jika kinerja anaknya sedikit menurun.


"Sepertinya kinerja mu menurun, waktu usia mu dua puluh tiga tahun bahkan pekerjaan seperti itu bisa kau selesaikan dalam waktu tiga jam saja."


Hans tidak mempedulikan ucapan ayahnya, dia masih tetap konsisten terhadap pekerjaannya. Hans tahu betul kemampuan dirinya, Hans akui memang belakangan ini dia menjadi agak malas untuk melakukannya.


"Ini semua pasti karena Air--."


Belum sempat William melanjutkan kata-katanya, Hans sudah menatap tajam ayahnya. "Jangan pernah menyalahkan istri ku untuk hal ini, kalau anda tidak puas dengan kinerja ku diperusahaan ini, silahkan pecat aku." ucap Hans secara formal.


Sudahlah tidak usah menyinggung perasaannya mengenai istrinya, dia sama seperti ku ternyata. batin William.


"Tidak-tidak, pekerjaan mu sangat bagus. Bagaimana bisa papih memecat orang seperti mu, lagipula perusahaan ini sudah menjadi milik mu. Papih hanya memegang saham 2% saja dari perusahaan ini." ucap William mengalah, dia tidak ingin anaknya kembali marah.


"Yasudah karena urusan papih sudah selesai, papih pamit pulang karena sepertinya kamu sangat sibuk. Oiya dan jangan lupa nanti ke rumah dulu, mamih mu sangat merindukan putra kesayangannya." imbuh William, laki-laki paruh baya itu beranjak dari tempatnya.


"Hn, hati-hati." ucap Hans.


William tersenyum dan mengangguk, dia pun segera pergi dari sana dengan hati yang sedikit bahagia karena keinginan istrinya akan terwujud.


***



Airen mendandani kedua putrinya, saat dia hendak memfoto mereka Airen teringat bahwa dia tidak memiliki ponsel, karena terakhir kali ponselnya tertinggal di mansion saat ia hendak pergi bersama mamih Hellena.


"Duh padahal anak bunda udah cantik gini, ngga bisa difoto. Padahal bunda mau kasih liat ke papa kalian." gumam Airen sambil menatap kedua anaknya.


Eza menghampiri kakaknya, dia ikut menggoda kedua keponakannya. "Hallo keponakan Uncle Za, yang cantik. Wihhh kalian wangi bangat ya."


"Iya dong Uncle, kan sudah mandi." jawab Airen.


"Kak mereka lucu bangat ya, meskipun kembar wajahnya agak berbeda."


Airen tertawa mendengar penuturan sang adik, memang benar apa yang dikatakan Eza bahwa terlihat jelas wajah keduanya sedikit berbeda. Tidak sama persis seperti kembar yang lain pada umumnya.


***


Pukul 20.15


Hans akhirnya telah selesai mengerjakan semua pekerjaannya, laki-laki itu bergegas pergi untuk menuju mansion karena janjinya tadi siang kepada sang ayah.


Hans mengendarai mobil dengan perlahan, tiba-tiba dirinya teringat akan anak dan istrinya. Hans tidak sabar untuk melihat mereka, meskipun terkadang dia kesal dengan Airen karena selalu diacuhkan.


Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya Hans sampai di mansion, lantas Hans keluar dari mobil dan segera menuju ke dalam.


"Lho Hans, kamu sudah pulang? kamu dan Airen apa kabar? terus Airen dimana? Kakak kangen sama dia." ucap Ratu saat melihat kedatangan adik iparnya.


"Uncle Hans!" teriak Gibran memeluk kaki uncle kesayangannya.

__ADS_1


Hans dengan sigap langsung membungkukkan badannya agar setara dengan Gibran, Hans membalas pelukan keponakannya itu.


"Uncle kemana saja? Aku kangen tahu, dimana Mommy?" tanya Gibran matanya mengedar mencari sosok Airen.


"Ada, nanti uncle ajak kesini. Kamu disini dulu ya sama mama Ratu, uncle mau ke Oma dulu." Hans menurunkan Gibran dari gendongannya.


"Oke uncle."


Hans segera menuju kamar ibunya, Ratu membawa Gibran ke meja makan karena mereka hendak makan malam bersama.


Tok tok tok


"Siapa?" tanya Hellena dengan suara pelan.


"A--aku Hans."


Deg


Jantung Hellena berdebar kencang, suara yang selama ini dia rindukan kini terdengar lembut di telinganya. Hellena masih berdiam diri di kasurnya, wanita paruh baya itu tidak memiliki kekuatan untuk menemui putranya.


Tidak ada jawaban dari ibunya, Hans segera membuka handel pintu dengan pelan. Perlahan pintu kamar itu terbuka, menampakkan sosok Hans. Netra antara anak dan ibu bertemu, jauh dilubuk hati terdalam Hans pun merindukan sosok ibunya. Perlahan Hans mendekat ke arah ranjang sang ibu, Hans duduk di sisi ibunya.


"M--maaf Hans." lirih Hellena, wanita itu tidak kuasa menahan tangisnya.


Hans menarik tubuh ibunya ke dalam pelukannya, Hellena menumpahkan segala perasaannya di dalam dekapan sang anak.


"Hikss.. Maafkan mamih Hans." lirih Hellena.


Hans masih belum bersuara, dia mengelus lembut punggung sang ibu. Bisa Hans rasakan suhu tubuh ibunya yang panas, Hans menghela nafasnya pelan dan melepaskan pelukannya.


"Aku sudah berusaha mengikhlaskan tentang kejadian itu, aku juga minta maaf ya mih." ucap Hans lembut.


Hellena bersyukur karena jauh di dalam hati Hans, dia memiliki sikap yang hangat dan lembut. meskipun Hans terbilang laki-laki yang dingin dan keras, namun dia memiliki hati yang begitu lembut.


"Maaf kalau mamih egois sama kamu dan Airen, lalu dimana Airen nak? Mamih ingin meminta maaf kepadanya. Apa Airen sudah sadar dari komanya?" Hellena menghujani anaknya dengan rentetan pertanyaan.


"Istriku sudah sadar, dia ada diapartemen." jawab Hans.


"Kenapa kalian tidak kembali ke mansion ini?" lirih Hellena.


"Aku memutuskan untuk tinggal sendiri mih, aku harap mamih mendukung keputusan ku."


Ada keresahan di hati Hellena, pasti mansion ini akan lebih sepi jika Hans dan keluarganya memilih untuk tinggal sendiri.


"Kalau itu keputusan mu, mamih bisa apa? Tapi mamih berharap jika suatu saat kamu dan Airen kembali ke mansion ini. L--lalu bagaimana dengan cucu mamih?"


Masih ada rasa sesak di hati Hans jika mengingat tentang hal yang menyebabkan Airen koma, hanya karena jenis kelamin anak-anaknya, ibunya sampai tega membiarkan istrinya turun di tepi jalan.


"Tidak usah menanyakan hal yang dari awal tidak Mamih inginkan kehadirannya." ucap Hans.


Hellena tahu pasti putranya masih marah karena hal itu, "Nak, tolong maafkan mamih. Jangan seperti ini, mamih akan menerima mereka tidak peduli apapun jenis kelaminnya. Mereka tetaplah cucu mamih, tolong jangan pisahkan mamih dengan cucu-cucu mamih. apa mereka baik-baik saja?" ujar Hellena panjang lebar.


Hans tersenyum saat melihat kesungguhan yang terpancar dari wajah ibunya, "mereka baik, nanti akan aku bawa ke sini tapi dengan tiga syarat."


"apa syaratnya?"


"Pertama, mamih harus sehat lebih dulu. Kedua, mamih harus berjanji untuk tetap memberikan kasih sayang yang sama kepada semua cucu-cucu mamih, tidak peduli mereka perempuan ataupun laki-laki. Ketiga, mamih tidak boleh egois kedepannya." ujar Hans.


Hellena mengangguk semangat, dia sudah bertekad untuk berubah menjadi pribadi yang tidak egois. "Mamih berjanji untuk hal itu Nak." ucap Hellena, yang langsung memeluk Hans.


"Terimakasih Hans."


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya


__ADS_2