Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 72


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Hellena menangis sendu dalam dekapan Ratu, semua orang ikut mencari kemana perginya Airen. Hari sudah larut malam, mereka belum menemukan petunjuk apapun. William kembali ke mansion, bersama dengan Raja dan Bima. sedangkan Hans masih berusaha untuk mencari istrinya.


"Hikss.. ini salah Mamih." ujar Hellena di sela-sela tangisnya.


Ratu hanya diam sambil mengusap punggung ibu mertuanya, William menghampiri istrinya yang tengah menangis.


"Mih." panggil William.


Hellena mendongakkan wajahnya menatap ke arah William, wanita paruh baya itu langsung menghambur ke dalam dekapan suaminya.


"Hikss.. bagaimana Pih?" tanya Hellena.


William hanya menggelengkan kepalanya, sambil terus mengusap punggung istrinya. William juga tidak tahu, harus mengatakan apa kepada Hellena.


"sebaiknya kita tidur, besok pagi baru mencarinya kembali."


"Ini semua salah aku, seharusnya aku tidak menurunkan Airen di pinggir jalan."


"Kita harus percaya dengan Airen, bahwa dia bisa melewati hal ini. Papih yakin Airen akan baik-baik saja."


Mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Di lain sisi, Hans terus mencari dimana istrinya.


Dimana kamu Cahya? Kenapa harus seperti ini. batin Hans.


Hans melajukan kendaraannya, membelah kesunyian malam yang ada. Laki-laki itu terus mencari keberadaan istrinya, disaat yang lain memutuskan untuk beristirahat kini hanya Hans yang berusaha mencari sendirian.


***


Di dalam ruangan yang lembap, Airen merasa dingin. Bahkan tadi Laura memberi makanan sisa untuk dirinya, Airen tidak peduli meskipun itu makanan sisa yang terpenting anaknya di dalam perut dapat makan.


Airen mulai menangis, kenapa belum ada yang menyelamatkannya? Airen berharap jika suaminya segera untuk menyelamatkan dirinya.


"Sabar ya sayang, papa kalian pasti akan menyelamatkan kita." gumam Airen sambil mengelus perutnya.


Hingga Airen terlelap tidur di lantai yang dingin, tidak ada kenyamanan sama sekali untuk Airen tidur, dia hanya tidur beralaskan lantai saja.


🌹


Pagi menyapa dengan matahari yang bersinar terang, Hans kembali ke mansion untuk mengganti pakaian dan juga sarapan. Biar bagaimanapun dia tidak ingin sakit, karena dia harus menyelematkan istri dan anaknya.


Drap drap drap


Hans melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, sudah ada keluarganya di ruang makan. Hans melewati mereka begitu saja, terlebih melihat sang ibu yang nampak asyik sarapan.


"Hans ayo makan Nak." ajak Hellena.


Hans tak menggubris ucapan ibunya, kenapa semua orang bisa makan dengan lahap sedangkan mereka tidak tahu bagaimana kondisi Airen sekarang.


Hans segera masuk ke dalam kamarnya, laki-laki setengah bule itu langsung membersihkan dirinya dan segera mengganti pakaiannya.


Hans pun turun, dia tidak sarapan di rumahnya melainkan sarapan di kantor. karena hari ini, dia akan membicarakan sesuatu hal kepada Roni.


"Hans sarapan dulu!" ujar William saat melihat Hans.


Hans sama sekali tidak menggubris ucapan ayahnya, dia terus melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Namun langkahnya harus terhenti karena suara teriakan Eza.


"Kak Hans! Aku ikut mencari kakak." ujar Eza lantang.


Hans tersenyum, dia membalikan badannya dan segera menyuruh Eza untuk ikut bersama dirinya.


"ayo, kemarilah. kita cari kakak mu bersama-sama, karena hanya kita yang peduli dengan dia." ujar Hans sambil menatap ke arah ibunya.


Deg


hati kecil Hellena tentu sakit mendengar penuturan itu dari putra kesayangannya.


"Hans Alister Mikhailov! berhenti dan kemarilah untuk meminta maaf pada ibu mu!" ujar William dingin.


"Pih sudah tidak apa-apa." lirih Hellena.


"Hans kamu tidak boleh menyalahkan Mamih seperti itu! istri kamu saja yang kabur, harusnya dia kembali ke mansion bukan malah kabur membuat orang panik. lagi juga tenang aja kenapa sih? istri kamu pasti baik-baik saja, nanti juga dia kembali sendiri." ujar Raja yang tiba-tiba menjadi kesal dengan Hans dan juga Airen.


Hans menatap tajam ke arah kakaknya.

__ADS_1


"Jika istriku tidak baik-baik saja, aku akan angkat kaki dari mansion ini. Bahkan kalau perlu aku keluar dari perusahaan! Kalian harus ingat kata-kata ini." ujar Hans.


Semua orang terdiam, Hans pergi dari sana bersama dengan Eza.


***


"Tuan, lokasinya sudah ditemukan. Kapan kita bergerak?" tanya Roni kepada Hans.


"Laura yang menculik istriku?" tanya Hans datar.


Roni mengangguk sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Hans.


Hans tersenyum smrik, "Wanita ular itu benar-benar harus dikasih pelajaran." gumam Hans.


Cklek


Bima datang, duda satu anak itu pun masuk ke dalam ruangan Hans tanpa mengetuk pintu dahulu.


"Aku ikut untuk mencari Airen." ujar Bima.


"jangan beritahu orang rumah." ucap Hans datar.


Bima mengerti dia hanya mengangguk, mereka semua menunggu kedatangan Barra dan juga teman-temannya. Tidak lama Barra datang mereka akhirnya memutuskan untuk segera berangkat.


"Semuanya sudah siap." ujar Barra.


"Oke, kita berangkat."


Sejak kapan Hans memiliki pasukan seperti ini? batin Bima.


***


Plak


Laura terus menampar Airen, kebenciannya terhadap Airen sudah benar-benar terisi penuh. Terlebih saat Laura melihat perut buncit Airen, dia tidak rela karena seharusnya dialah yang menjadi ibu untuk anak-anak Hans.


"Matilah kau! Aku benci terhadap mu." ujar Laura tak terkendali.


Plak plak plak


Brak


"Nyonya, persembunyian kita sudah ditemukan oleh seseorang." ujar bawahan Laura.


"benarkah?" Laura tersenyum smrik.


Laura meminta bawahannya untuk membawa Airen keluar dari ruangan, wanita itu meminta bawahannya untuk menjalankan rencana C.


"bawa dia keluar, dan jalankan rencana C. aku akan pergi sekarang." ujar Laura.


Mereka akhirnya menjalankan rencana C, Airen dibawa keluar Villa dan disana ada banyak orang-orang bayaran Laura. Bahkan ada Daniel dan juga Lusiana di sana.


Villa itu cukup tinggi, karena saat ingin masuk ke dalam Villa di luarnya ada tangga yang harus dinaiki (Tau rumah Upin Ipin kan? Kurang lebih seperti itu tapi tangga yang pas mau masuk ke dalam rumah agak lebih tinggian lagi) dan Sekarang Airen berada di tepi tangga sambil dipengangi oleh bawahan Laura.


Tidak lama Hans datang, laki-laki itu terkejut melihat istrinya di atas sana. Hans dan yang lainnya ada di bawah, tidak dia sangka jika Daniel bisa secepat ini menjalankan rencananya.


"M---mas Hans." lirih Airen, saat melihat suaminya yang berada di bawah.


"Hai Hans, apa kabar?" tanya Daniel.


"Lepaskan istriku."


"Tidak bisa, kecuali kamu menikah dengan putri ku." ujar Daniel.


Hans tersenyum smrik, "Tidak akan pernah terjadi." ucap Hans.


"Kau ingin melihat istri mu jatuh?" ancam Daniel.


Hans menatap Daniel, tidak ada keraguan sama sekali di wajah teman papahnya itu.


"Hati-hati Hans, laki-laki itu sudah tidak waras akibat anaknya." ucap Barra.


Hans mengangguk, apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Bagaimana dengan penawaranku?" tanya Daniel dari atas villa.

__ADS_1


"Iyakan saja Hans." ucap Bima menyarankan.


"mana bisa begitu, dia licik sekalipun aku iyakan dia tetap akan melakukan hal itu."


Hans nampak berfikir, jika dia bilang tidak apakah Daniel langsung menjatuhkan Airen? Apakah Hans masih memiliki kesempatan untuk mengalamatkan istrinya?


"Bar, Ron. gunakan rencana kedua." gumam Hans.


mereka menangguk, Hans maju perlahan sambil menatap ke arah Daniel.


"Aku tidak menyetujui hal itu!" ucap Hans lantang.


Dor


Daniel menembak ke sembarang arah, dia ingin mengalihkan perhatian Hans. Dan benar saja, mereka semua melihat ke arah belakang, siapa yang Daniel tembak. Daniel mendorong Airen agar terjatuh, laki-laki itu langsung pergi lewat pintu belakang.


"Aaaaaaaa." teriak Airen menjerit.


Hans membelalakan matanya saat melihat ke arah depan, kenapa bisa dia kecolongan seperti ini. Hans dan rekan-rekannya segera bergerak melakukan rencana, ada sebagian yang mengejar Daniel. dan sebagiannya saling baku hantam.


Bruk


"Aawwsshh, s--sakit."


Airen meringis memegangi perutnya, saat dia sudah terjatuh di atas tanah. Hans segera menghampiri istirnya, dan langsung menggendong Airen untuk segera dilarikn ke rumah sakit.


"Aku serahkan hal ini pada kalian!" ucap Hans.


Mereka mengangguk, Bima ikut bersama dengan Hans. dia menyetir mobilnya, sedangkan Hans berada di sisi istrinya.


"Awwhhhh, m---mas hikss.. sakit." ringis Airen.


"Tahan sayang, sabar ya kita sedang menuju ke rumah sakit." ucap Hans berusaha tenang.


Bima melajukan mobilnya dengan cepat, ada perasaan iba terhadap adik iparnya. Jika saja, Mamih hellena tidak meninggal Airen mungkin hal ini tidak akan terjadi kepadanya.


"Bim, cepatlah!"


"Tenang Hans, gue juga lagi berusaha secepat mungkin."


Hanya ada suara ringisan Airen di dalam mobil, Hans tidak tahu harus berbuat apa? Bima semakin panik saat melihat darah yang sudah mengucur di pangkal paha Airen.


mereka pun sampai di rumah sakit terdekat, Hans langsung menggendong istrinya masuk. laki-laki itu berteriak, memanggil suster dan dokter untuk segera menangani istrinya.


Airen langsung dilarikan ke ruang persalinan, Hans segera menyelesaikan administrasi dan juga berkas-berkas yang harus dia tandatangani.


"Dimana Airen?" tanya Hans panik.


"sudah masuk ke ruang persalinan." jawab Bima.


"Kak, gue mau nemenin istri gue."


Bima menyuruh Hans untuk masuk, semua orang yang tengah menangani Airen terkejut dengan kehadiran Hans yang tiba-tiba masuk. Hans tidak peduli, dia langsung menghampiri istirnya yang sudah dibrankar. Hans juga sudah mengenakan seragam scrub seperti para dokter dan suster.


"Kamu pasti bisa sayang." ucap Hans di telinga Airen.


Airen terpaksa melahirkan caesar, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk dia melahirkan normal. Terlebih ini bayi kembar, dan juga lahir sebelum waktunya.


"M---mas, sakit sekali." Airen terus meringis, karena benturan tadi cukup kuat.


Setelah berkutik cukup lama di ruang persalinan, akhirnya dokter berhasil mengeluarkan dua bayi kembar itu dari perut ibunya, Hans menangis haru saat mendengar suara tangisan bayi. Dia sudah menjadi seorang ayah, namun pandangan Hans beralih ke arah Airen. Istrinya menutup rapat matanya.


"S--sayang, bangun. Cahya bangun!" teriak Hans.


Semua suster dan dokter panik, karena melihat lemahnya detak jantung Airen. Beberapa suster membawa anak-anak Airen, untuk diletakan di inkubator bayi. Karena anak mereka lahir secara prematur atau belum waktunya untuk lahir.


Hans panik, melihat dokter memasangkan selang oksigen kepada istrinya dan juga alat-alat lainnya. Hans hanya diam, kakinya terasa lemas melihat pemandangan seperti ini.


Cahya, kamu tidak akan meninggalkan ku dan juga anak kita kan? Kamu pasti bertahan kan? sayang, jangan membuat ku panik seperti ini. batin Hans, yang melihat istrinya masih ditangani dokter.


Hingga akhirnya Hans pingsan ditempat, karena rasa lelah dan juga kurang tidur serta pikiran setres yang menimpanya. Bima masuk, setelah mendengar keributan yang terjadi di ruang operasi. Bima membawa Hans keluar dari sana, dengan dibantu satu suster.


Astaga Hans, kenapa harus seperti ini. batin Bima.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf baru sempet updet dikarenakan sibuk, terimakasih banyak untuk kalian yang terus menunggu kelanjutannya🙏


__ADS_2