
(Kembali)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Setelah sepuluh hari berada di Paris, Hans memutuskan untuk kembali ke tanah air. Karena rengekan sang istri yang segera ingin pulang.
"Mas kalau kamu masih ingin disini yasudah kamu sendirian saja, biarkan aku pulang sendiri." ketus Airen, karena melihat raut wajah Hans yang tidak mengenakan.
"Tidak, ayo kita pulang. Kak Raja pasti sudah menunggu." jawab Hans.
Airen mengangguk, Hans dengan sigap membawakan koper istrinya. Mereka pun melangkahkan kakinya pergi keluar hotel.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Airen nampak terdiam ntah mengapa perasaannya tidak enak.
Kenapa perasaan ku tidak enak seperti ini? gumam Airen dalam hati.
Hans menoleh ke arah samping, dilihatnya wajah sang istri yang terlihat lelah dan pucat. Hans menggenggam tangan Airen, sontak hal itu membuat Airen menatap suaminya. Hans tersenyum seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Sesampainya di bandara, Hans dan Airen keluar dari mobil yang mereka tumpangi. Mereka berdua menuju pesawat pribadinya, disana sudah ada Raja yang berpakaian lengkap seorang pilot.
"Assalamu'alaikum kak, maaf lama ya?" sapa Airen kepada kakak iparnya.
"Wa'alaikumussalam, tidak apa Ren. Oiya bgaimana liburan mu? Menyenangkan atau melelahkan? Apakah Hans terus mengurung mu di dalam kamar?" tanya Raja gamblang.
Pletak.
"Shut up!" ujar Hans dengan nada dingin.
Sedangkan Airen menahan rasa malunya, dengan menundukan kepalanya. Raja terkekeh melihat tingkah adik iparnya.
"Ya ampun Ren, kamu gemesin bangat sih. Pantas saja si Bima dan Hans memperbutkan mu."
"Sudah tidak membutuhkan uang?" tanya Hans dengan tatapan tajamnya.
Gluk
Raja menelan salivanya kasar, "Hei bro tenanglah, tidak boleh seperti itu dengan kakak mu sendiri."
"Kapan aku menganggap mu kakak?"
Busetdah nih anak kalau udah marah ngga main-main dah ucapannya. batin Raja.
"Mas, tidak boleh seperti itu." ucap Airen.
"Nahh betul tuh apa kata istrimu, tidak boleh seperti itu kepada ku. Oiya mana oleh-oleh buat kakak?" tanya Raja.
"Masih punya keberanian menanyakan oleh-oleh?" tanya Hans tajam.
"Mas Hans!" ucap Airen dengan nada yang sedikit tinggi.
"Nak lihatlah, bunda mu membentak papa." adu Hans kepada anaknya yang masih di dalam perut Airen.
Astaga, demi apa ini bukan adik gue. batin Raja.
Mas Hans ngga tau situasi bangat sih, ngga malu apa sama kak Raja. batin Airen.
"Capt, kapan kita berangkat?" tanya salah seorang pramugari.
"Sekarang!" jawab Hans dengan cepat.
Hans langsung masuk ke dalam pesawat bersama dengan Airen, pramugari itu dengan sigap membawakan koper mereka. Sedangkan Raja, langsung masuk menuju ke dalam kokpit untuk bersiap-siap melakukan penerbangan. setelah pengecekan dirasa sudah cukup, Raja langsung menerbangkan pesawatnya.
🌹
"Kak Eza, mommy kapan pulang ya? Aku kangen." ujar Gibran yang sedang bermain bersama dengan Eza dan juga Eranson.
"Kakak tidak tahu, kita berdoa saja semoga kak Airen cepat pulang dan membawa oleh-oleh yang banyak untuk kita."
"Iya benar, pasti uncle dan aunty bawa oleh-oleh yang banyak untuk kita." ujar Eranson.
Hellena menghampiri cucu-cucu nya yang tengah asyik bermain, Hellena duduk di sebelah Eza yang sedang menyusun puzzle.
"Eza, kamu sudah makan?" tanya Hellena.
"Sudah Oma." jawab Eza.
Sebenarnya Hellena meminta Eza untuk memanggilnya dengan sebutan mama, namun karena Eranson dan Gibran memanggil Hellena Oma, Eza pun mengikuti keduanya.
"Oma, kok hanya kak Eza yang ditanya sih." protes Gibran.
"Utututu tayang, cucu Oma ceritanya sedang cemburu nih? Oiya Gib, Daddy kamu akhir-akhir ini sepertinya seneng terus, kamu tahu tidak apa penyebabnya?" tanya Hellena sambil menggendong Gibran.
"Pasti gara-gara Tante cantik." jawab Gibran.
Hellena nampak berfikir siapa lagi wanita yang ada di dekat Bima? Kenapa Bima tidak bercerita kepadanya, padahal biasanya Bima selalu menceritakan wanita yang dekat dengannya.
"Siapa Tante cantik?"
"Aduhh Oma, aku lupa namanya. Tapi aku punya fotonya, sebentar ya Oma aku ambil ponsel dulu."
"Oke sayang cepat ya."
Gibran pun turun dari gendongan sang nenek, dia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya. Gibran tidak sabar menceritakan banyak hal kepada neneknya, tentang tante cantik ini. Tidak lama setelah mengambil ponsel miliknya, Gibran kembali lagi ke ruang keluarga dimana neneknya berada.
"Oma, lihatlah ini tante cantik. Aku mau Daddy sama Tante itu, menurut Oma bagaimana?" tanya Gibran sambil memperlihatkan foto dirinya bersama dengan Bella.
Apa! Bukankah itu Bella? batin Hellena.
"Iya Oma setuju, tapi Gibran tau dari mana Tante ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Waktu aku ke rumah sakit sama mama Ratu, ada tante cantik ini di ruangan Daddy." jawabnya cepat.
Jadi, ratu juga tahu tentang Bella? Kenapa mereka semua tidak bilang kepada ku, bahwa Bella telah kembali. Aku sungguh merindukan anak tomboy itu. batin Hellena.
"Yasudah Gibran harus deketin tante itu agar mau jadi mommy mu ya."
"Siap Oma."
**
Beberapa jam kemudian.
Akhirnya Hans dan Airen telah sampai di Indonesia, setelah beberapa jam perjalanan dengan pesawat. Hans keluar dari pesawat sambil menggandeng sang istri, mereka menuju ke luar bandara, sambil menunggu jemputan datang.
"Siapa yang akan menjemput kita?" tanya Airen kepada suaminya.
"Sebentar ya sayang, Roni sedang dalam perjalanan ke bandara." jawab Hans.
Airen mengangguk, sebenarnya dia sudah sangat lelah ingin segera beristirahat di rumah. Tidak berselang lama, akhirnya Roni telah sampai.
"Maaf Tuan, nyonya. Saya terlambat." ujar Roni.
"Tidak apa, ayo mas aku ngantuk dan capek, mau istirahat." jawab Airen, karena takut jika Hans akan memarahi Roni.
"Iya sayang, yasudah ayo. Ron, tolong bawakan kopernya."
"Baik Tuan."
Hans dan Airen masuk lebih dulu ke dalam mobil, sedangkan Roni membawa koper mereka dan memasukannya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu, Roni berjalan masuk ke dalam mobil dan mengambil alih kemudinya.
Roni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ditengah keheningan malam. Airen yang sudah mengantuk berat, memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Hans dia pun terlelap tidur.
Hans tersenyum, dia mengusap lembut kepala sang istri membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Ron, bagaimana kondisi perusahaan?" tanyanya.
"Stabil Tuan, karena tuan besar ikut serta membantu saya." jawab Roni sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Syukurlah."
"Bagaimana Tuan liburannya? Apakah ada oleh-oleh untuk saya?" tanya Roni basa basi.
"Tentu saja, apakah kau tidak lihat betapa penuhnya koper istriku? Dia membelikan banyak barang-barang untuk orang lain, bahkan sama sekali tidak ingat dengan ku." ujar Hans terkekeh, saat membayangkan betapa antusiasnya Airen saat membeli oleh-oleh.
Baru kali ini aku melihat wajah Tuan Hans dengan semburat kebahagiaan yang tercetak jelas, bahkan sikapnya hampir tidak bisa ku kenali dan itu semua berkat Airen. batin Roni.
**
Mereka telah sampai dimansion, Hans membiarkan Roni untuk masuk terlebih dahulu sambil membawakan barang-barangnya. Karena saat ini Airen masih tertidur lelap dibahu Hans.
Hans tidak tega untuk membangunkan Airen yang terlihat sangat lelah, Hans memutuskan untuk menunggu sampai istrinya bangun.
Ting tong!
"Baik, nyah."
Mbok Nin berjalan menuju pintu depan, dan dia membukakan pintu itu. Ternyata ada Roni, sambil memegangi kedua koper.
"Lho den Roni, ada apa ya den malam-malam ke sini?" tanya mbok Nin.
"Ini mbok, mau nganterin koper Tuan Hans." jawab Roni.
"Memangnya tuan Hans sudah pulang den? Dimana tuan Hans nya?" tanya mbok Nin sambil mencari keberadaan Hans dan Airen.
"Itu mbok, masih di dalam mobil. Nyonya Airen masih tertidur, mungkin tuan Hans tidak tega untuk membangunkannya."
"Wahh so sweet sekali Tuan Hans."
Hellena datang menghampiri mereka.
"Lho Roni, kamu ngapain malam-malam kesini? Trus ini koper siapa?"
"Punya tuan Hans." jawah Roni.
Apa!
"Anak itu sudah balik? Dimana dia? kenapa tidak mengabari kami."
"Sudah nyonya, tuan Hans masih di dalam mobil karena nyonya Airen sedang tertidur, dan kalau pertanyaan ketiga saya tidak tahu". jawab Roni.
"Yasudah baiklah terimakasih, ayo masuk dulu kita makan bersama. Biarkan Hans di sana." ujar Hellena, dan menyuruh Roni untuk masuk.
20 menit kemudian.
"Ya ampun sayang, kamu lelah bangat ya sampai belum bangun" gumam Hans melihat istrinya yang masih terlelap.
Perlahan Hans menyingkirkan kepala Airen dari bahunya, Hans membuka pintu mobil dan menggendong istrinya keluar dari sana.
saat di depan pintu, Hans bertemu dengan Roni yang hendak keluar.
"Tuan, saya pamit pulang."
"hn." jawab Hans.
Airen nampak tenang dan damai dalam gendongan sang suami, bahkan dia tidak terusik dengan apapun. Hans langsung membawanya menuju kamar mereka, dan meletakan Airen dengan perlahan di atas kasur.
Cup.
"Mimpi yang indah, aku mencintai mu." ucap Hans sambil mengecup kening Airen dengan perlahan.
Cup.
__ADS_1
"Hallo anak-anak papa, baik-baik di dalam perut mama mu ya. Besok kita pergi periksa ke dokter oke, selamat tidur."
Setelah mengecup istri dan calon anaknya, Hans langsung menyelimuti tubuh Airen dengan selimut. Setelah selesai, Hans memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan turun ke bawah untuk makan malam.
"Hans istri mu tidak dibangunkan?" tanya Hellena.
"Tidak Mih, kasihan biarkan Airen beristirahat."
"Yasudah, kamu makan dulu nih."
Hans mengangguk patuh dan langsung memposisikan dirinya untuk duduk di kursi, Hellena mengambilkan nasi dan lauk untuk putranya karena dia rindu momen seperti ini.
"Bagaimana liburannya?" Hellena bertanya sambil menyerahkan piring yang sudah berisikan lauk itu kepada Hans.
"Sesuai rencana."
"Syukurlah, berarti sekarang Airen sudah tidak trauma dengan kejadian waktu itu?"
Hans menggeleng, sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan ibunya.
"Pantesan Airen sampai kelelahan seperti itu, pasti ini ulah kamu."
Saat Hans hendak menjawab, Bima dan Raja datang bersamaan ke meja makan. Mereka berdua duduk di samping Hans.
"Mih sendokin juga dong." ujar Raja.
"Kamu ini sudah besar Ja, nyendok sendiri saja."
"Mamih mah gitu, pilih kasih." protes Raja.
"Ya ampun ini anak satu, yasudah sini Mamih sendokin."
Hellena pun melakukan hal yang sama kepada Bima, dan mereka bertiga makan secara bersamaan. Hellena mengabadikan momen itu dengan memotretnya.
Anak-anak ku telah tumbuh dewasa. batin Hellena.
**
Mereka telah selesai makan, kini hanya ada mereka bertiga karena tadi Mamihnya pamit untuk tidur lebih dulu.
Saat Hans hendak bangun untuk pergi, namun tangannya ditahan oleh Bima. Memang dari tadi, Bima banyak terdiam tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanya Hans langsung.
"Duduk, aku ingin bicara."
Hans duduk kembali, mencoba mendengarkan apa yang ingin kakaknya bicarakan. Sedangkan Raja hanya melihat interaksi mereka berdua, sambil memakan buah.
"Laura kembali." ucap Bima dingin.
Apa!
Bukan Hans yang kaget, melainkan raja yang sangat terkejut dengan ucapan Bima. sampai-sampai seorang pilot itu menggebrak meja makan.
Hans terdiam, sama sekali tidak merespon apapun. Ntah bagaimana perasaan laki-laki setengah bule itu.
"Kau tuli? ku bilang, Laura kembali." ucap Bima sekali lagi.
"Aku dengar, aku hanya tidak tahu harus merespon bagaimana." ucap Hans santai.
"Hans, ini masalah serius. Bagaimana jika Airen tahu?" ujar Bima.
"Memangnya kenapa jika Airen tahu? Bukankah Laura hanya masalalu Hans. Lagi pula yang aku bingungkan, mengapa saat ini Laura harus kembali? Apa mungkin, karena dia sudah tahu bahwa Hans telah menikah?" ujar Raja.
"Kak, Laura itu wanita yang terbilang nekat. Dia akan menghalalkan segala cara, demi mendapatkan keinginannya." ujar Bima dengan wajah yang terlihat kesal.
"Hans, pokoknya gue gamau tahu. Lo harus bisa membuat Laura jauh dari keluarga kita! apapun caranya, sebelum dia menyakiti Airen. Ingat ya Hans, kalau sampai Airen sakit hati karena lo ataupun sesuatu hal terjadi dengannya. Gue pastiin, akan membawa Airen pergi jauh dari Lo." ancam Bima sambil menunjuk ke arah Hans.
Brak.
Hans tidak terima dengan ucapan Bima, dia langsung menggebrak meja. rasa cemburunya kian hadir, mengapa kakaknya berkata hal demikian. Bukankah dia sudah merelakan Airen untuknya.
"Gue ngga ak--."
Raja langsung menjewer telinga kedua adiknya.
"Kalian bisa tidak, ngga usah marah-marah kayak gini. Kita harus mencari solusinya bersama, bagaimana caranya agar Laura tidak mengganggu rumah tangga mu dengan Airen. Dan kamu Bim, tidak boleh berkata seperti itu. seharusnya kamu membantu Hans, untuk menyingkirkan Laura. bukan malah mengharapkan rumah tangga adikmu kandas." ucap Raja menasehati.
"Kesambet apa Lo? Apa perlu gue resepkan obat?" ujar Bima bercanda, karena baru ini dia melihat kakaknya sebijak itu.
"Mungkin tadi abis ikut kajian, makanya waras." timpal Hans.
"Busetdah, punya adek sikapnya pada kayak dakjal." ucap Raja.
"Kita bahas ini nanti, gue capek mau istirahat. Bim, thanks infonya." ucap Hans, dia langsung pergi meninggalkan kedua kakanya.
Sedangkan Bima dan Raja saling pandang, mereka pun langsung pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Cklek
Hans masuk ke dalam kamar dengan langkah yang gontai, dan langsung memposisikan diri untuk tidur di samping istrinya.
Hans menatap wajah Airen, lalu beralih untuk melihat perut istrinya yang saat ini tengah mengandung buah hati mereka.
Aku tidak akan membiarkan orang lain melukai kalian, aku akan menjaga kalian. Cahya, apapun yang terjadi nanti, aku mohon percayalah pada suami mu ini. batin Hans.
Cup cup cup
Hans mengecup pipi istrinya berkali-kali, saat ini hatinya sudah sedikit lebih tenang. Hans menarik istrinya ke dalam dekapannya, dia pun terlelap dan ikut kemana istrinya bermimpi.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang saya buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.