
Airen dan Hans tengah bersiap pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bella yang kemarin telah melahirkan anaknya.
Hans sibuk mengajak bermain kedua anaknya sejenak, karena Airen sedang menyiapkan perlengkapan anak-anaknya. Hans menikmati setiap tumbuh kembang anak-anaknya, meskipun terkadang pekerjaannya sangat sibuk namun dia tetap meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya.
Amira sangat mirip dengan Airen, apa aku bisa mendidiknya dalam mengelola perusahaan? batin Hans.
Hans takut jika dirinya tidak tega terhadap anak pertamanya itu, karena wajah Amira sangat mirip dengan Airen.
"Mas, sudah siap. Ayo kita berangkat."
Lamunan Hans seketika buyar, dia menggendong kedua anaknya di kanan dan kiri. Jalan beriringan bersama dengan Airen menuju mobil.
Airen membukakan pintu mobil untuk suaminya, karena kedua tangan Hans digunakan untuk menggendong kedua anaknya.
"Ayo pak berangkat." ucap Airen setelah ia duduk di samping suaminya.
"Baik nyonya."
Pak supir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil Hans dan Airen terus mengajak kedua anaknya bercanda.
"Mira, Ara. Kalian berdua akan memiliki adik baru." ujar Airen bersemangat.
Hans langsung menatap istrinya penuh selidik, apakah Airen hamil?
Airen yang paham dengan tatapan suaminya itu langsung terkekeh pelan. "Anaknya mbak Bella, mas. Mira dan Ara harus menganggapnya sebagai adik kan?"
Hans menghela nafas pelan dan mengangguk iya. "Pa--ppa muh muh." celoteh Amara yang berada di pangkuan Hans.
"Anak kamu, ngomong apa sih?" tanya Hans kepada Airen.
"Anakku? Yah kalau kau tidak mau, aku akan membawa kedua putriku sekarang juga. Oke?"
Hans langsung gelagapan, sungguh dia salah bicara. "Sayang bukan seperti itu maksudnya."
"Aku bisa mengurus mereka, meski tanpa mu. Aku akan mencarikan papa baru untuk Amira dan Amara yang mencintainya setulus hati, yang dapat mengakuinya sebagai anak--."
Hmpphhh
Bibir Airen berhasil dibungkam oleh Hans, Airen terkejut dengan apa yang suaminya lakukan. Saat Airen hendak menjauh, namun Hans dengan sigap menahan tengkuk leher istrinya. Dia mel*matnya dengan lembut dan perlahan, Hans menghentikan aksinya setelah dirasa bahwa istrinya hampir kehabisan nafas.
"Berani mengucapkan hal seperti tadi, aku tidak akan segan membuat mu tak dapat berjalan!" ucap Hans sambil mengelap bekas salivanya yang menempel di bibir Airen.
Airen hanya mendengus kesal, dia sungguh kesal dengan suaminya itu. "Muhh muhh." Amara kembali berceloteh, Airen langsung tersadar jika anaknya haus ingin menyusu.
"Ara haus ya nak, sini sama bunda dulu." Airen mengambil alih Amara, dan menukarnya dengan Amira yang saat ini berada di gendongan Hans.
__ADS_1
Airen menyusukan anaknya, untung saja tadi dia membawa persediaan stok susu yang sudah berada di dalam botol.
Tak terasa mereka pun telah sampai di halaman rumah sakit, Hans keluar lebih dulu sambil menggendong Amira. Hans berjalan memutari mobil, dia membukakan pintu mobil untuk Airen.
Keduanya berjalan bergandengan tangan memasuki rumah sakit, semua mata tertuju kepada dua pasangan suami istri yang tengah menggendong dua bayi mungil. Banyak dari mereka yang menatap iri kepada Airen, karena mendapatkan suami yang diidam-idamkan oleh hampir seluruh wanita.
Hans tidak peduli dengan tatapan orang-orang padanya, dia terus menggandeng tangan istrinya berjalan menuju ruang rawat kakak iparnya. Sesampainya di sana, Hans pun langsung masuk ke dalam.
cklek.
"Om Hans, mommy Airen!!" teriak Gibran yang antusias dengan kedatangan pamannya, karena anak itu sedari tadi ingin mengenalkan adiknya kepada Hans dan juga Airen.
"Hallo kakak Gibran!" ucap Airen mengelus lembut kepala keponakannya.
"Mommy, aku sudah punya adik! Dia lucu sama seperti Amira dan Amara. Ayo mommy lihat adikku." Gibran menarik lengan Airen, anak laki-laki itu sangat antusias sekali.
Bella hanya terkekeh pelan melihat tingkah Gibran, begitupun dengan Bima. Memang sedari tadi Gibran tak henti-hentinya memperkenalkan adiknya kepada semua orang yang dapat menjenguk.
"Mbak, kak Bima. selamat ya, atas kelahiran anak kedua kalian." Airen memberikan ucapan selamat.
"Makasih banyak Ren, padahal ngga usah repot-repot ke rumah sakit. Dua hari lagi mbak pulang ke mansion."
Hans menepuk bahu kakaknya yang sedang duduk di samping Bella, Hans tersenyum kepada Bima. "Selamat Bim." dua kata saja yang terucap dari mulut Hans.
"Sama Abang yang sopanan dikit dong!" Bima tidak terima karena adiknya itu sangat tidak sopan.
Bella mengangguk. "Sudah Hans."
"Siapa mbak namanya?" tanya Airen antusias.
"Gebila Putri Kyle Mikhailov." jawab Bima dengan bangganya.
"Wah namanya bagus bangat kak, Hallo Gebila ini aunty Ren dan ini Om Hans." Airen menyapa keponakannya yang sedang berada di gendongan Bella.
Hans mengamati wajah keponakannya itu, sungguh wajahnya sangat mirip dengan Bima. Dan itu hal yang menyebalkan bagi Hans, sama seperti Eranson yang sangat mirip dengan ayahnya.
"Kenapa wajahnya harus mirip dengan mu." nada ucapan Hans seperti sebuah penyesalan.
"Heii tentu mirip dengan ku!! Dia anakku, enak saja kalau sampai dia mirip dengan si Raja."
"Siapa yang tahu? Mungkin tingkahnya akan lebih mirip dengan si Raja, karena selama Bella hamil bukankah kau sangat membencinya?"
"Hans!!" Bima sangat marah dengan adiknya itu, sungguh dia tidak rela jika sampai sikap putri mirip dengan kakaknya yang sangat absurd itu.
Sedangkan Bella dan Airen hanya terkekeh melihat perdebatan kakak dan adik itu, Gibran hanya anteng sambil terus mengamati wajah adiknya.
__ADS_1
"Hei Gib, kau sudah memiliki adik perempuan. Apakah kau akan melupakan Amira dan Amara hem?" tanya Hans kepada Gibran.
Gibran menggeleng. "Tentu tidak, Amira Amara dan juga Gebila adalah adikku. Aku akan menyayangi dan menjaga ketiganya tanpa harus condong ke salah satu diantara mereka." jawab Gibran dengan ketegasan.
Bella Airen dan juga Bima dibuat menganga dengan jawaban Gibran, berbeda dengan Hans yang tersenyum bangga. "Sepertinya ajaran kakek mu cukup bagus." ujar Hans, lalu dia memilih untuk duduk di sofa.
🍁🍁🍁
Sedangkan di tempat lain, kini Raja tengah menangis pilu di dalam kamar. Tentu hal itu tidak luput dari pandangan Ratu dan Eranson, suaminya itu terus saja bersedih sejak pulang dari rumah sakit.
"Mas jangan menangis seperti itu, apa kamu tidak malu dengan anak kita?" tanya Ratu yang mencoba mengelus lembut kepala suaminya.
"Hiks... a--aku mau punya anak lagi." rengek Raja.
Ratu menghela nafas pelan, "Baiklah jika itu yang kamu mau, aku setuju."
"Hikss.. tapi aku ngga mau melihat kamu kesakitan saat melahirkan."
Ratu dibuat pusing oleh tingkah suaminya ini, Eranson hanya diam mengamati ayahnya yang sedang menangis pilu.
"Papa sudahlah jangan menangis, punya anak banyak bukanlah suatu keharusan, bukankah yang terpenting memiliki banyak uang?"
Ratu melotot ke arah anaknya, ntah ajaran siapa hingga membuat Eranson seperti itu. Raja langsung bersemangat, dia buru-buru mengusap air matanya dan mendekat ke arah putranya.
"Kau benar nak! Maka dari itu mulai sekarang kau harus belajar lebih giat tentang bisnis bersama dengan paman mu, karena ayah tidak memiliki kemampuan itu. Kau harus menjadi penerus Presdir Lovmart yang ada di Perancis." ujar Raja bersemangat.
"Mas jangan seperti itu! Eranson kemari nak." ucap Ratu lembut.
Dengan perlahan Eranson pun menghampiri ibunya yang duduk di tepi ranjang.
"Eran, kamu tidak boleh menjadi orang yang serakah, pelit, dan matre. Punya banyak uang juga bukanlah suatu keharusan, cukup dengan mensyukuri apa yang kamu miliki dalam hidup ini maka kamu akan merasa cukup dan bahagia. Ada beberapa hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, nanti kamu juga akan tahu dan mengerti."
Eranson mengangguk. "Tapi mah, bukankah dengan uang dan kekuasaan kita akan mendapatkan apapun yang kita inginkan?"
Ratu tersenyum. "Tidak semua nak, pokoknya jangan jadi orang yang serakah dan pelit oke."
Eranson mengangguk iya, Raja pun menghampiri anak dan istrinya.
"Yang dikatakan ibu mu memang benar, tapi jaman sekarang kalau ngga ada duit pasti susah. Anggaplah kamu memiliki banyak uang untuk masa tua mu nanti bersama dengan istri dan juga anak mu kelak."
"Mas! Eran bahkan belum genap delapan tahun kenapa membahas hal seperti itu!"
"Aww sayang sakit." Raja mendapatkan cubitan dari istrinya.
Eranson tertawa melihat ayahnya yang kesakitan, lalu dia berpikir. Istri? aku akan mencari yang seperti mama saja. batin Eranson.
__ADS_1
Bersambung...