Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 114


__ADS_3

Ntah bagaimana akhirnya, kini Bima dan Bella dapat berbulan madu setelah dua bulan menikah. Mereka baru bulan madu? Iya, karena terhalang terus oleh Gibran.


Bella tidak ingin berbulan madu ke luar negeri, dia hanya ingin menikmati indahnya pulau Bali. Kata orang, Bali adalah tempat yang nyaman untuk relaksasi.


Bima sangat senang, akhirnya dia dapat berlibur dengan istrinya. Meninggalkan Gibran di kota bersama dengan ayah dan ibunya.


Mereka saat ini sedang berada di vila tepi pantai, Bella menatap lautan di balkon kamarnya yang langsung mengarah ke arah laut. Bima masih berada di dalam kamar mandi membersihkan diri dari pergulatan tadi pagi.


Bima yang sudah selesai langsung mencari keberadaan istrinya, dia melihat Bella tengah menikmati pantai dari balkon. Bima berjalan pelan ke arah sang istri, memeluknya erat dari belakang.


"Morning sayang." tutur Bima sambil mengecup pelan leher jenjang Bella.


"Mas geli!" Bima menyudahi aksinya, dia lebih memilih menyadarkan wajahnya di punggung istrinya.


"Kamu bahagia?" tanya Bima.


Bella tersenyum dan mengangguk, "Ngga nyangka kalau ternyata aku bisa sama kamu." Bima mengulas senyumannya.


seperti yang kita ketahui, bahwa Bella memang sudah menaruh rasa sejak lama. Sebelum kehadiran Gina di hidup Bima, namun sayangnya Bima tidak menyadari hal itu.


"Aku juga ngga nyangka, kalau wanita yang dulunya aku anggap sebagai adikku. Kini malah menjadi istriku." ucap Bima sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku bahagia mas, terimakasih untuk banyak hal yang kamu berikan untuk aku dan juga Gibran."


"Aku yang berterimakasih, makasih karena sudah mau menerima duda beranak satu seperti ku. Makasih juga karena sudah menerima Gibran dengan setulus hati, maaf kalau aku dan Gibran sering bikin kamu emosi." Bella tertawa, memang sih kalau soal emosi kedua anak dan ayah itu sering sekali membuat Bella emosi.


Tapi bagi Bella, mereka berdua berharga. Karena kebahagiaannya ada pada mereka, meski Gibran bukan darah dagingnya tapi Bella menyayangi Gibran sepenuh hatinya.


"Aku mau jalan di tepi pantai mas, ayo cepet pake bajunya! Tadikan mas udah janji, mau bawa aku jalan-jalan." Bella berusaha menjauhkan tubuh suaminya yang menempel pada dirinya.


Padahal Bima masih ingin berada di dalam kamar dengan istrinya, mengulangi kejadian yang mereka lakukan tadi pagi. Namun dia mengalah saja, daripada istrinya marah.


Bima memakai pakaian yang lebih casual, tidak lupa untuk memakai suncreen karena meski sudah tua wajahnya harus tetap terjaga. Nanti bisa-bisa istri mudanya malah terpincut laki-laki lain.


"Mas sudah belum?"


"Iya sayang sebentar, ini udah nih." Bima keluar, dia menatap takjub karena Bella sangat cantik mengenakan topi pantai dan juga baju pantai yang terbilang cukup terbuka di bagian dada.


"Yang ganti bajunya, aku nggamau punya aku diliat orang lain." Bima merengek, karena belahan itu-nya istrinya terlihat.


"Astaga mas, udah ini aja ya. aku males gantinya, lagi juga yang lain hanya memakai bikini saja."


dengan hati yang terpaksa akhirnya Bima pun berusaha tidak mempermasalahkannya, dia menggenggam tangan Bella. mereka pun mulai berjalan di tepi pantai, menikmati hembusan angin pantai.


Tatapan mata Bima tidak henti-hentinya menatap wajah ayu Bella, yang terlihat bahagia. Bima bersyukur karena kini dia sudah menemukan pasangan hidupnya lagi.


Mereka berdua menikmati waktunya, berlari bersama, bersenda gurau, bahkan bercerita tentang bagaimana menata masa depan mereka bersama. Ada banyak hal keinginan yang Bima sampaikan kepada Bella, termasuk memiliki anak banyak.


Hal itu langsung ditentang oleh Bella, karena dia hanya ingin memiliki dua anak. Gibran dan mungkin nanti satu adiknya Gibran yang sedang on going.


"Mas mau kelapa, laper juga mau makan ikan bakar."


"iya sayang ayo." Bima mengajak Bella pergi ke restoran terdekat yang ada di tepi pantai. Mereka mengisi perutnya yang lapar.


...****************...


Sedangkan di mall, Hans, Raja dan papi Willi harus mengurus Gibran, Eranson juga si kembar Amira dan Amara. Karena Airen, Mamih Hellena dan juga Ratu sedang melakukan perawatan di klinik kecantikan.


"Bima!! awas kamu ya." umpat Raja, karena anaknya dititipkan kepada dirinya, papinya dan juga Hans.

__ADS_1


"Ja lihat anak mu dan Gibran bertengkar cepat lerai keduanya!" ucap papi Willi.


"Papih aja, aku capek pih."


"Kamu ngga lihat, papih sedang menggendong Amira!?"


Raja mendengus kesal, ingin sekali dia memarahi anak dan keponakannya yang sedang bertengkar itu. Berbeda dengan papih willi dan juga Raja, Hans nampak santai dan tenang. meskipun hatinya tengah mengumpat kakaknya yang sedang asyik berbulan madu.


"Gibran Eranson!! Cukup, kalian kenapa berantem terus sih?"


Gibran dan Eranson saling berpandangan, mereka lantas menangis histeris. semua pengunjung mall tepatnya yang sedang berada di Playground menatap ke arah mereka.


"Aduh jangan nangis dong, papa malu dilihatin sama orang." ucap Raja kepada anaknya Eranson, sedangkan Gibran masih histeris.


Hans menghelas nafasnya pelan, siapapun tolonglah! Ternyata keputusannya dulu untuk tidak memiliki anak adalah hal yang tepat, tapi mengapa sekali cetak langsung dapet dua?


"Tunggu Amira dan Amara berusia dua tahun, pasti mereka akan seperti Gibran dan Eranson." ucap papih Willi.


"Pih, sebaiknya minta orang urus anak-anak." saran Hans.


"Ahh iya, papih akan menyewa baby sister untuk setengah hari saja. Pokoknya sebelum Mamih selesai perawatan."


"Setuju!!" ucap Raja bersemangat.


Akhirnya William menyuruh asistennya untuk memesan baby sister, tidak lama mereka pun datang. Akhirnya Raja, Hans dan papi William terbebas dari anak-anak.


Mereka bertiga jalan bersama menuju tempat makan, perutnya sudah lapar. semua wanita menatap menggoda ketiga pria itu, Hans hanya acuh dan cuek. Berbeda dengan papih dan juga kakaknya yang malah tebar pesona.


Mereka menyantap makanan dengan tenang, mengisi perutnya yang keroncongan. Setelah selesai makan, Raja mengajak papih dan adiknya untuk ke club terdekat.


"Ngawur kamu Ja, siang-siang begini mana ada yang buka." ujar papih Willi.


"Aku ga ikutan."


"Papih juga ngga mau."


Raja berdecak sebal, kenapa sih mereka harus nggak mau? padahal kan ini kesempatan emas. Mumpung istrinya sedang melakukan perawatan.


"Hans, pih. Ayolah, udah lama kita ngga ke sana."


Hans menggeleng, dia lebih dulu pergi dari tempat makan itu. Karena takut terhasut kakaknya yang sifatnya macam setan itu, biar bagaimanapun Hans tidak ingin membuat istrinya terluka. lebih tepatnya Hans takut ngga dapet tidur bareng istrinya kalau sampai ketahuan.


Berbeda dengan Hans, justru papih nya itu terhasut dengan Raja. Akhirnya mereka berdua pergi ke club siang-siang bolong begini.


Hans mengambil alih anak-anaknya, yang digendong oleh baby sister. Hans menyuruh mereka untuk menemani Eranson dan Gibran saja, karena dia masih mampu menggendong kedua anaknya.


satu jam kemudian, mamih Hellena, Airen dan Ratu menyusul ke Playground mencari keberadaan suami dan anak-anaknya.


"Itu Hans!" Hans yang mendengar suara mamihnya langsung terkejut.


Mampus, gue pasti diinterogasi nih. batin Hans.


"Mas, lho kok kamu sendirian? papa sama kak Raja dimana?" tanya Airen menghampiri suaminya yang duduk sendirian sambil menggendong kedua anaknya dan mengamati Eranson juga Gibran.


"Nggatahu, tadi lagi cari makan."


Airen mengambil Amara dari gendongan suaminya, sedangkan Mamih Hellena menatap ke arah sekitar. dia tidak menemukan sosok suaminya disini?


"Hans dimana papih mu, dan itu siapa? wanita yang sedang bermain denga Gibran dan juga Eranson."

__ADS_1


"Baby sister." jawab Hans.


Apa!


"Kalian ini kenapa malah menyewa baby sister, benar-benar boros. Dimana papih mu dan si Raja?"


Hans berusaha sabar menghadapi mamihnya, "Nggatau, Mamih telepon aja."


Hellena menatap tajam ke arah Hans, dia langsung mengambil ponsel di saku celana Hans. Dan segera menelpon suaminya dengan menggunakan ponsel Hans.


drdddtt... drrddttt..


📞"Hallo Hans kenapa?" tanya papih Willi.


📞"Hallo Hans? apa kamu berubah pikiran untuk gabung dengan kami? Aku akan mengirimkan alamatnya." ucap Raja yang tadi menyambar ponsel papihnya.


Tut.


Hellena menahan amarahnya, dia tahu musik yang terdengar itu. Tidak lama Raja mengirimkan alamatnya, Hellena langsung pergi dengan membawa ponsel Hans.


"Mih itu pon--."


"Diam, atau kamu ikut kena hukuman?"


Glekk


hans mengangguk, dia tidak berani ikut campur. Hans membawa istri dan anaknya pulang, begitupun dengan Ratu yang ikut pulang bersama dengan Gibran dan Eranson.


Berbeda dengan Hellena kini wanita itu tengah menuju ke alamat yang diberikan anaknya melalui ponsel suaminya, sesampainya di sana Hellena langsung masuk tanpa menghiraukan yang ada.


Hellena langsung menemukan anak dan suaminya yang sedang duduk sambil ditemani beberapa wanita, Hellena menghampiri mereka.


"Dasar bocah tua nakal!!" teriak Hellena.


Raja dan William langsung terjengkat kaget, mereka menelan salivanya kasar. Singa sudah mengamuk!!


"M--mamih?" ucap keduanya.


Tanpa banyak kata, Hellena mengambil minuman yang ada di meja dan langsung menyiramnya ke arah anak dan suaminya. Setelah melakukan hal itu dia langsung pergi dari tempat itu.


...****************...


karena kejadian tadi kini Raja dan papih Willi di hukum oleh Mamih hellena, malam ini mereka dengan sangat terpaksa tidur di luar mansion.


Beruntungnya ada gazebo di luar, mereka berdua tidur di sana. "Kamu sih Ja, kan jadi begini."


"Papi ngga usah nyalahin aku, kita ini sama-sama mau ke sana."


"Papih mau kan karena hasutan kamu."


"Ck enak bangat si Hans, ngga ikutan di hukum."


"Sudahlah, nikmati saja hukumannya." papih Willi sadar kesalahannya, dia tidak ingin menyalahkan siapapun. cukup terima hukuman yang diberikan istrinya.


bersambung...


Hai guys, maaf ya aku baru updet. oiya untuk cerita Sekar dan alfirson aku hapus. Nanti ada yang lain, aku udah bikin. kemungkinan uploadnya nanti akhir Agustus. Nunggu bab nya banyak dulu. Terimakasih semuanya.


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.

__ADS_1


__ADS_2