Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 19


__ADS_3

(BERTEMU PAMAN DAN BIBI)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Hans memerintahkan Roni untuk mencari tahu tentang keberadaan Airen, Hans tak henti-hentinya memikirkan wanita yang sudah memenuhi lubuk hati dan jiwa nya.


"Uncle." panggil Gibran.


Hans menoleh ke arah keponakan nya, lalu dia tersenyum melihat Gibran yang sedang memakan es krim.


"Kenapa?" tanya Hans.


"Uncle lagi seudih ya. Ini aku kasih es klim nya buat Uncle. Kata Mommy, kalau lagi seudih makan makanan yang manis. Nanti seudih nya hilang." ucap Gibran sambil menyerahkan es krim kepada Hans.


Hans tersenyum kecut, dia merasa bersalah kepada Gibran. Karena akan menghancurkan semua impian nya.


'Gina, maaf. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan ku, untuk Gibran. Aku membutuhkan Cahya, aku pernah mengalah bukan? Dengan membiarkan mu menikah dengan kakak ku. Kali ini biarkan aku yang menang. Tapi, aku berjanji akan selalu membuat Gibran senang.' batin Hans.


"Kamu aja yang makan, Uncle nggak suka yang manis." ujar Hans.


"Yahh, Uncle ndak seru nih. Yauda deh, buat aku aja." Gibran kembali melanjutkan makan nya.


Sedangkan Hans fokus dengan beberapa pekerjaannya, Bima sudah pergi dari perusahaan Hans. Karena, ada panggilan dari rumah sakit. Jadi dia menitipkan Gibran di sini.


Roni terus menyelidiki semua informasi tentang Airen, dia berusaha menemukan keberadaan Airen. Meski pun memakan cukup banyak waktu, tapi Hans memberikan waktu seminggu untuk Roni menemukan keberadaan Airen.


🌹🌹


Di sisi lain, Airen dan Eza sudah tiba di desa. Mereka tersenyum senang melihat kampung halaman nya yang sudah lama mereka tinggalkan.


"Wahh, aku kangen bangat sama suasana seperti ini. Ternyata memang lebih enak di desa ya Kak, sejuk." Eza melihat pemandangan sekitar nya, yang tak pernah dia dapatkan di kota.


"Iya Dek, ayo kita temui paman dan bibi dulu." ajak Airen.


"Nggak kak, mereka selalu jahat sama kakak. Aku nggak mau ketemu sama mereka." ucap Eza.


"Dek nggak boleh seperti itu, biar bagaimanapun mereka sama seperti orangtua kita. Eza nggak boleh membenci mereka ya, sejahat apapun mereka sama kita. Kita tidak boleh membenci nya." Airen menasehati adik nya.


"Tapi kak, mereka tuh jahat bangat sama keluarga kita."


"Sudah, ayo ikut kakak menemui mereka. Inget ya nggak boleh melawan ucapan mereka. Cukup diam, jika mereka marah-marah kepada kita."


Airen dan Eza jalan beriringan, mereka melihat keadaan di desa yang nampak seperti satu tahun lalu. Tidak ada perubahan yang besar, hanya ada beberapa perubahan kecil yang terjadi di desa. Seperti jalanan yang mulai membaik dan lain nya.


Semua orang melihat kedatangan mereka, Airen tersenyum riang sambil menyapa mereka satu persatu. menanyakan tentang kabar semua orang.


"Waduh, Neng Iren. Nambah cantik aja neng habis pulang dari kota. Kumaha kabar nya Neng?" ucap Mak Suma.


"Ehh, ada Mak Suma. Alhamdulillah Mak, baik. Mak Suma gimana kabar nya?" tanya balik Airen.


"Alhamdulillah Mak juga sehat, Mampir dulu Neng." Mak Suma menawarkan Airen untuk mampir.


"Terimakasih Mak, saya buru-buru ke rumah paman dan bibi. Kangen sama mereka. Permisi Mak, saya duluan ya." ucap Airen sopan.


"Iya Neng, hati-hati ya."

__ADS_1


Airen merasa senang, karena dia kembali dapat bertemu dengan orang-orang yang dia kenal. Begitu pun dengan Eza, tadi ada beberapa teman-teman nya yang bertanya kepada Eza.


"Kak, aku seneng bangat. Karena bisa berjumpa dengan teman-teman ku." ucap Eza yang menunjukkan wajah kegembiraan nya.


Airen hanya menanggapinya dengan senyuman, tak bisa di pungkiri memang kebahagiaan mereka sangat membuncah.


Airen dan Eza telah sampai di rumah Bibi dan Paman nya, mereka berjalan ke halaman depan rumah itu. Airen teringat saat Paman dan Bibi nya mengusir diri nya dan juga Eza. Namun Airen mencoba untuk menepis perasaan sedih itu, Airen dan Eza perlahan memasuk pekarangan rumah mereka.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum."


Airen mengetuk pintu dan memberi salam, dia dan Eza menunggu dengan sabar di depan pintu. Dan benar saja, Bibi nya yang membukakan pintu.


"Iren! Ngapain kamu balik ke sini hah." Marni nampak tak senang dengan kehadiran Airen.


Namun Airen mencoba untuk sabar dengan perlakuan Bibi nya, dia mengambil tangan Bibi nya dan mencoba untuk mencium punggung tangan sang bibi. Namun Marni menepis tangan Airen yang hendak menyentuh nya.


"Ngapain kamu balik ke sini hah, mau warisan? Kamu nggak kebagian warisan, rumah ayah dan ibu kamu sudah kami jual. Uang nya juga udah habis." ucap Marni terus terang.


"Nggak Bi, Aku sama Eza balik ke kampung hanya kangen saja dengan suasana di sini. Kami berniat untuk tinggal sementara di sini." ucap Airen sambil tersenyum hangat.


Dasar Nenek lampir, kalau tadi kakak nggak mesen buat aku diem. Aku pasti bakal jambak. batin Eza.


"Mau tinggal di sini? Enak aja. Kami tidak mau menampung kalian." ucap Marni sambil melipat kedua tangan nya di dada.


"Ada apa sih, ribut-ribut." ucap pria dari dalam rumah, yang tak lain adalah Yanto. Suami Bi Marni.


"Paman." ujar Airen.


"Airen, Eza?." panggil Yanto.


"Iya paman, ini kami."


"Mau apa kalian ke mari?" tanya Yanto ketus.


"Mereka katanya ingin tinggal di sini, ihhh mana mau kami menampung beban seperti kalian." jawab Marni.


"Paman sama Bibi tenang aja, Aku dan kakak juga ogah tinggal di sini." Eza sudah tak tahan dengan ucapan paman dan bibi nya.


Airen mencubit pelan pinggang Eza, sebagai bentuk peringatan bahwa Eza tidak boleh berbicara lagi.


"Heh kamu masih kecil! jangan kurang hajar sama kita." Marni marah-marah dengan Eza.


"Ajarkan sopan santun kepada adik mu." Yanto mengucapkan hal itu kepada Airen.


"Maafkan kami, paman bibi. Yasudah kalau gitu, kami permisi. Assalamualaikum." Airen dan Eza pergi dari sana.


Marni dan Yanto saling pandang, mereka pun masuk ke dalam rumah. Dan tertawa puas, namun mereka langsung merasa khawatir dengan kehadiran Airen di desa.


"Ayah, gimana ini. si Airen pake acara balik ke desa. Terus nanti si Bahar tahu kedatangan mereka gimana? Jangan sampai si Bahar membatalkan pernikahannya dengan putri kita." ujar Marni yang setengah ketakutan.


"Ibu tenang saja, Ayah nggak akan biarkan si Bahar membatalkan pernikahannya dengan anak kita. Kalau sampai batal, gagal kita jadi orang kaya." ujar Yanto yang berusaha menenangkan istri nya.


"Makanya Ayah tuh harus cari solusi biar si Airen pergi yang jauh. Ibu nggak mau, kalau sampai gagal punya menantu juragan Empang."


"Iya iya Bu, nanti ayah bujuk si Airen biar balik lagi ke kota." ucap Yanto.

__ADS_1


🌹🌹


"Kak, kita mau kemana? Aku capek kak. Mau istirahat." ucap Eza kepada Airen.


"Eza sabar ya, kita ke makam Ayah sama Ibu sebentar. Habis itu, kita cari kontrakan." bujuk Airen.


"Ayo kak, aku juga mau ke makam Ibu dan Ayah." ucap Eza bersemangat.


Airen dan Eza menelusuri TPU setempat, mereka hendak mencari makam Ibu dan Ayah nya. Mereka sudah menemukan makam nya, Airen dan Eza langsung duduk di dekat batu nisan.


"Assalamualaikum, Ayah Ibu. Kami datang berkunjung. Maafkan kami, karena baru sempat datang ke sini." ujar Airen.


"Ibu, Ayah. Aku seneng bangat. Karena akhir-akhir ini kakak selalu masak ayam goreng buat aku. Ayah mau tau nggak? Aku punya teman namanya Karun. Aku panggil dia, Harta Karun. Tapi di omelin sama Kakak. Ayah tau nggak? Saat kami di kota, kami bertemu dengan orang-orang baik. Seperti Om Hans, Om Bima, Om Raja, Gibran, Eranson, Tante Hellena, Tante Ratu, Om William juga. Mereka keluarga yang baik, mereka selalu menolong aku dan kakak. Terus Bu Ratna yang punya kontrakan juga baik, dia nggak marah kalau kakak telat bayar. Ayah, Ibu aku kangen sama kalian. Hiks..."


Eza bercerita panjang lebar, sampai dia tak tahan menitikan air matanya. Airen pun menangis melihat sang adik yang begitu merindukan kedua orang tua nya, Airen membawa Eza ke dalam dekapan nya. Airen mengelus pelan pucuk kepala Eza.


"Ayah Ibu, tenang aja. Aku janji akan selalu bahagian Eza." ucap Airen.


"Ayah sama Ibu juga tenang aja, aku janji akan selalu jagain kakak." Eza memeluk erat Airen, dan menangis sesenggukan.


"Sudah Za, jangan menangis. Ayo kita doain Ibu sama Ayah, agar mereka mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya." ujar Airen.


Mereka pun melantunkan doa untuk kedua orangtua nya. Setelah selesai, mereka pun berpamitan. Dan pergi dari sana.


Airen dan Eza mencari kontrakan, mereka menemui Ceu Edoh pemilik kontrakan.


"Airen? Ya ampun kamu cantik bangat. Apa kabar Neng?" tanya Ceu Edoh antusias.


"Alhamdulillah Ceu, sehat." jawab Airen.


"Iren mau ngontrak? Kenapa nggak tinggal sama Pak Yanto dan Bu Marni aja?" tanya Ceu Edoh penasaran.


Airen tersenyum, "Nggak mau merepotkan mereka Ceu." jawab Airen.


"Oh gitu, yauda kalau memang Neng Iren mau ngontrak. Kebetulan ada satu kontrakan yang kosong." ujar Ceu Edoh.


"Berapahan Ceu?" tanya Iren.


"Sebulan 400 ribu Neng, udah termasuk air dan listrik." ujar Ceu Edoh.


Semoga uang nya cukup, untuk beberapa bulan ke depan. batin Airen.


"Yauda Ceu, aku ambil." ucap Airen.


"Yauda, ini Neng kunci rumah nya." Ceu Edoh memberikan kunci kontrakan tersebut kepada Airen.


"Iya Ceu, terimakasih ya. Dan ini uang sewa nya." Airen memberikan uangnya.


"Makasih ya Neng, semoga betah."


Airen pun mengangguk iya, dan dia langsung bergegas menuju kontrakan. Karena sedari tadi, Eza merengek ingin istirahat.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.

__ADS_1


__ADS_2