
hari-hari berlalu, kondisi Raja sudah membaik dan kembali ceria meskipun terkadang ia sedikit murung karena teringat ayahnya.
Berbeda dengan Raja yang sudah ceria dan sehat, justru saat ini Hans di rawat di rumah sakit karena kelelahan mengurus dua perusahaan sekaligus.
Fisiknya yang terbilang tahan banting, akhirnya tumbang juga. Saat ini Hans terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan infusan di tangannya.
Matanya sayu, bahkan berat badannya pun turun beberapa kilo. Disini tentu Airen menyalahkan dirinya, karena merasa tidak berguna menjadi istri.
"Sayang, aku hanya kelelahan. Berhenti menangis, ini bukan salah kamu." ucap Hans pelan.
"Kalau aku lebih memperhatikan kamu, mungkin ngga begini jadinya mas." lirih Airen.
Hans tersenyum. "Kamu sudah melakukan yang terbaik dalam mengurus aku dan juga anak kita, jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu."
Hans mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya, Airen pun berhenti menangis. Karena kata-kata suaminya sedikit menenangkan dirinya.
"Pokoknya kamu harus cepet sembuh, aku ngga mau lihat kamu disini."
"Iya sayang, cium dulu dong biar sembuh nih."
Airen menjewer telinga Hans, tentu hal itu membuat Hans merintih kesakitan.
"Aduhh kdrt ini namanya, aku lagi sakit gini kok malah dijewer."
"Habis kamu mesumnya ngga tahu tempat."
"Kan cuma cium sayang, lagi juga kita ini pasangan halal. Sini cium aku, biar cepet sembuh nih."
Airen menggeleng tak mau, "Sembuh dulu baru aku cium."
Hans hanya pasrah, awas saja jika dirinya sudah kembali sehat. Istrinya akan dibuat tak berdaya di atas tempat tidur.
cklek.
Mami Hellena, Raja dan kedua anak Airen datang ke ruang inap Hans.
"Papa!!" teriak Amira dan Amara.
mereka berdua langsung naik ke atas brankar untuk memeluk papanya, Airen dibuat cemburu karena kedua anaknya itu mengabaikan dirinya yang jelas-jelas berada di samping suaminya.
"Anak papa cantik-cantik bangat sih, sudah wangii ya." tutur Hans.
"Iya dong, Oma yang acih inyak uanii." tutur Amira.
"Papa cepet embuh ya, om Aja galak suka malah-malah." adu Amara kepada papanya.
Airen dan Hellena terkekeh pelan, sedangkan Raja merutuki keponakannya itu. Sungguh dia sangat pintar beralibi.
"Gimana keadaan kamu Hans?" tanya mami Hellena.
"Bisa tumbang juga ternyata." celetuk Raja sebelum Hans menjawab.
Hans tak menghiraukan ucapan kakaknya, dia cukup senang jika Raja sudah kembali seperti itu. Tidak lagi berlarut dalam kesedihan.
"Sudah lebih membaik mah, mungkin lusa sudah bisa pulang." jawabnya.
Ada rasa sedih di hati mami Hellena saat melihat anak-anaknya jatuh sakit secara bergantian. Pih, lihatlah betapa rapuhnya mereka jika tidak ada kamu. batin mami Hellena.
"Apa kata dokter?" tanya Raja yang langsung menyantap buah-buahan yang ia bawa.
__ADS_1
"Astaga Raja! itu buah-buahan buat adik kamu. Kenapa malah di makan sama kamu." teriak mami Hellena.
Raja mengusap dadanya, menghilangkan rasa kagetnya mendengar teriakkan mami Hellena. "Ya Allah mih, kirain apaan. Aku tuh ngecek buah-buahannya manis apa engga, kalau ngga maniskan nanti bisa komplen ke tukang buahnya."
Hellena menggelengkan kepalanya, di lain sisi dia bersyukur jika Raja sudah kembali bertingkah seperti itu.
"Hans, apa kata dokter?" Raja kembali bertanya.
"Tanya aja si Bima, diakan dokternya." jawab Hans acuh.
Raja mengangguk iya, mengapa ia sangat bodoh? Padahalkan dokter yang memeriksa Hans adalah adiknya sendiri. Eitss tapikan lebih sulit menanyakan hal itu kepada Bima, sedangkan Hans sudah berada di depan mata tinggal menjawab saja apa susahnya?
"Ren, sakit apa suami kamu?" tanya Raja yang lebih memilih bertanya kepada Airen.
"Kata kak Bima sih kelelahan, kurang vitamin dan cairan." jawab Airen.
Raja hanya mengangguk, mami Hellena menatap putranya yang sedang bermain dengan kedua cucunya.
"Hans, kamu pasti capek bangat yah mengurus dua perusahaan sekaligus."
Hans menatap ibunya, lalu menggeleng pelan. "Ngga kok mih, kan ada banyak yang membantu." jawabnya.
Hellena tahu, menjadi seorang Presdir bukanlah perkara yang mudah. Bahkan akhir-akhir ini pun, Hans jarang sekali pulang ke mansion. Dia harus bolak balik Indonesia-Prancis dan mengurus semua dokumen serta berkas-berkas penting perusahaan.
🍁🍁🍁
Sedangkan saat ini dimansion Eza sedang mengasuh para keponakannya, Gebila, Gibran, Eranson dan juga Eliana.
"Ndah, Eli sepertinya sangat menyukai Eza ya." tutur Bella yang memperhatikan bahwa Eliana sama sekali enggan berjauhan dengan Eza.
"Haha iya mbak, hanya dengan Eza dia mau digendong."
Sedangkan Eza nampak pusing karena Gebila yang merengek minta digendong, dan Eliana yang enggan melepaskan Eza. Belum lagi keributan yang disebabkan oleh Gibran dan Eranson.
Eliana justru semakin mempererat pelukannya, dia sama sekali tidak ingin lepas dari Eza.
"Huaa mommy, Eli nda au antian. Eli dahat Mom!" rengek Gebila mengadu kepada Bella.
Mereka justru tertawa melihat tingkah anak-anaknya, Eliana ini sungguh merepotkan sekali. Akhirnya Gebi yang mengalah, dan ikut bermain dengan kedua kakaknya daripada harus bertengkar dengan Eliana yang jelas-jelas bersikukuh mempertahankan Eza.
Saat mereka tengah asyik bermain, ada teman-teman Eza yang datang ke mansion karena mereka ada janji untuk pergi bimbel bersama.
"Fahreza!!" teriak empat orang teman Eza, yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan.
"Ana sebentar ya, kakak mau ke depan." Eliana justru bergandulan di kaki Eza, sungguh dia tidak mau melepaskan Eza.
"Kak Endah, tolongin dong. Ana ngga mau lepas nih kak." tutur Eza mengadu.
Endah justru tertawa melihatnya raut wajah Eza yang kesal karena ulah anaknya, Endah pun mengambil Eliana namun anak itu menangis kencang.
Dengan berat hati, Eliana pun digendong oleh Eza ke depan menyambut teman-temannya.
Klek..
"Haii Za!!" sapa mereka berempat.
"Oh hai, masuk dulu yuk. Ini keponakan gu-- ak--u nggak mau ditinggal."
"Cantik juga keponakan lo." ucap Adit memuji Eliana yang masih berusia dua tahun.
__ADS_1
"Dit pake bahasa aku-kamu dulu, ini masalahnya anak umur segini cepet niru nya." kata Eza memperingatkan temannya.
Adit mengangguk, dan terkekeh pelan.
"Siapa namanya Za?" tanya Mila.
"Eliana."
"Hai Eli, kamu manis bangat sih." ucap Mila memuji, dan hendak menyentuh pipi gembul Eliana namun ditepis oleh anak kecil itu.
Sedangkan Mila tersenyum kikuk, Eliana justru menatap tak suka kepada Mila.
Seperti inilah saat Eliana menatap Mila.
"Ayo semuanya masuk dulu." ajak Eza.
Mereka pun masuk ke dalam mansion, dan berdiam di ruang tamu. Sedangkan Eza mengambil makanan dan minuman untuk teman-temannya.
Eza pun dibantu mbok Nin membawakan makanan dan minuman, karena Eliana sama sekali tidak mau lepas dengan eza.
Sesampainya di ruang tamu, mbok Nin meletakan makanan dan minuman di atas meja. Eza pun berterimakasih kepada mbok Nin.
"Makasih ya mbok."
"Iya den sama-sama, kalau gitu mbok pamit ke dapur lagi ya. Kalau ada apa-apa panggil mbok aja."
"Iya mbok siap."
Mbok Nin berlalu pergi ke dapur, Eza mempersilahkan teman-temannya untuk menikmati hidangan tersebut.
Eza pun duduk di kursi yang berbeda dari keempat temannya, dan meletakkan Eliana di pangkuannya.
"Wihh Za, ngga nyangka kalau lo-- eh maksud gue kalau kamu. Aaah bodo, Eliana sayang jangan ikutin apa yang kakak ucapkan oke!" Adit prustasi karena susah kalau berbicara bahasa baku.
Eza menutup telinga Eliana dengan kedua tangannya, "Ayo buru ngomong."
"Gue ga nyangka kalau ternyata lo orang kaya." ujar Adit.
"Bukan gue yang kaya, tapi suaminya kakak gue." jawab Eza.
Eliana berusaha mencoba menyingkirkan tangan Eza dari telinganya. "O--om eupas!"
Eza pun melepaskannya, Adit tertawa karena Eza dipanggil Om. Sedangkan Eza merasa acuh dan tak peduli dengan panggilan apapun yang ia terima.
Mila berpindah duduk ke samping Eza, "Za, kakak kamu kemana?" tanya Mila basa basi.
"Nemenin suaminya di rumah sakit."
"Kakak ipar kamu sakit? gimana kalau kita jenguk." tutur Mila sambil memegang lengan tangan Eza.
"Awwhhh sakit!!" Mila berteriak kencang, karena tangannya di gigit oleh Eliana.
"Huaaa!!" Eliana menangis kencang karena mendengar teriakkan Mila.
Eza menenangkan Eliana, dengan menggendong dan mengusap lembut punggungnya.
Sialan! Anak kecil itu sepertinya akan menjadi pengganggu ku untuk mendekati Eza. batin Mila.
__ADS_1
Bersambung...
Double up nih😂, jangan lupa hadiah,vote, komen, dan like nya yaaa.