
Selamat membaca βΊοΈ
Hans, Airen, Eza dan juga Roni telah sampai di new york. Mereka bergegas menuju hotel yang telah di pesan oleh Hans. "Mas, pinjem ponsel sebentar. Mau telepon mamih, pengen liat anak-anak." ucap Airen di perjalanan saat menuju ke hotel.
"Nanti ya, kalau sudah di hotel." ucap Hans lembut, Airen hanya pasrah saja meskipun saat ini dirinya benar-benar ingin melihat putri-putrinya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di hotel, mereka langsung masuk ke dalam hotel dan mencari kamar yang sudah Hans pesan. Hans menyiapkan dua kamar, satu untuknya dan Airen dan satunya lagi untuk Eza dan juga Roni.
Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing, Airen merebahkan tubuhnya sejenak karena perjalanan panjang yang telah ia lalui membuat tubuhnya sedikit kurang nyaman. Sedangkan Hans memilih untuk menaruh koper dan mengeluarkan barang-barangnya, karena tidak tega jika harus mengandalkan sang istri yang terlihat kelelahan.
"Mas, mau lihat anak-anak." lirih Airen yang bangun dari tempat tidur.
Hans menghampiri istrinya dan memberikan ponselnya kepada Airen, "Ini sayang." ucapnya menyerahkan ponsel itu.
"Makasih mas." saat Airen hendak menelpon, namun tiba-tiba Hans mencegah istrinya untuk melakukan hal itu.
"Jangan!" ucap Hans langsung menyambar ponselnya. Airen terkejut, menatap heran ke arah suaminya seakan meminta penjelasan.
"Aku lupa, pasti di sana sekarang sudah malam." ucapnya memberitahu. Airen memasang wajah murungnya karena tidak dapat melihat anak-anaknya.
Hans memiliki ide untuk mengajak istrinya berkeliling berjalan kaki di sekitar ini, hitung-hitung menuliskan momen bersama.
"Siap-siap gih, kita jalan-jalan cari minum atau makan di luar yuk." ajak Hans dengan lembut kepada istrinya.
Airen tersenyum bahagia lalu mengangguk dengan cepat, dia bergegas mengganti pakaiannya. Sedangkan Hans senyum-senyum sendiri melihat tingkah gemas istrinya.
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya bersiap-siap, mereka pun keluar dari kamar hotel. "Mas, ajak Eza ya?"
"Nanti Eza nyusul sama Roni, sekarang kita duluan ya. Aku ingin menikmati waktu berdua sama kamu." ujar Hans, lalu menyematkan jari jemari Airen ke dalam genggamannya.
__ADS_1
Mereka berjalan berdua, menikmati angin kota new york dengan rileks dan santai. Ada yang tengah duduk di tepi jalan, ada yang berlalu lalang, semua aktivitas orang-orang disini tidak luput dari pandangan Airen.
Hans mengajak Airen untuk menepikan diri ke tempat yang lebih sunyi, hanya ada beberapa orang di sana. Hans mengajak sang istri untuk duduk di kursi yang kosong.
"Andai anak-anak ikut ke sini, pasti seru ya mas." ujar Airen membayangkan hal itu.
Hans tersenyum lembut menatap wajah sang istri, "Iya sayang, nanti kalau mereka sudah lebih besar kita kembali ke sini bersama-sama ya. Sekarang nikmati waktu kita berdua, tanpa ada mereka oke. Aku ingin kamu fokus ke aku aja."
Airen menatap wajah suaminya yang tampan, Airen memeluk erat Hans. "Iya mas, makasih banyak ya. Karena sudah bertahan sejauh ini, I love you." ucapnya tanpa ragu.
Hans membalas pelukan istrinya, "I love you more." jawabnya.
Airen melepaskan pelukannya, dia memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Hans, melingkarkan tangannya di lengan sang suami. menatap ke arah depan, melihat pemandangan yang ada.
"Aku bersyukur dan bahagia, karena dapat memiliki kamu yang begitu sempurna. Meskipun penyatuan cinta kita cukup rumit dan sulit untuk aku menerimanya, namun sekarang aku bersyukur karena memiliki kamu, Amira dan juga Amara yang menjadi pelengkap dalam bagian hidupku." tutur Airen, pandangannya masih tetap memandang ke arah depan.
Hans terdiam, sekilas dia mengingat kejadian tentang kisah hidupnya, tentang kisahnya bersama dengan Airen yang begitu rumit di awal, bahkan kehadiran anak mereka pun berawal karena kesalahan.
Hans masih setia mendengarkan apa yang diucapkan sang istri, dia tidak ingin menyela ataupun memotong ucapan Airen.
"Mas, aku pernah membenci mu. Bahkan aku pernah membenci kehadiran Amira dan Amara dalam hidupku, namun kamu dengan sabarnya berjuang untuk mendapatkan maaf ku, agar aku dapat menerima mu. Maaf, untuk setiap perkataan dan perbuatan ku waktu itu yang menyakiti mu, jujur saja aku pun membenci diriku kala itu. Karena aku tidak dapat menjaga kehormatan ku sebagai seorang wanita. A--aku.." Airen mulai terisak kembali saat mengingat hal itu.
Hans membawa Airen ke dalam dekapannya, "Sstttsss, sudah jangan diteruskan. Tidak usah memikirkan hal yang lalu, aku minta maaf karena kesalahan yang aku perbuat kepada mu waktu itu. Namun aku justru bersyukur, karena hadirnya Amira dan Amara dapat menyatukan aku dan kamu menjadi kita. Kalau tidak, mungkin aku kalah kembali dengan kak Bima." tutur Hans.
Airen yang tadinya sedih langsung melepaskan diri dari dekapan suaminya, "apa maksud dari kata Kalah kembali ?" tanya Airen antusias.
Astaga salah bicara, ujung-ujungnya bertengkar jika diteruskan. batin Hans.
Drrddttt... drddttt..
__ADS_1
Dering ponsel Hans berbunyi.
Tumben sekali, Barra menelpon diwaktu yang pas. batin Hans.
"S--sayang, aku angkat telepon dari Barra sebentar." ucapnya meminta izin. Airen pun mengangguk, mempersilahkan Hans untuk mengangkat teleponnya.
π"Ada apa?" tanya Hans.
π" ....... ......... ....... ....... ...... " ucap Barra panjang lebar.
π" Oke, baik." jawab Hans.
Tutt...
Hans langsung mematikan sambungan teleponnya, "Sayang, aku lupa memberikan dokumen kepada Barra. Maaf ya, sekarang kita harus pergi dari sini." tutur Hans dengan amat lembut.
"Santai aja mas, ayo. Aku juga sudah lapar, nanti sekalian cari makan ya."
"Iya Airen Cahya Senjani, istriku satu-satunya. Ibu dari anak-anakku. Sa---."
"Ihhh mas stop, narsis seperti kak Raja tau." protes Airen.
Astaga, padahal berusaha so sweet. dibilang narsis. Sudi bangat di samain kayak si Raja. batin Hans.
Mereka pun pergi menemui Barra.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.