Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Cahpter 70


__ADS_3

(Tak terduga)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


empat bulan berlalu, kini kandungan Airen sudah memasuki usia kandungan delapan bulan. Bahkan tentang Laura kini sudah lagi tidak tercium, awalnya William berfikir apa yang akan direncakan oleh Daniel. Namun, pikiran buruk tentang Airen sudah tidak lagi ada, William berfikir jika Daniel menyerah.


Hari ini Airen ada jadwal pemeriksaan ke dokter kandungan, bahkan semua orang turut ikut untuk mengantarkan Airen. Mulai dari Ratu, Hellena, Gibran, Eza, Eranson, Barra, William, bahkan mbok Nin.


"Sayang udah siap?" tanya Hans kepada Airen yang tengah bersiap.


"Sebentar lagi mas."


Airen mengoles make up sedikit di wajahnya, Airen menatap cermin itu dengan dalam melihat sosok dirinya yang sekarang. Wanita dengan pipi yang lebih chubby, badan yang lebih berisi, perutnya yang sangat membesar.


Hans menghampiri istrinya, dan memeluk Airen dari belakang. Mereka berdua melihat dirinya masing-masing di dalam cermin, saling bertukar pandang.


"Mas, lihatlah aku lebih gendut." ujar Airen.


Hans tersenyum mendengar ucapan istrinya, "Memangnya kenapa? Ini lebih seksi, lagi pula hal yang wajar jika wanita hamil akan bertambah berat badannya." ujar Hans.


Airen menghembuskan nafasnya pelan.


"Tapi mas, lihatlah ini terlalu gendut. Aku takut kamu tidak lagi mencintai ku." lirih Airen.


"Ck, bicara apa kamu ini. Justru rasa cinta ku kian bertambah, sudah jangan terlalu dipikirkan tentang berat badan. Kamu hanya boleh memikirkan tentang ku saja." ujar Hans yang masih memeluk Airen.


Airen terkekeh, dia melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Airen berbalik menatap wajah suaminya, Airen menangkup pipi Hans dan tersenyum.


"Terimakasih." ujar Airen tulus.


Cup


Sekilas Hans mencium bibir Airen.


"Lain kali ucapkan terimakasih dengan cara seperti itu." ucap Hans.


Airen memukul pelan dada suaminya yang nakal, mereka pun berjalan keluar bersamaan karena semua orang sudah menunggu.


Hans terkejut melihat sahabatnya ada di mansionnya, Hans menyipitkan matanya menatap ke arah Barra dengan penuh selidik.


"Mau apa kau kesini?" tanya Hans dingin.


"Mau ikut lihat perkembangan dan pertumbuhan anakku, biar bagaimana pun saat proses pembuatannya bukankah aku turut ikut campur?" ujar Barra dengan percaya diri.


Bugh!


Satu pukulan Hans layangkan ke perut Barra, sontak Barra terjembap ke lantai karena pukulan yang Hans layangkan.


"Jaga ucapan mu! Ini anak ku bukan anak mu, enak saja berkata seperti itu."


Mampus gue, seharusnya ngga usah bikin nih orang emosi. batin Barra.


"Iya iya maaf." barra pun berdiri.


"Lain kali jangan bangunkan macan yang tertidur Bar." ujar William memberitahu.


Barra mendengus kesal, dan akhirnya mereka pun pergi bersama ke dokter kandungan dengan mobil masing-masing.


***


Sedangkan di rumah sakit, Bima tengah berjalan di koridor namun ada seseorang yang memanggilnya.


"Dokter Bima!" teriak Rani, seorang suster di rumah sakit itu yang terobsesi dengan Bima.


"Ada apa?" tanyanya.


"Mm a anu dok, saya bawa bekal makan siang untuk dokter." ujar Rani.


Wanita ini sungguh menyebalkan. batin Bima.


"Aku bahkan tidak melihat mu membawa makanan."


"Ada di ruangan saya, sebentar ya saya ambilkan." ujar Rani,


Saat Rani hendak pergi ke ruangannya, namun dia melihat sosok Bella. Rani tahu, kedekatan Bima dan Bella bahkan Rani sama sekali tidak menyukai Bella.


Tepat saat dia berjalan di samping Bima, Rani pura-pura menjatuhkan dirinya. dengan reflek Bima menahan tubuh Rani agar tidak terjembap ke lantai.


Bella yang melihat itu, hatinya memanas tidak terima dengan hal yang barusan dia lihat. Rani tersenyum puas, melihat raut wajah Bella yang tak bersahabat.

__ADS_1


Dasar wanita ganjen! batin Bella.


Bella sengaja melewati mereka begitu saja, tanpa menghiraukan Bima yang masih memegangi pinggang Rani. Bima terkejut saat melihat Bella lewat di hadapan dirinya, sontak Bima langsung melepaskan Rani dan membuatnya jatuh ke lantai.


"Awwhhh, dokter." Rani meringis kesakitan.


Pffttt Hahahaha. batin Bella, yang melihat Rani terjatuh.


Bima mengejar Bella, dan menahan lengan wanita itu.


"Bel tunggu."


Bella mengerenyitkan dahinya, menatap tajam ke arah Bima. sedangkan Bima yang ditatap seperti itu langsung seperti orang yang gelagapan.


"Bel, kamu salah paham." ujar Bima, ntah mengapa pria itu malah menjelaskan sesuatu hal.


"Apanya yang salah paham?" tanya Bella pura-pura tidak tahu.


"I--itu, a ano yang tadi kamu lihat." ucap Bima gelagapan.


"ohh itu, memangnya kenapa? Sekalipun kak Bima berpacaran dengan suster itu juga tidak masalah. Lagi juga aku hanya adik yang kak Bima anggap, kenapa aku harus salah paham?"


Deg


Ntah mengapa ucapan itu sedikit menyakiti hati Bima, ada apa dengan dirinya? Kenapa sekarang dia menjadi sulit untuk berbicara dengan Bella?.


"Ayo ikut, saya ingin bicara." Bima menarik lengan Bella paksa.


Rani yang melihat itu tidak terima, niat hati ingin mengejar Bima namun dia ditahan oleh Dokter Rio.


"Jangan ikut campur dalam hubungan mereka!" peringatan itu keluar dari bibir Rio untuk Rani.


Rani hanya mengangguk, meskipun sebenarnya hatinya sedikit sebal dengan ucapan Rio.


***


Hans dan keluarganya telah sampai di rumah sakit Lov medical. Rumah sakit atas nama Bima, yang didirikan oleh ayahnya dan dikelola oleh Hans.


"Oma, nanti aku mau ke ruangan Daddy dulu ya." ucap Gibran.


"Oke sayang." jawab Hellena.


mereka masuk bersamaan, semua pegawai di rumah sakit itu menunduk patuh saat melihat William dan Hans. Mulai dari staff administrasi, suster, dokter ataupun lainnya yang mengetahui tentang Hans dan William.


Setibanya di ruangan, Hans hanya memperbolehkan Ratu, Mamih Hellena, Mbok Nin, Eza, Gibran dan Eranson saja untuk masuk. Sedangkan ayahnya dan juga barra di suruh untuk menunggu di luar.


Anak itu benar-benar keterlaluan, kenapa harus seposesif itu. batin William


"Sabar Tuan besar, itukan hasil dari tuan dan nyonya Hellena." ujar Barra.


"Diam kau!"


Barra terdiam, mereka bedua menunggu di kursi tunggu depan ruangan. Hans dan yang lainnya langung masuk ke dalam.


Cklek.


"Selamat datang nyonya dan Tuan, silahkan nona Airen berbaring." ujar Dokter kandungan itu.


Airen langsung berbaring, mereka hanya mengamati setiap apa yang dilakukan oleh dokter itu.


Semua orang berbinar bahagia saat dokter itu memperlihatkan wajah anak-anak Hans dan Airen, mereka mendengarkan degup jantungnya dan juga hal lainnya.


"Dok, apakah jenis kelaminnya wanita?" tanya Hellena berbinar, karena dia benar-benar menginginkan cucu perempuan.


Airen menatap ke arah suaminya, dia tidak mau melihat jenis kelamin anaknya. Airen ingin menjadi suprise tersendiri saat melihat kedatangan mereka nanti.


"maaf nyonya, tapi tuan Hans dan istrinya tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka." ujar Dokter itu.


Hellena langsung menatap tajam ke arah Hans, kenapa anak dan menantunya tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka?


"Perlihatkan sekarang dok! Saya tidak peduli dengan keputusan mereka." ujar Hellena tak peduli, karena dia menginginkan cucu perempuan.


Ya ampun, kenapa nyonya jadi egois seperti ini. batin mbok Nin.


perasaan Airen sudah mulai tidak enak, apalagi jika anak mereka adalah laki-laki. Hans menghembuskan nafasnya perlahan.


"Mih, biarkan aku memutuskan tentang ini. Laki-laki ataupun perempuan tidak masalah, yang penting mereka sehat." ujar Hans.


"Hans, Mamih ingin cucu perempuan. Mamih hanya dapat berharap dari kamu dan Airen, karena Bima duda, sedangkan Raja terlalu sibuk. Lagi pula kamu Ren, kenapa tidak ingin lihat jenis kelamin anak mu? Memangnya tidak penasaran apa? Sekalipun mereka anak laki-laki, Mamih akan berusaha menerima mereka kalau Mamih tahu dari sekarang. Kalau nanti pas kamu lahiran, Mamih baru tahu ternyata anaknya laki-laki bagaimana bisa Mamih menerimanya?" ujar Hellena.


Deg deg deg

__ADS_1


hati Airen tak karuan karena ucapan ibu mertuanya, kenapa menjadi seperti ini? Bukankah ini harusnya menjadi hal yang membahagiakan?


"Mih cukup! Sebaiknya Mamih keluar dulu." ujar Hans.


"Tega kamu Hans, bentak Mamih bahkan usir Mamih pergi dari sini. Awas saja jika anak mu laki-laki, jangan mengharapkan kasih sayang Mamih untuk mereka. Karena kasih sayang Mamih sudah untuk Eranson dan Gibran." ujar Hellena, dan langsung keluar dari ruangan sambil menggendong Gibran.


Semuanya pun ikut keluar, karena Hans yang memintanya. Tidak bisa dipungkiri, hati kecil Airen bedenyut sedih akibat ucapan mertuanya. Airen bisa memahami jika mertuanya memang sangat menginginkan cucu perempuan, tapi kenapa harus sampai segitunya?.


"Tidak usah dipikirkan ucapan Mamih, dia pasti akan menyayangi cucunya." ujar Hans menenangkan Airen.


Dokter yang memeriksa, hanya mengamati interaksi keluarga itu, Dokter itu kasihan kepada Airen karena tertekan oleh mertuanya. Sebenarnya dokter itu sudah tahu jenis kelamin anak Airen dan Hans, hanya saja dia diam karena memang kedua calon orangtua itu tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka sekarang.


Cup


"Sudah jangan sedih ya? Ada kita orangtuanya, mereka tidak akan kehilangan kasih sayang dari siapapun. Aku akan pastikan itu." ujar Hans mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi mas, kalau anak kita la--."


"Sstttsss, sayang jangan seperti itu. Laki-laki ataupun perempuan sama saja, tidak usah memikirkan jenis kelaminnya. Lagi pula kita memiliki banyak waktu untuk terus membuatnya, sekalipun sekarang tidak perempuan masih ada tahun depan untuk membuatnya lagi, dan seterusnya sampai kita mendapatkan anak yang lengkap." ujar Hans.


"Kalau hanya dikasih laki-laki terus?"


"Ikhlas dan syukur, itu kuncinya. sudah tidak usah memikirkan soal ha itu, kasihan mereka kalau ibunya saja seperti ini terhadap mereka."


Airen tersenyum dan mengangguk, syukurlah karena dia mendapatkan suami yang tidak menuntut untuk memiliki anak perempuan ataupun laki-laki.


****


Brak


Hellena membuka pintu ruangan Bima dengan kasar, karena perasaan kesalnya dengan putra bungsunya. namun, Hellena dibuat kaget dan terkejut melihat Bima yang tengah mencium wanita. Hellena langsung menutup mata cucunya agarvtak ternodai oleh tingkah laku ayahnya.


"M--mamih?" gumam Bima gelagapan.


Plak


"Hm, dasar anak nakal! Kalau ingin menikah bilang dong, jangan melakukan hal itu disini." ujar Hellena.


"T--tante?"


Hellena menatap wanita yang tadi dicium oleh putranya, dia kaget saat mendengar suara wanita itu.


"B--bella? Ini kamu? Astaga ya ampun." ujar Hellena, dia langsung menurunkan Gibran dari gendongan nya dan memeluk erat Bella.


Bella sedikit canggung apalagi jika mengingat kejadian yang baru saja dia alami, namun Bella dengan senang hati membalas pelukan Hellena.


"Kamu kemana aja bel? Menghilang tanpa kabar." ujar Hellena.


"Oma, ini Tante cantik yang aku maksud." ucap Gibran memberitahu.


"Iya Oma tahu, kalau ini sih Oma setuju." ujar Hellena.


Bima menatap ke arah putranya dengan teliti, apa yang mereka rencanakan?


"Tante apa kabar?"


"Ck, jangan manggil Tante dong, seperti biasa saja. Panggil Mamah, masa kamu lupa sih bel. Dulu kamu selalu manggil Mamih ataupun mamah sama seperti Bima."


"Itukan dulu tan--."


"Apa bedanya sekarang? Bahkan sekarang hubungan kamu dan Bima jauh lebih baik, seminggu lagi acara pertunangan kalian dilaksanakan." ujar Hellena.


sontak hal itu membuat bima dan Bella ternganga, kenapa tiba-tiba langsung ke pertunangan?


"Tunangan apa Oma?" tanya Gibran memecahkan keheningan.


"Tahapan untuk menuju pernikahan, Gibran mau kan tante cantik ini jadi Mommy-nya Gibran?"


"Mauu Oma, yeayy asyikk sekarang aku punya banyak mommy." ujar Gibran bersemangat.


Hellena tersenyum melihat semburat kebahagiaan di wajah cucunya, namun tidak dengan Bima bagaimana bisa mereka langsung bertunangan? Sedangkan Bima belum memastikan perasaannya kepada Bella seperti apa?.


"Tapi tante, ak--."


"Tidak ada tapi-tapian, cepat ataupun lambat kalian akan menikah. Kalau begitu lanjutkan saja hal yang tadi, Mamih akan membawa Gibran pulang agar tidak mengganggu kalian. Bim, jangan kelewat batas!" tegas Hellena.


Gluk.


Astaga, kenapa jadi seperti ini. batin Bima.


Bersambung...

__ADS_1


maaf baru updet.


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


__ADS_2