Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 86


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Airen memasuki mansion dengan langkah kaki yang gontai, perasaannya cukup kecewa karena suaminya membohongi dirinya. Sebenarnya Airen tidak masalah jika Hans menolong Laura, asalkan pria itu menjelaskannya. Jangankan untuk menjelaskan, bahkan Hans berani sekali membohongi dirinya.


"Ren kamu udah pulang? Kok cepet bangat, itu bekal makan siang kenapa di bawa balik lagi?" Hellena menghampiri menantunya sambil menggendong Amara.


Airen tersenyum, "Tidak apa-apa mah, mas Hans nya sedang ada pertemuan bisnis." ucap Airen.


Kayak ada yang aneh, kenapa wajah Airen terlihat sedih begitu? batin Hellena.


"Sini mah, biar Ara sama aku saja." Airen mengambil Amara dari gendongan Hellena.


Airen membawa Putri keduanya ke kemar, sedangkan Amira memang tengah tertidur pulas.


Amara terus saja menangis, sepertinya dia tahu perasaan ibunya saat ini. Airen menimang Amara dengan sabar dan penuh kasih sayang.


"Cup cup, kenapa sayang? Bobo ya nak, jangan buat bunda susah oke."


Seketika Amara berhenti menangis, Airen dibuat tersenyum oleh tingkah putrinya yang menggemaskan.


"Pintar bangat anak bunda, tidur ya sayang bareng sama Kak Mira."


Pikiran Airen beralih kepada suaminya dengan Laura, kenapa wanita itu mendatangi perusahaan Hans? Apa hubungan mereka belum usai? ada banyak pertanyaan di benak Airen.


***


Hans dan Roni tidak menyangka saat Dokter memvonis bahwa Laura mengidap penyakit kanker. Seakan tak percaya dengan apa yang dialami mantan tunangannya itu, Hans benar-benar diam membisu.


Apa orangtua Laura tahu mengenai penyakitnya ini? batin Hans.


"Tuan apa yang harus kita lakukan?" tanya Roni.


"Urus semua biaya rumah sakitnya, berikan pengobatan yang terbaik untuknya. Besok siapkan jadwal pertemuan ku dengan kedua orangtua Laura." Hans memerintahkan semua hal itu kepada Roni.


Astaga, Tuan Hans benar-benar menyerahkan seluruh masalah kehidupannya kepada ku. batin Roni.


"Tenang saja, aku akan tambahkan bonus untuk mu tiga kali lipat."


Roni melongo, antara kaget dan bahagia. Kaget karena tuannya memang selalu tahu isi hatinya, dan bahagia karena dia akan mendapatkan bonus.


"B--baik, terimakasih tuan." Roni segera pergi untuk menyelesaikan segala tugas yang diberikan Hans.


Aku harus meminta bantuan Barra juga. batin Hans.


Drdddttt.. drddttt..


πŸ“ž"Bantu aku mengurus masalah Laura." ucapnya to the point.


πŸ“ž"Ada apa lagi dengan wanita itu?"


πŸ“ž"Tidak usah banyak tanya, cepat ke rumah sakit sekarang. Aku akan mengirimkan alamatnya kepada mu."


πŸ“ž"Tck, sejak kapan kau menjadi bawel seperti ini?"


Tut


Hans langsung mematikan sambungan teleponnya, menurut Hans pertanyaan Barra sangat konyol dan tak bermutu.


15 menit berlalu, Barra sudah sampai di rumah sakit. Dia segera menghampiri Hans, mereka pun langsung berbincang ke inti permasalahan yang ada.


"Barr dengarkan aku, pokoknya aku tidak mau tahu, perihal Laura dan keluarganya harus segera usai. Aku tidak ingin berurusan dengan mereka, jadi aku mohon bantuan mu. Urus masalah ini ya, aku harus segera kembali pulang."

__ADS_1


"Hei tuan muda, kau ini seenak jidatnya meminta bantuan ku. Kau pikir aku tidak memiliki masalah apa?"


"Sudahlah aku tidak mau tahu, kau kan dapat diandalkan. Pokoknya aku mau pulang sekarang, aku merindukan istri dan anak-anak ku." Hans beranjak dari duduknya.


Barra menatap tajam kepada Hans, lama-lama sahabatnya itu semakin menyebalkan. Seenaknya saja dia menyuruh ini itu, Barra tidak ada harga dirinya sama sekali di hadapan Hans. meskipun dia juga seorang bos besar.


"Aku menginginkan saham mu sebagai ganti dari jasa-jasa ku." ucap Barra santai.


Hans membalikan tubuhnya, lalu tersenyum smrik ke arah Barra. "Kau tenang saja, bukankah aku Raja dari segala bisnis? 0,5% saham ku untuk mu. Tapi, aku ingin bekerjasama dengan mu tentang produk baru mu yang akan launching."


Ck itu sama saja dia tidak rugi sedikit pun. batin Barra.


"Bagaimana? bukankah itu saling menguntungkan."


"Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Toh meskipun aku bekerjasama dengan mu, bukankah akan menghasilkan keuntungan yang lebih?"


"Oke deal, buat saja perjanjian kontraknya serahkan kepada Roni, aku yang akan menandatangani nya nanti."


Hans berlalu pergi dari rumah sakit, dia meminta Barra untuk menemani Laura untuk sementara waktu.


🌹


Malam hari.


Seperti biasa keluarga mereka kan selalu makan malam bersama, Hellena hari ini dengan khusus menyiapkan makanan untuk semua orang. Gibran sangat berantusias dengan masakan neneknya, begitupun dengan yang lainnya.


Airen menggendong Amira, sedangkan Amara ada bersama dengan Ratu. Gibran dan Eza, tengah asyik berbincang. Eranson memainkan game kesukaannya, dan William tentu saja dia hanya mengamati istrinya yang sedang memasak.


"Ratu, Raja kapan pulang?" tanya Hellena.


"Belum tahu mah, kata mas Raja sih lusa."


"Daddy aku juga belum balik." celetuk Gibran.


Gibran hanya manggut-manggut saja, karena dia sudah mengerti dengan jadwal ayahnya.


Hans melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, senyumannya berbinar saat melihat istri dan anak-anaknya. Hans langsung menghampiri Airen, dan mengecup singkat kening istrinya. Namun Airen hanya diam dan cuek saja, tatapannya masih fokus kepada Amira.


"Sayang aku pulang." ucap Hans tersenyum lebar.


"Ngga pulang juga ngga masalah." ucap Airen datar.


Hellena dan William langsung melihat ke arah Hans, sontak mereka berdua tertawa keras karena ekspresi Hans yang terlihat sedih.


Hans menatap tajam kepada ayah dan ibunya, mereka pun terdiam. Hans menghentakan kakinya menuju kamar, dia akan mandi terlebih dahulu.


"Hahaha, Amira dan Amara jangan seperti papa kalian ya." ujar William kepada cucunya.


"Uncle Hans seperti anak berusia tiga tahun." celetuk Eranson.


Ratu sontak membekap mulut putranya, "Eran tidak baik berbicara seperti itu!" Ratu memeringatkan anaknya.


"Sudahlah Tu tidak apa, memang Eranson seperti Raja." William berusaha memaklumi cucunya yang satu itu.


Saat Hans datang kembali, semua makanan sudah siap santap. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Airen meletakan kedua putrinya di stroller bayi.


"Amira dan Amara nanti kalau sudah besar, duduknya disini ya deket Uncle Gib." celoteh Gibran.


"Deket Uncle Za!" ucap Eza tak mau kalah.


"Pasti mereka akan memilih Uncle Er!" Eranson pun tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kak Eran kan nama aslinya Pangeran, seharusnya Uncle Pang hahaha." Gibran tertawa puas setelah mengerjai Eranson.


"Omaa." adu Eranson.


"Gibran!" ucap Oma Hellena.


Airen tersenyum melihat interaksi mereka, "Hanya ada Uncle Za, kalau Amira dan Amara sudah besar mereka nanti memanggil Kak Eran dan Kak Gibran dengan sebutan kakak, bukan Uncle." ucap Airen tersenyum.


"Sudah sudah, ayo makan dulu." ujar Hellena.


Mereka makan dengan hening dan hikmat, setelah menghabiskan makan malam semuanya kembali ke aktivitasnya masing-masing.


Airen menggendong kedua anaknya sekaligus, namun tangannya ditahan oleh Hans.


"Biarkan Amira sama aku." pinta Hans.


Airen langsung menyerahkan putri pertamanya kepada Hans, tanpa banyak bicara Airen segera menuju kamarnya. Hans merasa bingung dengan sikap istrinya.


Setelah sampai di kamar, Airen memilih untuk bermain dengan anak-anaknya. Dia tidak segera menidurkan kedua putrinya.


"Sudah malam, biarkan Amira dan Amara tidur." ucap Hans lembut.


Lagi dan lagi, Airen tidak menjawab ucapan suaminya. Dia masih bersenda gurau dengan anak-anaknya. Hans duduk di tepi ranjang, mengamati interaksi antara istri dan anak-anaknya.


"Amira Amara, bantuin papa dong nak. Bunda kalian kok tiba-tiba diemin papa gini." gumam Hans menatap kearah istrinya.


"Ngga usah bawa-bawa anak, lagi juga siapa yang diemin kamu?" ucap Airen sinis.


"Kamu kenapa sayang? Ngga biasanya aku dicuekin gini." lirih Hans.


Airen menggeleng lalu pura-pura tersenyum hangat, "Perasaan kamu saja mungkin." Airen membawa anak-anaknya menuju keranjang bayi.


Hans terus mengikuti langkah kaki istrinya, Hans memeluk Airen dari belakang saat wanita itu tengah menidurkan anak-anaknya.


"Mas jangan rusuh, lepasin!" berontak Airen.


"Kamu kenapa hem? Aku salah apa? Kok kamu jadi galak gini."


Salah apa? haha masih nanya salah apa? batin Airen menggerutu.


"Tuan muda Mikhailov tidak mungkin salahkan?" Airen membalikan tubuhnya, lalu beranjak pergi menuju tempat tidur.


Deg


Degup jantung Hans tak karuan, saat melihat tatapan menusuk dari istrinya. Hans sedang memikirkan apa kesalahannya?


"Sayang tunggu, kamu mau kemana?"


"Lepasin mas, Mira dan Ara sudah tidur. Aku juga mau tidur." ucap Airen kesal.


"A--aku ikut."


Airen berbalik badan, lalu menatap tajam kepada suaminya. "Malam ini aku mau tidur nyenyak, kalau Mira dan Ara bangun tolong kamu urus mereka."


Glek


Airen mengambil posisi tidurnya, bahkan wanita itu sudah memejamkan matanya. Sedangkan Hans masih mematung berdiri ditempatnya.


Kenapa mendadak jadi seperti ini? batin Hans prustasi.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS.


Berikan dukungan kalian, melalui vote komen hadiah dan like ya. Terimakasih semuanya ❀️(✿^β€Ώ^)


__ADS_2