
Hans disuruh ke warung oleh istrinya untuk membeli popok bayi, karena Airen lupa membawanya. Dengan hati yang sedikit terpaksa Hans pun menuruti perintah Airen.
Sepanjang jalan menuju warung, ada banyak mata memandangi wajahnya yang tampan. Hampir dari mereka tidak mengetahui tentang Hans, mereka hanya berpikir jika Hans adalah warga baru di kampung itu.
Sesampainya di warung, Hans dengan wajah datarnya memesan apa yang disuruh oleh istrinya tadi.
"Permisi."
"Eh iya mas, mau beli apa ya?" tanya si ibu penjaga warung.
Hans menatap tajam kepada ibu itu, dia tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan sebutan mas kecuali istrinya. Ibu itu pun hanya tersenyum kikuk tak berani menatap wajah Hans.
"Pampers satu dus."
"H--hah sa-satu dus?"
Hans mengangguk, Ibu itu pun langsung mengambil apa yang dipesan oleh Hans. Tapi tiba-tiba ibu itu kembali bertanya. "Mau ukuran yang apa?" tanya si Ibu.
Hans pun bingung, karena dia tidak pernah tau hal seperti itu. Sungguh menyulitkan batinnya. "Satu dus setiap ukuran."
Apa! Nih orang punya anak banyak apa gimana ya? batin si Ibu.
"B-baik bentar saya ambilkan di gudang."
Sambil menunggu pesanannya Hans duduk di kursi, dia mengutak atik ponselnya. Melihat foto-foto istri dan juga anaknya, yang tadi dia ambil. Tiba-tiba ada dua wanita yang berpakaian ketat datang ke warung hendak membeli mie instan.
"Wahh aya lalaki kasep euy." tutur salah satu wanita tersebut.
"Iya nih akang kasep sendirian aja?" wanita satunya langsung duduk di sebelah Hans.
Hans tidak memperdulikan keberadaan mereka, dia fokus dengan ponselnya. Kedua wanita itu tidak menyerah untuk mengalihkan perhatian Hans dari ponsel. Namun saat mereka hendak memulai pendekatan, si ibu warung keluar sambil membawa enam dus Pampers, tiga lainnya di bawa oleh asistennya.
"Ini pesanannya." tutur si ibu itu.
__ADS_1
Hans menoleh, dia pun mengangguk dan hendak membayar. Namun tangannya dipegang oleh wanita yang duduk disebelahnya. Hans mendadak diam, mencerna apa yang terjadi.
"Akang tampan, namanya siapa? Boleh atuh kenalan sama Lela." ucapnya.
"Eh Lela jadi janda jangan kegatelan atuh, lihat si mas ini beli Pampers tandanya dia itu sudah punya anak!" si Ibu pemilik warung itu mencoba menyingkirkan Lela dari Hans.
Hans yang tersadar langsung menarik tangannya, namun Lela dengan beraninya malah mendekatkan dirinya agar menempel kepada Hans. Belum sempat Hans mendorong wanita itu, Airen sudah datang lebih dulu dan mendorong Lela agar menjauh dari suaminya.
"Aduh mas, kamu kok lama bangat. Ternyata ada serangga yang menghalangi kamu ya." ujar Airen yang dengan sengaja memeluk lengan suaminya.
Hans dan yang lainnya terkejut dengan kehadiran Airen yang tiba-tiba datang, Lela langsung bangun dan menatap tajam kepada Airen.
"Maksud kamu apa hah? bilang saya ini serangga."
Airen tersenyum manis. "Saya nggak bilang gitu lho mbak, tapi kalau mbak merasa tersinggung itu cukup menjelaskan maksud dari ucapan saya." tutur Airen dengan berani.
"Cih, kamu mau bersaing dengan saya hah?"
"Bersaing? Bersaing untuk apa? Ini suami saya, untuk apa saya bersaing? Kalau suami saya mau sama mbak, yasudah nih ambil saja."
"Liat sendiri kan? Ayo mas, kita pulang." Airen menarik tangan Hans, namun tertahan oleh si ibu warung.
"Maaf mas, ini pampersnya jadi enggak?" tanya si ibu yang masih terkagum-kagum dengan kejadian barusan.
"Jadi Bu, nanti tolong antar ke rumah yang di depan sana ya." bukan Hans yang mengatakan melainkan Airen.
Si ibu mengangguk iya, Airen kembali bersuara menatap janda muda bernama Lela itu. "Oiya, mbak jadi janda jangan keganjenan ya, mentang-mentang kurang belaian." Setelah mengatakan hal itu, Airen pun pergi menarik suaminya dengan hati yang kesal.
🍁🍁🍁
Semenjak kejadian tadi, justru saat ini Airen malah merajuk dengan suaminya. Bisa-bisanya Hans hanya diam padahal ada wanita yang menempel dengan dirinya.
"Sayang, tadi aku juga mau dorong wanita itu. Tapi keburu kamu dateng duluan." Hans mencoba memberikan klarifikasi kepada istrinya yang sedang menina-bobokan Amara.
__ADS_1
Airen masih diam, dia tidak terima jika ada wanita lain yang menempel dengan suaminya. Sudah lama Airen tidak merasa secemburu ini. Hatinya sungguh sangat kesal.
"Sayang, jangan diemin aku. please say one word."
"Ngga ngerti!" ucap Airen.
Hans tersenyum, dia justru malah semakin gencar mendekati istrinya. Menaruh kepalanya di bahu Airen, sambil melihat Amara yang merem-melek hendak tertidur.
"Ara, bunda kamu marah sama papa. Bantuin papa dong."
"Mas! Ara mau tidur. Jangan diganggu, aku cape."
"Iyasudah sini sayang biar aku saja yang meninabobokan Amara."
"Ngga, telat." Ternyata Amara sudah tertidur pulas, dia tidak terganggu dengan perdebatan kecil mama-papanya. Airen menaruh Amara di pojok kasur dekat dengan Amira sang kakak yang sudah lebih dulu tidur.
Setelah melihat Airen sudah menidurkan anak-anak, Hans dengan gerakan cepatnya langsung menarik istrinya dan menguncinya ke dalam dekapannya.
"Jangan memberontak, nanti anak-anak bangun." tutur Hans, Airen pun hanya diam di dalam dekapan suaminya.
Cup.
Satu kecupan mendarat di kening Airen, cukup lama Hans mengecup kening istrinya. Sedangkan Airen hanya pasrah dengan tingkah suaminya, meskipun hatinya masih kesal.
"Maaf ya sayang, tadi aku beneran ngg--."
"Sttss udah, ngga usah bahas itu." pinta Airen, Hans pun tersenyum senang.
Hans berbisik ditelinga istrinya, "Udah lama ngga ehem-ehem, sekarang boleh ya?" pinta Hans.
Airen paham betul apa yang dimaksud suaminya, dengan pasrah Airen pun mengangguk iya. Dari pada, jika nanti suaminya malah jajan diluar lebih berabe.
Hans memulai sesuai dengan langkah-langkah yang berlaku.
__ADS_1
siang itu menjadi siang yang panas bagi Airen dan Hans, karena mereka harus memastikan agar anak-anaknya tidak terusik dengan apa yang sedang mereka lakukan. Dan tentunya kegiatan mereka bedua sempat ditunda karena pampers yang Hans beli diantar ke rumah.
bersambung...