
Selamat membaca ☺️
Hans dan Barra tengah membicarakan bisnis bersama dengan seseorang yang akan menjadi investor di perusahaan Barra.
Mereka asyik berbincang, sedangkan Airen bersama dengan Eza dan juga Roni ada di meja lain karena tidak ingin mengganggu aktivitas mereka. Sesekali Hans melirik sang istri.
"Bagaimana tuan? apakah anda setuju untuk menjadi bagian dari peluncuran produk baru kami?" tanya Barra menggunakan bahasa Inggris.
"What benefit will I get from it? " (Apa keuntungan yang akan saya dapatkan dari itu?)
"Sepuluh persen dari keuntungan itu akan tuan dapatkan." sahut Hans, karena Barra akan menaruh keuntungan yang lebih banyak.
"That's too little." (Itu terlalu sedikit)
"Tiga belas persen, tidak mau yasudah." ujar Hans.
Laki-laki paruh baya itupun tertawa melihat tingkah Hans, sejujurnya mereka memang saling kenal namun tetap menggunakan bahasa formal.
"Hahaha, Mr. Hans is still the same as before." (Tuan Hans masih sama seperti dulu).
Hans sebenarnya ingin segera menyudahi hal ini, karena dia tahu anak dari laki-laki paruh baya ini pernah mencintainya. Hans takut jika anaknya menyusul ke sini, karena akan menjadi boomerang tersendiri untuknya.
"Bar, buruan dikit." bisik Hans di telinga Barra.
Barra mengangguk mengerti, jujur saja barra pun tidak menyukai tingkah laku dari anaknya tuan Petter ini.
"Bagaimana tuan Petter?"
"I want Fifteen percent profit for me."(Aku ingin Lima belas persen keuntungan untukku)
"Oke deal, silahkan tanda tangani berkas ini. Terimakasih tuan Petter atas kerja samanya, kalau begitu kami permisi." ujar Barra.
Tuan Petter pun menandatangani berkas perjanjian kerjasama itu, namun belum sempat Hans dan Barra bangun dari duduknya. Tiba-tiba anak tuan Petter datang dan langsung memeluk Hans.
"Ohh tuan Hans, lama tidak berjumpa." ucapnya sambil memeluk Hans dengan erat.
Airen yang melihat kejadian itu sontak membulatkan matanya, terlebih suaminya sama sekali tidak menolak pelukan wanita itu.
Tenang Airen, jangan marah oke. Sesungguhnya marah hanya akan menyisakan tempat untuk iblis. batin Airen berusaha mengontrol amarahnya.
Dengan elegannya Airen menghampiri mereka, lalu mendorong pelan wanita bule itu agar menjauh dari suaminya. Airen melingkarkan tangannya di lengan suaminya.
Duh ngga bisa bahasa Inggris, gimana cara ngomongnya ya. batin Airen.
"S--sorry, this i--is my husband." ucap Airen terbata.
Hal itu membuat Barra dan Hans tersenyum, karena Airen berusaha keras untuk itu. Airen yang merasa jika Hans menertawakan dirinya, dengan segera Airen melapaskan tangannya yang melingkar di lengan Hans. Namun Hans dengan segera mencegah hal itu.
"Perkenalkan ini istriku, namanya Airen." ucap Hans memperkenalkan Airen.
"Apa?!" tuan Petter dan anaknya tidak menyangka, karena mereka tidak di undang saat pesta pernikahan Hans.
__ADS_1
Terlihat jelas wanita bule itu seperti sedang marah dan kecewa karena Hans telah menikah, namun wanita itu seperkian detik kemudian tersenyum hangat kepada Airen.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Semoga pernikahan kalian langgeng." ucapnya menggunakan bahasa Indonesia.
Airen dibuat melongo, kenapa harus susah-susah dia berbicara menggunakan bahasa Inggris. jika wanita ini bisa berbahasa Indonesia.
"Apa nona Airen terkejut karena aku bisa berbahasa Indonesia? Tentu saja aku bisa, karena aku pernah mencintai suami mu. Dan dia adalah alasan ku untuk bisa berbahasa Indonesia. Namun sangat disayangkan, usaha ku sia-sia." tuturnya.
Apakah wanita ini gila? ingin aku cemburu atau bagaimana? batin Airen.
"Iya itu dulu, tidak masalah. Maaf telah mengganggu kalian, silahkan dilanjut. Saya permisi." ucap Airen pergi, namun ditahan oleh Hans.
"Kita pergi sama-sama, Bar aku pamit pergi dulu." Barra pun mengangguk iya, karena dia juga tidak ingin Hans dan Airen memiliki masalah karena hal seperti ini.
Akhirnya Hans memutuskan untuk pulang ke hotel, sedangkan Roni mengajak Eza berjalan-jalan di kota new york. Sedari tadi diperjalanan menuju hotel, Airen hanya diam. Hingga kini sampai di kamar hotel pun dia masih diam.
"Kenapa hem?" tanya Hans lembut, mendekat ke arah Airen yang duduk di sisi ranjang.
Ck, make nanya kenapa. batin Airen.
"Aku mau pulang ke Indonesia." jawab Airen.
"Besok ya, kan janjinya tiga hari."
Airen mendengus kesal, "kamu mau lama-lama disini karena wanita bule itu kan?" protes Airen.
Hans membalikan bahu istrinya, agar menghadap ke arahnya. Hans tersenyum hangat, lalu mengecup seluruh wajah istrinya dengan sayang.
Iya juga sih. batin Airen.
"Oke kita pulang nanti sore, tapi aku tidak ingin melewati siang ini begitu saja. ayo kita buatkan adik untuk Amira dan Amara, dengan label Made In New York." ucap Hans tersenyum penuh arti.
"Ihh ngga mau, mereka baru kurang lebih tiga bulan masa udah dibikinin adik. ngga mau."
"Tidak ada penolakan." Hans mendorong tubuh istrinya ke kasur.
Dan mereka pun melewati siang hari dengan penuh keringat, sedangkan Airen hanya pasrah dengan ulah suaminya.
***
Di lain sisi, kini Bima tengah diintrogasi oleh papih William. "Kamu kan yang ngasih nomor papih ke orang lain!" ucap William.
Pasti mamih yang ngangkat, kalau ngga mana mungkin papih marah. batin Bima.
"Kan biasanya juga kak raja, kenapa sekarang aku yang disalahin."
"Bima! Kakak kamu sedang di pesawat saat ada wanita yang nelpon papih. Mau nuduh si Hans? Ngga mungkin dia."
Ck, udah ketahuan gini yauda ngaku ajalah.
"Maaf pih, iya itu aku. tapikan aku punya alasan untuk itu."
__ADS_1
William sebenarnya ingin sekali memukul anaknya ini, namun apa boleh buat yasudahlah. "Alasan apapun tidak bisa mengembalikan jam tidur papih sama mamih kamu, gara-gara kamu Papih ngga tidur sama mamih kamu. Sekarang kamu bilang ke mamih kamu, bahwa itu kamu."
Dasar orangtua yang diperbudak cinta. batin Bima.
"Kamu ngumpat papih? Baru tau rasa kalau nanti Bella nggamau tidur sama kamu." ucap William, tentu saja Papihnya tau karena memang William selalu menyelidiki tentang kisah percintaan anak-anaknya.
Bima memilih untuk berbicara lebih dulu dengan Mamihnya perihal masalah itu, karena dia takut papih nya menyembunyikan Bella.
"Mamih." panggil Bima.
"Eh Bim, kamu sudah pulang?"
"Gibran dimana mih?" tanya Bima yang mencari keberadaan anaknya.
"Ada di ruang bermain, kamu dari mana saja Bim?"
"Mengejar cinta."
Bima duduk di samping ibunya, menyandarkan kepalanya di bahu sang mamih. Hellena menyadari sesuatu hal, jika saat ini hati anaknya tengah gundah gulana.
"Kenapa? Bella nggamau nikah sama kamu?"
"Ihh mamih jangan gitu dong, kan lagi usaha biar Bella mau."
"Yasudah nanti kalau Hans sudah pulang dari new york, kita pergi sekeluarga buat ngelamar Bella. dijamin dia ngga akan nolak."
"Jangan dong, aku mau usaha dulu. Biar Bella mau karena cinta sama aku, bukan karena keterpaksaan." keluh Bima.
Hellena menghela nafasnya pelan, "Yasudah mamih doain, semoga kamu berhasil. Biar keluarga kita lengkap." tutur Hellena lembut.
"Eh tadi mamih bilang si Hans ke new york? tumben dia mau jauh-jauh dari istrinya."
"Airen diajak, anaknya ditinggal."
"Emang dasar si Hans sama si Raja itu keturunan papih bangat, bucin akut soalnya."
Hellena menjewer telinga Bima, "Apa kamu bilang hah!"
"A--aduh Mih sakit." Hellena pun melepaskan jeweran ditelinga anaknya. Bima mengusap bekas jeweran ibunya, sungguh sangat menyakitkan sekali.
Bima beranjak dari duduknya, "Mih, maaf. Yang ngasih nomor papih ke cewek lain itu aku." ucap Bima langsung berlari setelah mengatakannya.
"Astaga Bima! Awas kamu yak!" teriak Hellena.
Dasar, padahal dia sudah menginjak usia 30 tahun. Tapi rasanya masih sama seperti anak usian 10 tahun. batin Hellena.
Bersambung...
Hai guys, mumpung hari Senin. jangan lupa untuk memberikan vote nya yaa(◍•ᴗ•◍)❤.
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita Kisah Tuan Hans. jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.
__ADS_1