
(JALAN TAKDIR)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hari ini Airen pergi ke mall, bersama dengan Hans, Hellena, Ratu, Eranson, Eza dan Gibran. Mereka menikmati akhir pekan dengan bahagia.
Hans menemani sang istri pergi berbelanja dan bermain dengan anak-anak, karena Hans tak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya.
Semuanya nampak bahagia, bahkan Gibran merasakan kasih sayang seorang ibu dari Airen.
"Mommy, kita cari jajanan yuk." ajak Gibran kepada Airen.
"Gib, jangan panggil Tante Cahya dengan sebutan Mommy." ujar Hans memberitahu.
"Mama." lirih Gibran mengadu kepada Ratu.
"Hans." ucap Ratu, seakan mengerti maksud dari panggilan kakak iparnya. akhirnya Hans pasrah.
"Baiklah, tapi panggil Uncle dengan sebutan Daddy oke." ujar Hans.
"No, kan Uncle bukan Daddy aku." jawab Gibran.
Saat Hans hendak protes kembali, namun Airen mengelus lengan suaminya dengan perlahan.
"Mas." ucap Airen sambil tersenyum tulus.
Hans menarik pinggang Airen agar mendekat ke arahnya, Airen dibuat panik dengan tingkah suaminya di depan umum.
"M--Mas." lirih Airen saat merasakan degup jantungnya yang begitu kuat.
"Pokoknya nanti, aku mau kita tinggal berdua." bisik Hans ditelinga Airen.
"Uncle, lepasin Mommy!" teriak Gibran.
"Hm." Hans langsung melepaskan Airen, mau tak mau dia harus mengalah dengan Gibran.
Ratu memboyong Eza dan juga Eran untuk bermain, sedangkan Airen bersama dengan Hans dan juga Gibran mencari jajanan.
Gibran berada dalam gendongan Hans, tangan kanan Hans menggenggam tangan Airen. Semua orang menatap iri dan iba, terhadap kedua pasutri itu.
"Wahhh, tampan bangat." ucap salah satu pengunjung yang melihat Hans.
Ntah mengapa hati Airen memanas, mendengar penuturan wanita yang memuji suaminya.
"Apa lihat-lihat?" tanya Airen dengan sarkas.
"Tampan sih, tapi sayang ceweknya jelek." ucap wanita itu dengan sengaja.
Belum sempat Airen marah-marah, justru Gibran dan Hans langsung menatap tajam ke arah wanita yang mengatakan bahwa Airen jelek.
"Beraninya kau berkata seperti itu, ku beli mulut mu!" ujar Hans dengan tatapan membunuh.
"Dasar nenek lampir, Tante yang jelek. Mommy aku cantik, lihatlah dempulan bedak Tante terlihat sangat jelas." ujar Gibran, ntah darimana anak itu tahu tentang dempulan bedak.
Wanita itu merasa malu dengan ucapan Gibran, dan juga takut dengan ucapan Hans. Dia langsung pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun.
"Jangan didengarkan, mulut-mulut sampah seperti itu. Kamu cantik." ujar Hans kepada istrinya.
"Iya uncle benar, Mom." ucap Gibran menimpali.
***
Saat mereka tengah asyik menyantap makanan, tiba-tiba ada anak kecil yang menghampiri mereka.
"Mommy." panggil anak kecil itu.
"H--Hah?" Hans dan Airen menatap tak percaya jika ada anak kecil yang memanggil Airen dengan sebutan Mommy.
"Enak saja! ini Mommy aku, kamu ngapain disini. pergi sana."
"Kata Daddy, ini mommy aku."
Terjadi perdebatan antara Gibran dan anak itu, Hans menatap dalam ke arah anak itu. Tiba-tiba pikirannya mengingat suatu hal, saat dia menatap mata anak perempuan itu.
__ADS_1
Mata anak ini, mengapa sangat mirip dengan---.
"Leana!" panggil ayahnya.
"Daddy, lihatlah. Mommy berada disini, dan anak ini mengaku-ngaku bahwa Mommy adalah mommy nya."
"Hei, ini Mommy ku. Kau cari saja mommy mu, jangan mengaku-ngaku mommy ku." ucap Gibran tak mau kalah.
"Hentikan!" teriak Hans dan juga pria itu.
Mereka saling bersitatap, Hans seperti menyadari sesuatu. Dia pernah melihat laki-laki ini.
Bukankah laki-laki ini temanya, Laura. batin Hans.
"Maafkan, anak saya. Perkenalkan saya Luis." ujarnya.
Hans menjabat uluran tangan dari laki-laki itu, dia tersenyum ramah. Sedangkan Hans mencoba untuk mencerna apa yang terjadi.
"Hans." jawabnya.
"Sorry, atas ketidaknyamanan kalian. Actually, waktu itu saya pernah menolong nona ini. Dan mengantarkannya ke hospital, pada saat itu putri saya bertanya about her. Saya asal jawab, bahwa dia Mommy nya." ujar Luis, dengan bahasa yang berbeda-beda.
"Please tell your daughter, that my wife is not her mama. I don't like it when someone disturbs mine." (Tolong, beritahu putri mu, bahwa istriku bukanlah mama nya. aku tidak suka, jika ada seseorang yang mengganggu milik ku).
"Jadi, Daddy berbohong?" tanya Leana dengan tatapan tak percaya.
Leana tahu betul apa yang Hans ucapkan, Hans sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Airen tak mengetahuinya. Karena takut, jika istrinya memperbolehkan anak itu memanggilnya Mommy.
"Daddy bisa jelaskan, ayo kita pulang." Luis langsung menggendong putrinya pergi dari sana.
Hans menatap punggung Luis dengan hati yang gelisah, ntah mengapa firasat jelek menghantui dirinya.
Si@l, mengapa aku berfikiran buruk terhadapnya. aku harus menyelidiki hal ini. batin Hans.
🌹🌹
Bima tengah memeriksa kondisi anak kecil, yang masih berseragam sekolah lengkap. Bima memanggil suster, untuk meminta bantuan agar orangtua anak ini segera datang menemuinya di ruangan.
"Sus, tolong beritahu orangtua nya. Agar segera ke ruangan saya."
"Baik, dok."
Tok..tok..tok.
"Masuk."
Cklek.
Seorang wanita yang berusia tiga tahun lebih muda dari Bima, masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
"Dok bagaimana dnegan--."
Deg.
ucapan wanita itu terhenti, saat netra keduanya bertemu. Waktu seakan berhenti baginya, laki-laki yang selama enam tahun ini selalu dia hindarkan. Kini harus bertemu disini.
"Bella?" entah bertanya ataupun menyapa, Bima memanggil nama itu.
Kenapa takdir harus membawaku kesini. batin Bella.
Bella hanya tersenyum tipis, bibirnya kelu tak dapat berbicara. Bella duduk di kursi depan Bima, rasa canggung menyelimuti mereka.
"Kamu apa kabar?" Bima basa basi, terhadap wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya.
"A--aku baik, kak." jawab Bella cepat.
"Enam tahun lalu, kamu pergi tanpa berpamitan kepada ku." ujar Bima mencoba mengulang sedikit kenangannya.
"Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Bella mengalihkan pembicaraan.
Bima tersenyum, "Bahkan kamu telah memiliki anak, tidak ada rasa ingatmu padaku kah? Pernahkah kau berpikir untuk mengundang ku di hari pernikahan mu? atau mengundang Ratu yang bahkan telah menganggap mu sebagai adik kandungnya." ujar Bima.
"Tidak usah bertele-tele pak Dokter, bagaimana kondisinya?"
"Aku masih mencari jawaban, mengapa waktu itu kamu pergi tanpa berpamitan. Bahkan, kamu pergi sebelum melihat aku dan Gina menikah."
__ADS_1
Karena kamu, hanya menganggap ku adik. batin Bella.
"Aku tidak perlu memberimu jawaban apapun." ujar Bella.
Krek.
Pintu ruangan Bima terbuka, menampilkan sosok anak laki-laki berusia empat tahun.
"Daddy!" teriak Gibran menghampiri Bima.
Deg.
Anak ini sangat mirip dengan Gina, ternyata kalian sudah memiliki anak. batin Bella, karena mendengar bahwa anak laki-laki itu memanggil Bima dengan sebutan Daddy.
"Daddy, tante ini siapa?" tanya Gibran.
Bima tersenyum, "Dia sahabat Daddy sewaktu dulu, sekaligus adik angkat Daddy dan juga Mama Ratu." ujar Bima memperkenalkan Bella pada Gibran.
"Cantik ya Daddy, hi tante. Aku Gibran anak tampannya Daddy." ucap Gibran.
Bella tersenyum tulus, meskipun ada perasaan sakit di hatinya. luka lama yang sekian tahun dia coba untuk mengobatinya, kini perlahan tergores kembali.
"Hi Gibran, kamu manis sama seperti ibumu." ucap Bella dengan sedikit berat.
"Tante kenal mommy?" tanya Gibran.
"Tentu son, Daddy, Mommy mu dan juga Tante Bella berteman baik sewaktu dulu." ucap Bima dengan bersemangat.
Bella hanya tersenyum, tak mampu untuk menimpali ucapan Bima.
"Kamu ke rumah sakit sama siapa?" tanya Bima kepada anaknya.
belum sempat Gibran menjawab, pintu ruangan kembali terbuka.
Cklek.
Mata Ratu membola, saat melihat wanita yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Wanita yang pergi enam tahun lalu tanpa berpamitan, kini ada dihadapannya.
"B--bella." ucap Ratu terbata.
Bella tersenyum simpul, "Kak Ratu."
Ratu langsung menghambur memeluk erat Bella, dia menumpahkan segala kerinduan yang ada.
"hiks.. kamu kemana saja? Kakak mencari mu kemana-mana. kamu apa kabar? kenapa waktu itu pergi tanpa pamit?" tanya Ratu disela isak tangisnya.
"Mama, jangan diberi pertanyaan terlalu banyak. Kasihan, tante cantiknya." ujar Gibran.
Ratu melepaskan pelukannya, dia menghapus airmatanya dengan perlahan. Ratu tersenyum senang melihat Bella baik-baik saja.
"Tante cantik, kita main yuk. Nanti ditraktir es krim sama Daddy." ucap Gibran bersemangat, sambil menarik tangan Bella.
Selain Airen, ternyata ada juga wanita yang berhasil mengambil hati Gibran. batin Ratu.
"Maaf ya, tante tidak bisa." ujar Bella dengan lembut.
"Kenapa?"
"Karena ada banyak hal yang harus tante urus."
"Tapi, lain kali. kita pergi bersama-sama ya tante."
Bella hanya tersenyum, tak mampu untuk mengiyakan yang Gibran katakan. Dada nya begitu sesak, mengapa kisah lamanya yang telah kering kini kembali basah.
"Bel, kakak ingin berbicara dengan mu." pinta Ratu.
"Tidak untuk sekarang, mungkin lain waktu ya kak. maaf, aku permisi." ucap Bella, dia pun pergi dari ruangan itu.
Bella menepikan dirinya di tepi taman bermain, yang tak jauh dari sekolah tempat Bella bekerja sebagai guru.
Air mata Bella runtuh seketika, dia tak sanggup lagi menahan isak tangisnya. Bella mencoba untuk tidak menangis, namun dadanya begitu sesak.
Enam tahun telah berlalu, mengapa perasaanku masih tetap sama. Aku sudah mencoba menghilangkan nya, namun mengapa tidak bisa. batin Bella.
Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.