Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 53


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Pesta pernikahan telah selesai, Airen sangat bahagia. Karena ada banyak orang yang datang, terlebih paman dan bibinya yang ikut merayakan pesta pernikahannya.


"Sayang, ayo kita istirahat. Kamu pasti lelah." ujar Hans yang duduk di samping istrinya.


"Kita pulang ke mansion mas?" tanya Airen.


"Tidak, kita tidur disini. Ada banyak kamar, ayo kita istirahat." ajak Hans kepada istrinya.


"Tapi mas, ngga enak sama yang lain. kan masih pada kumpul, masa kita langsung ke kamar."


"Ngga apa-apa sayang, mereka juga pasti mengerti. Kamu pasti lelah, karena tadi menyambut banyak tamu. Kasihan juga anak kita di dalam perut, mungkin mereka juga sedang mengantuk."


"Makan dulu ya mas, aku lapar."


"Kita ke kamar dulu, kamu harus bersih-bersih. Nanti aku minta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar." ujar Hans, Airen pun patuh.


Mereka berdua langsung menuju kamar, kebetulan berpapasan dengan Raja yang sedang turun untuk makan malam.


"Hans, kamu ngga ikut makan malam?" tanya Raja kepada adik bungsunya.


"Ngga."


"Roman-romannya Airen sudah siap di makan nih, yang semangat bro jangan digempur terus kasihan bini lagi hamil muda."


Sontak Raja mendapatkan tatapan tajam dari adiknya, sedangkan wajah Airen sudah merah padam seperti kepiting rebus.


Raja tidak ingin mengambil resiko, dia langsung bergegas ke bawah. Karena takut jika Hans marah padanya.


Sedangkan di meja makan, semua orang tampak asyik berbincang. Roni, Barra, Rio dan Bima juga ada di sana. Mereka tampak asyik berbicara.


Rio menyenggol bahu Bima, seperti mengisyaratkan sesuatu hal kepada sahabatnya itu. Bima menoleh ke arah Rio, dan benar saja Rio menunjukkan sesuatu lewat matanya.


"Lihatlah, sepertinya wanita itu menyukaimu." ucap Rio kepada Bima.


"Ck, dia itu sepupu Airen. Kalau lo mau gih ambil, sorry gue si ga level." ucap Bima santai.


"Dihh ogah gue ge, cewek genit kaya gitu udah banyak gue temuin. Yang seperti dokter Novi itu yang paling beda." ujar Rio sambil tersenyum kala mengingat dokter Novi.


"Yailah, sakit hati baru tau rasa lo."


"Percaya yang lagi ngerasain sakit hati mah." Rio terkekeh pelan.


Raja menghampiri mereka yang tengah asyik berbincang, dan duduk di sebelah adiknya. Raja mengambil buah yang ada di atas meja dan mengunyahnya.


"Lah bang Raja? si Hans mana bang?" tanya Barra kepada kakak dari temannya.


"Pengantin ngga usah ditanyain, tau sendiri kemana mereka berlayar." jawab Raja.


"Pasti si Hans ngegempur si Airen, waktu itu saja Airen sampai pingsan dibuatnya." celetuk Barra.


Pletak.


"Diamlah kau! Aku masih membenci mu." ujar Bima yang langsung memukul kepala Barra.


"Iyalah benci, orang yang dicintanya nikah sama yang lain." jawab Raja.


Bima menatap tajam sang kakak, seketika Raja dan yang lainnya diam membisu tak mengatakan apapun.


"Sudahlah, bagaimana kalau kita main truth or dare?" tanya Rio, sontak semua malah menatap tajam kepadanya.


"No!" jawab mereka kompak.


Aishh, kenapa tidak ada yang membelaku. batin Rio.


Makan malam pun datang, mereka menikmati makanannya dengan hening tanpa ada pembicaraan apapun. Saat makan, Bima teringat akan Bella. Dia meninggalkan wanita itu di rumah sakit hampir seharian penuh.


Bima bangkit dari duduknya, dia segera menghampiri Gibran dan membawanya pergi. Sontak hal itu membuat Hellena yang sedang bersama cucunya merasa heran dan bingung.


"Bim, kamu mau kemana?" teriak Hellena, karena Bima sudah hampir keluar dari sana.


"Ada urusan sebenar." jawab Bima.


Raja, Rio, Roni, dan Barra saling bersitatap. Sungguh ini adalah hal yang sangat menyebalkan. Karena Hans dan Bima tidak ada disini, mereka dengan terpaksa melanjutkan makannya.


**


Di kamar.



Airen sedang berada di dalam ruang ganti, dia bingung kenapa hanya ada satu baju tidur seperti ini. Bahkan dalemannya pun terlihat jelas.


"Kenapa bajunya seperti ini?" gumam Airen sambil melihat dirinya di cermin.


Sementara Hans, sedang khawatir karena istrinya belum kunjung keluar dari ruang ganti. Hans menghampiri pintu ruangan itu, dan mengetuk nya perlahan.


Tok tok tok.


"Sayang, kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali." teriak Hans khawatir.


"Sebentar mas, aku baik-baik saja. Tapi--."


"Tapi apa? ayo cepat keluar, jangan buat aku khawatir." teriak Hans prustasi.


"Cahya! Kalau kamu tidak keluar aku dobrak pintunya!" ancam Hans.


"Aduh bagaimana ini?" gumam Airen cemas.


"Satu, dua--."

__ADS_1


Krek.


Pintu ruang ganti sudah terbuka, meskipun hanya sedikit. Airen benar-benar malu untuk keluar dari sana.


"Sayang, ayo sini keluar. Kenapa malah mengumpat seperti itu? ada apa hm?" tanya Hans khawatir.


"M---mas, aku malu." lirih Airen pelan.


"H--Hah, Malu kenapa sayang?"


Hans tak sabar, dia pun menerobos masuk ke dalam ruang ganti. Airen sangat terkejut karena suaminya langsung masuk menerobos.


"Sa---."


HAH!


Hans menatap takjub kepada sang istri, bahkan mulutnya pun sampai ternganga. Sedangkan Airen menunduk menahan malu. Perlahan Hans menghampiri Airen, jarak diantara keduanya semakin terkikis.


Deg deg deg


Jantung keduanya berpacu lebih cepat, Hans meneguk salivanya berkali-kali. Matanya pun sudah berkabut gairah.


"S ssaayang." panggil Hans terbata.


Suara deru nafas terdengar masing-masing ditelinga, Airen tak berani untuk menatap netra sang suami. Hans mengusap lembut pipi Airen dengan sayang.


"Hei, tatap aku." ucap Hans, sambil menangkup wajah istrinya agar melihat ke arah nya.


Airen malah memejamkan matanya, dia benar-benar tak berani untuk menatap suaminya saat ini. Ada perasaan takut yang membuncah dihatinya.


"Sayang, buka matamu." pinta Hans dengan lembut.


Airen pun membuka matanya perlahan, hingga kedua mata itu bertemu. Bisa Airen lihat, jika saat ini suaminya tengah berkabut gairah.


"Mas ak--."


Hmpphhhh!


Tanpa banyak basa basi, Hans langsung membungkam bibir Airen dengan bibirnya. Airen terkejut, dia malah memejamkan matanya seolah perasaannya sangat berkecamuk.


Hans benar-benar sudah diluar kendalinya, dia melu mat bibir istrinya dengan rakus, mencicip setiap rongga mulut Airen. Hingga Airen merasakan sesak, dia pun memukul-mukul dada Hans.


Hosshh hoshhh


Hans melepaskan pangutannya, dia benar-benar tak tinggal diam. Beberapa detik kemudian, Hans langsung melahap bibir itu lagi dan menyesapnya dengan kuat. Hans menahan tengkuk leher sang istri agar lebih dalam.


Tangannya tak tinggal diam, mencoba meremas dua gundukan yang terpampang jelas. Airen melenguh, tapi tiba-tiba memori waktu itu seketika membuatnya takut.


"Hikss.. mas." lirih Airen, yang sudah tak tahan menahan isak tangisnya.


Hans yang mendengar suara tangisan istrinya pun menghentikan aktivasi yang ia lakukan, dan langsung memeluk Airen dengan erat.


"Maaf." Hans tahu seharusnya dia tidak buru-buru seperti ini.


Hans menciumi pucuk kepala istrinya, Airen tak bergeming. Lututnya seakan lemas tak bertenaga, bibirnya kelu untuk mengucapkan sebuah kata.


"Sayang, maafkan aku." lirih Hans.


Airen hanya mengangguk tanpa menjawabnya, dia berusaha mengontrol degup jantungnya agar kembali stabil.


Hans membawa istrinya perlahan-lahan menuju kasur, tanpa melepaskan dekapannya. Airen duduk di tepi ranjang, Hans mencoba memberikan ketenangan untuk istrinya. Dia mengusap lembut rambut Airen yang tergerai.


Keduanya sama-sama diam membisu, tidak ada yang memulai berbicara. Hans juga bingung harus mengatakan apa. Hingga akhirnya Hans beranjak mengambilkan air putih untuk sang istri.


"Ini, minumlah." ucap Hans sambil menyerahkan air itu.


Airen menengguk air putih itu hingga habis tak tersisa, tenggorokannya terasa kering. Hans mengulum senyumnya, dia membelai rambut sang istri.


"Sayang, maafkan aku ya? Maaf karena telah melewati batas, jangan marah padaku. Sekarang kamu tidur, ini sudah larut malam." ujar Hans, merebahkan istrinya dan juga menyelimuti tubuh sang istri.


Sabar Hans, nanti ada saatnya buka puasa. Ngga boleh membuat istrimu trauma dan takut. batin Hans.


"M---mas, tidak tidur?" Airen mencoba untuk tidak diam saja.


"Iya nanti aku juga tidur, kamu duluan saja."


Ada sedikit perasaan sakit, saat suaminya menolak untuk tidur bersama. Airen hanya mengangguk dan tersenyum dia pun mencoba untuk memejamkan matanya.


Maaf sayang, ada hal yang harus aku tuntaskan. Rasanya pening dan sesak. batin Hans.


Setelah melihat Airen sudah memejamkan mata, akhirnya Hans pergi menuju kamar mandi. Sedangkan Airen yang hanya pura-pura tidur, menatap punggung suaminya yang sudah menghilang masuk ke dalam kamar mandi.


"Maaf mas, aku belum siap." gumam Airen.


🌹🌹


Di rumah sakit.


Bima mengajak Gibran untuk melihat kondisi Bella, entah mengapa Bima ingin jika putranya dapat akrab dengan Bella.


"Daddy kita ngapain ke hospital malam-malam seperti ini?" tanya Gibran.


"Menjenguk seseorang." jawab Bima.


"Seseorang nya siapa Daddy?"


Bima tak menjawab ucapan anaknya, dia langsung membawa masuk Gibran ke salah satu ruangan pasien.


cklek.


Bella yang belum tertidur tersentak kaget melihat Bima datang bersama dengan putranya.


"Wahh Tante cantik." ujar Gibran tersenyum lebar.

__ADS_1


Bella tersenyum, "Hai Gibran." sapanya.


Bima duduk di kursi samping brankar, dan meletakkan Gibran duduk di samping Bella yang sedang bersandar.


"Bagaimana kondisi mu?" tanya Bima.


"Sudah membaik, terimakasih." ujar Bella, yang bahkan tak menatap Bima sama sekali.


"Tante cantik sakit apa? kalau sakit bilang aku ya, nanti diobatin sama Daddy. Daddy kan dokter."


Bella hanya tersenyum kecil, "Tante baik-baik saja." jawab Bella.


"Syukurlah kalau kondisi mu sudah membaik, besok juga pasti sudah diperbolehkan untuk pulang."


"Daddy, ajak tante cantik jalan-jalan ya. Nanti kita jalan-jalan bertiga ya Daddy." ujar Gibran antusias.


Apa! bertiga? batin Bella.


"Iya sayang, nanti kita ajak tante cantik jalan-jalan." ucap Bima tersenyum manis.


Deg.


Pipi Bella seperti kepiting rebus dibuatnya, baru kali ini lagi dia merasakan sensasi seperti ini. Bella teringat jika laki-laki yang saat ini dihadapannya adalah suami dari temannya.


"Kak Bima, tidak boleh menjanjikan kebohongan kepada anak." ucap Bella.


"Aku serius, tidak berbohong."


"Kakak sudah gila, apa kata Gina kalau kita jalan-jalan bertiga. Aku tidak mau." ujar Bella sambil melotot ke arah Bima.


Sudah lama aku merindukan ekspresi mu yang seperti itu Bel. batin Bima.


"Tante cantik tenang saja, mommy aku tidur. Jadi engga akan tahu." jawab Gibran.


"Gibran kamu tidak boleh seperti itu, nanti mommy mu sedih. Sepintar apapun kebohongan yang disembunyikan, pasti akan terbongkar." ucap Bella dengan lembut.


"Tapi mommy ngga akan tahu Tante, mommy tidurnya nyenyak."


"Gib--."


"Yang dikatakan Gibran benar, Gina tertidur dengan sangat pulas. Bahkan sampai kapan pun dia tidak akan terbangun." jawab Bima, saat Bella hendak berbicara kepada Gibran.


Deg.


"M--maksudnya?" Bella tidak percaya dengan ucapan Bima.


"Besok kita jalan-jalan ya Tante, sekalian ke tempat tidurnya mommy. Kita lihat Mommy sama-sama ya." ujar Gibran dan langsung memeluk Bella.


Deg.


Ada desiran aneh saat Gibran memeluk dirinya, Bella merasakan kasih sayang yang luar biasa dari anak ini.


Bella membalas pelukan Gibran, dan mengusap kepala anak itu dengan sayang.


"Tante, aku boleh tidur disini bareng tante cantik?" tanya Gibran kepada Bella.


"H--Hah?"


"Tentu boleh sayang, tidurlah bersama dengan tante cantik." jawab Bima cepat.


"Yeayy, terus nanti Daddy tidur dimana?" tanya Gibran.


"Daddy tidur di sofa." ucap Bima sambil menunjuk ke arah sofa di dalam ruangan.


"Kenapa tidak bareng disini saja? Inikan lega Daddy."


Astaga anak ini. batin Bima dan Bella.


"Gibran, Daddy harus menjaga kalian berdua. Jadi Daddy akan tidur di sofa, untuk memastikan kalian aman. Agar tidak ada penyusup yang masuk ke dalam ruangan."


"Oh gitu ya dad, yauda deh. Aku mau tidur bareng tante cantik. Dadah Daddy, selamat malam." ujar Gibran.


"Iya sayang, selamat malam."


Cup.


Bima mengecup kening putranya, dan langsung menuju ke sofa. namun tertahan oleh ucapan Gibran.


"Daddy, kok tante cantiknya ngga dicium juga?" tanya Gibran.


Bima menatap Bela yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus, Bima menyunggingkan senyumnya, bahkan dulu dia sering mengecup kening Bella sebagai bentuk kasih sayang kakak terhadap adiknya.


Bima mendekat ke arah Bella dan...


Cup.


setelah itu Bima langsung pergi menuju sofa, sedangkan Bella membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Bima. Gibran yang melihat itu merasa senang.


Ya ampun kak Bima, dia mencium kening ku? Aaaa mimpi apa aku semalam. batin Bella.


Mommy Iren sudah menikah, tidak masalah aku akan mencoba memiliki tante cantik agar menjadi mommy ku. batin Gibran.


Deg deg deg.


Jantung Bima tak karuan, padahal dulu dirinya sering mencium kening Bella. Namun mengapa saat ini rasanya begitu berbeda, seperti ada desiran aneh yang tercipta.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia ❤️.


Wahh besok udah puasa nih, selamat menjalankan ibadah puasa.

__ADS_1


__ADS_2