Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 80


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Airen panik saat menyentuh dahi salah satu anaknya yang terus saja menangis, ternyata anaknya demam tinggi. Airen dibuat panik, karena ini pengalaman pertamanya, wanita itu dibuat bingung untuk melakukan apa. Ini sudah larut malam, namun Hans belum pulang. Bahkan Airen tidak memegang ponsel dan juga uang, Eza membantu kakaknya dengan mengambil kompres untuk keponakannya.


"Kak ini sebaiknya dikompres dulu."


Airen mengambil kompresan dari tangan adiknya, tubuhnya bergetar hebat saat melihat malaikat kecilnya terus saja menangis. Sepuluh menit berlalu, panas di tubuh anaknya belum kunjung reda. Airen memutuskan untuk ke rumah sakit malam-malam seperti ini.


"Za, tolong jaga salah satu anak kakak ya. Kalau dia menangis susunya sudah kakak sediakan, kakak mau pergi ke rumah sakit." ucap Airen kepada adiknya.


"Tapikan ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kakak menunggu kak Hans?"


"Tidak Za, demamnya terlalu tinggi. Kakak takut anak kakak kenapa-kenapa, sudah ya kamu disini."


"Tapi kak, kakak naik apa?"


"Eza tidak usah khawatir, kakak pergi dulu."


Airen melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, sambil menggendong putri kecilnya. Airen setengah berlari untuk mencari bantuan, Airen terus berjalan sambil berharap ada seseorang yang akan menolongnya.


Oekk.. oeekk..


"Sabar ya nak, sebentar lagi kita sampai." lirih Airen, karena anaknya terus saja menangis.


Dari kejauhan terlihat ada seseorang yang sedang mengendarai motor, Airen melambaikan tangannya berharap orang itu dapat menolongnya untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit.


Orang itu berhenti tepat di depan Airen, kedua wanita itu saling tatap. "Mbak tolong saya." lirih Airen.


"Ada apa?" tanya wanita itu.


"Tolong antarkan saya ke rumah sakit, anak saya demam." ucap Airen memberitahu.


"Baiklah ayo naik, saya antarkan kalian."


"Terimakasih Mbak."


Akhirnya wanita itu pergi ke rumah sakit terdekat bersama-sama, Airen bersyukur karena ada seseorang yang menolongnya.


Saat telah sampai di rumah sakit, mereka langsung bergegas masuk. Airen membawa anaknya untuk segera mendapatkan perawatan yang intensif.


"Bu, tolong selesaikan administrasinya lebih dulu." ujar perawat.


"Saya janji akan membayarnya, tapi tolong selamatkan anak saya lebih dulu." lirih Airen, karena dia tidak membawa uang sepeser pun.


"Sus tolong selamatkan anaknya, saya yang akan menyelesaikan administrasi nya." ucap wanita yang menolong Airen.


"Yasudah kalau gitu silahkan ibu ke sana untuk menyelesaikan administrasinya, dan Ibu ayo ikut saya." ucap perawat itu.


Airen bersyukur karena dipertemukan dengan wanita baik, Airen dan perawat itu segera menuju ruangan dokter untuk memeriksa keadaan anak Airen.


***


Hans pulang ke apartemen pukul 23.00 malam, dia langsung ke kamarnya untuk melihat anak dan istrinya. Namun Hans hanya melihat Eza yang tertidur di samping salah satu anaknya, dimana istri dan satu anaknya lagi?


Hans menuju dapur, namun tetap tidak ada. Hans sedikit panik, dimana istrinya berada? Hans mencari istri dan anaknya ke semua penjuru ruangan. Hingga akhirnya Hans memilih untuk membangunkan Eza.


"Za bangun, Za dimana kakak mu?" tanya Hans.


Eza menggeliat, mengucak-ngucak matanya mengumpulkan kesadarannya. Eza menatap Hans, dia langsung teringat dengan kakaknya tadi yang pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kak Hans, tadi kak Airen pergi ke rumah sakit sendirian. Karena satu keponakan ku demam tinggi." ucap Eza memberitahu.


Deg


Apa!


"Ke rumah sakit mana Za?" tanya Hans khawatir.


"Ngga tau kak, tadi kakak pergi sendirian. Aku disuruh jaga keponakan ku yang ini."


"Kamu tunggu disini oke, jangan kemana-mana. Ini ambil ponsel kakak mu, kalau ada apa-apa hubungi kak Hans lewat ponsel itu ya." ucap Hans, sambil menyerahkan ponsel Airen yang tadi dia bawa dari mansion.


Hans segera mencari keberadaan istrinya, laki-laki itu membawa mobilnya menuju rumah sakit keluarga Mikhailov. Berharap istrinya ada di sana.


Tidak butuh waktu lama untuk Hans sampai di sana karena laki-laki itu membawa mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, Hans akhirnya sampai di rumah sakit. Dia tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit, dan langsung bertanya kepada resepsionis apakah melihat istrinya ke sini.


"Apa istriku ke sini?" tanya Hans.


Resepsionis itu menggeleng, "Tidak tuan, nyonya Airen tidak ke sini." ucapnya.


Hans semakin panik, kemana Airen membawa anaknya untuk diperiksa. Saat Hans melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, berbarengan dengan Bima yang baru saja hendak pulang.


"Hans!" panggil Bima.


Hans menoleh ke arah kakaknya, Bima segera menghampiri Hans. "Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Bima


"Istri dan anak ku pergi ke rumah sakit, tapi aku tidak tahu ke rumah sakit mana."


Apa!


"Kau itu jadi suami dan ayah bodoh sekali, bagaimana bisa anak dan istrimu ke rumah sakit sedangkan kau tidak tahu?"


Bima nampak berfikir, "Ayo, aku tahu rumah sakit mana." ujar Bima sambil menarik lengan adiknya.


Hans pasrah saja, mereka berdua pergi berbarengan untuk mencari Airen dan anaknya.


***


Airen menatap wajah anaknya yang sudah tertidur pulas, demamnya sudah sedikit turun. Dokter meminta agar anaknya di rawat dua hari disini, Airen pun menyetujuinya.


"Bagaimana kondisi anak mu?" tanya wanita yang menolong Airen.


"E--eh mbak, Alhamdulillah sudah membaik. Terimakasih atas bantuannya, saya janji akan ganti uang mbak." ujar Airen.


"Tidak usah, aku ikhlas. Kalau begitu aku pamit pulang ya, ini sudah larut malam." ucapnya meminta izin.


"Tunggu dulu mbak, nama mbak siapa?"


Wanita itu tersenyum, mereka bahkan belum sempat berkenalan. "Saya Bella."


Deg


Airen langsung teringat akan pesan Gina yang hadir dalam mimpinya saat dia koma, nama yang sama seperti yang Gina sebutkan waktu itu. Apa ini Bella yang sama juga?


"Kamu?" tanya Bella menyadarkan Airen dari lamunannya.


"Saya Airen, sekali lagi terimakasih banyak ya mbak atas bantuannya. Kalau mbak tidak ada, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan putri saya." ujar Airen.


"Iya sama-sama Ren, oiya nama anak kamu siapa?" tanya Bella penasaran.

__ADS_1


Airen nampak diam, "B--belum diberi nama." jawab Airen.


Siapa sih suami wanita ini? Benar-benar keterlaluan sekali, anaknya sakit bahkan tidak diantar ke rumah sakit. Bahkan istrinya tidak diberi uang sedikit pun, dan bahkan dia belum memberi nama untuk anaknya. Dasar laki-laki. batin Bella kesal.


"Lho kenapa belum diberi nama? Anak mu sepertinya sudah ada sebulan kan usianya?"


"Masih bingung memilihnya." jawab Airen asal, padahal dia juga kesal dengan suaminya karena belum memberikan nama untuk anaknya.


"Oh seperti itu, yasudah saya pulang ya."


"Apa tidak sebaiknya mbak tidur disini saja? Besok pagi baru pulang, ini sudah sangat larut mbak." ucap Airen menyarankan.


Benar sih ini sudah sangat larut, aku bahkan masih trauma dengan kejadian waktu itu. batin Bella.


"Kalau kamu tidak keberatan sih saya mau."


"Tidaklah, ayo mbak kita tidur di sofa tidak apa kan?"


Bella terkekeh pelan, "Ngga apa-apa, kan memang sudah seperti ini kalau di rumah sakit."


Airen tersenyum kikuk, memang benar sih kecuali di ruang rawat VIP mungkin ada fasilitas lebih dari ini.


***


"Pasti istrimu ke rumah sakit ini." tebak Bima saat mereka telah sampai di depan rumah sakit.


"Kenapa bisa berpikiran seperti itu?"


"Kau ini ternyata semakin bodoh ya Hans, ini rumah sakit yang paling dekat dengan apartemen mu. Dia pasti ke sini."


Hans hanya mendengus kesal, dia langsung menanyakan kepada resepsionis tentang keberadaan istrinya.


"Dimana istriku?" tanya Hans to the point.


Astaga Hans kau semakin bodoh. batin Bima.


Pletak


"Mana dia tahu dimana istrimu, sebutkan saja nama anak mu." ujar Bima menyarankan.


"Aku belum memberi nama untuk anak ku." jawab Hans.


Apa!


Bima sampai ternganga dibuatnya, Bima menarik nafasnya pelan. Kemudian dia yang bertanya kepada resepsionis, "Apa tadi ada wanita kesini dengan membawa anak bayi karena demam?" tanya Bima.


"Oh ada tuan, di ruang rawat nomor xx."


"Oke terimakasih."


Hans dan Bima berjalan mencari ruang rawat yang disebutkan resepsionis tadi, Bima tidak habis pikir dengan Hans kenapa adiknya sekarang menjadi bodoh seperti ini.


"Kau ini Hans, benar-benar tidak dapat diandalkan."


"Ck diamlah, aku hanya pusing dan lelah." ujar Hans beralasan.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2