Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 32


__ADS_3

(TONGKAT SAKTI)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Dikeluarga Mikhailov nampak riuh dengan kegaduhan yang terjadi, yang disebabkan oleh Gibran. Anak berusia empat tahun itu menangis histeris, karena ingin bertemu dengan Airen.


"Hikss.. Daddy jahat! Kapan Daddy ajak aku bertemu dengan Mommy." Gibran terus saja meminta ingin bertemu dengan Airen.


"Sayang, kamu sabar ya. Daddy kan udah janji sama Gibran, dan itu pasti Daddy tepatin. Tapi ngga sekarang, Gibran sabar dulu ya." Bima berusaha menangkan putra semata wayangnya itu.


"Kamu sih Bim, segala pake janji sama anak." ucap Raja.


Dasar kakak idiot, bukannya membantu malah memojokan seperti ini. batin Bima geram.


"Yahh Gibran payah. gitu aja nangis huh, cengeng bangat." celetuk Eranson.


Ratu langsung mencubit pelan anaknya, mulutnya benar-benar pedas sekali. Gen ayahnya begitu melekat pada diri Eranson.


Mas Raja! seharusnya sewaktu aku hamil Eranson. Aku amit-amit agar anakku tidak tertular seperti mu. batin Ratu menatap ke arah Raja.


Gibran menatap kesal dan marah kepada kakaknya, matanya menandakan kilatan amarahnya. Semua orang nampak tercengang dengan tatapan tajam yang diberikan Gibran.


"Stop kak Eran! aku ndak cengeng. Aku hanya mau Mommy! Kak Eran punya Mamah Ratu, aku juga mau Mommy!! Mau Mommy!" teriak Gibran dengan sangat keras.


Deg.


Hati semua orang langsung dibuat lemas dengan amarah yang diluapkan Gibran, terlebih Hellena dan juga Bima.


Gina, lihatlah aku bahkan tidak bisa membesarkan nya tanpa mu. Gina, aku membutuhkan mu. Kenapa? kenapa kamu harus pergi. Aaaaaaaaa. hati kecil Bima berteriak tak rela dengan kepergian sang istri, yang meninggal setelah sebulan koma akibat melahirkan Gibran.


"P--pih." ucap Hellena pelan dengan mata yang sudah siap meneteskan buliran airmatanya.


William menarik istrinya ke dalam dekapannya, dengan kasar William menghembuskan nafasnya. Sungguh berat kisah tentang anak-anaknya.


"Semunya peulgi dari sini." ucap Gibran dingin dan datar. terkadang Gibran masih terpeleset menyebut huruf R menjadi L.


"Keluarlah semuanya." ucap Bima.


"Daddy juga!" ujar Gibran.


H--Hah?


Raja ingin sekali menertawakan adiknya, namun dia masih bisa mengontrol tak enak hati kepada Bima. Dengan lesu semuanyaa keluar dari kamar Gibran.


Setelah semuanya keluar, Gibran langsung mengambil foto alm ibunya yang ada di dalam laci. Dengan sayang Gibran mendekap foto itu, dia menumpahkan tangisnya.


"Hikss.. Mommy, kenapa Mommy peulgi. Kata Daddy, aku anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada Daddy dan Mommy, tapi kenapa Mommy membiarkan Daddy menjaga dan merawat anugerahnya seundilian." tangis Gibran pecah, dipeluknya foto sang Ibu.


🌹🌹


Hans menjalani hari barunya, meskipun dia masih belum bisa tidur satu ranjang dengan Airen namun tak mengapa. Hans tahu, istrinya masih membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat menerimanya sepenuh hati.


Flashback On.


Setelah selesai makan malam, Eza dan Hans membersihkan piring kotor bekas mereka makan. Kemudian Eza langsung masuk ke dalam kamar sebelah.


"Za, kalau kamu tidur di kamar itu. Kakak tidur dimana?" tanya Hans.


Eza menatap aneh kepada kakak iparnya itu.


"Kak Hans gimana sih, kan udah nikah sama kak Iren jadi harus tidur barengan. Yauda aku mau tidur duluan, ngantuk. Selamat malem kakak." ucap Eza kepada Hans dan juga Airen.


"Ez--." belum sempat Airen berbicara, namun pintu kamar nya sudah ditutup oleh Eza.


Hans menatap istrinya, sedangkan Airen berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya.


"Cahya, ayo kita tidur." Hans langsung menarik tangan istrinya yang ternyata sangat dingin akibat gugup.

__ADS_1


Hans membawa Airen ke dalam kamar sebelah, saat diambang pintu Airen memberhentikan langkahnya.


"A--aku, aku mau tidur di sofa saja." ucap Airen sambil menunduk.


Hans mengulas senyumnya, dia tak menggubris ucapan Airen. Hans tetap membawa masuk Airen ke dalam kamar, dan mendudukan Airen di tepi ranjang.


"Aku ngga akan membiarkan kamu tidur disofa, aku tidak ingin jika tidur kamu tidak nyenyak. Biar aku saja yang tidur disana, dahh selamat malam." ucap Hans, dia pun langsung mengambil satu bantal dan membawanya keluar.


Flashback Off


Hans terbangun, dia mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk. Hans menguap, dan membuka matanya perlahan. Dilihatnya, diri dia yang tengah memakai selimut.


Bukankah semalam aku hanya mengambil bantal? batin Hans.


Hans pun merubah posisinya terduduk, dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. untuk menghilangkan rasa pegal dilehernya.


"Badan ku menjadi pegal-pegal seperti ini." gumamnya.


Sedangkan Airen sudah bangun lebih dulu daripada Hans, Airen menyiapkan sarapan untuk suami dan adiknya. Karena Airen sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba menerima kehadiran Hans.


Airen keluar dari dapur, pandangan matanya bertemu dengan mata Hans yang menatap ke arahnya. Hans tersenyum melihat rambut istrinya yang basah.


Tak sabar ingin membuat mu keramas setiap hari. batin Hans.


Airen langsung memutuskan kontak matanya, dia bergegas mengetuk pintu kamar Eza.


"Za, ayo sarapan."


"Bentar kak, ini hari minggu. Aku ngantuk mau lanjut tidur aja." teriak Eza dari dalam kamar.


Grep


Hans memeluk Airen dari belakang, dan melingkarkan tangannya diperut sang istri. Airen dibuat terkejut oleh tingkah Hans, namun dia berusaha tetap tenang. Hans mendusel-dusel ceruk leher istrinya, dia membisikan beberapa kata ditelinga Airen.


"Selamat pagi istriku." bisik Hans ditelinga Airen.


Bulu kuduk Airen terasa meremang, semua bulu-bulu halus yang ada ditangannya seketika bangun. Ada perasaan aneh yang mengalir di dalam darah Airen. Kakinya terasa lemas.


"Tuan---."


"Sssttt, mau dikasih hukuman?"


"M--Mas, lepasin?" ucap Airen terbata.


"Biarkan seperti ini dulu, kamu harus sering bersentuhan dengan ku. Agar rasa trauma mu menghilang." ujar Hans yang masih menempelkan wajahnya diceruk leher sang istri.


"Sebaiknya m--mas mandi, dan kita sarapan ya." Airen sedikit gugup saat memanggil Hans dengan sebutan Mas.


"Mandiin ya." ucap Hans dengan manja, serta meniupkan nafasnya ke leher Airen.


Seketika tubuh Airen menggeliat, akibat deru nafas yang menerpa kulit lehernya. Hans tersenyum puas.


Bugh


Airen memukul kuat perut Hans dengan siku nya, Hans langsung memegangi perutnya yang terasa sakit.


Astaga aku lupa, istriku sangat agresif. batin Hans.


"Awwhhh, sakit sayang." rengek Hans dengan manja.


Airen benar-benar malu, karena tubuhnya tadi merespon begitu cepat. Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintunya. Airen memegangi dadanya yang berdebar begitu kuat.


Arghhh, memalukan sekali. batin Airen.


"Lain kali, tak akan ku lepaskan mu." gumam Hans dengan tersenyum.


***


Hans sudah selesai mandi, namun dia lupa mengambil handuk. Hans berteriak memanggil istrinya, untuk dimintai tolong.

__ADS_1


"Sayang, Cahya." teriak Hans dari dalam kamar mandi.


Astaga, apa dia tidak mendengar ku? batin Hans.


Karena dapur lumayan jauh dari kamar, mungkin teriakan Hans dari dalam kamar mandi terdengar samar-samar.


Hans membuka pintu kamar mandi sedikit, dia kembali meneriaki nama istrinya. Namun Airen tak kunjung datang, Hans pun dengan santainya keluar dari dalam kamar mandi tanpa sehelai benang pun.


Namun Hans dibuat terkejut dengan kedatangan Airen yang sudah tepat berada di depan pintu dapur, Airen berteriak histeris saat melihat tongkat sakti milik suaminya yang bergelantungan.


"Aaaaaaaaaaa." Airen berteriak dengan sangat kencang, dia reflek menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Sedangkan Hans mematung ditempat, dia bingung sendiri untuk melakukan hal apa. Hans dikejutkan dengan suara Eza yang kian mendekat ke arah dapur.


"Kakak ada apa?" ucap Eza sambil berjalan menuju dapur.


Hans langsung menarik tangan Airen dan mendekapnya begitu erat agar tubuhnya tertutupi oleh Airen, sedangkan Airen dibuat melongo kala tongkat ajaib itu menempel pada dirinya.


Airen hendak memberontak namun Hans langsung memperingatinya.


"Jangan bergerak, atau dia akan bangun." ucap Hans ambigu.


H--Hah? siapa yang bangun?. batin Airen.


"K--kakak." Eza membelalakkan matanya saat melihat kakak dan juga kakak iparnya tengah berpelukkan.


Eza! batin Airen yang mendengar suara adiknya.


"M--maafkan aku, aku tidak bermaksud unt--."


"Pergilah." ucap Hans kepada Eza, padahal Hans juga malu jika Eza melihatnya dalam keadaan tidak memakai baju.


Eza langsung pergi begitu saja.


Hufhhh..


Hans sedikit lega, karena adik iparnya telah pergi. Namun Hans tersenyum senang, karena Airen masih diam membeku ditempat.


"T--Tuan."


"Apa sayang? coba ulangi."


"M--Mas, l--lepasin." ucap Airen terbata.


"Apanya?" Hans sengaja memancing Airen.


"Ishhh nyebelin! Lepasin aku." ucap Airen dengan sebal.


"Oke." Hans langsung melepaskan Airen dari dekapannya. Dia pun sedikit menjauh, Airen kembali berteriak karena melihat ukuran tongkat yang bertambah besar.


"Aaa-- Mmmm." Hans langsung membekap mulut Airen yang hendak kembali berteriak.


"Tck, diam sayang. Nanti Eza datang lagi." ucap Hans yang masih belum melepaskan bekapannya.


"Kamu kenapa sih teriak-teriak, udah pernah ngerasain juga." celetuk Hans.


Airen langsung menggigit tangan Hans yang masih berada di mulutnya.


"Awwhhh." ringis Hans.


"Dasar Mesum!" Airen langsung berbalik badan.


"Tunggu didalam kamar mandi, aku akan mengambilkan handuknya." ucap Airen dia pun pergi dari sana.


Astaga kenapa bisa sebesar itu. batin Airen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nanti kau akan ketagihan dengan senjata ku ini. Aaarrghh tak sabar rasanya." ucap Hans sedikit prustasi. Dia pun kembali masuk ke dalam kamar mandi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2