Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 13


__ADS_3

(BABAK BELUR)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen sedang dirawat di rumah sakit, Hans merasa prustasi dan bersalah. Dia benar-benar tidak tahu harus apa.


'Kenapa harus seperti ini?' batin Hans.


Cklek..


Pintu ruangan terbuka, dokter telah selesai memeriksa keadaan Airen.


"Dok bagaimana dengan keadaannya?" tanya Hans pada dokter wanita itu.


"Dia mengalami kekerasan s*ksual, terjadi pembengkakan di bagian sensitif nya. Pasien juga mengalami depresi, kemungkinan besar juga akan mengalami trauma berat. Dukungan dari keluarga nya sangat penting untuk saat ini." Dokter itu menjelaskan semua detailnya pada Hans.


"B--baik Dok, terimakasih. Apa saya sudah boleh melihat nya?" tanya Hans.


"Masuklah Tuan, kalau begitu saya permisi."


Dokter itu pun pergi meninggalkan Hans yang masih berdiri di ambang pintu, dia ragu untuk masuk atau tidak. Setiap kali melihat Airen, rasa bersalah nya kian membuncah.


Perlahan akhirnya Hans masuk ke dalam ruangan Airen, dia benar-benar khawatir akan kondisi Airen saat ini.


Hans menatap kondisi Airen yang sangat mengenaskan, pria ini benar-benar merasa bersalah. Karena meskipun dia adalah orang yang berkuasa, Hans tak pernah mempermainkan wanita dalam bentuk apa pun.


'Cahya, aku harus bagaimana? agar kamu bisa memaafkan kesalahan yang telah aku lakukan. Bagaimana cara nya menghilangkan rasa benci kamu. Aku benar-benar tak sanggup jika kamu membenci ku.' batin Hans.


"Ughh.." kesadaran Airen mulai pulih, dia membuka mata nya perlahan.


"Cahya, syukurlah kamu sudah sadar." ucap Hans.


Airen terkejut dengan kehadiran Hans di sampingnya, dia mulai memberontak. tak suka dengan kehadiran Hans di sisinya.


"Hikss.. Lo mau apa hah! pergi sana! pergiiiiiii!!!" teriak Airen pada Hans.


Hans menatap sendu ke arah Airen, tangisan wanita itu perlahan menggerogoti seluruh relung hati nya.


"Hiks.. Gue benci sama Lo! pergii brengs*k!" ujar Airen, dia benar-benar ketakutan terhadap Hans.


"C--Cahya, tolong maaf---."


"Gue ga butuh maaf Lo, cepet pergi dari sini anj***!" Airen benar-benar tak terkendali, rasa benci dan takut nya pada Hans kian menggebu.


Hans memilih untuk keluar dari ruangan, laki-laki 27 tahun itu menangis di ruang tunggu.


Kesalahan terbesar dalam hidup nya adalah mengambil kehormatan seorang wanita.


"Aku harus menikahi Cahya!" gumam Hans, dia langsung menghapus Isak tangis nya.


Hans tahu, pasti Kakak nya tak akan terima dengan semua ini. Terlebih juga Gibran, sebenarnya Hans juga tak ingin melukai banyak hati seperti ini. Jika waktu dapat di ulang, dia tidak akan pergi ke club bersama Barra. namun sayangnya takdir membawanya seperti ini.


Hans memutuskan untuk pulang dahulu, dia ingin membersihkan seluruh tubuh nya. Dan memberitahu pada ibu dan ayahnya, bahwa dia akan menikah dengan Airen.


"Suster, tolong jaga pasien di ruangan ini. Kalau terjadi sesuatu hal, segera kabari saya." ucap Hans.


"B--baik Tuan."


🌹🌹🌹


Hans telah sampai di rumah, dia melangkahkan kakinya dengan perlahan. Pandangan Hans tertuju ke arah keluarga nya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Uncle!!" Gibran dan Eranson berlari ke arah Hans, dan memeluk nya dengan erat.


Hans hanya tersenyum menanggapi dua keponakan nya. Hellena menghampiri mereka.


"Kasihan Uncle nya baru balik, ayo sebaiknya kalian bermain saja. Oma mau berbicara dengan uncle." ucap Hellena.


"Otey Oma, Oke Oma." ucap Gibran dan Eranson bersama, mereka lalu pergi bermain di ruang keluarga.


"Hans, kamu dari mana saja Nak? kenapa semalam tidak memberitahu Mamih kalau kamu nggak pulang." ujar Hellena.


Hans menatap sedih ke arah sang Ibu, kepercayaan yang Ibu nya titipkan kini ia khianati. Hans merasa bersalah dengan sosok wanita di hadapan nya ini.


Hans menarik nafas berat, lalu dia mengatakan.


"Maafkan aku Bu, ponsel ku lobet. Aku akan pergi sebentar untuk membersihkan diri, setelah itu ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Ibu dan juga ayah." ucap Hans.


"Ada apa Hans, Kamu lagi ada masalah? wajah mu terlihat sedih dan lesu." ujar Hellena.


"Tidak apa-apa Mih."


Hans langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri nya, dia tak ingin terlihat menyedihkan seperti itu dihadapan Ibunya.


🌹🌹🌹


Hans turun, dengan wajah yang sudah terlihat segar. Dia menghampiri Hellena dan William.


"Mih, Pih. aku mau bicara." ucap Hans.


Hellena dan William saling pandang, mereka pun mengangguk iya.


"Ratu, tolong jaga anak-anak sebentar." ujar Hellena kepada menantu pertama nya.

__ADS_1


"Iya mah."


Hans memilih untuk berbicara di halaman belakang rumah, pikiran nya benar-benar sangat kacau.


"Ada apa Hans?" tanya William kepada anak bungsu nya.


"Aku akan menikah."


"Apa?!" kaget Hellena dan William bersamaan.


"S--sama siapa Hans?" tanya Hellena penasaran, di lain sisi dia bahagia karena anak nya memutuskan untuk menikah.


Namun William yang tau betul dengan karakter putranya, menatap heran. Kenapa dia tiba-tiba ingin menikah, padahal sebelumnya dia mengatakan tidak ingin menikah.


Hans menarik nafasnya dalam-dalam, dia memberanikan diri untuk mengutarakan semua perasaannya.


"Airen Cahya Senjani." jawab Hans.


"Apa! Wanita yang dipanggil Mommy oleh Gibran?" tanya Hellena tak percaya.


Hans hanya menganggukan kepalanya, sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan sang Ibu.


"Ta--Tapi Hans. Bukankah Kakak mu akan menikahi nya?"


"Aku minta maaf Mih, tapi ini sudah menjadi keputusanku." ucap Hans.


"Tapi apakah Airen mencintai mu? bersedia menikah dengan mu? Papih harap kamu tidak memaksakan kehendak mu." ujar William.


'Aku tahu, Airen pasti menolak. Tapi aku tidak ingin menjadi laki-laki brengs*k yang tidak bertanggung jawab.' batin Hans.


"Aku yakin, kalian akan mendukung penuh atas keputusan ku."


"Bawa kami menemui Airen!" ucap William, karena dia ingin bertanya pada Airen secara langsung. Dia tak ingin membuat kedua putra nya saling bersiteru.


Hans mengangguk.


🌹🌹🌹


Di rumah sakit.


Hans, Bima, Hellena dan juga William datang bersama ke rumah sakit. untuk meminta keputusan Airen.


"Hans, kenapa ke sini. Apa Air sedang sakit?" tanya Bima, namun Hans memilih untuk diam tak menjawab.


Mereka menuju ruangan Airen, namun saat sampai di sana ruangan itu kosong. Hans dengan panik bertanya kepada suster.


"Sus, pasien yang saya titipkan kemana?" tanya Hans dengan panik.


"Maaf Tuan, tadi pasien mencoba untuk melakukan tindakan bunuh diri. Untung saja ada suster yang melihat hal itu, dan sekarang pasien sedang di larikan ke UGD. untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut." ucap Suster itu.


Jedar..


"Kenapa Airen sampai nekat ingin melakukan bunuh diri?" tanya Bima pada Hans.


Hans bergeming, dia tak menjawab pertanyaan sang kakak. Pikirannya kalut memikirkan tentang keadaan Airen saat ini.


"Jawab Gue!" Bima menarik kerah baju Hans.


William menahan Bima, agar tidak melakukan tindakan kekerasan di rumah sakit.


"Bim, lepasin adik kamu! kita bisa bicarakan ini baik-baik." ucap Hellena.


"Pasti Airen diancam oleh dia Mih! Lo apa-apaansi Hans. maksa orang buat nikah sama Lo! Gue pastikan Airen akan menikah dengan Gue!" ucap Bima.


Hans tersenyum smrik, menatap tajam kepada sang kakak.


"Lo nggak akan bisa pisahin Gue sama Airen!"


"Gue bisa!"


"Lo nggak akan bisa!"


"Gue pastikan, Gue bisa!"


"Lo nggak akan bisa! Karena Gue dan Airen sudah melakukan hubungan lebih. Bahkan hasil dari hubungan itu bisa menimbulkan seorang anak!" teriak Hans.


Dia sudah tersulut emosi oleh kakak nya yang tak mau mengalah.


"Apa?!" kaget mereka bertiga.


Hellena terjembap ke lantai, sesak rasanya mendengar penuturan anak nya. William berusaha untuk menahan Hellena agar tak terjatuh ke lantai.


"Dasar baj***an."


Bugh! Bugh! Bugh!


Bima memukuli Hans tanpa ampun, namun Hans enggan untuk memukul balik. Karena dia tahu, dia bersalah dan pantas mendapatkan hal ini.


"P--pih pisahin mereka!" ucap Hellena.


Namun William enggan untuk memisahkan Bima dan juga Hans. karena bagi William, Hans pantas untuk mendapatkan itu.


Hans sudah babak belur, bahkan dia hampir kehilangan kesadaran nya. Namun untung saja, ada beberapa suster dan orang-orang di sana yang memisahkan mereka.


"Maaf Tuan, jangan mencari keributan di sini!" ucap salah satu suster itu.

__ADS_1


"Bubar! saya pastikan mereka tidak akan berkelahi lagi." ucap William


semua orang bubar, menyisakan Hans dan Bima yang saling bertatap tajam. Hans masih duduk lemas di lantai, dengan wajah yang sudah bonyok akibat pukulan yang dilayangkan oleh Bima ke wajah nya.


Nafas Bima memburu, dia benar-benar emosi dengan adiknya.


"Gue nggak habis pikir, bisa-bisa nya Lo merenggut kehormatan seorang wanita! Kalo Lo cinta sama Airen, nggak kayak gini cara nya! Lo berengs*k Hans!" ucap Bima.


Bugh!


Satu pukulan dilayangkan oleh Bima ke arah muka Hans, dahi dan sudut bibir Hans sudah mengeluarkan darah segar.


Saat Bima hendak melayangkan pukulannya kembali, namun ditahan oleh Barra dan juga Roni yang baru sampai.


"Tuan Bima, hentikan!" ucap Roni.


Barra hendak membantu Hans untuk berdiri, namun di tolak oleh Hans.


"Ngapain Lo kemari hah!" bentak Hans pada Barra.


"Gue tau Hans Lo marah, Gue minta maaf. Gue beneran nggak nyangka jika kejadiannya akan seperti ini." ucap Barra.


"Apa maksud mu Bar?" tanya Hellena.


"Om, Tante, Kak Bima. Saya minta maaf. Ini bukan salah Hans, tapi salah saya!" ujar Barra.


"Lo nggak usah belain temen Lo, yang brengs*k!" ucap Bima pada Barra.


"Saya nggak belain Hans, Kak. Tapi memang faktanya saya yang salah disini. Hans hanyalah korban, begitu pun Airen. Saya yang telah memasukan obat ke dalam minuman Hans, kemudian saya memesan seorang wanita untuk menjadi penghangat ranjang Hans, namun saat saya sudah mengunci pintu ruangan Hans. Wanita yang saya pesan baru tiba, saya tidak tahu kalau Airen lah yang ada di dalam sana." Barra menjelaskan panjang lebar.


Bugh!


Kali ini William yang memukul Barra, dia tak habis pikir dengan anak muda satu ini. Hellena berusaha untuk memegangi suami nya, agar tidak memukuli Barra.


"Pih, hentikan!" ucap Hellena.


"Kalian berdua benar-benar brengs*k!" ucap William kepada Barra dan juga Hans.


"Lalu kenapa Airen bisa ada di club?" tanya Bima.


"Itu yang saya tidak tahu, kenapa Airen bisa ada di sana. Namun saya sudah mencari tahu, dan dia bisa menjelaskan semua nya." ucap Barra yang menunjuk ke arah Maya.


Mereka mengikuti arah tunjuk Barra, ternyata sedari tadi ada wanita yang tengah menyaksikan keributan mereka.


"Maya, cepat jelaskan!" ucap Barra.


"Ba--baik Tuan."


Akhirnya Maya pun menceritakan semua hal detailnya, mulai dari dia dan Airen yang mencari keberadaan adiknya. Hingga Airen yang tiba-tiba menghilang di malam itu.


Semua sudah jelas, Hellena nampak pening memegangi pelipis kepalanya. Dia tak habis pikir dengan kejadian ini.


"Hans." panggil Hellena dengan suara berat nya.


"Mih, tolong maafkan aku." ujar Hans, yang berlutut di bawah kaki ibunya.


"Bangun Nak, kau tak perlu meminta maaf pada Mamih. Minta maaflah pada Airen, dia pasti sangat trauma dan terpukul. Mamih setuju, jika kamu menikah dengan Airen." ucap Hellena.


"Mih, aku nggak setuju!" ujar Bima.


"Bim, mengalah lah pada adikmu. Biarkan Hans bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dia lakukan." ucap Hellena berusaha untuk memberikan pengertian kepada Bima.


"Baiklah, aku akan mengalah. Tapi jika suatu saat Airen terluka karena mu. aku tak segan-segan untuk merebutnya dari mu! Meskipun aku harus dikeluarkan dari kartu keluarga." ancam Bima pada Hans.


'Aku tak akan membiarkan wanita yang ku cintai menderita lagi, aku akan berusaha membahagiakan Cahya. Karena kalian sudah memberikan kepercayaan itu pada ku.' batin Hans.


"Hans, urus masalah mu sendiri! Papih, Mamih dan juga Kak Bima akan balik ke mansion. Kabari kami, jika keadaan Airen sudah membaik." ucap William, dan langsung beranjak pergi dari sana.


"Awas kau!" ujar Bima sambil menatap tajam adik nya.


"Hm."


"Tuan, sebaiknya anda obati luka nya terlebih dahulu." ucap Roni pada Hans.


"Tidak perlu! aku akan ke ruang UGD. untuk melihat Cahya." ucap Hans.


"Oh Iya, Ron kau pergilah ke rumah Airen. dan bawalah adiknya ke rumah ku, biarkan dia tinggal di sana bersama Gibran dan juga Eranson untuk sementara waktu." ujar Hans yang memberikan tugas kepada Ronni.


"Baik Tuan."


Saat Roni hendak pergi, namun Maya menahan nya.


"Tuan, tugas saya sudah selesaikan? saya ingin pulang." ucap Maya kepada Roni.


"Kau pulang dengan ku!" jawab Barra, dia yang sudah memaksa Maya untuk ke sini. jadi dia yang bertanggung jawab pada Maya.


"Tidak perlu, Tuan. saya pulang bersama Tuan Roni saja." ucap Maya.


"Kau harus nurut! kau ikut pulang bersama ku. Karena Roni harus menjemput adiknya Airen." ujar Barra.


"Berisik! Pergilah kalian." ucap Hans.


Mereka semua langsung pergi dengan tergesa-gesa, takut jika melihat kemurkaan Hans disini.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2