Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 112


__ADS_3

Airen yang tidak tega dengan Hans, dia pun masuk ke dalam kamarnya sambil membawakan makan siang untuk suaminya itu.


"Mas, bangun dulu. Sudah waktunya makan siang." tutur Airen sambil menepuk pelan pipi Hans.


Hans yang masih pusing, dia perlahan membuka matanya saat mendengar samar-samar suara istrinya. "S--sayang, maafin aku." lirih Hans karena tadi sempat membentak istrinya.


Airen tersenyum, "Ngga apa-apa, aku juga minta maaf. Ayo bangun, ini makanannya nanti keburu dingin." Airen membantu Hans untuk duduk.


"Ini mas." Airen menyerahkan piring berisikan makanan kepada suaminya, agar Hans dapat menyuap sendiri.


"Suapin." pinta Hans.


Airen mengangguk tanpa protes, dengan lihai dia menyuapi suaminya. Hans terus memandangi wajah Airen, Hans masih belum tahu kesalahan apa yang telah dia perbuat?


"Sayang, kamu masih marah ya? Maaf yaa, aku beneran ngga bermaksud bentak kamu."


"Sudah jangan banyak omong, habiskan dulu mas."


"S--sudah aku kenyang." Airen pun menyudahi, dia meletakan piring itu ke atas nakas yang ada di samping tempat tidur.


Tidak sesuai ekspektasi Hans, padahal dia berpikir istrinya akan memaksa menyuapi makanan itu sampai habis.


"Minum obatnya mas."


"Ngga mau, kamu masih marah sama aku."


"Ngga mas, kasihan sekretaris kamu jauh-jauh nganterin obat buat kamu. Tapi malah ngga di minum."


Kini Hans tahu dimana letak kesalahannya, pasti karena sekretaris baru nya. Hans lupa untuk memberitahukan hal itu kepada istrinya.


"Kamu cemburu ya?" Airen menatap suaminya yang menanyakan hal itu, sudah tahu malah bertanya pula.


"Cemburu sama siapa?"


"Aku tahu kamu cemburu sama sekretaris yang mengantarkan obatkan, sayang denger ya. Aku tuh cintanya sama kamu, lagi pula dia itu cuma sekretaris sementara. Karena Roni sedang mengambil cuti, hei kamu itu jauh lebih segalanya dibanding dia, kenapa mesti cemburu." Hans mengelus lembut pipi istrinya.


"Wajar aku cemburu, lagi juga kamu ngga bilang kalau mau ganti asisten."


"Iya maaf aku salah, sudah ya jangan khawatir tentang itu. Hanya untuk sementara sayang."

__ADS_1


Airen mengangguk, untunglah hari ini suaminya sakit. Kalau tidak, mungkin saat ini suaminya sedang bersama sekretaris seksi itu. "Yasudah ini minum obatnya." Airen menyerahkan obat itu kepada Hans.


"Nggamau pait."


"Mas, jangan kalah sama Gibran. Masa sudah punya anak dua takut sama jarum suntik dan obat sih."


"Ngga takut, cuma ngga mau. Kalau ada hadiahnya sih aku mau."


"Oke, nanti aku kasih hadiah. Sekarang mas minum obatnya dulu." Airen membantu suaminya untuk meminum obat, Hans dengan pasrah mencoba minum obat namun dia tersedak karena obatnya tak kunjung turun.


Airen dengan segera meneguk air minum lalu menyalurkannya lewat mulutnya ke mulut suaminya. Hans yang kaget sontak meneguk air yang dikirimkan oleh istrinya dengan cara yang berbeda. Saat Airen merasa suaminya sudah meneguk obatnya, Airen menjauhkan dirinya namun tengkuk lehernya ditahan oleh Hans. Airen pasrah dan ikut menikmati aksi suaminya yang nakal itu, Hans melepaskan tautan bibirnya lalu tersenyum penuh kemenangan. "Makasih sayang."


"Sama-sama mas Hans yang nakal, dan itu sebagai ganti hadiahnya. Sudah kamu istirahat lagi, aku mau lihat anak-anak dulu." Airen beranjak keluar kamar, namun belum sempat dia melangkah Hans dengan sigap menarik tangan istrinya hingga Airen jatuh di atas tubuh Hans.


"Temani aku saja."


"Ngga! Kamu rusuh dan nakal. Lepas mas, kasihan anak-anak."


"Kamu ngga kasihan sama aku? Aku lebih butuh kamu." Hans masih setia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Oke aku akan temani kamu, tapi mas ngga boleh rusuh dan nakal. Pokoknya mas Hans harus tidur, biar cepat sembuh."


"Ngga janji." jawab Hans.


"Iya sayang temani mereka saja, aku ngga apa-apa sendiri."


Mulai drama lagi, duh kenapa jadi lebih manja mas Hans dibanding anak-anak sih. batin Airen.


"Uhh bayi besar ngambek, yasudah ayo sini aku temani." Airen merebahkan tubuhnya di samping Hans, karena kalau lama-lama diposisi tadi takut suaminya rusuh.


...***...


Hellena dan William baru pulang dari luar kota, dia langsung menghampiri cucu-cucunya. "Eza, Eran, Gibran, sini sayangnya Oma. nih Oma bawa oleh-oleh untuk kalian." teriak Hellena antusias karena dia sudah kangen berat dengan cucu-cucunya.


"Oma!!" teriak Eranson dan Gibran, lain dengan Eza yang santai menghampiri Oma Hellena.


"Oma kangen bangat sama kalian." Hellena memeluk Eranson dan Gibran, lalu bergantian memeluk Eza.


William menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang nampak antusias sekali, "Wah tidak ada yang kangen sama Opa?" tanya William.

__ADS_1


"Kangen dong." mereka bertiga lantas memeluk kakeknya itu.


Ratu dan Bella menghampiri Hellena, menyambut kedatangan ibu mertuanya itu. Mereka kompak mencium tangan Hellena dan William. "Lho Airen dimana?" tanya Hellena karena tidak melihat menantunya yang satu lagi.


"Ada di kama mah, lagi menemani Hans karena Hans lagi sakit."


"Apa! Hans sakit?" tanpa mendengar jawaban menantunya, Hellena langsung berlari menaiki tangga untuk melihat keadaan anak kesayangannya itu.


Hellena dengan tergesa-gesa berlari kecil menuju kamar anaknya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dia langsung masuk ke dalam kamar anaknya.


"Hans, kamu sakit ap--." Hellena sontak membalikkan tubuhnya, ini bukan waktu yang tepat untuk masuk ke dalam kamar anaknya.


Airen segera menjauhkan diri dari suaminya, sungguh dia malu karena ketahuan oleh mertuanya. "M--mama sudah pulang?"


Hans terkekeh pelan mendengar pertanyaan istrinya, Hans menarik Airen ke dalam dekapannya. "Aduhh Mamih bagaimana sih, menantunya sampai salah tingkah gini." tutur Hans.


Hellena membalikkan tubuhnya menatap tajam ke arah anak kesayangannya itu, "Kamu yang bagaimana? Apa-apaan kamu ini, bisa-bisanya menerkam istri mu disiang bolong gini. Lagi juga katanya kamu sedang sakit, seharusnya istirahat bukannya nyosor cium-cium istri." Hellena mengomel habis-habisan kepada putranya itu.


"Nanti kalau istri mu ikutan demam bagaimana hah, dasar anak nakal." Hellena berjalan mendekat ke arah Hans yang sedang memeluk istrinya, lalu Hellena dengan kencang menarik telinga putra kesayangannya itu.


"Aduhh Mih, sakit." Hans meminta ampun saat telinganya di tarik oleh sang ibu.


"Kamu nih nakal bangat ya, Airen sesekali kasih suami mu ini pelajaran. Sedang sakit, bisa-bisanya dia cium-cium kamu."


"Itu namanya asupan vitamin, kayak papih ngga gitu aja." ledek Hans, Hellena tahu sifat suaminya ini turun ke semua anak-anaknya.


"Ck sudahlah, mamih pikir kamu sakit kronis. Tadinya kalau kamu mati, mamih mau mencarikan suami baru untuk Airen."


Airen terkekeh pelan mendengar ucapan mertuanya, sedangkan Hans menahan rasa kesalnya. Terlebih istrinya itu menertawakan dirinya, "Yasudah, mamih mau ke bawah. Amira dan Amara pasti sama mbok Ti dan Ica ." Hellena beranjak keluar, tapi sebelum itu dia memberikan peringatan untuk Hans.


"Jangan lupa kunci pintu, kalau mau melanjutkan yang tadi." setelah itu Hellena menghilang dari pandangan Hans dan Airen.


Hans menatap istrinya, lalu mencubit pelan pinggang sang istri. "Aww sakit mas!"


"Berani kamu ngetawain aku hemm." Hans menggelitik perut Airen.


"Hahaha mas, ampun geli mas." Airen mencoba menyelamatkan dirinya.


"Ngga ada ampun, ayo kita lanjutkan yang tadi. Sepertinya aku sudah sehat kembali." ungkap Hans, lalu dengan segera menyerbu Airen.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, like dan hadiah ya. Terimakasih banyak semuanya.


__ADS_2