Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 14


__ADS_3

(PATAH HATI KARENA ADEK)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Sudah beberapa hari ini, Hans sibuk menemani Airen. Meskipun wanita itu terus memberontak karena tak ingin melihat wajah Hans. Namun untungnya, Hellena dapat memberikan ketenangan pada Airen.


Rasa bersalah terus menghantui Hans, dia tak kuasa melihat Airen yang seperti itu. Wanita yang biasanya ceria, kini harus menderita akibat kesalahan nya.


"Mih, aku titip Cahya. Maafin aku ya Mih." ucap Hans kepada Hellena.


"Iya Hans, nggak apa-apa sayang. Sebaiknya kita bawa Airen ke psikiater untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Mamih lihat, trauma dia benar-benar berat." ucap Hellena menyarankan.


"Iya Mih, aku juga berniat seperti itu." ujar Hans.


"Yauda kamu berangkat kerja, Mamih akan jagain Airen. setelah kamu pulang kerja, kita sama-sama mengunjungi psikiater."


"Iya, aku berangkat ya Mih. Assalamualaikum." ujar Hans.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati Nak."


Hellena masuk ke dalam ruangan, dia melihat Airen yang tengah menatap langit-langit. Pandangannya benar-benar kosong.


"Airen." panggil Hellena lembut.


"Hah, pergi lepasin!" ucap Airen tanpa sadar, saat namanya disebut.


"Nak, ini Tante. Hei tenanglah." ucap Hellena.


Airen bernafas lega saat melihat bahwa ternyata itu adalah Hellena, dia tersenyum ke arah Hellena dengan ramah.


"Maaf Tante." ucap Airen.


"Nggak apa-apa sayang, kamu udah makan? Tante suapin ya." Hellena menawarkan diri menyuapi Airen.


"Nggak Tante, aku kenyang." jawab Airen.


"Yauda, tapi nanti di makan ya."


Airen hanya mengangguk, sedangkan Hellena bingung harus memulai dari mana untuk berbicara mengenai masalah itu.


Saat mereka saling diam. Tiba-tiba Eza, Gibran dan juga Eranson datang mengunjungi ruangan Airen.


"Mommy! Kakak!" ucap Eza dan Gibran bersamaan, saat mereka hendak mendekat ke arah Airen. Namun dengan cepat Airen berteriak.


"Berhenti! jangan mendekat. Eza kamu pergi, kakak kotor hiks.." perasaan kelam malam itu, kian menyeruak ke dalam pikiran Airen.


Hellena merasa iba, saat mendengar jerit tangis Airen yang menggema di ruangan. Sedangkan Eza menatap heran, dan Gibran malah menangis histeris. Eranson hanya diam mengamati interaksi mereka.


"Hikss.. Mommy jahat! Mommy bentak aku hiks.. Daddy huaaaa."


'Astaga anak ini!' batin Hellena.


Airen menghentikan tangis nya, dia kebingungan melihat Gibran yang menangis sesenggukan.


"Nak, biarkan Gibran dan juga Eza memeluk mu." ucap Hellena.


"Nggak Tante! aku kotor." jawab Airen.


"Tante nggak kotor kok, perasaan baju yang Tante pake itu bersih. Lagi juga di rumah sakit mana boleh kalau pake baju yang kotor." ucap Eranson kepada Airen.


'Astaga, cucu-cucu ku.' batin Hellena, dia menepuk jidat nya melihat tingkah cucu-cucu nya.

__ADS_1


"Hikss.. Mommy"


"K--kakak." lirih Eza.


Airen tak kuasa melihat mereka dengan tatapan sendu, akhirnya Airen merentangkan kedua tangannya. Dia berusaha untuk menepis segala pikiran tentang kejadian malam kelam itu.


"Kemarilah." pinta Airen.


"Mommy! Kakak!" Gibran dan Eza memeluk Airen dengan kuat. Mereka merindukan sosok wanita yang satu ini.


"Kakak, aku kangen bangat sama kakak." ujar Eza, melepaskan pelukannya.


"Aku juga kangen bangat cama Mommy. Mommy cepet seuhat ya. Aku sama Daddy au ajak Mommy jalan-jalan nanti." ucap Gibran, yang masih memeluk erat Airen.


"Iya sayang, Kakak juga kangen sama kalian."


Hellena menatap teduh, melihat Airen yang sudah mulai mau berinteraksi dengan orang lain.


"Oma, peluk aku!" ucap Eranson, yang iri melihat kedekatan mereka.


"Ya ampun cucu Oma, sini sayang." Hellena merentangkan tangannya dan memeluk erat Eranson, cucu pertamanya.


🌹🌹🌹


Hans sedang bekerja di ruangannya, namun pikirannya melayang memikirkan Airen. Dia merindukan sosok wanita yang ceria, Hans tersenyum kecut membayangkan malam panas nya bersama Airen.


"Maafkan aku Cahya." gumam Hans.


Tok..Tok..Tok..


"Masuk!"


Cklek..


"Hm, baiklah."


"Tuan, bagaimana kondisi Airen?" tanya Roni.


Pertanyaan Roni, membuat Hans menatap tajam dirinya. Roni langsung kikuk dibuatnya.


"T--Tuan, saya hanya bertanya. Tidak ada niat apapun." ucap Roni menjelaskan.


"Hm, aku tau."


"Lalu kenapa Tuan melihatku seperti itu?"


"Aku hanya sedang melihat, apakah ada atau tidak kebohongan di wajah mu." ujar Hans.


"Iya, Tuan. yang penting, nanti jangan lupa untuk meeting, saya bingung dengan client yang terus menanyakan keberadaan Tuan Hans." Roni mengaduh peluh kepada Hans.


"Kau ingin ku potong gaji mu?"


"E--ehh jangan Tuan, Kan itu buat modal nikah Saya." ucap Roni.


"Tck, pergilah! kau membuat kepala ku semakin pening." ujar Hans.


Hans menarik nafasnya dalam-dalam, dia memejamkan matanya perlahan. Mencoba untuk tetap semangat ditengah-tengah kegelisahan yang ada. Hans benar-benar tak habis pikir, bagaimana cara nya agar Airen dapat menghilangkan rasa trauma akibat perbuatan yang dia lakukan. Hans segera menyelesaikan pekerjaan nya, agar dia dapat pulang lebih cepat.


🌹🌹🌹


Sedangkan di rumah sakit, Bima nampak lesu. Dia terus memikirkan tentang Airen, bahkan Bima tak menyangka jika adiknya melakukan hal itu. Meskipun dalam pengaruh obat, seharusnya Hans bisa menahan hasratnya.


"Arghh, kenapa harus seperti ini." lirih Bima.

__ADS_1


Bima bahkan tak menyadari kehadiran Rio di sisinya, sedari tadi pikiran Bima melayang memikirkan Airen. Tatapannya seakan kosong tak terarah, dia tak menyangka jika saat ini menjadi laki-laki yang menyedihkan seperti ini.


Bruk..


"Woii!! kesambet baru tau rasa Lo." Rio mengagetkan Bima dengan menggebrak meja yang ada di hadapan Bima.


"Astaghfirullah."


Bima nampak mengelus-elus dadanya, mencoba untuk menetralkan perasaan kagetnya. Bima menatap sebal ke arah Rio.


"Dasar kutu kupret! Gak bisa apa, nggak jail sama orang." ujar Bima.


"Enak aja, orang ganteng gini dibilang kutu kupret. Lah Lo dari setadi ngelamun aja." Rio langsung memposisikan dirinya untuk duduk di samping Bima.


Huuffhhhh..


"Lah bujug, tuh napas berat amad." ucap Rio yang mendengar Bima menghela nafas dengan panjang.


"Bisa diem gak? Kalau gak bisa, keluar!." ujar Bima.


"Bim, kalau ada masalah cerita sama Gue sini. Lo kenapa sih, lagi patah hati?" tanya Rio asal.


"Iya." jawab Bima.


"Pffttttt Haha Haha haha. Aduhh perut Gue sakit, Haha haha." Rio nampak tertawa puas, mendengar jawaban dari Bima.


Sedangkan Bima nampak memasang wajah datarnya, dan wajah tak suka terhadap Rio. Rio terus tertawa, sambil memukul-mukul lengan Bima tanpa sadar.


"Sakit anj!" hampir saja Bima berkata kasar kepada sahabat nya itu. Namun ia urungkan.


"Wihh santai Bro, seorang Bima Kyle Mikhailov patah hati? Gila sih, ini kabar hot yang pernah ada." ucap Rio.


"Lo mending keluar deh! ngerusak suasana aja."


"Ett santai dong, Gue mau tau Lo patah hati sama siapa, dan karena apa? kok bisa sih Lo patah hati? Atau jangan-jangan tuh cewek nggak mau sama duda anak satu. Haha haha." ujar Rio.


"Astaghfirullah. Lo udah kayak perempuan, nanya banyak bangat! satu-satu dong." ujar Bima.


"Enak aja! Ganteng kayak gini dibilang kayak perempuan. Udah tinggal jawab aja kenapa sih." Rio kesal karena dirinya diejek oleh Bima, yang mengatakan bahwa dia seperti perempuan karena banyak bertanya.


"Patah hati karena si Hans." jawab Bima dengan santai nya.


"Apa!?, Buset dah. Lo patah hati karena si kutub?" tanya Rio tak percaya, dia sampai terperanjat dari duduk nya. Rio nampak bengong.


"Hmmmm!!!!!"


"Nggak nyangka Gue, ternyata ada juga ya rebutan perempuan diantara saudara. Untung Gue anak tunggal." Rio bersyukur karena dia anak satu-satunya dan tak memiliki saudara, karena takut jika hal yang menimpa Bima harus menimpa dirinya.


"Wajar sih, kalo tuh cewek lebih milih si Hans. Secara si Hans tuh lebih muda dari pada Lo, lebih kaya dari pada Lo, lebih ganteng dari pada Lo, lebih Hot dari pada Lo, Lebih---"


Pletak..


"Aawww.. Sakit jir!" ucap Rio yang memegangi kepalanya akibat pukulan Bima.


"Mending Lo pergi deh! ngerusak mood Gue aja!" ujar Bima sambil menarik Rio agar pergi dari ruangannya.


Rio menahan Bima, agar tak mengeluarkan dia. Rio masih penasaran dengan cerita Bima, sebenarnya dia ingin menertawai Bima, karena patah hatinya disebabkan oleh adik kandung nya. Namun apa boleh buat, dari pada harus melihat sahabatnya marah-marah dia akhirnya keluar dari ruangan itu.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.

__ADS_1


__ADS_2