
(PERIHAL KETOPRAK)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Sinar matahari menelusuk masuk melalui jendela kamar yang saat ini ditempati oleh kedua pasutri yang baru saja mengadakan pesta pernikahan.
Airen bangun lebih dulu, dia mengulas senyum saat melihat wajah tampan sang suami yang masih terlelap nyenyak.
Maaf ya mas, aku belum bisa ngasih hak ke kamu sebagai seorang istri. Nanti aku coba untuk menghilangkan rasa takut itu. batin Airen yang merasa bersalah.
Airen tak bergeming, dia benar-benar menikmati wajah tampan sang suami. Tiba-tiba dirinya teringat akan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Kira-kira kalian mirip siapa ya? Bunda atau ayah. Aaaa tidak sabar menunggu kalian datang ke dunia, terimakasih karena telah hadir dan menjadi pengikat antara bunda dan ayah. Maafin bunda, karena dulu pernah sempat menolak kehadiran kalian." gumam Airen sambil mengelus perutnya yang sedikit sudah membuncit.
Krukk krukk.
Bunyi lapar dari perut Airen terdengar, wanita itu mengulum senyumnya. Dan segera memposisikan dirinya agar terduduk.
"Wah kalian sudah lapar ya? Kita nyarap apa ya." gumam Airen sambil memikirkan sarapan yang dia inginkan.
Ketoprak!
"Bangunin mas Hans ngga ya? Tapi kasihan, pasti dia sangat lelah. Tapi aku ingin ketoprak, aaaa bagaimana ini." gumam Airen.
Airen memandangi wajah suaminya, ada rasa tak tega untuk membangunkannya. Tapi dia sangat menginginkan ketoprak di pinggir jalan.
Hufhhh, ngga apa-apa kali ya ngebangunin suami sendiri? Inikan demi anaknya juga. batin Airen.
"Mas, bangun mas." ucap Airen sambil menepuk pelan wajah Hans.
"Ughh?" Hans menggeliat, sayup-sayup terdengar suara sang istri yang memanggil nya. Hans pun membuka matanya perlahan dan benar saja, Airen tengah menatap ka arahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Hans dengan suara yang masih berat.
"A--ano itu, aku ingin makan ketoprak." ucap Airen pelan.
"Nanti ya sayang, aku masih mengantuk." ujar Hans dia pun kembali menutup matanya.
Ihh nyebelin bangat sih, ngga ada perjuangannya pisan. batin Airen kesal.
Airen beranjak dari tempat tidur, dia melihat penampilannya yang ternyata masih mengenakan pakaian minim bahan. Airen segera bangkit ke kamar mandi, dia ingin membersihkan tubuhnya lebih dulu.
Setelah selesai Airen menuju ruang ganti, meskipun semalam tidak ada baju sama sekali. Namun dia yakin jika saat ini pasti sudah ada baju untuknya. Dan ternyata benar, di ruang ganti sudah tersedia beberapa baju untuknya.
"Ini aja deh, wih udah lama ngga make pakaian seperti ini." gumam Airen sambil menatap ke arah cermin.
Airen keluar dari kamarnya, dia menuju lantai bawah namun tidak ada orang hanya ada beberapa pelayan yang memang sedang bekerja.
"Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu menghampiri Airen.
"Tidak, kalian lanjutkan saja aktivitas nya. Mmm nanti kalau ada yang bertanya kemana saya pergi, bilang ya saya hanya keluar sebentar." ujar Airen memberi pesan.
"Siap nyah, kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya."
Airen hanya mengangguk, dia langsung keluar dari gedung itu. Dan mencari tukang ketoprak sambil berjalan kaki, Airen sungguh menikmati paginya yang seperti ini.
Airen menelusuri jalan sambil mengingatnya, agar nanti pas dia kembali tak nyasar. Sampai beberapa menit, akhirnya Airen melihat tukang ketoprak.
"Wahh itu dia, astaga kenapa aku sangat bahagia." gumam Airen sambil tersenyum lebar melihat penjual ketoprak.
Airen pun menghampiri warung ketoprak itu, sepertinya baru saja buka. Airen mengambil duduk di kursi pembeli.
"Pak, ketopraknya tiga porsi ya, makan disini." ucap Airen.
H--Hah tiga? Gadis ini ingin makan tiga porsi ketoprak? batin si penjual.
"Iya neng, pake semua neng?" tanyanya.
"Mmm, yang satu jangan pake tauge, yang satu jangan pake bihun sama tauge, yang satu pake semuanya. Pedesnya samain aja ya pak, cabenya tiga aja." ujarnya.
"Oke neng siap."
Penjual ketoprak itu langsung membuat ketoprak untuk Airen, sedangkan Airen bersenandung kecil sambil melihat ke arah jalan.
Mas Hans nyari-nyari aku ngga ya? Biarin aja, salah sendiri nggamau nemenin istrinya sarapan. batin Airen.
Tidak lama ketoprak itu pun jadi, dan memberikannya kepada Airen.
"Silahkan neng."
"Makasih ya pak."
Airen langsung melahap dengan sangat bersemangat, dia memakan satu porsi habis dengan cepat.
Ihhh cakep-cakep kok makannya banyak kayak gitu sih, jangan-jangan dedemit ini. batin si penjual saat melihat cara makan Airen.
Hallo anak-anak bunda, ini namanya ketoprak. Kalian suka tidak? Rasanya enak kan. Bunda akan makan yang banyak, agar kalian cepat besar ya hehe. batin Airen sambil mengusap-usap perutnya.
***
Sedangkan di hotel gedung itu, Hans baru saja terbangun sepenuhnya. Dia melihat seisi kamar, namun tidak menemukan sosok istrinya. Hans pun beranjak turun, dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah rapih dengan gaya yang casual, Hans turun ke bawah berharap ada sang istri yang sedang menunggu di meja makan. Namun, Hans tidak melihat istrinya sama sekali.
"Mih, Airen mana?" tanyanya.
"Lho, kamu gimana sih. Mamih baru saja turun, mana Mamih tau. Lagi juga kan kamu tidur sama dia." ucap Hellena sambil menyantap sandwich.
__ADS_1
Hati Hans mulai gundah, ada rasa gelisah dan tak tenang karena belum melihat wajah sang istri.
"Coba tanya mbak Ratu, mungkin dia melihat." ujar Hellena kepada Hans yang nampak khawatir.
Hans mengangguk dan berlalu pergi untuk bertanya kepada kakak iparnya. Kebetulan Ratu hendak turun ke bawah, jadi dia berpapasan dengan Hans.
"Lho Hans, kamu belum sarapan? Dimana Airen?" tanyanya.
"Mbak tidak melihat Airen?" tanyanya balik.
Ratu menggelengkan kepalanya, "Tidak, mbak baru saja turun dari kamar." jawabnya.
Kamu kemana sayang? Jangan buat aku khawatir seperti ini. batin Hans.
Hans pergi kesana kesini, namun hasilnya nihil. Dia tidak menemukan sang istri, bahkan sampai dia bertanya kepada Endah sahabat istrinya.
"Ck, aaaarrrgghhh." teriak Hans prustasi.
"Kamu kenapa sih Hans, atau jangan-jangan semalam tidak mendapatkan asupan vitamin dari Airen?" goda William.
"Papih diam! Istri aku tidak ada." ujar Hans kesal.
"Service kamu kurang memuaskan kali, sampai-sampai Airen pergi."
"Papih!" kali ini bukan Hans yang teriak melainkan Hellena.
***
Airen sudah selesai makan ketoprak, dia habiskan tiga porsi sekaligus. Airen hendak membayar, namun dia baru ingat jika dirinya tidak membawa uang atau apapun.
Aduhh, kenapa bisa lupa seperti ini sih. batin Airen.
"Pak maaf, saya baru ingat kalau tidak membawa uang. Saya pulang dulu ya pak? mau ambil uangnya." ujar Airen, berharap si bapak itu percaya.
"Halah, kamu ini. Kalau tidak punya uang jangan sok-sokan pesan tiga porsi, saya bisa rugi kalau seperti ini. Orang-orang yang seperti kamu tuh banyak saya temuin, yang berkata tidak punya uang padahal ingin makan gratis." ujar si penjual.
"Maaf pak, saya beneran lupa tidak membawa uang. Saya janji akan bayar, tapi saya pulang sebentar untuk ambil uangnya ya pak."
"Tidak usah, kamu bantuin cuci piring saja. Satu porsi ketoprak 10 ribu dan kamu harus menggantinya dengan satu jam, jadi kamu harus mencuci piring selama tiga jam." ujarnya.
H--Hah? Tiga jam, aduhh bagaimana ini?
"Oke deh pak, saya akan mencuci piring selama tiga jam." ucap Airen pasrah.
"Yasudah kamu ke belakang, cuci piring bekas kamu tuh." ujar penjual itu.
Airen mengangguk patuh, dia langsung mengambil piring nya dan membawanya ke belakang untuk ia cuci.
***
37 menit kemudian.
Semua juga khawatir, kemana Airen pergi. Hans benar-benar prustasi, istrinya tak kunjung kembali padahal ini sudah hampir tiga puluh menit. Semua orang sudah Hans tanya, sekarang tinggal para pelayan yang ia tanyakan satu-satu.
"Saya Tuan." jawabnya.
"Kemana istri saya? cepat katakan!"
"T--tadi nyonya hanya bilang kalau beliau keluar sebentar, saya tidak tahu kemana nyonya pergi dengan pastinya." jawab pelayan itu sambil menunduk.
Tanpa menjawab, Hans langsung meraih kunci mobilnya dan keluar dari gedung. Hans menyusuri jalan dengan pelan, berharap bertemu dengan istrinya.
Hingga akhirnya Hans melihat ada penjual ketoprak, dia teringat akan keinginan istrinya tadi pagi. Akhirnya Hans memutuskan untuk ke ke sana, dan menanyakan kepada sang penjual.
Ada banyak sekali orang, tapi mengapa tidak ada istri ku disini. Cahya kamu kemana sih. batin Hans.
"Permisi." ucap Hans pelan.
"Iya, mau pesan ketoprak? silahkan mengantri ya. Nanti saya buatkan." jawab si penjual.
"Tidak! Saya ingin bertany--."
"Pak, ini piringnya." Airen keluar dari belakang, sambil membawa piring bersih itu.
Hans dan Airen sama-sama tergelak kaget, Hans langsung menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat. Hingga Airen menjatuhkan piring yang dia pegang.
Pyarr.
Sontak, Hans melepaskan pelukannya. Semua orang langsung menatap kepada mereka, penjual itu pun kaget dan memarahi Airen.
"Kamu bagaimana sih, kerja tidak becus hah! Kamu har--."
"Hei, beraninya kau membentak istriku!" teriak Hans tak kalah galak dengan si bapak.
"Mas sudah, jangan seperti itu. Kamu membuat semua orang takut." bisik Airen kepada suaminya.
"Oh jadi kamu suaminya, heh kalau jadi suami tuh yang bertanggung jawab dong. Istri kamu makan tiga porsi ketoprak tapi dia tidak mampu membayar nya. Itu pasti karena kamu pelit, tidak memberikannya uang. Sampai-sampai istri kamu kelaparan seperti itu." ujar si bapak penjual.
"Ganteng sih, tapi sayang pelit." celetuk salah satu pembeli.
Hans menggertakan giginya, ingin rasanya dia membungkam mulut yang baru saja mengatakan hal seperti itu.
Hans merogoh saku celananya, dia langsung melemparkan beberapa lembar uang merahan itu kepada si penjual.
"Ambil semuanya! Apa masih kurang hah!" teriak Hans.
"T--tidak Tuan." jawab si penjual.
"Mas kamu apa-apaan sih, tidak sopan seperti itu. Biar bagaimanapun bapak ini lebih tua dari kita, tidak seharusnya kamu memperlakukan dia seperti itu. Pak, tolong maafkan suami saya ya." ujar Airen merasa bersalah.
"Tidak apa-apa neng, terimakasih ya." jawab si penjual, karena melihat uang yang begitu banyak.
Ck dasar tikus-tikus kecil. batin Hans.
__ADS_1
Hans langsung menarik lengan istrinya dari sana, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Hans diam tidak bergeming, dia masih marah dengan kejadian tadi. Bagaimana bisa istrinya menjadi tukang cuci piring.
"Mas, kamu kok diam saja." ucap Airen, meskipun sebenarnya dia takut.
"Puas kamu? orang-orang menganggap ku suami yang tak bertanggung jawab. Puas?" ucap Hans dengan datar namun menusuk hati.
Deg.
Airen menatap sendu suaminya, tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. sakit sekali saat Hans mengatakan hal itu kepadanya.
"Kamu seharusnya nunggu aku dulu, apa susahnya sih tunggu aku bangun dulu. sekalipun tidak mau menunggu, izin dulu apa susahnya sih. Orang-orang panik nyariin kamu." ucap Hans kembali.
"Jadi aku yang salah mas? Aku cuma memenuhi keinginan anak aku! Lagi juga kan aku bilang sama kamu, ingin makan ketoprak. Emang kamu peduli aku lapar atau tidak? Selama hamil hampir kurang lebih tiga bulan, apa aku pernah menyusahkan kamu dengan keinginan aku? Baru ini aku ingin ketoprak bilang sama kamu! Dulu waktu aku ingin bubur, mbok Nin yang beliin. Emang kamu peduli sama aku dan anak kita hah! Kenapa kamu jadi nyalahin aku, padahal aku cuma lupa untuk membawa uang." teriak Airen, derai air matanya meloroh begitu saja.
Hans menghembuskan nafasnya kasar, tidak seharusnya dia mengatakan hal seperti itu kepada istrinya. Semua hal yang dikatakan Airen memang benar, dia tidak pernah menyusahkan Hans selama hamil.
"Sayang, maafkan aku." ujar Hans sambil menghapus jejak air mata yang berada di pipi istrinya.
"Aku mau pulang." ujar Airen tanpa menatap sang suami.
"Iya kita pulang, maafkan aku ya?"
Airen hanya mengangguk, pandangannya menatap ke arah jendela mobil. Dia enggan untuk melihat suaminya.
Cup.
Hans mengecup pipi istrinya singkat, dia langsung mengemudikan mobilnya menuju mansion. Karena Airen sudah ingin pulang.
Dasar cowok, ngapain cium-cium padahal tadi marah. huh. batin Airen sebal.
🌹🌹
Di rumah sakit.
Bima membawakan sarapan untuk Gibran dan juga Bella, dia duduk di kursi samping brankar. Dan meletakkan makanannya di atas nakas.
"Gibran, ayo sarapan dulu." ucap Bima kepada putranya yang masih meringkuk dalam dekapan Bella.
"Gibran! Tante Bella nya keberatan, sini kamu sama Daddy aja." ujar Hans.
"No Daddy, aku mau sama tante cantik. Tante suapi aku ya?" ujar Gibran dengan mata yang berbinar.
Anak itu benar-benar membuat kepala ku pening. batin Bima.
"Iya sayang, ayo Gibran duduk yang benar. Nanti tante suapi." ujar Bella.
"Otey." Gibran memposisikan dirinya agar duduk dengan benar.
Bella mengambil makanan yang tadi dibelikan Bima, dia langsung menyuapi Gibran dengan sangat telaten.
"Ayo aaaaaaaaa." ucap Bella.
"Aaaaaammmm." Gibran melahapnya dengan senang hati.
Bima tersenyum melihat interaksi anaknya dengan Bella, hal ini sangat menenangkan hatinya.
"Tante, suapi Daddy juga." ucap Gibran dengan mulut yang masih terisi penuh, namun jelas didengar.
"H--Hah?"
"Nanti Daddy makan sendiri." jawab Bima cepat.
"No Daddy! Ayo tante cantik, suapi Daddy juga. Kasihan Daddy setiap hari makan ceundili tidak ada yang menyuapi." ucap Gibran dengan sjara yang dibuat sedih.
Anak ini benar-benar keterlaluan, aku tidak semenyedihkan itu! batin Bima.
"Ayo tante cantik, suapi Daddy." rengek Gibran.
"I--iya sebentar."
Dengan hati yang tak karuan, perlahan Bella mulai menyendokan makanan ke dalam sendok itu dan mengarahkannya kepada Bima.
"Aaaaaa nya mana mommy?" tanya Gibran kepada Bella dengan pelan.
Pyar.
Sendok yang hendak dia suapi ke arah Bima, terjatuh kembali ke dalam piring saat Bella samar-samar mendengar Gibran memanggilnya Mommy.
"Yah tante, ayo suapi Daddy."
Apa aku salah dengar jika anak ini memanggil ku mommy? batin Bella.
Gibran come on lah, tante Bella itu sudah memiliki keluarga! batin Bima prustasi.
Akhirnya Bella kembali menyuapi Bima, sesuai dengan permintaan Gibran.
"Aaaaaammmm." Bima melahapnya dengan senang hati, sambil membunyikan suara seperti Gibran.
Deg deg deg.
Aaaaaaa jantungku seperti hendak meledak, hufhh sadar Bella jika kak Bima hanya menganggap mu sebagai adiknya. batin Bella.
Andai kamu belum memiliki keluarga Bel, aku akan mencoba untuk menyelami mu lebih dalam. Sesuai dengan keinginan Gina dan Gibran, apa benar kamu mencintai ku? Seperti yang Gina katakan dalam mimpi. batin Bima.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, insyaallah mulai besok up nya saat sahur atau malam ya.
__ADS_1