
Selamat membaca ☺️
Barra berkunjung ke rumah Hans malam-malam, karena sudah lama sekali laki-laki itu tidak bermain dengan Gibran. Bahkan Barra juga ingin melihat anak keturunan seorang Hans Alister Mikhailov.
Barra masuk ke dalam mansion tanpa permisi, ya memang sudah menjadi kebiasaannya seperti itu. Barra menghampiri mbok Nin yang sedang menyiapkan makan malam.
"Mbok, dimana yang lain?" tanya Barra mengambil buah di atas meja.
"Astaghfirullah, Den Barra. Bikin mbok terkejut saja." protes mbok Nin.
"Hehe maaf mbok." tanpa rasa bersalah justru Barra malah cengengesan.
"Sepertinya semuanya sedang berada di ruang keluarga." ujar mbok Nin memberitahu.
"Oke mbok, makasih ya. Kalau gitu aku ke sana dulu." ucap Barra mengambil satu apel dan membawanya pergi.
Barra berjalan santai sambil mengunyah apel yang tadi dia ambil di atas meja, tatapan Barra mengedar menatap setiap sudut rumah tanpa dia sadari di depan ada seseorang.
Bruk
Barra menubruk tubuh seseorang membelakanginya, wanit itu tersungkur ke lantai karena bagian belakangnya tiba-tiba ditabrak oleh seseorang.
Barra terkejut, bahkan apel yang ada ditangannya kini jatuh ntah kemana. Barra mencoba untuk membantunya, namun wanita itu sudah bangun lebih dulu.
Wanita itu berbalik badan dan langsung menundukkan pandangannya tanpa melihat wajah Barra.
"Maafkan saya." ucapnya lirih.
H--Hah? Dia minta maaf? Kan gue yang salah. batin Barra.
"Lho Barra kamu disini?" ujar Hellena menghampiri.
"Eh Tante Elle, aku mau ketemu sama anak-anaknya Hans. Kangen juga sama Gibran."
"Yasudah masuk aja ke ruang keluarga, semuanya lagi kumpul. Tante ke dapur dulu ya, mau tanya mbok Nin kapan makanannya siap." ucap Hellena lalu pergi meninggalkan Barra.
Namun Ica sudah pergi saat kedatangan Hellena tadi, Barra belum sempat bertukar sapa dengannya. Barra masuk ke dalam ruang keluarga.
"Hallo semuanya!" ujar Barra semangat.
Semua orang menoleh ke arah Barra, terkecuali Hans. Laki-laki itu sibuk mengamati wajah istrinya, tanpa menghiraukan keberadaan Barra dan yang lainnya.
"Om Barra!" teriak Gibran antusias.
"Hai Gib, kangen Om ngga?"
"Ngga sih biasa aja." jawabnya.
Semua orang tertawa mendengar jawaban Gibran, terlebih Raja yang sangat suka jika ada orang dekat disekelilingnya ternistakan.
Kampret nih anaknya bang Bima. batin Barra.
"Jangan mengumpat anak ku seperti itu." ucap Bima santai.
Barra hanya terkekeh pelan, dia pun duduk di samping Bima. Barra menatap ke arah Hans yang sedang sibuk bersama istrinya, ide jail muncul di kepala Barra.
Barra pindah posisi duduk di samping Airen yang masih kosong, "Hai Ren, lama tidak bertemu. Bagaimana keadaan mu?" Barra sengaja ingin membuat Hans cemburu dengannya.
"Punya nyawa berapa?" ucap Hans datar namun berhawa dingin.
"Mas jangan seperti itu, lagi pula Barra kan cuma nanyain keadaan aku."
Hans menatap tajam ke arah Barra mengisyaratkan untuk pergi dari samping istrinya.
__ADS_1
"Wahh ini anak kalian ya, lucu bangat sih." ucap Barra mengalihkan perhatian Hans.
"Siapa dulu dong om nya." ucap Raja bangga.
"Opa nya." ujar William.
"Daddy nya." ucap Bima tak mau kalah.
"Hah Daddy?!" ucap Raja, William dan Barra bersamaan.
Hans mendengus kesal, bisa tidak mereka diam jangan buat rusuh. "Diamlah!" ujar Hans.
Mereka semua langsung diam, karena tak ingin membuat suasana hati Hans muram. Hans mengambil Amira dari gendongan Airen.
"Ini anakku, sudah jelas semuanya dari ku. Karena aku yang membuatnya."
Ehem
Airen berdehem menatap ke arah Hans, lalu tersenyum semanis mungkin. Hans langsung mengerti tatapan manis istrinya. "M--maksud ku, ini anak kita berdua." ucap Hans membenarkan kata-katanya.
"Hei kalian semua, ayo kita makan malam!" teriak Hellena dari balik pintu.
"Yeay makan, ayo kak Eza kak Eran kita makan." Gibran sangat bersemangat, mereka bertiga berlari lebih dulu untuk sampai di meja makan.
William dan yang lainnya menyusul, Airen mengambil alih Amara yang sedang digendong Ratu. "Sini mbak, Ara biar sama aku aja."
Ratu memberikan Amara kepada ibunya, Hans dan Airen berjalan di paling belakang. Semua orang mengambil tempat duduknya masing-masing. Mbok Ti dan Ica menghampiri Airen.
"Sini Tuan, mbok yang jaga non Mira." ucap mbok Ti mengambil Amira, begitupun dengan Ica yang mengambil Amara dari Airen.
Barra mengamati wanita yang tadi menabraknya, lebih tepat wanita itu yang tertabrak oleh tubuh tegap Barra.
Pengasuh bayi ternyata. batin Barra.
Ica dan mbok Ti mengajak Amira dan Amara ke ruang bermain, agar yang lainnya makan dengan tenang. Nanti akan ada giliran mereka untuk makan, namun jika anak-anak Airen tengah tertidur pasti mereka pun ikut makan bersama.
"Mas aku mau ke ruang bermain sebentar, mau ngambil Mira dan Ara." Airen izin kepada suaminya agar laki-laki itu tidak mencarinya.
"Ren tunggu, biar aku saja." ucap Barra tiba-tiba.
Hans menatap tajam ke arah sahabatnya itu, "Kan gue belum gendong, biarin gue aja ya." ucap Barra memohon.
"Oke, awas kalau sampe anak gue lecet." peringatan keras dari Hans untuk Barra.
Glek
Dasar papa muda, awas saja lho kalau gue punya anak. Pasti anak gue lebih cantik dan tampan daripada anak Lo. batin Barra.
"Tunggu, nanti tolong sampaikan kepada mbok Ti dan mbak Ica untuk makan ya." pinta Airen kepada Barra.
"Siap Nona muda."
Jadi, namanya Ica? batin Barra.
Ntah mengapa tiba-tiba Barra penasaran dan tertarik dengan Ica, Barra berjalan menuju ruang bermain. Dia hapal betul seluk beluk mansion ini, karena sedari dulu Barra sering menginap di mansion ini.
Barra memasuki ruang bermain, Ica dan mbok Ti menatap barra saat ia masuk ke dalam ruangan.
"Mbok Ti, di suru makan." ucap Barra tersenyum ramah kepada mbok Ti.
"Ayo Ca, kita makan." ajak Mbok Ti kepada Ica.
"E--ehh, mbok duluan saja. Biar Ica sama saya, saya bantu jaga anak-anak Hans. Tadi sudah izin kok."
__ADS_1
Ica tersenyum ke arah mbok Ti, seakan mengucapkan bahwa dia tidak apa-apa jika ditinggal sendiri di ruang ini. Mbok Ti pun mengangguk, "Yasudah kalau gitu mbok duluan. Den titip mereka bertiga." ucap Mbok Ti.
"Siap mbok."
Barra menggendong Amira, anak perempuan Hans yang sangat mirip dengan Airen namun sepertinya sikapnya mirip dengan Hans. Ica terdiam, dia sibuk bermain bersama dengan Amara yang berada di dalam box bayi.
Ehem
Barra berdehem berusaha mencairkan suasana, "Soal yang tadi maaf, tidak sengaja menabrak mu." ucapnya sedikit gugup.
Ica menatap wajah Barra, sepertinya wajah ini tidak asing bagi Ica. Dia pernah melihat wajah ini, namun ntah dimana. "Tidak apa-apa tuan, saya yang minta maaf. karena tidak berhati-hati saat berhenti." ucapnya.
"Ngga apa-apa, oiya sudah lama kerja disini?" tanya Barra.
"Baru beberapa hari saja."
Barra mengangguk, dia dibuat bingung karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Barra memilih untuk memfoto anak-anak Hans dengan semangat dan antusias.
Tring📩
Pesan masuk terdengar dari suara ponsel jadul milik Ica, Barra menatap ke arah Ica yang sepertinya tengah gelisah.
"Ada apa?" tanya Barra.
Ica terkejut karena saat ini Barra sudah berada di dekatnya, "T--tidak apa-apa, ini kakak saya mengirim pesan." ucapnya jujur.
"Yasudah balaslah, kalau mau teleponan juga tidak masalah. Anggap saja aku patung, tidak akan mendengar apapun." ujar Barra.
Ica mengangguk, dengan nafas yang sedikit tak teratur Ica membuka pesan yang dia dapat dari kakaknya.
📩Lo kemana hah! Segala kabur dari rumah, cepat sini pulang. Gue sama Ibu butuh uang.
Begitulah isi pesan yang Ica baca, kakanya selalu saja meminta uang padanya. Ica memilih untuk menghapus pesan itu dan membiarkannya saja.
"Kenapa?" tanya Barra tiba-tiba.
Ica menggeleng, "Tidak apa-apa, Tuan."
"Ca sekarang giliran kamu yang makan, biar mbok yang jaga Amira dan Amara." ucap mbok Ti.
Ica mengangguk patuh, "Baik mbok, terimakasih ya." Ica pergi dari sana meninggalkan mbok Ti dan Barra.
Barra mendengus kesal, tidak lama kemudian Airen dan Hans masuk ke dalam ruang bermain untuk mengambil anak-anaknya.
"Hei sudah cukup bermain dengan anak ku, pulang sana."
"Ck ngusir? Terserah gue dong, mau nginep juga pasti boleh sama Tante Elle."
"Dilarang berbicara kasar di depan anak-anak." Airen memeringatkan teman suaminya itu.
"Udah sono pulang, Oma pasti nyariin Lo." ujar Hans.
"Mas Hans!" Airen menatap tajam ke arah suaminya, padahal dirinya baru saja memeringatkan temannya. sekarang malah suaminya seperti itu.
Airen dan mbok Ti memilih pergi dari sana lebih dulu, meninggalkan kedua sejoli itu. Hans menatap tajam ke arah Barra.
"Apa hah? mau nyalahin gue, salah sendiri itu mah." ucap Barra melotot.
Hans tidak menghiraukan barra, dia memilih untuk pergi mengikuti istrinya ke kamar. Daripada meladeni manusia satu ini. "Hans tunggu."
"Sudahlah sebaiknya kau pulang saja, aku tahu yang ada di dalam pikiran mu itu. Mau bertanya soal pengasuh bayi anak-anak ku kan? Besok saja di kantor. Jangan mengganggu waktu ku dan istriku." ucap Hans lalu pergi.
Asem nih orang, tau aja pikiran gue. batin Barra.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf baru sempet updet 🙏, semoga diantara kalian masih ada yang menunggu cerita KISAH TUAN HANS. mohon dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.