Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 124


__ADS_3

Jenazah papi William langsung diterbangkan ke Indonesia, Bima Hans dan mami Hellena berada di dalam pesawat yang sama. Hans tengah memikirkan cara bagaimana menyampaikan hal ini kepada kakak pertamanya.


Hans tahu, Raja pasti akan lebih merasa berduka. Karena dia sama sekali tidak diberitahu tentang masalah papinya.


Sesampainya di Indonesia, mereka semua menuju ke kediaman mansion utama keluarga Mikhailov. Disana sudah ada beberapa pengawal serta orang-orang kepercayaan keluarga Mikhailov.


Sedangkan di mansion, saat ini Airen dan yang lainnya menatap bingung dengan kehadiran orang-orang berjas yang datang dan langsung berdiri berbaris di depan pintu.


"mbak, mereka siapa?" tanya Airen kepada Ratu.


Ratu menggeleng pelan. "Mungkin orang-orangnya papi William. Ren kamu sama Bella naik ke kamar dulu saja ya, bawa anak-anak. Takutnya terjadi masalah." ujar Ratu menyarankan kepada adik-adiknya.


Airen dan Bella mengangguk patuh, mereka membawa Amira, Amara, Eranson, Gibran, Eza dan juga Gebila naik ke atas. Sedangkan Ratu tengah berpikir apakah dia harus bertanya langsung kepada mereka?


Tanya mereka atau bangunkan mas Raja saja ya? batin Ratu bimbang.


Akhirnya ratu memilih untuk bertanya kepada orang-orang yang saat ini tengah berdiri di depan pintu dengan setelan jas hitamnya.


Saat Ratu hendak melangkah mendekati pintu, matanya langsung tertuju ke arah luar pintu. Disana ada pengawal yang membawa peti mati, dan dibelakangnya ada mami Hellena yang nampak meringkuk ke dalam dekapan Bima.


Deg.


Gemuruh di dada Ratu semakin berdegup kencang, matanya terus menatap nanar ke arah peti yang sedang di bawa para pengawal.


Ng--ngga mungkin. batin Ratu.


Semua orang yang tepat berdiri berbaris di depan pintu menundukkan kepalanya saat Hans dan yang lainnya masuk ke dalam mansion.


"H--hans." panggil Ratu.


Hans menoleh. "Panggilkan kak Raja mbak." ucap Hans.


Deg deg deg


Ratu mengangguk patuh, derai airmata mengalir begitu saja. Dengan segera ia menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya.


Peti jenazah papi William dibuka, mami Hellena tak kuasa menahan tangisnya. Dia kembali menangis saat melihat wajah pucat suaminya.


Hans yang mendengar suara isak tangis maminya, berusaha sekuat tenaga menahan agar ia tidak ikut menangis. Sedangkan Bima sudah turut serta menangis bersama maminya.


Raja mengucek matanya sambil berjalan pelan ke arah ruang depan, wajahnya sangat khas dengan orang yang baru bangun tidur. Sesampainya di ruang depan, Raja menatap sekitarnya ada begitu banyak orang berjas hitam.


"Ada acara apaansih ini, segala make baju item-item begitu." tutur Raja sambil terus berjalan perlahan memasuki ke tengah-tengah diantara mereka.


Semua yang menghalangi Raja langsung menyingkir, sehingga pandangan mata Raja langsung tertuju kepada Hans yang sedang menatapnya.


"Han--s." panggil Raja yang awalnya semangat, kini mendadak diam saat mendengar suara tangisan mami Hellena.

__ADS_1


Raja menoleh ke arah samping melihat ibunya yang sedang berlutut di dekat peti mati, Raja membulatkan matanya saat melihat wajah papinya yang berada di dalam peti tersebut.


Deg deg deg.


Dengan perlahan Raja berjalan mendekat ke arah peti tersebut, semakin jelas wajah papinya terlihat. suaranya seakan tercekat tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, airmatanya perlahan mengalir.


"Hiks... hiks... p--pap-pii." ucapnya lirih.


Hans yang menyaksikan itu membuang wajahnya ke sembarang arah, tak ingin melihat hal yang semakin membuat dadanya sesak.


"Hiks.. papi, bangun pihh. Jangan bercanda seperti ini!!" teriak Raja.


Bima menangis sesenggukan melihat kakaknya yang seperti itu, berteriak kencang tak karuan. Ratu dan yang lainnya langsung berdatangan setelah mendengar teriakkan Raja.


Sebenarnya tadi di dalam kamar Ratu hendak menguatkan diri, karena ia tahu pasti papi William yang berada di dalam peti jenazah itu. Tapi kini derai airmatanya tak dapat ditahan, Airen dan Bella terdiam di anak tangga saat melihat pemandangan itu.


Deg.


Jantung mereka berdegup kencang, seakan bertanya. Kenapa? Ada apa ini? mengapa semuanya menangis pilu?


Mereka melanjutkan langkahnya pelan, Bella menghampiri suaminya yang sedang menangis dalam diam berusaha menyembunyikan suaranya.


Sedangkan Airen melihat suaminya pergi berlalu ke luar mansion, Airen pun mengikuti langkah suaminya dari belakang.


Sedangkan Raja terus saja berceloteh banyak di depan jenazah papi William. "Pih hikss.. bangun pih, jangan seperti ini."


Ratu mendekat ke arah Raja, mengusap lembut punggung suaminya. "Sayang, lihatlah. Papi tak lagi mau mendengarkan aku hikss.." adu Raja kepada Ratu, tentu hal itu semakin membuat Ratu menangis pilu.


Airen melangkahkan kakinya, menghampiri dan memeluk suaminya dari belakang. Keduanya sama-sama menangis, Hans mengusap lembut tangan istrinya yang sedang melingkar di pinggangnya.


Airen menyudahi tangisannya, dia sadar harusnya dia menjadi penguat untuk suaminya saat ini. Lantas Airen pun membalikkan tubuh suaminya, dan memeluk Hans dengan erat.


Hans menumpahkan wajahnya dibahu sang istri, Airen mengusap lembut kepala dan punggung suaminya. "Hiks.. papi kini telah tiada." lirih Hans pelan.


Airen hanya diam, tak tahu harus mengatakan apa? Sejujurnya dia pun terluka dengan kehilangan papi William yang mendadak seperti ini.


Setelah beberapa menit mereka berdua berada di taman, Hans yang sudah mulai mampu mengendalikan kesedihannya. Mereka pun masuk kembali ke dalam mansion, karena jenazah papi William harus segera disemayamkan.


Dilihatnya Raja, mami Hellena dan juga Bima yang sudah perlahan membaik. Bahkan anak-anak mereka pun kini berdiam di depan jenazah papi William.


Amara menatap sekelilingnya, dia bingung mengapa kakeknya yang tertidur justru dilihat oleh banyak orang? Amara menghampiri Hans dan Airen.


"Papa, pindahin opa di kamalnya dong. Kacihan opa, ingin istilahat." ujar Ara.


Hans menggendong putri bungsunya itu. "Nanti kita antar opa untuk beristirahat ya." ucap Hans.


Amara mengangguk semangat. "Papa janan nanis ya, maca tadi om Aja nanis."

__ADS_1


Hans hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Hans lantas menginstruksikan kepada para pengawal untuk menutup peti papi William dan segera membawanya ke tempat pemakaman.


"Tunggu!" ucap Raja.


"Hans, mami, Bima. Bisa kalian jelaskan ini?" tanya Raja menatap mereka secara bergantian.


Semuanya terdiam tak menjawab.


"Kenapa? kenapa diam hah! Kenapa aku saja yang tidak tahu hal ini?"


Raja menghampiri Bima dan menarik bajunya. "Lo pasti taukan! Katakan Bim! Kenapa papi bisa seperti itu hah?! dan kenapa hanya gue yang nggak tau?" teriak Raja.


"Raja cukup! Tidak malukah kamu dengan sikap kamu yang seperti itu? Di hadapan jenazah papi kamu, kamu mau berantem iya? hah?"


Raja melepaskan cekalannya di baju Bima, dia menatap sinis kepada ibunya. "Kenapa mih? Kenapa? Kenapa hanya Bima dan Hans yang berhak tau tentang kematian papi? Aku juga berhak Mih, aku juga berhak atas segala hal yang terjadi pada papi. Karena aku juga anaknya, aku juga anak kalian! Kenapa hanya aku yang selalu dibelakangi? KENAPA?!"


"Cukup!" Hans tak terima jika kakaknya itu membentak sang ibu, bahkan berani membuat keributan di depan jenazah papinya juga anak-anak.


Sebelum raja membuat keributan yang lebih parah, Ratu pun mencoba menenangkan suaminya dengan mengatakan. "Mas, sudah. Jangan ribut seperti ini, apa kamu tidak kasihan dengan papi?"


Raja pun diam, tak lagi menghalangi orang-orang yang membawa jenazah papi William. Mereka semua ikut ke pemakaman, di tempat pemakaman sudah ada Roni, Barra, dan yang lainnya yang menunggu.


proses penguburan jenazah papi William pun tak luput dari campur tangan ketiga anak laki-lakinya, mereka turut serta ikut masuk ke dalam liang lahat. menerima jenazah papinya.


Airen dan Ratu menenangkan mami Hellena, anak-anak tidak ikut dan ditemani oleh mbok Nin di mansion dan juga beberapa pengawal di sana.


Selesai acara pemakaman, semuanya pun pamit undur diri. Hingga menyisakan mami Hellena dan ketiga anak-anaknya.


"Pih, sampai jumpa di lain waktu. Tunggu mami ya pih." tutur mami Hellena pelan, sambil mengusap lembut batu nisan yang bernamakan suaminya.


tes tes tes...


buliran airmata keluar kembali, sesak dan ada ketidakrelaan di hati mami Hellena. Laki-laki yang mencintainya penuh dengan kelembutan kini sudah tak lagi ada disisinya.


"Hans, aku duluan." ucap Bima menuju mobil, dia tak mau lagi mengeluarkan air mata untuk papinya. Bima harus ikhlas dan rela atas semua takdir yang ada.


Raja tetap berdiam diri, menatap kuburan ayahnya. Kilasan masalalu terbayang di pikirannya, kebersamaannya dengan papi William terlihat jelas dalam pikirannya saat ini.


M--maaf pih, maaf. batin Raja.


Hans membawa mami Hellena menuju mobil, meninggalkan Raja sendirian di sana. Mungkin kakaknya butuh waktu untuk menerima ini semua.


Raja berlutut di samping nisan papinya. "P--pih, bagaimana bisa papi meninggalkan kami seperti ini?"


"Ada banyak hal yang ingin aku lakukan dengan papi, tapi sayang yah waktunya terlalu singkat. Pih, padahal aku belum pernah menanyakan apa makanan favorit papi? siapa mantan papi? rasanya kebersamaan kita terlalu singkat." lirih Raja.


Hidup memang seperti itu Ja, tidak semua hal sesuai dengan rencana kita. Tapi percayalah, apapun takdir-Nya itu adalah yang terbaik.

__ADS_1


Ikhlas, sabar, dan syukur. katanya itu kunci kehidupan. Meski tak bersama bukan berarti berpisah, kalau kamu lupa dengan papi itu baru namanya perpisahan.


Bersambung....


__ADS_2