
(MENGHILANG?)
Selamat membaca βΊοΈ
Airen pergi ke luar siang ini, setelah kejadian beberapa hari yang lalu membuat dia tidak dapat memakan makanan yang ia inginkan. Airen memutuskan untuk membeli sendiri apa yang ia mau tanpa bilang kepada Hans.
Hari ini Airen ingin membeli cemilan pinggir jalan seperti telur gulung, dia juga ingin minum es cendol. Airen keluar kamar dengan pakaian casualnya.
"Non Iren mau kemana?" tanya mbok Nin.
"Pergi keluar sebentar mbok, kalau mama Elle bertanya bilang saja aku ingin membeli cemilan di luar sebentar. Nih anak-anak aku di dalam perut menginginkan sesuatu."
"Lho kenapa tidak minta sama Tuan Hans saja non? Yasudah nanti mbok sampaikan ke Nyonya."
"Terimakasih ya mbok, kalau gitu aku pamit. Assalamu'alaikum." ucap Airen tanpa menjawab pertanyaan mbok Nin
"Wa'alaikumussalam, hati-hati Non Iren."
Airen mengangguk, dia pun pergi sendiri dengan ojek online yang sudah dia pesan. Tidak butuh waktu lama akhirnya Airen sampai di tempat jajanan pinggir jalan.
"Ini pak uangnya, terimakasih ya." ucap Iren membayar ojek itu.
Airen melangkahkan kakinya menuju beberapa para pedagang, Airen memilih untuk membeli telur gulung. Setelah itu dia membeli beberapa makanan lainnya, dan membawa ke tempat yang lebih sepi untuk menikmati makanannya.
Airen memilih duduk di kursi taman yang cukup sepi tidak ada pengunjung, Airen menyantap makanan itu dengan lahap. Akhirnya dia dapat mewujudkan apa yang anaknya inginkan.
"Hallo anak-anak bunda, apa kabar kalian? Maaf ya bunda baru bisa kasih makanan yang kalian inginkan." ucap Airen sambil mengelus perutnya.
Airen kembali menyantap makanan itu, tiba-tiba ada satu orang misterius yang datang menghampiri Airen. laki-laki itu memegang lengan Airen dan menariknya menjauh dari sana. sontak hal itu membuat Airen yang sedang makan menjadi kaget.
"k--kamu siapa?! Lepaskan!" teriak Airen.
laki-laki itu tak menggubris ucapan Airen, dia terus membawa Airen untuk segera masuk ke dalam mobil. Airen memberontak sekuat tenaga, bahkan dia teriak meminta tolong.
"Tolong! Siapapun tolong saya!" teriak Airen.
"Diam!"
Laki-laki itu membekap mulut Airen menggunakan kain kecil, perlahan Airen kehilangan kesadarannya.
Mas tolong aku. batin Airen, sebelum wanita itu pingsan sepenuhnya.
***
Bima semakin gencar untuk mengunjungi Bella, bahkan duda beranak satu itu sering kali mengunjungi sekolah tempat Bella mengajar meskipun tidak memiliki kepentingan apapun.
"Bu Bella, ada yang mencari Ibu." ujar salah satu rekan guru.
"Dimana Bu?"
"Di ruang tunggu wali murid, tampan lho Bu. jangan-jangan pacar Ibu ya."
Bella tidak menggubris ucapan rekan sesama guru, dia langsung pergi meninggalkan kelas dan menuju tempat ruang tunggu wali murid. Bella berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, siapa yang datang berkunjung menemuinya?
Cklek
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, Bima langsung menatap ke arah pintu yang terbuka lebar dan menampakan sosok Bella di sana.
"Kak Bima?"
Bima mendekat ke arah Bella perlahan.
"Ada apa kak?" tanya Bella.
"Tidak, e--ehh Gibran meminta ku untuk mencari mu. dia mengajak kita untuk makan siang bersama." ucap Bima bohong, ntah mengapa dia ingin mengunjungi wanita dihadapannya ini.
Tumben sekali? batin Bella.
"Tapi aku masih ada jam mengajar." ujar Bella.
"baiklah, kalau gitu nanti sore aku akan datang kembali menjemput mu." ucap Bima.
Bella mengangguk, akhirnya Bima memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lebih dulu sampai menunggu sore hari tiba.
Sedangkan dikantor Hans menatap dokumen-dokumen yang harus segera dia selesaikan, Hans dikagetkan dengan Roni yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa permisi.
"T--Tuan, Nyonya Airen hilang!" ujar Roni memberitahu dengan suara yang memburu.
Apa!
"Ron, ku peringatkan padamu untuk tidak bercanda!"
"S--saya serius tuan, saya baru dapat kabar dari Nyonya Hellena." ucapnya.
Hans langsung berlari keluar ruangan, dia berlari keluar dari kantor. Hans segera masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Tidak mungkin, istriku pasti baik-baik saja! batin Hans.
"Cahya!" teriak Hans saat masuk ke dalam mansion.
Hellena menghampiri Hans tergesa-gesa dengan raut wajah yang terlihat cemas dan khawatir.
"Cahya hilang." lirih Hellena.
"Kenapa bisa hilang Mih?!" teriak Hans prustasi.
"Tadi non Iren bilang sama mbok ingin pergi keluar sebentar untuk membeli makanan karena anak didalam perut non Iren ingin makan sesuatu." ucap Mbok Nin.
Hans merasa bersalah, badannya terasa lemas tak berdaya bibirnya kelu untuk mengucapkan sepatah kata. Hans kembali keluar, untuk mencari istrinya.
"Hans kamu mau kemana?" tanya Hellena.
"Cari istriku." jawab Hans dingin.
Hans melajukan mobilnya untuk mencari dimana istrinya berada, Hans berharap jika Airen masih bisa ditemukan. Sepanjang perjalanan hati laki-laki setengah bule itu tak karuan karena degup jantungnya yang kian berdetak kencang.
Cahya, bertahanlan. batin Hans.
Ddrrddttt... drddttt..
Hans mencoba untuk menghubungi Barra.
__ADS_1
π"Aku butuh bantuan mu, istriku menghilang. cepat bantu cari!" pinta Hans kepada Barra.
π"Oke."
Tut.
Hans sudah meminta bantuan Barra, bahkan laki-laki itu menelpon kakak-kakaknya untuk membantu dia mencari istrinya. Tiba-tiba Hans teringat Laura, apa mungkin ini perbuatan Laura?
Kalau sampai ini perbuatan Laura, aku sungguh tidak akan memaafkan wanita itu. batin Hans.
***
William baru saja kelar dengan urusannya, laki-laki baru tiba di mansion dan langsung dikejutkan oleh istrinya yang memeluk dia dengan erat sambil menangis histeris.
"Hikss.. Papih, menantu kita hilang!" ucap Hellena memberitahu.
William diam membisu, tidak tahu harus berkata apa? dia merasa bersalah kepada istrinya.
"Percayalah, Airen pasti baik-baik saja." ujar William menangkan Hellena.
"Hikss.. kita harus mencari Airen Pih, ini semua pasti ulah Daniel dan keluarganya." ujar Hellena.
"Mamih tenang dulu oke, sebaiknya kita duduk dulu di sofa."
"Pih, menantuku hilang lho! Kenapa Papih malah menyuruh aku untuk duduk bersantai di sofa, sedangkan menantu kita sedang dalam bahaya!" teriak Hellena.
William memilih diam, hingga emosi istrinya reda dia baru akan berbicara. Mbok Nin pergi ke dapur menyiapkan teh hangat untu Hellena.
Tanpa mereka sadari ada Eza yang mendengar ucapan Hellena, Eza menangis sendu di balik pintu. Bagaimana bisa kakanya menghilang.
Eza segera pergi dari sana, dia menuju kamarnya. Eza menangis pilu di dalam kamar, ini tidak mungkin kan? Tidak mungkin kakaknya hilang.
"Hiks... Kakak dimana?" gumam Eza.
***
Airen membuka matanya perlahan, matanya mengedar menatap sekeliling tempat dia saat ini. Airen merasa heran dimana dia saat ini? Di dalam kamar yang bersih dan nyaman, bahkan sudah ada banyak makanan di meja dekat kasur.
Airen beranjak turun dari ranjang, dia menghampiri meja makan yang sudah terisi penuh oleh makanan yang selama ini dia idam-idamkan.
Wahh hebat, ini kan makanan yang aku inginkan. apa mungkin, ini mas Hans? batin Airen bertanya.
"Masa bodoh, nikmatin dulu kali ya makanannya. nanti setelah ini baru deh cari tahu siapa yang menculikku." Airen bermonolog sendiri.
Airen langsung melahap setiap makanan yang ada, Airen merasa bahagia bisa terkurung di dalam kamar dengan banyak makanan yang dia inginkan.
Aku mau diculik jika makanannya enak seperti ini batin Airen.
***
Hari mulai laurt, Hans menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia memijat pelipisnya yang terasa pusing. Hingga malam akan segera tiba, Hans masih belum dapat menemukan istrinya. Bahkan Hans menerima kabar dari Barradsn juga yang lainnya, bahwa mereka pun belum menemukan Airen.
Sayang maafkan aku yang tak pandai menjaga mu, Cahya kemana lagi aku harus mencari mu. Arghhh, siapa yang berani menculik istriku hah! batin Hans.
"Aarggghhhhhhh!" teriak Hans prustasi.
__ADS_1
Bersambung....
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.