
Sejatinya hidup adalah perjalanan, nanti akan ada saat dimana kita sampai dititik perjalanan hidup ini. Papi William telah sampai di titik itu beberapa jam yang lalu, laki-laki paruh baya yang memiliki tiga orang anak dan lima cucu itu kini resmi meninggalkan dunianya.
Mami Hellena menangis meraung-raung di samping suaminya yang sudah tak berdaya, jiwa nya telah pergi dari raganya. Suara isak tangis Bima pun terdengar saling bersahutan dengan isakan mami Hellena.
Hans menatap nanar wajah ayahnya, yang beberapa jam lalu sempat mengucapkan beberapa pesan kepada dirinya untuk semua keluarganya. Buliran airmata keluar dengan derasnya dari pelupuk mata Hans.
"Hikss... papi bangun pih, jangan tinggalin mami sendiri hikss..."
Mami Hellena terus menggoyangkan tubuh suaminya agar terbangun, namun kenyataannya hal itu tak berhasil. Sekeras apapun usaha mami Hellena untuk membangunkan papi William itu hanyalah hal yang sia-sia. Karena kini, dia telah beristirahat selama-lamanya.
Hans mengusap lembut punggung mami Hellena, dan membawanya ke dalam dekapannya. "Hiks... H--hans, suruh papi bangun Hans. Dia tidak boleh meninggalkan kita hikksss."
Baik Bima maupun Hans, mereka berdua benar-benar rapuh. Kakinya terasa lemas tak berdaya, Bima menepuk bahu Hans seraya menguatkan sang adik.
Hans tersenyum getir menatap kakanya yang tengah tersenyum dengan linangan air mata, sungguh dirinya tak sekuat apa yang papinya bilang.
Flashback on
Saat sampai di Paris, Hans dan Bima langsung menuju rumah sakit karena asisten papinya sudah memberitahukan tentang kondisi papi William yang kian keritis.
Setibanya mereka di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang ICU. Tempat dimana papi William sedang dalam penanganan yang intensif.
Di dalam ruangan itu, mami Hellena sudah menangis pilu melihat suaminya. Ada beberapa orang kepercayaan keluarga Mikhailov yang menjaga mami Hellena dan berjaga di depan ruang ICU.
Hans dan Bima langsung menghampiri mami Hellena, tangis mami Hellena semakin pecah kala melihat kedua anaknya datang. Dia langsung memeluk Hans dengan erat.
"H--hans, papi ka-kamu Hans.. hikss.."
Hans tak mengucapkan apapun, tangannya yang terulur untuk mengusap punggung mami Hellena seraya menenangkannya. Hans dan Bima tentu tahu apa yang dirasakan mami nya itu, mereka hanya diam mengamati dokter bekerja.
Pih, kalau sampai ternyata papi memiliki penyakit serius dan berhasil menyembunyikan penyakit papi dari aku, mami, ataupun Hans. aku merasa gagal menjadi seorang dokter. batin Bima pada saat itu.
Setelah beberapa jam penanganan, akhirnya dokter menyatakan kondisi papi William kian membaik. Namun dia tetap berada di ruangan yang penuh dengan alat medis itu.
Bahkan papi William sempat sadar dan tersenyum kepada anak dan istrinya, dia juga mengucapkan banyak sekali perkataan meskipun di mulutnya sedang terpasang alat bantu pernapasan.
"Hikss... papi, jangan tinggalkan mami."
mami Hellena memeluk suaminya dengan pelan, karena dia tidak ingin menyakiti suaminya dengan memeluk erat.
"Papi ngga kemana-mana mih." jawabnya sambil tersenyum.
Lalu papi William menatap Hans dan Bima secara bergantian. "Maaf merepotkan kalian, pasti mami kalian terus menerus menelpon kan?"
"Ngga lucu pih!" ujar Hans dengan khas suaranya yang dingin, dan tatapan mata yang hampir terisi dengan air mata.
Papi William tertawa pelan melihat raut wajah Hans, sungguh sangat jarang melihat ekspresi seperti itu dari anak bungsunya.
__ADS_1
"Papi baru tau kalau kamu ternyata bisa khawatir, menangis, dan terlihat lemah seperti itu."
"Anak mana yang tidak khawatir saat melihat dengan jelas bagaimana papinya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit?! Anak mana yang tidak cemas, saat papinya yang terlihat sehat justru mendadak sakit parah seperti ini!?"
bukan Hans yang berteriak kencang mengatakan itu, melainkan Bima yang mengatakannya dengan diiringi tangisan.
Papi William hanya terdiam dan tak terkejut melihat respon Bima seperti itu, Papi Willi berusaha tersenyum agar mereka semua tidak mengkhawatirkannya.
"Maafkan papi." ucapnya lirih.
Mami Hellena yang sedari tadi hanya diam memeluk suaminya kini bersuara. "Mami maafkan, tapi papi harus janji untuk sehat kembali oke?"
Papi William tak menjawab ucapan istrinya, dia hanya tersenyum lembut menatap wajah cantik istrinya meski sudah tak muda lagi.
"Mih, Bim. Papi minta tolong, tinggalkan papi dengan Hans berdua. ada hal yang ingin papi bicarakan dengannya." tutur Papi William.
Awalnya mami Hellena menolak, namun akhirnya dia pasrah dan ikut bersama Bima keluar ruangan. sedangkan Hans sudah tak karuan, dia sungguh tidak ingin mendengar apa yang papinya sampaikan. Ntah mengapa perasaannya mendadak tidak enak.
"H--hans." panggil papi William.
"Langsung ke intinya." ucap Hans.
Papi William terkekeh. "Kamu ini, ngga bisa apa duduk dulu sini samping papi. Ntah dari mana gen kamu yang seperti itu."
Hans menuruti ucapan papinya, dia duduk di samping papinya. "Hans, maafin papi ya kalau selama menjadi seorang ayah banyak kesalahan yang papi buat terhadap kamu, Raja maupun Bima."
"H--hans, titip mami kamu ya? Jag--."
"Apaansih pih, aku nggamau dengar kalau papi bilang itu." sentak Hans.
"Hans, setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. cepat ataupun lambat, itu pasti datang."
Saat Hans hendak menjawab, namun papi William lebih dulu mengatakan. "Dengarkan papi sebentar jangan menyelanya." Akhirnya Hans pun memilih diam.
"Papi merasa ini sudah waktunya papi pergi. Tolong jaga mami kamu, jangan biarkan dia melamun sendirian, temani dia makan, kalau mami kamu ingin berbelanja papi sudah menyiapkan tabungan untuknya agar uang mu tidak habis karenanya. Pastikan senyumannya yang manis terus mengembang ya?"
Sesak.
Itulah yang Hans rasakan di dadanya, saat papinya mengatakan hal seperti itu kepada nya. Sungguh dia ingin menangis dan memeluk papinya dengan erat, namun dia masih diam tak menyela ucapan papinya.
"Hans, papi tau kamu anak yang paling kuat diantara anak-anak papi yang lain. Makanya ada banyak hal yang ingin papi sampaikan kepada mu, namun jangan terlalu merasa dibebankan oleh pesan-pesan papi ya. Karena papi percaya, kelak apapun yang kamu lakukan itu sudah memenuhi apa yang papi inginkan. Hans, terimakasih karena telah lahir menjadi anak papi, kalau kamu tidak lahir mungkin tidak akan penerus papi yang menjalankan bisnis keluarga. Kedua kakak mu sangat sulit untuk diandalkan."
"Maafkan papi ya Hans, maaf karena sedari kecil papi mendidik kamu dengan begitu keras dengan memaksa kamu mempelajari tentang bisnis. Kesel pasti ya sama papi? Tapikan memang otak kamu yang paling mempuni diantara kakak-kakak mu. Ntah apa jadinya kalau si Raja yang menjadi Presdir Lovmart." papi William terkekeh
Sungguh sangat menyesakkan hati, air mata Hans mulai tak tertahan berjatuhan. Papi William sempat diam sejenak memandangi putra bungsunya yang saat ini terpejam menahan tangisnya.
Tangan papi William perlahan terangkat untuk mengusap airmata yang berjatuhan di pipi Hans, Hans membuka matanya menatap nanar ayahnya. Dia memegangi tangan papinya yang terasa dingin di pipinya, Hans terisak pilu saat melihat papi William pun meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Wah seharusnya papi merekam dirimu yang seperti ini dan memberitahukannya kepada dunia, pasti akan menjadi trending topik di kalangan para pebisnis hehe."
Sempat-sempatnya orang tua ini bercanda di situasi seperti ini. batin Hans.
"Hans, tolong bantu Eranson jika dia sudah dewasa, untuk menjalankan perusahaan Lovmart yang ada di sini. Sejujurnya papi kurang percaya dengan keturunannya si Raja, tapi kalau seperti itu sama saja papi meremehkan diri papi sendiri. Titip kakak sulung mu juga ya, pastikan dia juga harus tetap idiot dengan leluconnya. Jangan biarkan dia menjadi dingin seperti mu kalau papi pergi, papi percaya kamu dan Bima bisa saling menguatkan satu sama lain. Terus pastikan keharmonisan keluarga kita ya, jaga menantu dan cucu-cucu papi yang menggemaskan. Bilangin ke si Raja, papi sudah menyiapkan warisan yang sama untuk kalian bertiga, jadi jangan berebut oke?"
Saat itu ada banyak sekali ucapan papi William yang disampaikan kepada Hans, sungguh baru kali ini Hans dibuat menangis sesenggukan oleh ayahnya. Setelah papi William selesai menyampaikan pesan kepada Hans, dia pun meminta Hans keluar dan memanggil Bima agar masuk ke dalam.
Yang dilakukan papi William pun sama, dia memesan banyak hal juga kepada Bima meskipun tak sebanyak yang dia pesan kepada Hans. Setelah selesai dengan Bima, papi William pun menyuruh mami Hellena untuk masuk. Setelahnya, semua orang disuruh masuk ke dalam ruangan.
Papi William mengucapkan terimakasih banyak kepada asisten dan juga orang-orang kepercayaannya, dan meminta mereka untuk setia dan tetap menjaga anak dan cucu-cucunya.
"Sudah sebaiknya kalian semua keluar, papi ingin istirahat." ucapnya.
Semuanya pun keluar, kecuali mami Hellena, Bima dan Hans.
Mami Hellena menemani papi William dengan duduk di sampingnya sambil memegangi tangan papi William, sedangkan Hans dan Bima memilih duduk di sofa.
Mereka semua tertidur pulas, kecuali Hans yang memang gelisah karena ucapan papinya tadi. Setelah beberapa jam saat Hans mulai memejamkan matanya, suara monitor holter berbunyi.
Deg
"Dokter!!"
Hans langsung membuka matanya, dan menatap kaget saat monitor itu memperlihatkan garis lurus. Dengan segera Hans berteriak memanggil dokter, teriakannya itu membangun Bima dan mami Hellena. mereka berdua pun terkejut, terlebih mami Hellena yang sedang menggenggam tangan suaminya.
"P--papi, pih." degup jantung mami Hellena berdetak cepat saat tidak ada respon suaminya.
Dokter segera masuk dan menangani papi William, mami Hellena di tarik menjauh dari sana oleh Bima. Mereka bertiga mengamati papi William sedikit jauh, agar para dokter tidak terganggu.
"B--bim lepaskan mami Bim, pih bangun pih hikss.."
Tangis mami Hellena pecah diiringi dengan monitor yang berbunyi, dokter dan suster yang terlihat panik juga.
Mata Hans saat ini seperti alat rekam yang sedang merekam kejadian pada saat itu, kakinya terasa lemas tak berdaya melihat situasi ini.
Dan pada akhirnya dokter pun menyatakan bahwa papi William telah meninggal dunia.
Bruk. Mami Hellena pun pingsan pada saat itu.
Flashback off.
Bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.
"Hai para readers setia, kisah tuan Hans. mulai hari ini dan seterusnya papi titip satu wanita cantik yakni mami Hellena dan ketiga anak laki-laki papi yang sifatnya sangat beragam itu. Jaga mereka ya! Pastikan kedepannya mereka semua dapat menghibur kalian kembali." (William Mikhailov)
__ADS_1