
Usia kehamilan Airen sudah menginjak usia empat bulan, ada banyak hal yang terjadi termasuk ngidam aneh suaminya yang kini sudah mulai mereda.
Airen bersyukur karena kehamilannya kali ini tidak begitu banyak masalah seperti dulu pada saat ia mengandung Baby 2A.
Hari-hari nya di penuhi dengan kebahagiaan semata, Hans yang senantiasa menjaga istri dan juga putri-putrinya. meski berkas-berkas perusahaan menumpuk.
Seperti saat ini, Hans mengajak istri dan juga kedua anaknya berbelanja dan bermain di mall. Airen tentu sangat bahagia menikmati momen seperti ini.
"Papa, aku lapal." rengek Amara yang sudah kelaparan.
Hans hanya tersenyum mendengar penuturan putri keduanya, Airen pun hanya terkekeh pelan. Karena Amara selalu saja merengek lapar, meski baru saja makan.
"Oke, kita cari makan." tutur Hans sambil menggandeng tangan kedua anaknya.
"Mas, aku mau belanja perlengkapan bayi. Kamu temani mereka makan."
"No, kita pergi sama-sama. Kamu ngga boleh sendiri, sekarang kita makan dulu."
Airen menghela nafas pelan. "Mas, aku belum lapar. Biarkan Amira dan Amara saja dulu, aku mau belanja. Biar tidak buang-buang waktu." ucap Airen meyakinkan.
Hans mengalah. "Baiklah, kalau ada apa-apa segera telepon aku. oke?"
"Oke mas. Amira Amara kalian sama papa dulu ya, mama mau belanja keperluan untuk adik kalian nanti. ngga apa-apa kan sayang?"
"Otey unda, hati-hati ya." tutur Amira dan Amara bersamaan.
Airen mengangguk kecil, pergi menjauh dari suami dan anak-anaknya. Meski Hans sedikit khawatir meninggalkan istrinya berbelanja sendirian, namun apa boleh buat? karena anak-anak sudah lapar.
"Oke ayo kita cari makan." Hans menggandeng kedua putrinya, menuju restoran yang terdapat di dalam mall.
Airen menuju toko perlengkapan bayi, wanita yang sedang hamil anak kedua itu nampak sibuk memilih pakaian untuk anaknya nanti.
Boy atau girl ya? batin Airen mengusap lembut perutnya yang sudah terlihat membuncit.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya pelayan di sana.
"Boleh, tolong carikan baju bayi yang sekiranya bagus dipakai untuk laki-laki maupun perempuan." tutur Airen.
"Baik, akan segera saya carikan."
sambil menunggu pelayan itu mencarikan baju bayi, Airen pun turut memilih beberapa perlengkapan lainnya.
Tiba-tiba ada seorang pria yang datang ke toko tersebut, laki-laki itu nampak bingung mencari sesuatu.
Airen menghampirinya, dan bertanya. "Mas, cari apa? sepertinya terlihat bingung."
"Oh iya mbak, ini saya sedang mencari kain dan popok bayi pesanan istri saya. Tapi saya bingung yang mana."
__ADS_1
Airen hanya mengangguk-angguk saja, kemudian dia ikut membantu mencarikan popok bayi.
"Ini mas popok bayi nya." tutur Airen menyerahkan popok bayi tersebut.
"Oh ini, makasih banyak ya mbak." ujar pria tersebut sambil tersenyum senang.
Airen hendak menjawab, namun tiba-tiba ada tangan yang melingkar kekar di pinggangnya. Airen menoleh ke arah samping, ternyata suaminya.
Hans tentu memasang wajah dan tatapan permusuhan kepada laki-laki yang berada di hadapannya, sedangkan pria itu hanya tersenyum kikuk.
"Mas, kamu kok disini?" tanya Airen sambil mencari keberadaan anak-anaknya.
"Kenapa? ngga boleh? atau kamu merasa terganggu mesra-mesraannya sama laki-laki ini. Iya?" tutur Hans yang sudah termakan kecemburuan.
Airen tentu tidak senang dengan ucapan suaminya, apakah mata suaminya sedikit rabun? Apakah Hans tidak bisa melihat bahwa dia sedang membantu laki-laki itu.
"Mas kamu apa-apaan sih, aku cuma bantuin cari popok bayi."
"Iya benar mas, tadi mbak nya hanya membantu saya." tutur si pria karena merasa harus ikut menjelaskan.
"Diam, siapa yang suruh kamu bicara?" ujar Hans dengan arogannya.
Airen naik pitam dibuatnya, tanpa permisi dengan suami ataupun pria tadi. Airen bergegas pergi keluar, meninggalkan toko itu.
"Nyonya ini baju-bajunya, lho nyonya tadi dimana ya?" tanya si pelayan yang tadi membantu Airen mencarikan pakaian bayi.
"Sayang tunggu." Hans menahan lengan Airen.
"Anak-anak dimana?" tanya Airen datar.
"Ada di restauran, aku titip mereka ke pegawai di sana."
Airen berjalan menuju restauran, tanpa menghiraukan panggilan suaminya. Dia sungguh di buat marah oleh Hans.
Sesampainya di restauran, matanya mencari-cari keberadaan anak-anaknya. Airen kalut dan takut dibuatnya, karena tidak menemukan anak-anaknya.
"Dimana mereka mas?" tanya Airen saat Hans sudah berada di sampingnya.
"Mereka di san--." ucapnya terhenti saat tidak melihat keberadaan anak-anaknya.
Air mata Airen sudah bercucuran karena panik dan takut. "Dimana mas? dimana anak-anak aku!" tanyanya sedikit kencang.
"Kamu tenang dulu, oke." tak bisa dipungkiri sebenarnya Hans juga panik.
Hans masuk ke dalam, dan menanyakan kepada pegawai lain. Sedangkan Airen memilih untuk mencari ke tempat lain, berharap anak-anaknya ada di sana.
Hans dibuat kesal oleh pegawai yang dimintanya untuk menjaga anak-anaknya, karena dia pun tak mengetahui kemana perginya kedua anak tersebut.
__ADS_1
Hans berlari keluar restaurant, mencari istrinya terlebih dahulu. langkahnya terhenti saat melihat Airen yang sedang memeluk kedua anaknya. Lega, syukurlah ternyata mereka sudah ketemu.
"Sayang." panggil Hans mendekat ke arah mereka.
"Papa bunda maaf, tadi aku kebelet dan minta kak Mira untuk temani ke toilet." tutur Amara meminta maaf karena sepertinya membuat kedua orangtuanya cemas.
"Aku uga minta maaf, kalena tadi ndak bilang ke pegawai." ujar Amira.
"Ngga apa-apa sayang, maafin papa ya karena tadi meninggalkan kalian." Hans berjongkok sambil memeluk kedua putrinya.
Airen menghapus air matanya, lantas dia pun segera berdiri dengan perlahan. Airen mencoba mengatur emosinya yang tidak stabil.
"Sayang." panggil Hans perlahan.
Airen tidak menghiraukan ucapan suaminya. "Ayo nak, kita pulang saja." tutur Airen kepada kedua anak-anaknya.
"Papa bunda marahan?" ujar Amara bertanya.
Airen menggeleng pelan. "Ngga sayang, bunda hanya capek ingin istirahat di rumah."
Hans tentu merasa bersalah kepada istrinya, karena tidak menjaga anak-anak dengan baik. "Nanti papa ajak kalian ke sini lagi, sekarang kita pulang ya? kasihan bunda dan dede bayinya harus istirahat." ujar Hans memberikan pengertian untuk anaknya.
"Maafin aku, karena aku bunda sama papa jadi berantem." lirih Amara.
"Ngga sayang, bunda dan papa ngga berantem. Iyakan pah?"
Hans tersenyum meyakinkan anak-anaknya. "Iya dong, papa dan bunda ngga berantem."
"Mana buktinya?" tanya Amara.
"Bukti apa Ara?" tanya Airen menatap wajah anaknya yang lebih mirip suaminya.
"Bukti kalau papa dan bunda ngga berantem, papa harus cium bunda sebagai buktinya."
Airen tentu melebarkan matanya saat mendengar ucapan anaknya, sedangkan Hans merasa senang tentunya.
"Baiklah papa akan buktikan kalau seperti itu."
"Ngga, ini tempat umum. Ngga boleh seperti itu, Ara ngerti kan?"
"Yasudah kalau gitu di mobil, ayo kita pulang!!" ucapnya bersemangat.
Hans tentu lebih bersemangat, sambil menggendong kedua putrinya berjalan cepat menuju parkiran. Sedangkan Airen hanya dapat menghela nafas pelan.
awas kamu mas Hans, aku pokoknya belum maafin kamu. batin Airen kesal.
bersambung...
__ADS_1