
Hari demi hari berganti, bulan dan tahun pun turut berganti. Satu bulan mendatang, Amira dan Amara genap empat tahun. Eza yang sudah memasuki usia remaja, Gebila yang tumbuh menjadi gadis priang seperti om-nya.
Semuanya kembali dengan aktifitasnya masing-masing, Raja yang sibuk dengan jadwal penerbangannya, Hans yang sibuk dengan dokumennya, begitupun dengan Bima yang sibuk menangani pasien.
Ada banyak hal yang terjadi di tiga tahun terakhir ini, bahkan Barra dan Roni sudah memiliki anak yang usianya hanya terpaut tiga bulan. Anak Barra berjenis kelamin laki-laki, sedangkan anaknya Roni berjenis kelamin perempuan. Mereka berusia dua tahun, teman sebaya.
Mami Hellena dan papi William sedang berada di Paris, karena perusahaan sedang berkembang pesat belakangan ini.
"Mom Ala dahat." adu Gebila kecil yang genap berusia tiga tahun sebulan lalu.
"Nda Ebi, Kaka nda jahat." ucap Amara yang berusaha membela diri.
Bella terkekeh pelan, karena pasalnya anaknya itu enggan memanggil Amara dengan sebutan kakak. Sedangkan Amara kekeh ingin dipanggil kakak oleh Gebi, karena Gebi memanggil Amira dengan sebutan kakak.
"Mom au ituu." rengek Gebila menunjuk ke arah Amara.
Amara kecil lantas menggeleng. "Nda, Kaka nda bau. Kaka dah mandi Ebii." Amara tak terima jika dirinya dikatakan bau oleh adik sepupunya.
"Bukan bau kak, Gebi mau mainan yang kaka pegang." tutur Airen yang baru datang sambil menggandeng tangan Amira, karena tadi anak itu ingin pup.
"Ini, tapi panggil kaka ya." Amara memberikan mainannya kepada Gebi, hanya karena dia ingin dipanggil kakak.
"Nda au, kak mila yu main." Gebi justru menarik lengan Amira untuk bermain bersama.
Tentu saja karena hal itu Amara menangis kencang, padahal dia sudah berusaha berbagi mainan kesayangannya. Amira yang memang sebagai seorang kakak pun mengelus lembut kepala Amara yang tengah menangis.
"Dah ya, Ala nda boleh nanis. ayo main sama kaka dan Ebi, nanti minta papa beliin mainan lagi ya."
Amara mengangguk, dia merangkul lengan Amira dengan erat. Pokoknya Ara sangat kesal dan marah dengan Gebila.
Airen dan Bella hanya tersenyum melihat ketiganya bermain bersama, saat mereka tengah asyik menikmati momen yang terjadi tiba-tiba suara bel pintu berbunyi. Mbok Nin pun membukakan pintu, dan ternyata ada Endah juga Ica yang sedang berkunjung sambil membawa anak-anak mereka.
Mereka semua nampak heboh, terlebih anaknya Barra yang sangat nempel dengan Amira padahal Amira selalu galak terhadapnya.
"Robi kamu tidak ada kapoknya ya, padahal kak Mira galak dengan mu." tutur Airen yang melihat Robi langsung mendekati Amira.
Robi Anson Hermawan. Nama putra pertama Barra dan Annisa atau kerap di sapa Ica.
Sedangkan anaknya Endah, enggan ikut bermain. Karena anak itu butuh beberapa waktu untuk beradaptasi, dan terlepas dari Endah. Namun anaknya Endah itu sangat suka sekali digendong oleh Eza, hanya dengan Eza saja dia langsung mau.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Eza turun dari tangga hendak berpamitan karena ada pelajaran tambahan. Bahkan belum sempat Eza menghampiri, Eliana langsung berlari kecil ke arah Eza. Eza menangkap tubuh mungil tersebut dan menggendongnya.
Elianna putri rodriguez.
"Eli suka bangat sama kamu kayaknya Za."
"Bukan kayaknya Ren, tapi emang suka." jawab Endah sang ibu dari Eliana.
__ADS_1
"Kak, aku mau izin les." ucap Eza kepada kakaknya.
"Eli ayo sini sama mama nak, Kak Eza nya mau pergi les. sini sayang." Endah berusaha mengambil anaknya dari gendongan Eza.
Namun Eliana justru memeluk erat leher Eza. "Nda au." rengek Eliana, karena dia ingin bersama dengan Eza.
"Ana main dulu ya, kakak pergi sebentar kok." tutur Eza pelan, sambil mengelus lembut kepala Eliana.
Tiba-tiba Amara datang, dan langsung memeluk kaki Eza. "Om Za, ndong aku dong." (Om Za, gendong aku dong)
"Ebii uga auu." Gebila berlari kecil memeluk kaki Eza yang sebelahnya.
Amira hanya diam mengamati, sedangkan Robi asyik menempel pada Amira. "Ihh lepas!! Unda, hiks.." Amira akhirnya menangis, karena engga mau dipegang oleh Robi.
Begitupun dengan Amara dan Gebila yang saling pukul, untung saja dilerai oleh Bella dan Endah. Airen nampak pusing, mereka kalau sudah kumpul ya seperti ini. Belum lagi Eranson dan juga Gibran.
Akhirnya Eza memutuskan tidak jadi pergi, dia membawa Eliana untuk bermain bersama di halaman belakang rumah. Eza menggendong Eliana yang berusia dua tahun itu, dan duduk di kursi taman belakang.
"Tumbuh jadi anak yang sehat ya Ana." tutur Eza lembut menatap manik mata anak perempuan berusia dua tahun itu.
"Kamu manis bangat sih, perasaan kak Endah ngga manis seperti kamu." puji Eza saat melihat senyuman Eliana.
"Tata tium." (Kaka cium)
Eliana merambat ke arah wajah Eza, tepat di hadapan Eza dia mengecup bibir Eza. Eliana kecil tertawa, sedang Eza mematung ditempat. Karena pasalnya dia hanya mencium Eliana atau keponakan lainnya di pipi bukan bibir.
Astaga anak kecil ini berani sekali mencuri ciuman ku. batin Eza.
🍁🍁🍁
Di sisi lain, Hans yang tengah asyik dengan pekerjaannya harus dikejutkan oleh Roni yang datang tiba-tiba ke ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Ron ada apa?" tanya Hans, karena wajah Roni sangat cemas.
"T--tuan, apa anda tidak mengaktifkan telepon?" tanya Roni.
Hans menggeleng, karena sedari tadi dia memang sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
"Nyonya Hellena menelpon, beliau bilang t--tuan besar masuk rumah sakit."
Apa!
"P--papi." lirih Hans, karena tak menyangka jika papinya akan masuk ke rumah sakit. Setahu Hans, papinya itu sangat sehat jarang sekali jatuh sakit.
Makanya Hans sangat khawatir dengan berita itu, "Ron, tolong atur ulang jadwal meeting. Dan sore ini aku mau langsung pergi ke Paris, jangan beritahu orang rumah. Kabari saja kepada Bima, tapi jangan ke Raja." tutur Hans.
Roni mengangguk paham, dia pamit undur diri dari ruangan Hans. Sedangkan sekarang Hans tidak lagi fokus terhadap pekerjaannya. Dia mengambil handphonenya, dan langsung menelpon mami nya.
__ADS_1
drrddttt..
📞"H--Hallo Mam."
📞"Hikss... H--hans, pap--pi papi mu Hans.."
📞"Mam tenanglah, papi pasti baik-baik saja. Sore ini aku berangkat ke sana, jangan khawatir oke."
📞"J--jangan beritahu Raja.."
📞"I--iya."
Tut.
Mamih Hellena mematikan sambungan teleponnya, Hans memejamkan matanya. Dia tahu alasan Mamih Hellena enggan memberitahukan hal ini kepada Raja.
Karena tentu Raja pasti yang paling cemas dan tak dapat menahan tangisnya, meskipun kita tidak tahu sebenernya papi William sakit apa. Hans hanya berharap papinya baik-baik saja. Meskipun ada sedikit perasaan takut, kala mendengar ibunya menangis seperti itu.
Hans kemudian menelpon istrinya.
📞"S--sayang."
📞"Mas, kamu kenapa?" tanya Airen di sambungan telepon.
📞"Aku baik, kangen mau lihat kamu dan anak-anak." ucapnya.
📞"Nanti juga kamu pulang, padahal belum seharian lho."
📞"Nanti sore aku mau pergi ke Paris, untuk sementara waktu. Kamu jaga anak kita baik-baik ya."
📞"Kok mendadak sih, kamu kenapa baru bilang sama aku?"
📞"Maaf, habis dadakan sih. Pokoknya kamu baik-baik, nanti mau dibawain oleh-oleh apa hem?"
📞"Ngga usah, aku marah sama kamu."
Tut.
Airen mematikan panggilan teleponnya, Hans hanya tersenyum kecil. Maaf aku bohong, karena aku tidak ingin kalian semua menjadi khawatir. batin Hans.
Siang itu, Hans langsung bergegas menuju bandara menggunakan pesawat pribadinya. Dia tidak jadi berangkat sore, karena Mamih Hellena sudah menelpon kembali agar Hans segera ke Paris.
Bima turut ikut dengan Hans, dia sudah pamit kepada Bella dengan mengatakan bahwa ia sedang ada tugas ke luar kota beberapa hari.
Mereka berdua kalut dalam pikirannya masing-masing, ada yang memikirkan kenapa papi Willi bisa sampai sakit seperti itu. Bahkan ada yang memikirkan bagaimana cara menyampaikan berita ini kepada Raja, kakak pertama mereka.
Karena sejatinya, meskipun Raja yang paling ceria dan yang paling tua. Dia jugalah yang paling gampang untuk menangis, bahkan saat dulu Hans yang dipukul oleh kakak tingkatnya, Raja lah yang menangis.
__ADS_1
Karena ada penyesalan tersendiri di hati Raja, dia akan merasa bersalah karena tidak bisa melindungi keluarganya.
Bersambung...