Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 90


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Daniel dan Lusiana sudah terbebas dari penjara karena Hans yang membebaskannya, namun mereka tetap dalam pengawasan. Laura terbaring lemah di atas brankar, rasa sakit menggerogoti seluruh tubuhnya. Hari ini Laura akan dipindahkan pengobatannya ke Inggris, sesuai dengan apa yang Daniel minta kepada Hans.


Luis membawa putrinya ke rumah sakit, karena demam. Saat di tengah koridor rumah sakit, Luis tanpa sengaja bersenggolan dengan wanita paruh baya yang tak lain adalah Lusiana ibu dari Laura.


"L--Luis?" gumam Lusi tak percaya.


Deg


Luis sangat dibuat terkejut karena dia tak menyangka jika ibu Laura berada di sini, hatinya mulai berdebar tidak karuan.


"D--daddy, pusing." ucap Leana yang berada di gendongan sang ayah.


Lusi semakin dibuat terkejut, karena kini pandangannya menatap seorang anak kecil sekitar berusia lima tahun yang berada dalam dekapan Luis.


"Maaf, permisi." ucap Luis kepada Lusi dan langsung pergi meninggalkannya di koridor.


Apakah dia cucu ku? batin Lusi memikirkan anak kecil itu, mata yang sangat mirip dengan Laura. hati kecil wanita paruh baya itu, tiba-tiba tersentuh saat pertamakali melihat wajah cucunya.


Lusi segera mengejar Luis karena dia ingin sekali melihat cucunya lebih dekat, meskipun memang kehadiran cucunya tidak diinginkan oleh nya maupun Daniel. namun ada perasaan bahagia kala melihat cucunya.


Luis memanggil dokter untuk segera memeriksa putrinya, Dokter pun segera melakukan tindakan pemeriksaan kepada Leana.


"Bagaimana Dok?" tanya Luis khawatir.


"Tidak apa-apa tuan, hanya demam saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, istirahat yang cukup dan nanti saya resepkan obat serta vitamin untuknya." ucap sang dokter.


"Syukurlah, terimakasih dokter." ujar Luis.


Dokter itu mengangguk dan ia pamit undur diri, Luis mendekat ke arah brankar di usapnya lembut kepala sang anak.


"Daddy." panggil Leana dengan suara lirih.


"Yes baby?"


Tanpa mereka sadari, ternyata Lusi mengamati interaksi mereka dari jendela dengan sembunyi-sembunyi.


"D--daddy, I want mom." ucapnya lirih.


Luis tersenyum getir saat mendengar putrinya menginginkan seorang mama, Luis tersenyum dan mengecup kening putrinya.


"Kamu harus sembuh dulu ya sayang, nanti Daddy carikan mommy untuk kamu." ucapnya lembut.


Lusi mendekap bibirnya dengan tangan, berusaha tidak menimbulkan suara. Karena saat ini ia tengah terisak saat mendengar sang cucu menginginkan seorang mama. Luis langsung pergi dari sana, karena ia takut nanti ketahuan.


Cklek


Daniel dan Laura menatap ke arah pintu terbuka, dilihatnya sang ibu yang baru saja datang. Laura tersenyum, dia bersyukur karena Hans masih memiliki hati untuk membebaskan kedua orangtuanya. Laura berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengganggu rumah tangga Hans dan Airen.


"Mama abis dari mana?" tanya Laura kepada Lusi.


Lusi tersenyum, langkah kakinya menuju ke brankar tempat Laura terbaring. "Dari luar sebentar, bagaimana kondisi kamu nak?" tanyanya.


Laura dengan wajah pucatnya berusaha mengembangkan senyumannya, "Sedikit lebih membaik, memang kata dokter aku sakit apa?" tanya Laura, karena dia sendiri tidak mengetahui tentang penyakitnya.


Daniel dan istrinya saling beradu pandang, seperkian detik kemudian Daniel tersenyum sambil mengusap lembut kepa putri semata wayangnya itu.


"Nanti papa kasih tau kamu, sekarang istirahatlah dulu." ucap Daniel.


"Pa Ma, kenapa rambut aku jadi sering rontok?" tanya Laura karena dia merasakan betul rambutnya kini mulai menipis.


"Tidak apa-apa Laura, mungkin karena rambut kamu mulai panjang. Sudah tidak usah memikirkan soal rambut, sebaiknya kamu istirahat." ujar Daniel.


Laura mengangguk patuh, dia pun memejamkan matanya untuk beristirahat. Sedangkan Lusi menatap iba kepada anaknya, terlebih hingga hari ini Laura masih belum tahu bahwa anaknya masih hidup.


Apa kamu akan marah sama mama kalau kamu tahu bahwa anak kamu masih hidup? Dia cantik seperti kamu Ra, mamah berharap semoga cucu mama tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. batin Lusi.


***


Hari ini Roni membawakan pengasuh untuk anak-anak Tuan nya, yang satu wanita paruh baya seperti Mbok Nin, dan yang satu lagi wanita seusia Hans.


Ting tong. (anggep suara bel)


"mbok, tolong bukain pintu." Hellena meminta tolong kepada mbok Nin.

__ADS_1


"Baik, Nyah."


Mbok Nin membukakan pintu, ternyata Roni yang tak lain adalah asisten Hans, dan juga kedua pengasuh baru.


"Den Roni, ayo den silahkan masuk." ucap mbok Nin membukakan pintu.


Roni dan kedua pengasuh itu masuk ke dalam mansion.


"Siapa mbok?" tanya Hellena menghampiri.


"Ini Nyah, ada Den Roni." ucap mbok Nin memberitahu.


"Eh Roni, lho ini siapa Ron?" tanya Hellena menatap kedua wanita yang berbeda generasi itu.


"Tuan Hans meminta saya untuk mencarikan pengasuh bayi, dan ini kedua pangsuh nya."


Hellena menatap dari kepala hingga ujung kaki, yang Hellena bingung mengapa Roni mencarikan wanita seusia Hans untuk dijadikan pengasuh?


"Oke, mbok ajak mereka ke ruang tamu sebentar. Nanti saya nyusul, saya mau berbicara dengan Roni sebentar." ucapnya.


mbok Nin pun membawa kedua wanita itu ke ruang tamu, sedangkan Hellena mengajak Roni untuk berbicara sebentar.


"Ron, itu kenapa yang satunya wanita seusia Hans sih. Apa tidak ada wanita paruh baya gitu?"


"Maaf nyonya, tapi memang hanya ada dua itu saja yang memenuhi syaratnya. Dan mereka juga bisa dibilang baik dalam bekerja, soalnya tuan Hans tidak mematok usia. jadi saya pilih yang terbaik dalam bekerja saja." tutur Roni menjelaskan.


"Oh seperti itu, oke kalau gitu. Terimakasih ya, kamu sudah boleh pergi, biar saya yang menangani mereka." ucap Hellena.


"Baik nyonya, kalau begitu saya pamit."


Hellena mengangguk, dia pun segera menuju ruang tamu untuk bertemu dengan pengasuh cucu-cucunya.


"Perkenalkan diri kalian masing-masing." ucap Hellena datar.


"Saya Wati, biasa dipanggil mbok Ti Nyah." ucap wanita yang sepantaran dengan mbok Nin.


"Saya Nisa, biasa dipanggil Ica." ucap wanita yang sepantaran dengan Hans.


Hellena mengangguk, "Baiklah, kalian sudah dipilih oleh asisten anak saya untuk menjadi pengasuh cucu-cucu saya. Saya harap kalian dapat bekerja dengan baik, dan mematuhi peraturan yang ada." ucap Hellena.


Hellena tersenyum, "Ini peraturan yang wajib kalian taati." ucap Hellena menyerahkan lembaran kertas untuk mereka baca.


kedua wanita itu nampak membaca dengan cermat dan teliti, "Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Hellena.


"Tidak Nyah, isinya cukup jelas. Kami akan berusaha untuk mematuhinya."


"Bagus, tunggu sebentar saya akan panggil cucu dan menantu saya."


Hellena pergi memanggil Airen dan Ratu, serta cucu-cucunya.


"Ma itu siapa?" tanya Ratu penasaran.


"Nanti Mamih kenalin." ucap Hellena sambil menggendong Amara.


Airen memilih diam, mengamati kedua wanita itu. Apa mereka yang akan menjadi pengasuh Mira dan Ara? batin Airen.


"mbok Wati, Ica. Perkenalkan ini Ratu, menantu pertama saya. ini Airen, menantu ketiga saya. ini Eranson cucu pertama saya, anak dari Ratu dan juga Raja. ini Gibran cucu kedua saya, anak dari Bima dan juga almh istrinya. Ini Eza adik dari Airen, dan ini si kembar Amira dan Amara anak dari Airen dan juga putra bungsu saya. Keluarga saya cukup banyak, tapi saya yakin kalian pasti hapal kalau sudah lama tinggal disini." ucap Hellena memperkenalkan mereka satu persatu.


"Oma sudah ya, aku mau main lagi sama kak Eza." ujar Gibran.


"Yasudah kalian bertiga boleh pergi, maen hati-hati ya. Ratu tolong awasi anak-anak." pinta Hellena.


Ratu mengangguk patuh, dia membawa ketiga anak-anak pergi bermain di taman belakang. sedangkan Airen masih berada di sisi mertuanya.


"Ren, mereka yang akan menjadi pengasuh anak-anak kamu. Itu mbok Wati, dan ini Nisa." ucapnya.


"Hallo s--saya Airen, mohon bantuannya untuk mengurus dan menjaga anak-anak saya." ucap Airen sedikit gugup.


"Senang bertemu dengan Non Airen, kami akan berusaha untuk bekerja semaksimal mungkin." ucap mereka bersamaan.


"Saya juga senang bertemu kalian."


Hellena tersenyum melihat tingkah menantunya yang sedikit kaku, tumben sekali Airen gugup seperti itu.


"Baiklah, kalian mulai bekerjanya besok saja. sebaiknya sekarang istirahat lebih dulu, mari saya antar ke kamar kalian." ucap Hellena sambil membawa Amara.

__ADS_1


Mereka berdua mengikuti langkah kaki Hellena, sedangkan Airen masih berdiam diri di ruang tamu sambil menggendong anak pertamanya.


"Semoga mereka dapat bekerja dengan baik." gumam Airen.


***


"Tuan, saya sudah mengantarkan pengasuh bayi langsung ke mansion." lapor Roni.


Hans sedikit terkejut karena dia belum melihat pengasuh untuk anak-anaknya, tapi Hans memercayakan hal itu kepada Roni.


"Hn, oke."


Ck apa-apaan tuan Hans, ngga ada uang tambahan gitu. batin Roni mendengus kesal.


🌹


Setelah pekerjaan semua selesai, Hans memutuskan untuk kembali ke mansion lebih awal. Ntah mengapa akhir-akhir ini dia ingin sekali menempel terus kepada istrinya.


Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah beberapa menit perjalanan akhirnya dia sampai di mansion. Hans melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.


"Sayang aku pulang." teriak Hans memenuhi isi ruangan rumah.


Airen langsung menghampiri dan mencium tangan suaminya. "Tumben mas pulang sore."


"Kangen kamu." Hans memeluk erat Airen, masa bodo jika ada yang melihatnya.


"Mas jangan seperti ini, malu kalau ada yang melihat. Ayo mas mandi dulu, nanti aku siapin makanannya." ucap Airen menggandeng lengan suaminya.


"Roni bilang, dia sudah membawakan pengasuh untuk Amira dan Amara." ucap Hans memberitahu.


Airen mengangguk, "Iya mas tadi siang sudah datang, sekarang juga mereka sedang mengasuh Mira dan Ara di taman belakang. Padahal Mamih bilang besok saja mulai bekerjanya, tetapi mereka memaksa ingin bekerja muali sekarang."


"Bagus dong kalau gitu, nahkan Mira dan Ara sudah ada yang jaga, main bentar ya sayang." pinta Hans dengan mata yang berbinar.


Pletak


"Awwhh."


Ntah dari mana Mamih Hellena datang memukul kepala anak bungsunya, "Masih sore mau main apa hah!" tegur Hellena melotot tajam.


Hans mendengus kesal, daripada melayani Mamihnya dia memilih masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu.


"Yailah dia marah." Hellena terkekeh melihat putranya itu, jika saja dia Raja pasti sudah protes panjang lebar.


"Susul Hans sana, kasih asupan vitamin. Kasihan anak mamih asem bangat mukanya." ucap Hellena kepada Airen.


meskipun hanya bercanda, Airen sangat malu mendengar penuturan mertuanya. Airen pun menyusul suaminya ke kamar, untuk menyiapkan segala keperluannya.


Saat Airen masuk ke dalam kamar, ternyata suaminya sedang mandi. Airen pun segera mengambilkan baju untuk suaminya.


Krek


Hans membuka pintu kamar mandi perlahan, Hans tersenyum lebar saat mendapati sang istri yang tengah memilih pakaian untuknya. Hans melingkarkan tangannya di perut Airen.


"Mas ihh basah tau, sana jauhan. lagi juga mandi sebentar bangat, apa yakin sudah bersih?" protes Airen.


"Kamu boleh mengeceknya." ucapnya.


"Mas basah, jangan nempel-nempel. Ini pakai bajunya." ucap Airen menyerahkan pakaian suaminya.


"Ayo sayang, main bentar."


Airen memicingkan matanya menatap tajam kepada suaminya, "Pake bajunya, ngga ada main-main. udah cepet, abis ini kamu makan."


Raut wajah Hans langsung berubah, ayah dari dua anak itu langsung duduk di kasur. "Percuma sudah ada pengasuh juga." gumam Hans yang masih bisa di dengar oleh Airen.


Airen yang melihat raut wajah suaminya, menjadi tidak tega. perlahan Airen mendekat, dan duduk dipangkuan suaminya.


"Janji sebentar saja ya." bisik Airen.


Hans tersenyum lebar dan mengangguk patuh, Hans pun memulai aksinya. Dan akhirnya mereka berdua melewati sore hari dengan begitu bahagia, namun tidak dengan Airen. karena suaminya melanggar janjinya, ternyata tidak hanya sebentar.


**Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS**.

__ADS_1


jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.


__ADS_2