
(MOMMY AKU KANGEN)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dilihatnya sang istri tengah tertidur pulas begitupun dengan Eza adik iparnya.
Hans mengulas senyumannya, meskipun dia tahu pasti setelah sampai di mansion. Dirinya dan kakaknya akan saling diam.
Hans tak pandai untuk mengutarakan hati dan perasaannya, selama ini dia memang tidak pernah berbagai cerita kepada kakak-kakak nya. Hans hanya akan mengobrol tentang pembicaraan yang sifatnya penting saja.
Bahkan kepada Papih dan juga Mamihnya, jarang sekali Hans bercerita. Kecuali memang mereka, mengetahui lebih dulu.
Selama ini, William memang lebih memperhatikan Hans. Karena dia tahu, karakter Hans seperti apa. Meskipun terkadang, William sangat kesal jika Hellena mengabaikan dirinya demi anak bungsunya itu.
Maafkan aku kak Bima, kali ini aku harus egois. Aku percaya, sangat mudah bagi mu untuk menemukan cinta mu. (batin Hans).
Gina maaf, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan ku untuk Gibran. (batin Hans).
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Hans telah sampai di mansion. Dia melirik ke arah istrinya yang masih setia tertidur. Sedangkan Eza, sudah membuka matanya.
"Kak Hans." panggil Eza.
Sssttttsss.
Hans mengisyaratkan kepada Eza, agar tidak berbicara. Karena takut mengganggu tidurnya Airen.
Dasar orang dewasa, kalau kata si Karun mah namanya bucin. Budak cinta hehe. Duh ngga sabar bertemu dengan si Karun. (batin Eza).
Dengan sabar, Hans menunggu istrinya terbangun dengan sendirinya. Karena Hans tak tega untuk membangunkannya.
"Ugghh, hhoaamm" Airen menggeliat, sambil menguap.
Dia mengerjapkan matanya perlahan, lalu matanya mengedar menatap ke arah depan mobil.
"H--Hah." Airen terpenjat kaget saat melihat mansion rumah yang pernah dia kunjungi.
Astaga, ini rumah Tuan Hans. (batin Airen).
"Cahya." panggil Hans lembut.
"Aaaa..!" Airen terkejut, hingga badannya terjembap ke sudut pintu mobil.
"Aww." ringis Airen.
Hans langsung membantu istrinya untuk duduk seperti semula, dia mengambilkan air mineral dan menyuruh istrinya untuk meminumnya.
"Minumlah, pelan-pelan." ucap Hans sambil menyerahkan air mineral itu.
Airen langsung mengambil botol mineral itu, dan meminumnya dengan pelan-pelan.
Glup glup glup.
Hans mengamati leher istrinya yang sedang meminum air, sungguh manis menyaksikan Airen yang sedang meminum.
"Sudah, terimakasih." ucap Airen seraya memberikan botol itu kembali ke Hans.
Hans tersenyum, "Ayo, kita masuk menemui Papih dan Mamih." ucap Hans.
Airen nampak berpikir, dia tidak enak jika bertemu dengan Bima. Biar bagaimanapun rasa canggung pasti ada, terlebih Bima adalah orang yang selalu menolongnya dulu.
"Kakak! Ayo cepetan. Aku capek di mobil terus." ujar Eza yang menyadarkan lamunan Airen.
"Tck, duduk doang kok capek." ujar Airen.
Hans keluar mobil terlebih dahulu, dia membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dengan sigap Hans menaruh tangannya di kepala Airen, agar tak terbentur dengan atas mobil.
__ADS_1
"Pak Mun!" panggil Hans kepada satpam pribadi mansionnya.
"Iya Tuan muda?" tanya Pak Mun.
"Tolong bawakan barang-barang saya dibagasi, dan bawa masuk ke dalam ya." ujar Hans meminta tolong.
"Baik, Tuan." jawab Pak Mun.
Hans menggenggam tangan kanan Airen dan membawanya masuk ke dalam mansion, Airen pun menggenggam tangan Eza di sebelah kiri.
Airen sangat deg-degan, bagaimana kelangsungan hidupnya nanti. Dia sangat tidak nyaman berada dilingkungan seperti ini.
Hans mengerjakan genggaman nya, dia tahu pasti istrinya sedang gugup.
"Tenanglah, ada aku." ujar Hans sambil tersenyum tulus.
Cklek.
"Sayang, jangan lupa memanggil ku dengan sebutan Mas ya." ucap Hans mengingatkan.
Airen hanya mengangguk patuh.
"Lhoo.. Tuan muda." ucap Mbok Nin, melihat kedatangan Hans.
"Dimana semua orang, Mbok?" tanya Hans.
"Ada di ruang keluarga, Tuan." jawab Mbok Nin.
Hans langsung membawa istrinya dan juga Eza, untuk masuk ke ruang keluarga. Setelah diberitahukan oleh Mbok Nin.
Drapp.. Drap..
Hans melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang keluarga yang terbuka lebar, dilihatnya semua orang sedang berbincang. Namun Hans tak menemukan sosok dua kakaknya.
"Mih." panggil Hans.
"Hanss." teriak Hellena, dia berlari menghampiri putranya. Namun yang dia peluk adalah Airen.
"Ya ampun, menantu baru Mamih. Mamih kangen bangat sama kamu." ucap Hellena sambil memeluk Airen dengan begitu erat.
Jadi, Tante Hellena sudah mengetahuinya? (Airen bertanya dalam hati).
Anak sendiri terlupakan. (batin Hans).
"Sayang, hei. Jangan diam saja, ada apa hm?" tanya Hellena melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa, Tante." ucap Airen, yang masih mencerna hal yang baru saja terjadi.
Hellena memperlihatkan wajah sedihnya, dia langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Hellena mengaduh kepada William.
"Sayang, lihatlah. Menantu kita memanggil ku dengan sebutan Tante." lirih Hellena.
Airen dibuat panik oleh reaksi Hellena, dia bingung harus apa. Airen menatap melas ke arah suaminya. Seakan meminta tolong.
Hans geli sendiri melihat raut wajah panik Airen, ingin rasanya menertawakan istrinya. Namun takut hubungannya malah kembali menjadi tidak baik.
"Mih, Cahya belum terbiasa." ucap Hans datar.
"Oke tidak apa-apa, Mamih maafkan. Tapi harus dibiasakan ya." ujar Hellena.
"Maaf Mah." ucap Airen tersenyum.
Hellena kembali menghampiri Airen, dan memeluknya dengan erat. Hellena menangis bahagia karena akhirnya Airen mau menerima Hans.
"Terimakasih Ren, karena telah memaafkan anak Mamih. Selamat datang di keluarga Mikhailov. Semoga kamu dan Hans, selalu diberikan kebahagiaan." ujar Hellena ditelinga Airen.
Perasaan Airen akhir-akhir ini menjadi lebih sensitif, dia pun ikut menangis haru. Ntah mengapa hatinya menghangat dengan penuturan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Mamah, aku juga mau kenalan dengan adik ipar." ujar Ratu protes.
Hans bahagia, karena kakak iparnya tidak iri sama sekali dengan kasih sayang yang diberikan Mamih Hellena kepada Airen.
"Ayo, sebaiknya kita berbincang di sofa." ajak Hellena kepada dua menantunya.
Saat Airen hendak berjalan, namun tiba-tiba perutnya terasa kram. Dia pun meringis kesakitan.
"Aww." ringis Airen sambil memegang perutnya.
Sontak semuanya panik melihat Airen yang tengah kesakitan, Hans langsung menghampiri istrinya dan melontarkan beberapa pertanyaan.
"Ada apa sayang? Mana yang sakit, kita ke dokter ya." ujar Hans dengan panik.
Pfffttt hahaha, anak kutub itu sudah mencair rupanya. (batin William).
Astaga, Hans sungguh mirip dengan Papihnya. Sewaktu aku hamil Raja. (batin Hellena, yang mengingat momen pertama kali dirinya hamil).
Gibran menyadari suara Uncle nya, dia pun menoleh ke belakang. Mata Gibran berbinar saat melihat sosok yang sangat dia rindukan.
"Mommy!!" teriak Gibran, dan berlari ke arah Airen.
Semua orang langsung menoleh ke arah Gibran, begitupun dengan Airen. Dia tersenyum melihat Gibran sangat antusias menyambut kedatangannya.
Grep.
"Mommy! Aku kangen." ucap Gibran memeluk kaki Airen dengan erat.
Hati Hans tak karuan, rasanya sakit. Mendengar keponakannya memanggil istrinya dengan sebutan Mommy.
"Gibran, Tante Airen perutnya sedang kram. Kamu sama Mamah dulu ya." ujar Ratu, kepada Gibran.
"No, Mamah! Aku mau sama Mommy, aku kangen. Mommy kita ke rumah sakit yuk, aku mau ajak Mommy bertemu dengan Daddy. Pasti Daddy seneng lihat Mommy." ujar Gibran bersemangat.
Airen melirik wajah suaminya, yang sudah tak bersahabat. Hans menahan emosinya, dia tak mungkin marah kepada anak kecil yang tak tahu masalah orang dewasa.
"Mommy.." panggil Gibran yang sudah hampir mau menangis.
"E--ehh, kamu jangan menangis sayang." ujar Airen panik.
"Gibran, Tante Airen sedang sakit perutnya. Kamu sama Oma dulu ya." ujar Hellena, dia berusaha membiasakan kepada Gibran agar memanggil Airen dengan sebutan Tante.
"No Oma, aku mau sama Mommy!"
Rasa sakit akibat kram yang menjalar di bagian perutnya, membuat Airen sedikit pusing. Terlebih ocehan Gibran yang terus saja merengek kepadanya.
Rasa lelah dan capek akibat perjalanan dari desa ke kota, membuat Airen sedikit pusing. Kepalanya terasa berat, sungguh dia tak dapat menahan rasa kram diperutnya.
Pandangan nata Airen perlahan memudar, semua wajah orang-orang yang dilihatnya memudar. Airen tak sanggup lagi, dia pun akhirnya tumbang.
Bruk.
"Mommy!" ucap Gibran kaget.
"Airen!" teriak Hellena dan juga Ratu.
"Kakak." teriak Eza melihat kakaknya pingsan.
"Sayang." ujar Hans dengan panik.
Airen pingsan, untung saja ada Hans. Dengan sigap laki-laki itu langsung menggendong istrinya dan membawanya menuju kamar.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1