Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 20


__ADS_3

(CLBK)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹


Hans benar-benar bingung harus kemana mencari Airen, sudah hampir 3 hari ia belum menemukan titik terang untuk mengetahui keberadaan Airen.


"Ron, bagaimana?" tanya Hans yang sudah terlihat letih.


"Maaf Tuan, belum ada perkembangan." ucap Roni.


Hans berusaha untuk lebih bersabar lagi, dia tak ingin jika terus-menerus memerahi Roni. Karena Hans tahu, Roni hanyalah manusia dia pun mempunyai keterbatasan. Hans sudah tak menuntut banyak hal kepada Roni.


"Tidak apa, teruskan pencarian nya. Jangan pernah berhenti." ujar Hans, dia pun pergi dari kantor.


Hans menaiki mobil nya. Dia menuju restoran, tempat pertama kali dia bertemu dengan Airen. Sesampainya di sana, Hans langsung memarkirkan mobil nya.


Hans memasuki restoran itu, dia memilih tempat saat dulu bertemu dengan Airen. Hans tersenyum kecut, membayangkan hal dulu yang pernah terjadi pada nya dan juga Airen.


Dari sini kisah kita di mulai, tentang aku yang begitu kejam pada mu. Meminta atasan mu untuk memecat diri mu dari pekerjaan ini, hanya karena kamu tidak sengaja menumpahkan lemon tea ke baju ku. batin Hans.


"Tuan, mau pesan apa?" tanya pelayan di sana.


Hans terus melamun diri, pikiran nya benar-benar tertuju pada Airen. Dia sangat menyesali semua kelakuan buruk nya pada Airen.


"Tuan!"


"Iya, Cahya?" Hans langsung mendongak melihat siapa yang memanggil nya, ternyata itu pelayan wanita lain. Dia bukan Airen, tapi Hans malah menyebutkan nama Airen.


'Astaga nih manusia ganteng bangat' batin Nur.


'E--ehh tapi kok kayak nggak asing ya?' batin Nur yang melihat wajah Hans.


"Lemon tea 1, cepat bawakan!" ujar Hans.


"B--baik, Tuan." Nur langsung kembali untuk memberitahukan pesanan lemon tea.


Hans menatap sekeliling tempat itu, tempat bersejarah dalam kisah hidup nya. Karena di tempat ini, Hans pertama kali bertemu dengan wanita yang saat ini mengisi penuh hati nya. Saat Hans dalam lamunannya, lemon tea yang dia pesan pun sudah sampai. Nur tersenyum senang ke arah Hans.


Hans jengah dengan sosok pelayan itu, namun dia tampak berfikir bukankah waktu itu ada pelayan ini.


"Permisi, apa kau kenal Airen?" tanya Hans.


'Ck, kenapa laki-laki ini malah bertanya tentang Airen.' batin Nur.


"Untuk apa Tuan mencari nya, dia sudah tidak bekerja disini lagi." ujar Nur.


"Baiklah, kau boleh pergi!" ucap Hans.


Nur pergi dengan perasaan kesal nya, kenapa terus selalu Airen yang ditanyakan, padahal dia sudah tidak bekerja disini.


🌹🌹


Di kampung, Airen dan Eza berjalan-jalan keliling melihat-lihat pemandangan indah nan sejuk.


"Kak, kita akan tinggal berapa lama di sini?" tanya Eza.


"Kakak belum tau Za, kamu nikmatin dulu masa-masa di sini ya." ujar Airen.


"Iya kak."


Saat Airen tengah menikmati keindahan hamparan sawah, dia dikejutkan dengan teman nya.


"Airenn!!" wanita itu berteriak histeris, lalu berlari memeluk Airen dengan erat.

__ADS_1


"Endah, ya ampun kamu makin cantik aja nih." goda Airen.


"Ihh kamu mah bisa aja. Ya ampun Ren, aku kangen bangat sama kamu. Kenapa nggak ke rumah aku sih." protes Endah.


"Hehe maaf Ndah, aku baru datang 3 hari yang lalu. Lupa bangat ke rumah kamu." ujar Airen.


"Ck, kamu mah gitu Ren. Aku dilupain terus, Oiya gimana tinggal di kota? Enak ngga?" tanya Endah penasaran.


"Enak nggak enak, sama aja kaya di desa. Oiya kamu sekeluarga apa kabar?" tanya Airen.


"Alhamdulillah baik, kamu gimana Ren? Terus sekarang tinggal dimana?" tanya Endah.


"Alhamdulillah, aku juga baik. Aku ngontrak di Ceu Edoh." ujar Airen.


"Lho, kenapa nggak tinggal di rumah paman kamu."


"Nggak dibolehin Kak Endah, malahan aku sama kakak di usir dari sana." jawab Eza dengan cepat.


"Eza!!" mata Airen meloto ke arah sang adik, sedangkan Eza pura-pura tidak tahu.


"Ya ampun, nggak nyangka aku sama Pak Yanto dan Bu Marni. Padahal kamu masih keponakan nya, ko mereka tega si." ujar Endah yang merasa geram.


"Udah ah, nggak baik ngomongin orang. Mending antar aku ke pasar yuk." ajak Airen.


"Hayu atuh, aku juga mau ke pasar. Di suru beli tahu tempe sama si Ibu."


"Eza, kamu main aja ya sama teman-teman di sini. Kan udah akrab." ucap Airen.


"Iya kak, yauda kakak hati-hati ya."


Airen dan Endah pun pergi ke pasar, sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol beberapa hal.


"Ren, kamu tau gak? Sepupu kamu, mau nikah sama Kang Bahar." ujar Endah memberitahu Airen.


"Alhamdulillah, aku turut seneng dengernya." ucap Airen.


"Itukan dulu, udah nggak usah bahas itu."


"Kamu nggak punya pacar selama di kota Ren?" tanya Endah penasaran.


Airen langsung menatap ke arah Endah, dia pun tersenyum berniat menjahili Endah.


"Aku udah nikah." ujar Airen berbohong.


"Apa!?" Endah kaget, Airen langsung membekap mulut Endah. Karena semua mata tertuju pada mereka.


"Ck, becanda Ndah. Kamu mah serius mulu." ujar Airen.


"Yakali gitu kamu nikah sama bos yang ada di Kota, kaya di film-film. Gadis desa nikah sama orang kota." ujar Endah sambil tertawa.


"Udah ah, mending bahas kamu aja. Gimana hubungan kamu sama si Damar?" tanya Airen.


Wajah Endah terlihat murung, tiba-tiba dia merasa kesal.


"Ngapain bahas di Damar, males pisan!" jawab Endah ketus.


"Pasti ditinggal nikah ya." tebak Airen sembarangan.


"Hah, kok kamu bisa tau sih. Iya aku tuh, ditinggal nikah sama si Damar. Mau tau ga? Dia nikah sama si Mala, gara-gara kecelakaan. Padahal posisi waktu itu, aku masih jadi pacar nya Damar." Endah tanpa basa basi langsung menceritakan semua nya kepada Airen, karena dia sangat percaya kepada Airen.


Deg.


Airen tiba-tiba teringat kembali dengan diri nya yang pernah dilecehkan oleh Hans, Airen mencoba untuk menepis pikiran kelam itu.


"Ren, kamu kenapa? Kok tiba-tiba dahi kamu bercucuran keringat." tanya Endah.

__ADS_1


"A--aku, aku nggak apa-apa Ndah. Udah yuk, kita pulang. Aku udah selesai membeli sayuran nya." ajak Airen.


"Oke deh, ayo."


Sepanjang perjalanan Endah terus berceloteh, tapi tidak dengan Airen. Pikirannya kalut memikirkan tentang diri nya yang begitu kotor. Rasanya sakit sekali.


Saat di tengah perjalanan mereka bertemu Kang Bahar yang sedang bersama Siti.


'Lho, itukan si Airen. Kenapa dia bisa ada di sini.' batin Siti.


"Airen." gumam Bahar, yang merasa senang dengan kehadiran Airen.


"Ren, lihat. Kang Bahar sama si Siti sepupu kamu." ujar Endah.


Airen menatap sekilas, dia tahu pasti Siti akan marah dengan nya. Airen menarik Endah, dia putar balik arah jalan nya.


"Airen, tunggu!" Bahar mengejar Airen, dan menarik lengan Airen.


'Ck, Awas Lo ya Ren. Lihat aja, kalau sampai pernikahan Gue sama kang Bahar gagal.' batin Siti, yang menatap tajam pada Airen.


"Lepasin, Kang." ujar Airen.


Bahar pun melepaskan tangan Airen, dia tersenyum ke arah Airen.


"Ren, kamu apa kabar?" tanya Bahar.


"Baik." jawab Airen ketus.


"Ren, aku kangen bangat sama kamu." ujar Bahar.


"Uuuuuweeeeee." ujar Endah, yang seakan-akan seperti orang muntah mendengar hal itu.


Bahar menyorot tajam ke arah Endah, Airen hanya menghembuskan nafasnya kasar.


"Permisi Kang, saya buru-buru." ujar Airen.


"Ren, tunggu! Aku belum selesai ngomong sama kamu." ujar Bahar.


Siti langsung menghampiri Bahar, dan memeluk lengan pria itu. Siti tersenyum paksa ke arah Airen.


"Hai, Airen. kamu apa kabar? Nggak nyangka ya kamu balik ke desa. Aku pikir kamu udah betah tinggal di kota, dan nggak akan balik ke desa. Oiya, Aku mau ngasih tau kalau aku sama Kang Bahar akan segera menikah." ujar Siti.


"Aku turut senang, semoga pernikahan kalian lancar ya." ujar Airen dengan tulus.


"Nggak kok Ren, aku nggak nikah sama Siti." ujar Bahar.


"Lho kamu kok gitu sih, Kang." ujar Siti marah-marah.


"Ehem, romannya ada yang bakal CLBK nih." ujar Endah menggoda Bahar.


Airen mencubit lengan Endah, tatapan tajam dari Airen berhasil membuat Endah terdiam.


"Ini semua gara-gara kamu Ren! Ngapain sih, balik lagi ke desa. Awas kamu, kalau sampai pernikahan ku dan Kang Bahar batal." ancam Siti.


"Siti, kamu apansi marah-marah sama Airen." omel Bahar.


"Aduh maaf ya, gara-gara aku kalian jadi ribut. Oiya kamu tenang aja Siti, aku udah punya pacar di kota. Sebentar lagi, kami akan segera menikah." ujar Airen, dan langsung pergi dari sana.


Bahar nampak kesal dengan pernyataan Airen, sedangkan Siti merasa senang jika memang benar Airen memiliki kekasih di kota.


'Hufhh.. Bagus deh, kalau memang si Airen udah punya pacar.' batin Siti.


Bersambung..


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


Mumpung hari Senin, jangan lupa vote nya ya guys.


__ADS_2