
(MENGANTAR PULANG)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹🌹
Iren datang terlambat, karena tadi pagi Eza tiba-tiba demam. jadi dia harus mengurus adiknya. karena biar bagaimanapun kesehatan Eza adalah hal yang utama bagi Iren.
"Maaf Tuan, saya terlambat." ujar Iren.
"Kau tidak diperbolehkan pulang, sampai jam 8 malam! kau harus membersihkan seisi kantor ini." ucap Hans.
"Lho Tuan, kok gitu sih! kan bates jam kerjanya jam 5 sore. kalau sampai jam 8 malam udah nggak ada orang." protes Iren.
"Saya tambah jadi jam 9 malem, karena kamu berani protes!"
Ingin rasanya Iren memukul wajah datar itu, dia tak tahan dengan kekejaman laki-laki ini. bagaimana dengan kondisi adiknya, kalau sampai dia balik jam 9 malem.
'Astaghfirullah, harus banyak sabar.' batin Iren.
Iren langsung bekerja, dia tak ingin berdebat hal apapun lagi dengan pria itu. tapi Hans segera menahan tangan Iren.
"Siapa yang menyuruh mu pergi?"
"Tuan, saya harus bekerja. karena saya rasa sudah tidak ada yang dibicarakan. jadi saya harus segera keluar dan mulai bekerja!" ucap Iren.
"Kau lupa hah? tugas utama mu itu, membersihkan ruangan ku!"
"Tapi ruangan anda sudah bersih Tuan!" jawab Iren.
Hans hanya terdiam, memang benar ruangannya sudah bersih. Iren langsung menghempaskan tangan Hans, dan dia berlalu pergi.
Bruk..
Iren menutup pintu dengan kencang, Iren sangat kesal dengan Hans. bisa-bisanya dia terikat pada laki-laki seperti itu.
"Menarik sekali, di saat wanita lain mengobral tubuhnya pada ku, untuk ditiduri. namun gadis ini berbeda sekali, bahkan dia tak rela jika tangannya ku sentuh." gumam Hans.
🌹🌹🌹
Di lain sisi, Bima sedang berada di rumah sakit. di ruangannya, Bima melamun memikirkan perkataan Hellena. apakah benar, gadis yang dipanggil Mommy oleh Gibran, layak untuk menjadi istri dan juga ibu sambung bagi Gibran?.
"Kenapa aku memikirkan gadis itu, lagi pula mana mau dia menikah dengan duda." gumam Bima.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk!"
"Eh Pak Duda, lagi melamun nih." ucap Rio, yang langsung duduk dengan santainya.
Bima hanya melirik sekilas ke arah temannya itu, dia tak habis pikir dengan Rio. yang sempat-sempatnya untuk meledek dirinya.
"Ribet bangat deh idup Lo, mikirin apaansi?" tanya Rio.
"Males deh cerita sama Lo, yang ada ember." ucap Bima.
"Eh busetdah bro, Gue ga gitu ya! emang mulut perempuan apa." ucap Rio, tak terima karena Bima mengatakan bahwa dia ember.
Bima hanya terkekeh melihat wajah Rio yang kesal padanya, memang sahabatnya yang satu ini sangat menghibur.
"Gue tebak, Lo mikirin ibu sambung buat si Gibran." ujar Rio.
"Iya." jawab Bima.
"Yailah, itu sih gampang. noh suster Rani, dia kan naksir sama Lo dari dulu. kenapa nggak Lo coba deketin aja? lagi juga menurut Gue ukuran dadanya oke." ucap Rio.
PLetak.
Bima memukul kepala Rio dengan sedikit keras, karena memang otak dokter yang satu ini sedikit mesum.
"Nyari Ibu sambung buat Gibran gak mudah Bro, harus yang berkualitas dari segi apapun." ucap Bima.
__ADS_1
"Termasuk urusa ranjang ya, hahahaha." Rio tertawa terbahak-bahak, yang melihat muka sinis dari Bima.
"Lo itu mah, yang sering gunta ganti pasangan di atas ranjang! kasian nanti bini Lo dapet bekas nya doang." ucap Bima.
"Gue gak gonta ganti yaa! baru juga dua orang. kan Gue kontrak selama beberapa bulan, dan dia juga gak Gue biarin maen sama yang lainlah. amit-amit dah Gue kalau berbagi sama orang mah." ucap Rio secara gamblang.
"Mending Lo nikahin ajalah, kontrak jangka panjang, udah halal pula. yang ada dapet pahala, bukan dosa. gitu aja otak Lo ga sampe!"
"Gue juga pengen nikah Bim, abis gimana yaa. susah nyari cewek yang baik-baik di jaman sekarang, Gue maunya sih yang masih tersegel, Lo tau sendiri kan. sebrengsek nya cowok, pasti mau sama yang baik." ungkap Rio.
"Lo harusnya sadar diri Rio! kelakukan Lo minus kayak gitu, tapi pengen dapet yang plus. makanya udah stop, jangan ngerusak perempuan! kalau emang Lo mau dapet yang baik-baik. Noh Dokter Novi, cocok sama Lo." ujar Bima mengingatkan.
"Busetdah, Dokter Novi? Lo ga salah bilang kalau Dokter Novi cocok sama Gue? busetdah perempuan sebaik dan sesholehah dia mana cocok sama Gue." ujar Rio.
"Nah itu sadar, bahwa perempuan yang baik kayak gitu. gak cocok sama Lo!" ucap Bima.
"Busetdah ternyata, menyindir dengan gaya."
Saat mereka tengah asyik berbincang, mereka dikagetkan dengan suara ketukan pintu.
Tok..Tok..Tok..
Ceklek..
Ternyata Hellena dan juga Gibran yang datang ke ruangan Bima, Gibran tersenyum senang dan langsung menghamburkan diri memeluk Daddy-nya.
"Mah, kenapa bawa Gibran ke rumah sakit?" tanya Bima.
"Abis anak kamu pengen ketemu Daddy-nya, masa Mamih larang." ucap Hellena.
"Daddy ndak cuka ya, kalau aku kecini." lirih Gibran.
"Suka Gibran, bukan cuka. kalau cuka itu kecut asem." ujar Rio.
"Ihhh Om ioo, ikut-ikut aja nih. seteulah aku dong." ucap Gibran.
"Seterah Gib, bukan Setelah. kalau setelah itu sesudah." ucap Rio yang tak mau kalah dengan anak kecil.
"Rio!! jangan nakal dengan cucu Tante. atau Tante aduin kamu ke orangtua kamu, biar dinikahin sama perempuan yang waktu itu jalan sama kamu!"
"Ampun Tante,jangan dong. masa gitu ah, ga seru nih Tan." ucap Rio.
"Huuu, makanya Om iioo ndak bouleh nakal!" ucap Gibran.
Mereka semua tertawa riang di ruangan Bima, dan bercerita banyak hal satu sama lain.
🌹🌹🌹
Iren terus membersihkan kantor itu, dia harus segera menyelesaikannya. saat ini Iren tengah memikirkan kondisi Eza, dia takut jika Eza khawatir dengannya dan keadaan Eza semakin parah.
"Duh cape bangat, ini udah jam 5. semua orang udah pada balik. sedangkan aku? masih harus bekerja. parah bangat sih Tuan Hans, padahal baru terlambat sekali doang." ucap Iren, sambil terus mengepel.
"Tuan, apa anda tidak pulang?" tanya Roni.
"Tidak!"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Ooiya Tuan, gadis yang disukai oleh Tuan Bara masih bekerja, membersihkan koridor. apa dia tidak tahu ini waktunya sudah harus pulang?" tanya Roni.
"Pergilah! tidak usah mengurusinya." ucap Hans.
"B--baik Tuan."
Roni terburu-buru untuk pergi dan segera pulang menuju apartemennya, dia tak menghiraukan Iren karena takut jika gaji nya akan dipotong oleh Hans.
JAM 20.35 PM
"Duh, kok tiba-tiba iseng ya. dikantor segede gini, malah sendirian." ucap Iren.
Iren merenggangkan otot-ototnya, rasanya lelah sekali hari ini.
"Duh balik aja deh, makin dingin hawa nya. jadi pada merinding nih bulu." ucap Iren.
__ADS_1
Drapp.. Drapp..
Iren membekap mulutnya dengan tangannya sendiri, saat dia mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat. suasana sungguh mencekam baginya. karena pencahayaan yang memang sedikit redup.
'Astaghfirullah, ini suaranya semakin jelas. aduh ini dedemit kenapa iseng bangat sih. gatau orang lagi kecapean apa!' batin Iren.
Bayangan sosok semakin jelas, di lantai koridor. saat bayangan itu semakin dekat, Iren berteriak dengan keras.
"Aaaaaaaaaa!!! Setann.." teriak Iren.
Hans langsung membekap mulut Iren dengan tangannya, Iren langsung kaget dibuatnya. tapi setidaknya, dia sungguh lega karena yang dia lihat bukanlah setan. melainkan makhluk tampan.
"Kau ini, berisik sekali! nanti setan-setan itu pada datang ke arah sini, jika kau berteriak memanggil namanya!" ucap Hans.
"T--Tuan, kenapa anda belum pulang?" tanya Iren.
"Bagaimana bisa aku membiarkan mu, sendirian disini." ucap Hans.
"Apa, jadi Tuan mengkhawatirkan saya?" tanya Iren.
"Iya, aku khawatir jika kau mencuri barang-barang yang ada di perusahaan ini!" ujar Hans.
Iren berdecak sebal, jangankan untuk mencuri. niatnya saja dia tak punya!
"Ayo pulang, ini sudah malam." ajak Hans.
"Udah tau sekarang malem, lagian siapa suruh menghukum saya seperti ini!" ucap Iren sebal.
"Biar kedepannya, mematuhi aturan!" ucap Hans.
"Tuan, saya terlambat punya alasan! Adika saya sedang demam. makanya saya terlambat!" ucap Iren.
"Yasudah Ayo cepat balik! pasti adikmu mencemaskan mu." ujar Hans.
"Nah itu tau, makanya kira-kira dong kalau mau ngasih hukuman!" ucap Iren.
"Iya Cahya, ayo saya antar pulang!" ucap Hans.
"Nggak perlu, saya bisa pesen ojek online!"
Hans menarik tangan Iren, dan membawanya keluar dari perusahaan. dia langsung memasukan Iren ke dalam mobilnya.
"Tuan kok maksa sih!" teriak Iren.
"Diam! saya akan antar kamu." ucap Hans.
'Bagus deh, jadi bisa lebih hemat hahaha.' batin Iren.
"Ayo, kok ga jalan-jalan sih!" ucap Iren.
"Pasang sabuk pengamannya, Cahya!"
'Duh Ini gimana cara masangnya?' batin Iren.
Hans tahu Iren tak mengerti cara memasang sabuk pengamannya, dia berinsiatif untuk memasangkannya.
"Ee--eh Tuan, jangan macem-macem ya!! apa yang anda lakukan hah?!" teriak Iren.
Jarak keduanya sangat dekat, bahkan hembusan nafas keduanya pun terasa satu sama lain. Iren berusaha memejamkan matanya, dan juga menahan nafasnya. dia tak berani untuk menatap ke arah Hans.
"Sudah, kenapa kau malah memejamkan matamu? apa kau berfikir bahwa aku akan mencium mu?" tanya Hans.
'Apa? jadi dia hanya membantu ku untuk memasang sabuk pengaman' batin Iren
"T--tidak! mana ada saya berfikiran kotor seperti itu." ucap Iren gugup.
Hans pun melajukan mobilnya, membelah jalanan di keheningan malam.
Bersambung...
Terimakasih banyak, untuk kalian yang sudah mampir dan juga membaca cerita aku. tetap dukung aku dengan memberikan dukungan melalui Vote, komen, dan like.
__ADS_1
tetap sehat dan bahagia, semuanya ❤️.