Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 18


__ADS_3

(KABAR KEPERGIAN AIREN)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Mentari pagi menyapa Hans dengan semburat cahaya nya, cahaya itu mengenai wajah Hans dengan pantulan lewat jendela.


Hans membuka mata nya perlahan, dia melihat Cahaya yang ada di wajah kiri nya, Hans tersenyum dan memejamkan mata nya kembali.


Cahya, aku harap cahaya ini seperti mu. yang akan selalu menyinari hari-hari ku. Yang akan menyambut ku di waktu pagi. batin Hans memikirkan Airen.


Hans mulai semangat untuk mendapatkan maaf dari Airen, dia harus berjuang untuk mendapatkan kepercayaan Airen.


Hans beranjak dari kasur nya, dia membuka laci dan mengambil satu lembar foto di sana. Di dalam foto itu ada diri nya bersama dengan Laura mantan tunangannya.


"Laura, kisah kita telah usai. Aku harap kamu tidak pernah kembali ke kehidupan ku. Maaf, aku tidak bisa menunggu mu kembali. Aku sudah mencintai wanita lain." ujar Hans sambil menatap foto dirinya bersama Laura.


Hans membakar foto itu, dia ingin memulai kisah nya yang baru bersama dengan Airen Cahya Senjani. Sosok gadis muda yang berhasil memporak porandakan hati nya.


Hans langsung mandi, pagi ini dia berniat untuk menyelesaikan semua pekerjaan nya. Karena nanti sore dia akan bertemu dengan Airen bersama sang Ibu.


🌹🌹


Sedangkan di lantai bawah, semua orang tengah pusing melihat si kecil Gibran yang bertengkar dengan Eranson hanya karena perihal sarapan.


"Gibran, udah ya jangan menangis. Kan nanti mau ketemu Mommy." Bima membujuk putra semata wayang nya.


"Kak Elan jahat, Daddy!" ujar Gibran.


"Kamu yang salah Gibran!" ucap Eranson tak mau kalah.


"Pangeran! cepet minta maaf sama adek. Kamu sebagai kakak nggak boleh seperti itu." Raja mengomeli putra nya, agar dia mau meminta maaf kepada Gibran.


"Gibran, maafin kakak ya." ucap Eranson tulus.


Gibran mengangguk, lalu mereka saling berpelukan.


Hellena menangis sendu di bahu sang suami, yang lainnya menatap ke arah Hellena. Mereka semua menghampiri Hellena karena khawatir.


"Oma, cup cup cup." ujar Gibran.


"Mamih kenapa?" tanya Raja dan Bima bersamaan.


"Mamih hanya bahagia, dan Mamih membayangkan jika Hans sudah berkeluarga, Bima juga sudah menemukan jodoh kedua nya. Pasti keluarga kita sangat lengkap dan harmonis." ujar Hellena.


Semuanya menarik nafas dalam-dalam, mengerti apa yang dirasakan oleh Hellena.


"Mamih sabar ya, aku yakin Hans akan segera menikah. Habis Hans, baru aku deh." ujar Bima yang tak ingin membuat ibunya sedih.


"Yang diucapkan kak Bima benar, aku pasti akan segera menikah." ucap Hans yang tau-tau sudah ada di belakang Hellena.


"Astaga, kamu udah kayak tuyul Hans. Tau-tau udah ada di situ." ujar Raja.

__ADS_1


Hans hanya menatap malas kepada kakak nya, Hans langsung memeluk Hellena dan mencium pipi ibu nya. William memukul kepala Hans.


Pletak..


"Dasar anak nakal! berani nya mencium istri ku!" ujar William mengomeli Hans.


"Dihh, Papih bucin bangat. pantesan nular ke si Raja." ujar Bima yang melihat ayah nya.


"Enak aja Lo, bawa-bawa Gue!" protes Raja.


Bugh! Bugh!


William memukul Raja dan Bima, karena mereka memakai bahasa kasar di depan anak-anak.


"Kalian! perhatikan omongan saat di depan anak-anak." ucap William.


Raja dan Bima saling pandang, barusan hal yang dilakukan ayah nya lebih parah, karena melakukan tindak kekerasan didepan anak-anak.


"Elan, ini punya Gue!" ujar Gibran yang langsung mempraktekkan apa yang dia dengar.


"Apaan si Lo, ini punya Gue." ujar Eranson.


Bima dan Raja langsung menjewer telinga anak mereka, karena dua bocah itu dengan seenak nya langsung mempraktekkan.


"Jangan di ulangi berbicara seperti itu! tidak baik untuk anak kecil." ujar Raja.


Mereka pun menurut, untuk tidak mengulangi nya. Semua nya sarapan dengan hikmat.


🌹🌹🌹


Mereka telah sampai di rumah kontrakan Airen, Bima langsung turun dengan putra nya yang dia gendong.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum." ucap Bima memberi salam.


"Mommy! ini akuu." teriak Gibran.


Bima terus mengetuk pintu rumah itu, namun tidak ada sahutan sama sekali. Kemudian ada seseorang yang menghampiri mereka.


"Maaf Pak, cari siapa ya?" tanya Bu Ratna pemilik kontrakan tersebut.


"Saya mencari Airen, Bu." ujar Bima.


"Oh Neng Iren, dia udah pindah Pak. udah nggak tinggal di sini." ucap Bu Ratna yang membuat Bima kaget.


"Apa Bu, pindah? kalau boleh tau, pindah kemana ya?" tanya Bima antusias.


"Saya kurang tau Pak, katanya Airen mau pergi ke desa. tapi saya nggak tahu ke desa mana." ucap Bu Ratna.


"Lagi kapan pergi nya Bu?" tanya Bima.


"Tadi, jam 6 pagi." ujar Bu Ratna.

__ADS_1


"Baik Bu, Terimakasih banyak."


Bima langsung bergegas pergi dari sana, dia mencoba berfikir kenapa Airen sampai nekat pergi. Apa karena masalah nya dengan Hans?


Bima langsung bergegas menuju perusahaan Hans, dia ingin memberitahu kabar ini langsung kepada Hans.


Setelah sampai di perusahaan. Bima yang menggendong Gibran, tanpa banyak bicara kepada para staff. Dia langsung masuk ke dalam lift. dan menuju ruangan dimana Hans berada.


Bruk..


"Hans! kau harus tahu kabar ini." ujar Bima dengan wajah serius nya.


"Tapi bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?"


"Tck, itu nggak penting." jawab Bima.


"Hei Ron, ajak anak ku keluar. Aku akan berbicara dengan Hans sebentar. Tolong jaga anak ku!" ucap Bima kepada Roni.


"Baik Tuan."


Roni langsung pergi dari sana dan membawa Gibran untuk bermain sejenak, sedangkan Bima dengan wajah lesu nya memberitahu Hans tentang keberadaan Airen.


"Lo harus tau. Airen, dia nggak ada di kontrakan nya. Kata si pemilik kontrakan, Airen pindah dan pergi ke desa!" ujar Bima dengan serius.


"Apa!" kaget Hans.


"Tck, kenapa nggak langsung bilang dari tadi." Hans mengomeli kakak nya itu, dia langsung bergegas keluar namun di tahan oleh Bima.


"Lepasin! Gue mau ngejar Airen." ucap Hans dengan emosi.


"Tck, ternyata memang benar bahwa kau sudah mencintai wanita itu. Wanita cantik yang dipanggil Mommy oleh Gibran." ujar Bima tanpa melepaskan tangan Hans.


"Lepasin! Gue mau cari Airen."


"Lo telat, dia udah pergi dari jam 6. Mau cari kemana? di terminal bus juga udah nggak ada." ujar Bima.


Hans nampak prustasi, dia kembali duduk di kursi kebesaran milik nya. Hans nampak berfikir, bagaimana menemukan Airen.


"Arghhhh!!" teriak Hans.


"Sabar, Gue yakin Lo pasti nemuin Airen. Dan Gue yakin, Airen bisa maafin Lo." Bima berusaha membuat Hans tegar.


"Kenapa harus seperti ini kak." lirih Hans.


"Sabar Hans, kamu punya kekuasaan. kenapa nggak digunain, kamu bisa menemukan Airen." ujar Bima, sedangkan Hans baru sadar bahwa dia bisa memperindahkan siapa saja.


Astaga, keliatan bangat b*go nya Gue. batin Hans.


"Iya emang, orang yang lagi jatuh cinta gitu, suka kebangetan b*go." ucap Bima, yang seakan tahu isi hati adik nya.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2