
Sesampainya di mansion, Airen langsung masuk tanpa menunggu suaminya. Dirinya masih kesal dengan sikap Hans kepada orang lain, dan juga kesal karena meninggalkan anaknya dengan sembarangan.
Airen masuk ke dalam mansion sambil menggandeng kedua anak-anaknya, Hans hanya pasrah mengikuti langkah kaki istrinya dari arah belakang.
"Kak Iban, Kak elan." Amira dan Amara berlari ke arah dua kakaknya yang sedang asyik bermain puzzle bersama dengan Gebila.
Airen yang melihat kedua putrinya berlari kecil, lantas memperingati agar tidak terburu-buru takut nanti terjatuh.
"Amira, Amara jangan berlari nak." tuturnya lembut.
"Iya unda, siap." mereka berdua berjalan pelan menuju ke arah orang-orang yang sedang asyik bermain di ruang depan.
Airen menitipkan kedua putrinya kepada Bella, karena dirinya merasa lapar. Airen pun berjalan pelan menuju dapur, diam-diam Hans mengikuti istrinya.
Disana ada mbok Nin yang sedang memasak, Airen menghampiri mbok Nin. "Mbok masak apa?"
"Eh ada non Iren, ini non mbok mau masak ayam serundeng, sayur asem, tempe goreng dan sambal. Ini permintaannya nyonya."
Airen mengangguk mengerti, belakangan ini memang mami Hellena menyukai makanan seperti itu. "Aku bantu ya mbok."
"E--eh ngga usah non, ini sudah mau selesai kok. Tinggal goreng tempe aja. Non ada apa ke dapur? mau makan ya? Biar mbok siapin ya non."
"Ngga usah mbok, aku masak sendiri aja. Mbok lanjut aja goreng tempe nya." ucapnya pelan, sambil berjalan ke arah nakas tempat penyimpanan mie instan.
Airen membuka lemari dapur yang berisi beragam mie instan, sudah lama ia ingin memakannya namun selalu gagal karena terhalang oleh suami dan mertuanya.
Kali ini pasti berhasil, karena dirinya sedang marah dengan suaminya. Tentu Hans pasti mengizinkan nya, kalau tidak mau tidur dimana dia malam ini.
Saat tangan Airen hendak mengambil mie, dirinya dikejutkan dengan tangan kekar suaminya yang menahan lengannya.
Airen sontak menatap ke arah belakang dan melotot lebar kepada suaminya. Hans hanya mampu tersenyum saat melihat tatapan tajam istrinya.
"Sayang, jangan makan mie ya." ujar nya pelan.
Airen mendengus kesal, dia menarik tangannya kembali dan berlalu pergi dari dapur meninggalkan suaminya yang masih berdiri diam di tempatnya.
Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar, jika tidak boleh makan mie maka dia pun tidak akan memakan makanan yang lainnya.
Hans hanya dapat menghela nafas pelan, dia harus sabar karena istri nya itu sedang marah kepadanya.
🍁🍁🍁
Sore ini Bima dan Raja pulang di waktu yang bersamaan, keduanya baru saja keluar dari dalam mobil.
Bima menatap tajam ke arah kakak nya, dia masih kesal dan tak terima dengan kejadian kemarin pagi karena semp@k nya yang berada di jemuran belakang di ambil oleh Raja.
Raja tentu tahu mengapa adiknya menatap tajam seperti itu, padahal dirinya sudah meminta maaf.
"Bim, jangan marah begitu. Abang kan udah minta maaf." ucap nya sambil mengejar Bima yang berjalan lebih cepat.
"Waras lo?" tanya Bima mengurangi langkah kakinya.
Raja mengangguk dan tersenyum lebar. "Iya nih waras, soalnya tadi pagi solat subuh ngga kesiangan." ucapnya.
"Papi pasti bangga sama lo."
__ADS_1
Wajah Raja tiba-tiba murung, karena teringat akan papinya yang sudah beberapa bulan meninggalkan mereka.
"Iya dong pastinya!" ucapnya bersemangat, Raja tak ingin mengekspresikan perasaan sedihnya saat ini.
Bima tersenyum smrik, "Ngga mau nyusul papi?" setelah mengatakan hal itu, Bima langsung berlari cepat masuk ke dalam mansion.
"Bima!! Lo emang udah siap kehilangan gue hah? Ntar lo kangen dan ga bakal nemuin Abang kayak gue." teriak Raja ikut berlari.
Sesampainya di dalam mansion mereka justru malah kejar-kejaran, belum kelar dengan perdebatan tadi. Raja tentu tidak terima, secara tidak langsung adiknya itu menginginkan dirinya tiada. Ya meskipun Raja tahu, Bima hanya bercanda.
"Raja! Bima! kalian berdua apa-apaan sih." peringatan pertama dari mami Hellena yang sedang menemani cucunya menonton televisi.
"Bima tuh mih, ngedoain aku cepet ke alam sebelah."
"Bohong Mih, fitnah bangat tuh mulut. Gue tadi nanya ya, bukannya ngedoain."
Mami Hellena hanya dapat beristighfar melihat tingkah laku anak-anaknya, padahal usia mereka sudah tak lagi muda dan bahkan sudah memiliki anak.
Bugh bugh
dari arah belakang, boko ng mereka ditendang pelan oleh Hans.
Awwhhh!
ucapnya bersamaan. "Hans kamu apa-apaan sih, sama Abang ngga boleh begitu."
"Kalian yang apa-apaan? ngga malu sama anak dan istri? Bima, bahas kamu benerin tuh. Awas saja, jika sampai Amira dan Amara mengikuti." ujar Hans, lalu pergi dari sana.
Ini yang jadi Abang, gue atau si Hans sih? batin Bima.
Adek gue gitu amat ya. batin Raja.
"Apa hah! Sana mandi!"
Mereka berdua menurut, dan langsung pergi ke kamar masing-masing. Tidak berhenti di sana, justru saat ditangga keduanya mulai kembali kejar-kejaran.
Yang menyaksikan hal itu hanya dapat menghela nafas pelan. "Gibran, Eranson. Kalian janganlah seperti papa kalian ya."
"Siap Oma!"
🍁🍁🍁
18.30
Saat ini semuanya berkumpul di dapur, hendak menyantap makan malam. Kecuali, Airen yang masih setia berada di dalam kamarnya, pokoknya dia tidak ingin makan kalau bukan mie instan.
Hans membujuk istrinya untuk makan, namun Airen sama sekali tidak menghiraukan dan menjawabnya.
"Sayang, ayo makan. Kamu belum makan sama sekali lho, emangnya ngga laper?"
Airen setia meringkuk di dalam selimutnya, meskipun rasa pengap menyeruak.
Hans mengambil posisi untuk berbicara dengan anak ketiganya yang masih berada di dalam perut.
"Adek, lapar ngga? pasti lapar kan. Bujuk bunda nya biar mau makan, papa kasihan sama kamu pasti kelaparan di dalam sana."
__ADS_1
Sungguh amat sangat sulit membujuk istrinya yang sedang merajuk, Hans menghela nafasnya pelan dan dia ikut berbaring di samping Airen.
"Cahya sayang, kalau kamu ngga mau makan ngga apa-apa. Tapi kasihan anak kita lho, dia butuh asupan gizi." ucap nya sambil memeluk dari belakang.
Airen membuka selimutnya yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Airen mulai menangis, Hans panik dibuatnya.
Aduh salah ngomong nih pasti. batin Hans.
"Say---."
"Hikss.. Mas cuma peduli sama anak kita, tapi ngga peduli sama aku."
"E--eh ngga gitu, aku lebih sayang ke kamu dari pada anak-anak. Mana ada aku ngga peduliin kamu."
"Tadi buktinya, mas bilang kalau aku ngga mau makan ngga apa-apa. Tapi mas cuma mengkhawatirkan anak kita."
Hans membalikkan tubuh istrinya agar berhadapan dengannya, dengan lembut Hans membelai wajah Airen dan mengecup pelan kening sang istri.
"Aku bilang gitu, karena agar kamu mau makan. Maafin aku ya?"
"A--aku maafin, tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya hem?"
Airen menatap dalam-dalam manik mata suaminya. "Aku mau makan mie rebus, pake telor, pake saos, pake cabai, juga pakai sawi."
"Tap--."
"Kalau kamu ngga izinin yaudah, aku ngga mau makan."
Hans menghela nafas pelan, dan kembali mencium kening Airen. "Oke boleh, tapi cukup hari ini saja ya. Kalau gitu aku minta mbok Nin buat bikinin mie nya." Hans hendak bangun namun di tahan Airen.
Hans menatap wajah istrinya yang menggeleng pelan. "No, bukan mbok Nin yang buatin. Tapi kamu."
Hans tersenyum. "Oke, tapi cium aku dulu."
"Ihh kok malah balik ngambil keuntungan sih."
"Kalau kamu ngga mau yauda ngga apa-apa, tapi mbok Nin yang buatin."
Airen berdecak pelan, lalu bangun secara perlahan untuk duduk. Airen mengecup pelan bibir suaminya. Hans menahan tengkuk leher Airen, agar dapat mengakses lebih dalam dari pada sekedar kecupan.
Setelah beberapa menit, Hans pun menghentikan aktivitasnya. Dia tersenyum dan mengelap lembut bibir Airen dengan ibu jari nya.
"Aku buatin, tunggu sebentar ya." Hans bangun dari kasur, namun tangannya kembali di tahan oleh Airen.
"Kenapa lagi hem?" tanya Hans.
"Nanti saja buat mie nya, aku mau yang lain."
Hans mengerutkan alisnya. "Mau apa?" tanyanya.
"Mau kamu jengukin anak kita."
Hans tentu tersenyum penuh arti, tanpa banyak tanya dan protes dia langsung kembali menautkan bibirnya. Dan terjadilah yang sebenarnya Airen inginkan.
__ADS_1
bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.