Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 108


__ADS_3

Pesta pernikahan 2B telah selesai.


Semua orang kalut dalam aktivitasnya masing-masing, seperti Hans dan Airen yang sudah lebih dulu ke kamarnya untuk beristirahat bersama dengan kedua putri mereka.


Begitupun dengan Mamih Hellena dan juga Papih William, mereka sudah ngantuk berat ingin istirahat karena seharian ini capek menyambut para tamu.


Saat Raja hendak beranjak pergi ke kamarnya, tiba-tiba tangannya di cekal oleh Bima yang tengah tersenyum manis kepada dirinya.


"Idih n@jis, apaan Lo masang muka begitu?" tanya Raja jengah.


"Abangku tersayang --."


"Nggak Bim, gue tau Lo mau nitipin si Gibran kan. Nggak ada ya, ogah bangat. anak Lo berisik, urus dewek." Raja langsung tau bahwa adiknya ingin menitipkan anaknya.


Kalau bukan mendesak, ogah bangat gue bersikap manis sama nih manusia satu. batin Bima.


"Bang ayolah, pleasee malem ini doang deh janji."


"Nggak! Ogah, mending Lo titipin ke si Rio aja." saran Raja.


"Ck, yang ada anak gue terkontaminasi virusnya si Rio."


"Yauda urus dewek, bye gue mau tidur." Raja langsung berlari ngabrut ke kamarnya.


Astaga ngga ada yang bisa dimintai tolong apa ya, gini amat dah nasib gue. batin Bima.


Bima pasrah saja, dia pun beranjak pergi ke kamarnya. Di sana sudah ada Bella dan Gibran pastinya, namun saat kaki Bima hendak melangkah menaiki tangga ada suara bel pintu yang berbunyi.


Bima berbalik untuk membukakan pintu, siapa yang bertamu tengah malam begini? Padahal pestanya baru saja selesai.


Cklek.


"Siap--."


Bima kaget bukan main, bahkan bibirnya kelu tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Sosok laki-laki paruh baya yang sudah lama tidak muncul, untuk apa dia datang ke sini?


Laki-laki paruh baya itu tersenyum kecut, "Cih, saya kira cinta mu untuk anak saya akan bertahan sampai nanti. Nyatanya nol besar, saya sedikit menyesal karena telah menikahkan kalian berdua. Harusnya Gina menikah dengan adik mu." ucap Jhonatan yang tak lain adalah ayahnya Gina.


Bima hanya diam, rasa kesal dan marah tentu saja ada. Namun dia memilih untuk tetap tenang menanggapi ayah mertuanya itu, yaa Bima masih menganggap Jhonatan sebagai ayah mertuanya. karena biar bagaimanapun dia adalah ayah dari seseorang yang Bima cintai.


"Masuk dulu pah." ucap Bima menawarkan.


Jhonatan dengan tidak tahu malunya langsung masuk begitu saja, mansion ini sungguh membuatnya mengingatkan dirinya tentang Gina.


Bima masuk ke dalam dapur mengambilkan sajian makanan dan minuman untuk ayah mertuanya itu.

__ADS_1


"Di minum dulu pah."


Jhonatan mengakui bahwa memang sikap Bima tidak berubah, dia tetap santun terhadapnya. Tapi lain, jika dirinya menghina atau mencaci Gibran. Sampai detik ini Jhonatan tidak pernah mengakui Gibran sebagai cucunya, karena Jo berpikir bahwa Gibran lah penyebab kematian Gina.


"Dimana istri baru mu itu? Aku ingin tahu siapa orang yang berhasil menggantikan posisi anak ku di hati mu." ucap Jo sambil menyeruput minuman yang Bima sajikan.


Lebih baik papa ngga tahu, seandainya dia tahu bahwa wanita itu Bella. aku takut kata-katanya akan melukai Bella. Karena biar bagaimanapun, Bella dan Gina itu bersahabat. batin Bima.


"Ini sudah malam, acaranya pun sudah selesai. kenapa papa baru datang? Kalau ingin tahu, kenapa tidak dari tadi?"


Jhonatan tersenyum sinis, "Kau ingin aku menyaksikan laki-laki yang dicintai oleh anakku dengan segenap hatinya, namun laki-laki itu bermesraan di atas pelaminan dengan wanita lain? Ayah mana yang akan legowo melihatnya. Mungkin bagimu Gina-ku sudah tiada, tapi bagiku Gina itu masih hidup. Anakku masih ada di sini." ujar Jhonatan menunjuk hatinya.


"Maaf pah, tapi saya perlu menjalani kehidupan. Bukan hanya saya, tapi Gibran juga butuh sosok seorang Ibu." tutur Bima menjelaskan.


"Cih, si pembawa sial itu? Anak yang kau maksud adalah anak yang telah membunuh putri ku! Jika saja Gina tidak melahirkannya, mungkin saat ini--."


"Cukup pah!" ucap Bima dengan suara datar namun tegas.


Bima mengepal kedua tangannya, ingin sekali dia menonjok laki-laki paruh baya ini. Jika saja bukan karena Gina adalah putri nya, bahkan Bima berani bertaruh bahwa dia bisa membunuh laki-laki bermulut tajam ini.


"Sadar pah, sesuatu yang hidup pasti akan mati seiring berjalannya waktu. Bukan hanya Gina, tapi aku juga papah pasti akan tiada. Kematian Gina adalah takdir untuknya, kenapa papah terus menyalahkan anak kami? Aku yakin, Gina tidak akan pernah menyalahkan putranya."


Jhonatan terdiam, dia menatap tajam Bima. "Aku salah menikahkan mu dengan putri ku, seharusnya Gina tidak menikah dengan mu. Se--."


Deg.


Jhonatan menatap anak laki-laki berusia 5 tahun itu, dia cukup terpaku di tempatnya karena anak itu sangat mirip sekali dengan Gina. Ya ini kedua kalinya Jhonatan melihat sang cucu, sewaktu bayi mungkin wajahnya tidak begitu nampak lebih mirip ke siapa?


Namun sekarang, anak ini benar-benar mirip Gina sewaktu kecil. Sangat mirip, Perlahan ingatan Jhonatan tentang Putrinya berputar di kepala, dia mengingat saat Gina berumur lima tahun. Bayang-bayang itu muncul di kepalanya, bagaimana Gina yang dia cintai memanggilnya papah.


"G--gina." lirih Jhonatan menatap Gibran tanpa sadar mengucapkan nama Gina karena saking miripnya Gibran dengan Ibunya.


"Daddy, dia siapa?" tanya Gibran yang sudah berada di dekat ayahnya. Sedangkan Bella terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana? Jujur dia dulu memang akrab dengan Gina, Bella juga tahu bahwa dia adalah ayah Gina.


"Malam Om." sapa Bella kepada Jhonatan.


Lamunan Jhonatan tentang Gina kecil buyar seketika, Jo menatap Bella dengan penuh selidik. Dia tahu dan kenal Bella, bagaimana tidak? Karena Bella adalah sahabat dari mendiang anaknya.


"Kamu!? Jangan bilang--."


"Iya pah, Bella istriku." ucap Bima lalu bangun dari duduknya mengambil alih Gibran dari gendongan Bella, lalu tangan kanannya menggenggam jemari tangan Bella.


Jhonatan yang melihat itu merasa tambah kecewa bukan main, Jhonatan pun berdiri menatap keluarga yang baru terbentuk itu.


"Jahat sekali kamu Bel, anak saya selalu baik kepada kamu. Ini balasan kamu untuk kebaikannya? Dengan menikahi suaminya?"

__ADS_1


Deg deg deg


Perkataan Jo berhasil membuat Bella merasa bersalah, apakah benar Bella terlalu jahat pada Gina?


"Pah cukup! Sebaiknya papah pulang saja." ujar Bima sudah tidak tahan.


"Kamu ngusir saya Bim? Kalian benar-benar jahat pada anakku."


"Pah sadar pah, Gina sudah bahagia di tempatnya berada. Kenapa papah terus menyalahkan kami?"


"Karena mem--."


"Daddy, apa dia kakek? Seperti Kak Eran yang memiliki Kakek juga Opa. Apakah aku juga memiliki Kakek? Apa itu kakek ku?" tanya Gibran antusias.


"Iya Gib, dia kak--."


"Saya bukan kakek mu, saya tidak pernah memiliki cucu pembunuh seperti kamu. Jika saja--."


"Stop Tuan Jhonatan Farasya, sebaiknya tuan pergi dari sini. Pintu keluar ada di belakang anda!" ucap Hans yang tiba-tiba muncul tanpa disadari oleh mereka.


Jhonatan menatap tak percaya dengan Hans, jika saja saat ini dia tidak sedang menjalani kerjasama bisnis mungkin saja Jo membalas ucapan Hans lebih tajam.


"Apakah seperti ini cara keluarga Mikhailov menyambut tamu?"


"Tamu yang bagaimana yang anda maksud? Kami memperlakukan tamu sesuai sikap tamu itu, kakak saya bahkan dengan suka rela menyajikan makanan dan minuman dengan kedua tangannya sendiri hanya untuk menyambut tamu yang kurang ajar."


"Kau!!"


"Tuan Jo, lihat baik-baik anak dari putri anda. Kelak jika anda tetap menyalahkan dia atas kematian putri anda, saya berani bertaruh suatu saat nanti anda akan menyesalinya. Sebaiknya renungkan, dan minta maaflah serta perbaiki sikap anda kepadanya. Sebelum semuanya terlambat!" ucap Hans dengan tegas.


Jhonatan terdiam, dia menatap wajah Gibran yang memang mirip sekali dengan Gina. Jo memilih pergi dari sana tanpa sepatah kata pun, setelah tadi saat dia sedang menatap Gibran dengan tajam namun justru anak itu malah tersenyum lembut kepadanya.


Setelah kepergian Jhonatan, Hans menepuk bahu Bima. "Besok kita bicara, sebaiknya kalian istirahat. Sepertinya Bella dan Gibran sudah lelah." ucap Hans lembut kepada kakaknya.


Bima mengangguk, "Terimakasih." ucapnya tulus. Bima sendiri kalut dalam pikirannya, sepanjang jalan menaiki tangga dia tetap menggenggam jemari tangan Bella.


Bisa Bella rasakan getaran tak berdaya dari tangan Bima, Bella tau mungkin suaminya bingung harus bagaimana?


Setelah sampai kamar mereka tidur, bahkan Bima tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin dia pun syok dengan kehadiran ayahnya Gina, pikir Bella. Gibran yang memang sudah lelah tidak banyak tanya, anak itu tertidur pulas sambil memeluk Bella. Dia tidur di tengah-tengah antara Bella dan Bima.


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui, Vote komen like dan hadiah ya.


Terimakasih atas dukungan kalian(◡ ω ◡)

__ADS_1


__ADS_2