Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 128


__ADS_3

Semenjak kejadian yang membahagiakan kemarin, saat ini Hans tengah merasakan morning sickness yang lazimnya mungkin akan dirasakan ibu hamil. Tapi, kehamilan Airen kali ini membuat Hans sedikit tersiksa oleh rasa mual dan juga ingin sesuatu hal.


Seperti pagi ini, subuh-subuh seperti ini Hans sudah membangunkan seisi rumah dengan keinginannya yang aneh.


"Hoamm~ ada apa sih Hans?" tanya mami Hellena yang melihat anaknya sedang duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk.


Bukan hanya mami Hellena yang datang, tapi Ratu, Raja, Bima dan juga Bella serta mbok Nin. Hanya anak-anak saja yang tidak turut serta.


"Aku mau makan sate kambing." ujar Hans.


"What? pagi-pagi begini mana ada tukang sate, ngaco nih anak satu." ujar Raja yang masih meringkuk kepada istrinya.


Airen yang sedari berada di samping suaminya, mengelus lembut lengan Hans. Mencoba menenangkannya, berharap dia mengubah keinginannya.


"Mih, aku mau makan sate kambing. Mami ngga mau kan, kalau cucu mami ileran?"


Hellena menggelengkan kepalanya, Hans selalu menggunakan kata ileran pada anak yang masih dikandung Airen kalau tidak dapat memenuhi keinginannya.


Kata keramat itu muncul dari bibir Barra sahabatnya. Sewaktu Ica hamil, Barra mati-matian memenuhi keinginan istirnya karena neneknya bilang jika tidak dituruti maka anaknya nanti ileran.


"Ja, Bim cepat carikan sate kambing untuk adik kalian." titah mami Hellena kepada dua anaknya.


Bima menghela nafas pelan, berbeda dengan Raja yang protes mati-matian karena enggan membelikan. Kalau malam sih Raja mau-mau saja, karena banyak tukang sate. Lah ini subuh-subuh seperti ini? Nyari dimana?


"Mih, mana ada tukang sate pagi-pagi begini. Ada juga tukang bubur, uduk, ketoprak, aneh-aneh aja sih lo Hans."


"Kalau gitu beli kambingnya, dan kalian yang mengolahnya di sini."


Apa!


kali ini bukan hanya Raja yang terkejut, Bima pun ikut terheran-heran dengan permintaan adiknya.


"Mas, nanti malam saja ya makan sate nya." Airen mencoba membujuk suaminya.


"No! Aku mau sekarang sayang."


"Tapi mas--."


Huekk.. huekk..


Hans berlari kecil ke arah kamar mandi, karena rasa mual mulai menghampiri kembali.


Raja yang melihat itu tersenyum puas. "Rasain Lo, kualat sih nyuru beli sate kambing pagi-pagi begini." teriak Raja sebal.


Mami Hellena menjewer telinga anaknya. "Cepat beli kambingnya dan kalian berdua yang mengolah!" ujar mami Hellena.


Bima dan Raja menurut saat mami Hellena yang mengatakannya, mereka berdua keluar mansion hendak mencari kambing. Masih lengkap dengan baju tidur yang mereka kenakan, Bima pun melajukan mobilnya tanpa arah. Karena tidak tahu kemana harus membeli kambing di pagi buta seperti ini.


Raja terus saja menggerutu sepanjang perjalanan. "Adik mu itu sungguh sangat menyebalkan, bisa-bisanya dia menyusahkan aku."

__ADS_1


Bima menghentikan mobilnya. "Hei kenapa kau berhenti hah." teriak Raja.


Bima menatap tajam ke arah Raja, "pertama, dia juga adik mu! kedua, bisa kah kau diam!"


Raja berlagak so imut agar sedikit meredam kemarahan Bima. "Oh ya ampun, adik ku sayang. Jangan marah seperti itu, abang hanya heran mengapa kita yang terkena imbasnya? padahal kan yang buat anak itu hanya ada Airen dan Hans. Sungguh menyebalkan bukan?"


"Diam! sebaiknya kau jangan berbicara. Sekarang kita harus pergi kemana?" tanya Bima.


Raja hanya diam tak menjawab. "Hei, kenapa kau tak menjawab?"


"Bukankah kau yang menyuruhku untuk diam? dasar adik bodoh."


Bima hanya berdecak pelan, dia melajukan mobilnya kembali. Ntah harus mencari kambing kemana.


🍁🍁🍁


Di lain sisi, Hans sedang bermanja dengan istrinya sambil menunggu pesanannya. Airen dibuat pusing dengan tingkah suaminya, padahal jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Mas, sebaiknya tidur lagi ya. Nanti kalau sudah ada sate kambingnya aku bangunin."


"Nggak mau, aku mau lihat mereka membuatnya."


Hellena yang menyaksikan itu menggeleng pelan, ntah memang karena bawaan bayi atau karena Hans sendiri yang ingin mengerjai kedua kakaknya.


"Hans, kamu ngga kasihan dengan istri mu? seharusnya dia lebih banyak istirahat, karena di awal kehamilan sangat rentan untuk keguguran."


Hans menatap Airen dan memeluknya dengan erat, "Yasudah kalau gitu kamu istirahat ya? Aku mau disini, menunggu sate kambing."


Airen mengangguk, dia melangkah pergi ke atas menuju kamarnya. Memang dia sangat lelah, terlebih kemarin habis merayakan pesta ulang tahun anak-anaknya.


Mami Hellena menemani Hans di ruang keluarga menonton televisi, sambil menunggu kedatangan Bima dan Raja. Hans tiba-tiba mengantuk dan tertidur pulas di sofa panjang.


Hellena mendekati anak bungsunya, menyelimuti badannya. Dia tersenyum karena bersyukur bisa menyaksikan kejadian seperti ini. pih, kalau papi ada pasti pusing melihat tingkah dan keinginan Hans. batinnya.


Waktu terus berputar, hingga sekarang menunjukkan pukul tujuh pagi. Bima dan Raja yang sedari tadi sudah mencari kambing ke sana kesini namun belum kunjung ketemu, akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya kepada Roni.


"Hans awas saja anak itu! Benar-benar menyusahkan arghh." siapa lagi kalau bukan Raja yang mengatakan hal itu.


Bima memilih menelpon Roni.


drrddtt..


πŸ“ž"Hallo, Ron kau tahu dimana tukang kambing?"


πŸ“ž"Tidak tahu, tuan."


πŸ“ž"Cepat cari tahu!"


πŸ“ž"Baik."

__ADS_1


Tut ..


Bima menghela nafas kasar, perutnya bahkan sudah lapar. dia pun pergi mencari sarapan pagi terlebih dahulu untuk mengisi perutnya.


Sambil menunggu pesan dari Roni, dia pun menikmati ketoprak di pinggir jalan bersama dengan kakaknya.


Bahkan Raja sampai menambah satu porsi, ntah karena lapar atau doyan. Sedangkan Bima menyudahi sarapannya cukup satu porsi saja.


tingπŸ“©


: "tuan, ini alamat tukang kambing."


Setelah melihat pesan itu, Bima langsung membayar pesanannya dan langsung menarik Raja yang masih menyatap ketopraknya.


Raja tentu mengomel, namun bima memilih tak peduli dengan omelan kakaknya. Karena dia ingin cepat sampai rumah, dan istirahat.


setelah tiga jam lamanya mereka mencari kambing, akhirnya kini Bima dan Raja sudah berada di peternakan kambing. Mereka masuk untuk menemui pemiliknya.


"Pak, kambing satu."


"Kambing muda? betina atau jantan? ini beneran beli kambing?" tanya si bapak penjual, karena tak percaya dengan Bima maupun raja. karena penampilan keduanya yang dianggap berantakan.


"Iya pak beneran, masa bohongan." celetuk Raja.


"Tapi penampilan kalian tidak meyakinkan."


"Aish si bapak Mandang fisik ternyata, Bim mending kita cari ke tempat laen yang lebih bisa menghargai pembeli."


Bima tak menghiraukan apa yang kakaknya katakan. "Pak kami punya uang, kalau bapak tidak percaya dan takut tidak dibayar. lihat mobil di depan sana, itu mobil kami. Kalau bapak takut, ini bisa pegang kunci mobilnya dulu."


Raja mengambil kunci mobil tersebut. "Enak aja, ini mobil kesayangan gue. Mau ini peternakan kambing di beli pun ngga sepadan dengan harga mobil itu."


"Mobil boleh dibagi kok bangga." gumam Bima, karena dia tahu mobil itu dibelikan oleh hans untuk Raja. Karena mana mau Raja mengeluarkan uang sebanyak itu, dia kan matre dan pelit.


"Yauda pak buru carikan kambingnya, yang muda satu, yang tua satu, betina satu, jantan satu."


Raja melongo dibuatnya, untuk apa Bima membeli kambing sebanyak itu. padahal yang dibutuhkan Hans hanya satu.


Setelah bercekcok ini dan itu, akhirnya mereka memutuskan untuk membeli dua kambing yang sudah besar saja. Satu betina dan satu jantan. Bima pun melakukan pembayaran.


"Pak tolong bawakan kambingnya, saya tidak mau kalau mobil saya kotor dan bau kambing." tutur Raja


"Mohon maaf mas, tapi uangnya kurang kalau seperti itu. Kalau mau diantar ada biaya tambahan."


Bima yang sudah merasa pusing, enggan banyak bicara dia langsung membayarnya.


"Sekarang pak! bawa kambingnya dan ikuti kami! Kalau tidak, saya hancurkan peternakan bapak." Bima pergi menuju mobil, karena dia merasa mual dengan bau kambing. kepalanya pusing, terlebih dengan Raja yang selalu marah-marah.


Kalau seperti ini caranya, dia bisa-bisa memiliki riwayat penyakit darah tinggi.

__ADS_1


Awas kau Hans! batin Bima.


Bersambung...


__ADS_2